
Khairi menceritakan semua yang terjadi mengenai Afrin dan Vira pada kedua orang tuanya. Merry sempat marah, bisa-bisanya Vira menghina temannya seperti itu. Hal itu semakin membuat wanita paruh baya itu tidak menyukainya.
"Lalu, bagaimana rencana kamu?" tanya Papa Hamdan.
"Aku akan tetap melaksanakan pernikahan itu."
"Maksudnya?"
"Aku sudah meminta anak buahku untuk menyiapkan pernikahan dua minggu lagi."
"Tapi, kan, Afrin sudah menolak!" sela Mama Merry
"Aku tidak peduli akan hal itu. Aku pasti bisa membuatnya menikah denganku," ucap Khairi dengan yakin.
"Apa kamu yakin? Bagaimana kalau Afrin tetap tidak mau?" tanya Mama Merry.
"Aku sangat yakin pasti bisa membuatnya datang."
Merry dan Hamdan saling pandang. Mereka ragu, apakah gadis itu mau datang atau tidak, tetapi mereka tidak mau mematahkan keyakinan Khairi. Keduanya akan mendukung apa pun yang putranya lakukan.
"Apa yang bisa Mama dan Papa lakukan untuk membantu kamu?"
"Nanti malam kita akan datang ke rumah keluarga Emran untuk melamarnya."
"Tapi mama belum punya persiapan apa-apa."
"Mama tenang saja. Aku sudah meminta anak buahku untuk menyiapkan segala keperluan. Nanti sore juga pasti akan datang."
"Terus bagaimana dengan cincinnya?"
"Aku sudah membelinya, Mama tenang saja."
"Kapan kamu membelinya?"
"Aku sudah membelinya satu bulan yang lalu, saat aku pergi keluar kota."
Kesempatan sekecil apa pun akan Khairi gunakan dengan sebaik-baiknya. Dia tidak mau menyesal dikemudian hari. Banyak yang sudah pria itu lakukan untuk bisa sampai dititik ini karena itu dia tidak akan menyerah begitu saja.
Merry melihat begitu besar cinta putranya pada Afrin, tetapi kenapa gadis itu tidak bisa melihat betapa besar dan tulusnya cinta Khairi? Apa perlu dia yang menunjukkannya?
"Ya sudah, kalau begitu, apa perlu Mama ajak paman dan tante?" tanya Merry.
"Tidak perlu, Ma, cukup Mama dan Papa saja. Kita juga tidak ada pemberitahuan juga jadi, berdua saja," jawab Khairi. "Aku mau ke kamar dulu, Ma, ada beberapa hal yang harus aku kerjakan."
"Iya," sahut Mama sambil tersenyum.
Khairi meninggalkan kedua orang tuanya menuju kamar. Sementara Mama Merry dan papa, sibuk dengan pemikiran masing-masing. Benar atau tidak pilihan Khairi. Mereka pasti akan mendukung.
"Bagaimana, Pa? Apa kita akan datang malam ini? Sementara Afrin sendiri yang menolak menikah dengan putra kita. Mama takut malah akan mempermalukan kita," tanya Mama Merry pada suaminya
"Mama kenal Khairi, kan? Jika dia tidak yakin pasti dia tidak akan melakukannya. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung apa saja yang akan dia lakukan. Lagi pula keluarga Pak Emran orang baik, tidak mungkin mereka mempermalukan kita."
__ADS_1
"Mudah-mudahan saja Afrin bisa luluh melihat perjuangan Khairi."
"Iya, mah, sebenarnya ini semua juga salah Papa. tidak seharusnya Papa menerima perjodohan dari ayah Vira saat itu."
"Sudahlah, Pa. Semuanya juga sudah terlanjur, yang penting saat ini kita harus mendukung apa pun yang akan dilakukan akhiri."
"Iya, Ma."
Hamdan merasa bersalah. Seandainya saat itu dia tidak menerima begitu saja tawaran dari ayah Vira, pasti rencana Khairi akan berjalan lancar, tidak seperti sekarang ini.
*****
"Bunda, tolong bilang sama Rani untuk masak banyak!" ucap Emran yang baru selesai mandi. Pria itu baru pulang kerja.
"Kenapa masak banyak? Memang ada acara apa?" tanya Yasna. Dia merasa heran kenapa tiba-tiba suaminya meminta untuk dimasakkan banyak? Wanita itu mencoba mengingat apa hari ini, hari spesial? Sepertinya tidak.
"Nanti akan ada yang datang."
"Yang datang? Siapa, Pa? Memang berapa orang yang datang?"
"Papa tidak tahu, minta Rani tambahin masakannya. Kalau nanti masih kurang Papa bisa minta anak buah Papa beli di restoran."
"Memang tamunya siapa, sih, Pa? Papa bikin penasaran saja."
"Nanti juga Mama tahu."
"Papa ditanya malah kasih teka-teki."
"Iya." Yasna meninggalkan suaminya yang ada di kamar.
Emran duduk di tepi ranjang memainkan ponselnya sambil bergumam, "Bagaimana bisa dia mempunyai rencana seperti itu. Bukannya Afrin sudah menolak untuk melanjutkan rencana pernikahan? Ini semakin membuat kepalaku pusing. Aku jadi penasaran, sampai sejauh mana dia bertindak."
Tadi siang anak buahnya memberitahu. Bahwa Khairi menyiapkan acara lamaran nanti malam. Dia juga merencanakan sebuah pesta pernikahan untuk dirinya dan seorang gadis yang bernama Afrin. Tidak salah lagi kalau Afrin dimaksud adalah putrinya, tetapi mengenai alasannya tetap melanjutkan rencana pernikahan ini, itu yang tidak Emran mengerti.
Sementara di dapur, Yasna membantu Rani memasak untuk menjamu tamunya. Entah siapa yang akan datang.
*****
"Makanannya mau disiapin sekarang, Bu?" tanya Rani.
"Sebentar, Ran. Nunggu tamu yang datang," jawab Yasna.
"Siapa sih, Bunda? Aku, kan, sudah lapar," gerutu Aydin.
"Kalau kamu lapar, makan saja. Minta Rani siapin sama Nayla juga."
"Enggak, ah, aku mau makan sama-sama. Aku juga penasaran siapa tamu yang akan datang."
"Bunda juga tidak tahu, Papa kamu main rahasia-rahasiaan."
Benar saja lima belas menit kemudian, sebuah mobil memasuki halaman rumah keluarga Emran. Tiga orang turun sambil membawa hantaran menuju rumah itu. Salah satu dari mereka menekan tombol bel di samping pintu. Tidak lama pintu terbuka, ternyata Rani yang membukanya.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap Khairi.
"Wa—waalaikumsalam," sahut Rani gugup. Dia terkejut melihat kedatangan Khairi dan juga kedua orang tua pria itu. Apalagi mereka membawa parsel, terlihat Pak Hari membantu mereka menurunkan sesuatu dari mobil. Wanita itu masih berdiri menatap ketiga orang yang ada di depannya.
"Mbak Rani, Mbak Rani," panggil Khairi berulang kali. Namun, wanita itu masih asyik dengan lamunannya. Hingga pria itu pun menepuk bahunya.
"Eh, iya, Tuan."
"Boleh kami masuk?" tanya Khairi.
"Silakan." Rani membuka pintu lebih lebar agar tamunya bisa masuk.
Mereka duduk di ruang tamu, sementara hantaran sudah dibawa Rani ke dalam. Meski harus bolak-balik. Yasna juga sudah diberitahu jika tamunya sudah datang.
"Assalamualaikum, Pak Emran," ucap Papa Hamdan saat melihat Emran keluar bersama dengan Yasna.
"Waalaikumsalam, Pak Hamdan. Apa kabar?" ucap Emran sambil mengulurkan tangannya yang segera disambut oleh Hamdan.
"Alhamdulillah, baik. Oh, iya, ini perkenalkan ini istri saya," ucap Hamdan sambil menunjuk ke arah istrinya.
"Perkenalkan, nama saya Merry," ucap Merry sambil mengulurkan tangannya.
"Emran dan ini istri saya Yasna." Mereka saling bersalaman dan menyebutkan nama masing-masing.
"Silakan duduk," ucap Yasna. Dia sudah melihat hantaran yang dibawa oleh keluarga Khairi. Kini wanita itu mengerti maksud dan tujuan dari kedatangan mereka. Tadi Yasna juga meminta Rani memanggil Afrin yang berada di kamarnya.
"Ini dari siapa, Kak?" tanya Afrin yang berada di ruang keluarga.
Tentu saja suaranya terdengar hingga ruang tamu karena dia bertanya dengan suara yang cukup keras. Nayla dan Rani saling senggol agar menjawab pertanyaan Afrin.
"Dari keluarga Khairi," jawab Nayla dengan suara pelan.
"Keluarga Khairi?" ulang Afrin dengan mengernyitkan keningnya.
Dia merasa bingung, untuk apa keluarga Khairi datang dengan membawa hantaran? Semua yang di bawah ini seperti seseorang yang sedang lamaran saja, tetapi gadis itu sudah membatalkan rencana pernikahan.
Jantung Afrin tiba-tiba berdetak lebih cepat. Antara gugup, takut, marah, sedih, dan berbagai perasaan yang gadis itu rasakan.
"Sayang," panggil Yasna membuat Afrin menoleh.
"Iya, Bunda."
"Ayo, sini! Ada keluarga Khairi datang." Yasna membawa Afrin keluar menemui keluarga Khairi, mau tidak mau gadis itu menurut saja.
.
.
.
.
__ADS_1