
Baru setengah piring nasi yang dimakan, Mama Merry sudah menghentikannya. Wanita itu meletakkan piringnya di atas meja. Dia sudah merasa kenyang. Khairi tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Pria itu segera meraih tangan mamanya dan meminta maaf.
"Mama, Afrin, aku minta maaf atas apa yang sudah terjadi. Aku sudah melupakan tanggung jawabku sebagai suami dan anak. Aku terlalu sibuk membayar masa laluku yang hilang. Aku sungguh minta maaf," ucap Khairi dengan suara yang terdengar serak seperti menahan tangis.
"Kamu tidak perlu minta maaf. Jujur Mama ingin sekali marah padamu, tetapi papamu yang melarangnya. Dia yang memberi pengertian pada Mama," ucap Merry.
"Papa melarang? Maksud, Mama?" tanya Khairi dengan menyernyitkan keningnya karena tidak mengerti.
Afrin hanya diam mendengarkan suami dan mertuanya berbicara. Dia juga penasaran, apa maksud ucapan Mama Merry?
"Semalam, sebelum tidur, kami berbincang cukup lama. Papa sudah tahu jika kamu sedang makan malam di apartemen ibumu. Dia sangat mengerti keadaanmu. Saat aku mengatakan kalau aku sangat marah padamu, justru dia yang meminta maaf padaku. Semua yang kamu lakukan itu karena masa lalunya. Seandainya saja dia tidak melakukan kesalahan di masa lalu, kamu tidak akan bersikap seperti itu. Dia merasa sangat berdosa. Akibat masa lalunya, semua orang harus merasakan kesedihan."
Air mata Khairi menetes begitu saja. Dia tidak menyangka jika Papa Hamdan membelanya, padahal pria itu mengira jika papanya, orang yang paling marah diantara yang lain. Namun, Khairi salah. Semua justru sebaliknya.
"Maafkan aku, Ma. Maaf ...."
Khairi mencium punggung tangan Merry dengan suara seraknya. Afrin pun tidak bisa menahan air matanya. Dia tidak bisa membayangkan betapa sakitnya hati papa mertua. Saat ingin menghabiskan waktu bersama Khairi, tetapi Hamdan harus rela sang putra menebus masa lalunya.
Merry mengusap punggung putranya yang bergetar. Dia sangat menyayangi pria ini. Wanita itu sudah menganggapnya anak sendiri. Jika Merry merindukan putranya, maka Khairi yang akan dia anggap putranya di sini.
"Sudah, tidak apa-apa. Kepergian papa memang takdir dari Tuhan. Kita harus mengikhlaskannya. Perbanyak doa untuknya agar tenang di sana," ucap Merry dengan meneteskan air matanya.
Berbicara memang mudah. Nyatanya wanita itu sendiri belum ikhlas dengan kepergian sang suami. Dia berkata seperti itu hanya agar putranya tenang karena itu juga permintaan Hamdan sebelum pergi. Ingin sekali Merry marah, tetapi mengingat kembali pembicaraan semalam dengan sang suami, membuat dia mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Khairi tidak sanggup berkata apa-apa. Dia hanya bisa menangis dalam diam. Beruntung pria itu dikelilingi orang-orang baik.
"Sebaiknya kalian keluarlah. Sebentar lagi acara tahlilan, kalian harus mempersiapkan semuanya. Mama mau istirahat sebentar."
"Aku temani Mama di sini saja," sahut Afrin.
"Jangan, kalau kamu di sini, siapa yang akan mengatur semua persiapan tahlilan. Mama percaya kamu bisa mengatur semuanya."
Mau tidak mau, Afrin pun mengangguk. Dia juga tahu jika Merry memang sengaja melakukannya agar bisa sendirian di kamar.
"Ya sudah, kami keluar dulu. Mama istirahat saja. Kalau ada sesuatu yang Mama butuhkan panggil kami saja," ucap Afrin yang diangguki Merry.
Khairi dan Afrin pun keluar dari kamar mamanya. Pria itu mengajak istrinya ke kamar terlebih dahulu. Dia juga perlu meminta maaf dan berbicara dengannya. Afrin hanya menurut. Wanita itu juga perlu mendengar alasan yang akan suaminya berikan.
Begitu mereka memasuki kamar, Khairi langsung memeluk istrinya. Afrin hanya diam tanpa membalas. Dia memang sudah mengetahui alasan dari sang suami saat bercerita dengan Mama Merry tadi. Akan tetapi, wanita itu juga perlu mendengar untuk versi untuknya.
"Sebaiknya kita duduk dulu, Mas. Tidak enak bicara sambil berdiri," sahut Afrin.
Khairi pun melepaskan pelukannya dan mengikuti sang istri duduk di sofa. Pria itu tahu Afrin masih marah padanya. Dia akan menerima apa pun yang akan dilakukan wanita itu padanya karena Khairi mengakui jika dia melakukan kesalahan.
"Mas, aku sudah pernah memperingatkan kamu sebelumnya. Kenapa kamu menganggap ucapanku hanya angin lalu? Tidak adakah niat di hatimu untuk berubah menjadi lebih baik? Aku memaklumi jika kamu ingin membahagiakan ibumu, tetapi lihatlah di sini juga ada orang tua lain yang perlu diperhatikan. Ada juga bunda dan papa yang perlu ditanya kabarnya atau kamu tidak pernah menganggap orang tuaku seperti orang tuamu sendiri?"
"Tidak seperti itu, Sayang. Aku menganggap Bunda Yasna dan Papa Emran seperti orang tua sendiri. Kemarin aku hanya terlalu antusias saja," bantah Khairi.
__ADS_1
"Terlalu antusias!" ulang Afrin. "Kalau kamu menganggap orang tuaku seperti orang tuamu sendiri, pernahkah kamu menghubungi mereka lebih dulu dan menanyakan kabar? Selama kita menikah pernahkah kamu menghubungi mereka hanya untuk menanyakan kesehatan?"
Khairi terdiam. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Apa yang istrinya katakan memang benar. Pria itu hanya menghubungi Emran untuk membahas bisnis. Justru Bunda Yasna yang terkadang mengirim pesan dan bertanya bagaimana keadaannya dan Afrin, barulah dia bertanya kabar mertuanya.
"Sebaiknya kamu renungkan semua kesalahanmu dulu. Kamu masih memiliki satu hutang hukuman dariku. Sekarang bertambah satu lagi, jangan sampai bertambah lagi karena bisa saja aku pergi dari kehidupanmu."
Khairi melebarkan matanya sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia tidak ingin hal itu terjadi. Pria itu segera meraih telapak tangan istrinya.
"Tidak, Sayang! Jangan lakukan itu, aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku akan berusaha berubah menjadi lebih baik lagi, tapi jangan tinggalkan aku. Hanya kamu yang aku cintai," ucap Khairi yang akhirnya menangis kembali.
Ternyata apa yang dilakukan pria itu sungguh melukai hati istrinya. Ini bukan lagi masalah keluarganya tetapi juga mengenai mertuanya. Dia juga jarang sekali datang ke rumah Papa Emran, jika ke sana pun Afrin yang mengajaknya.
"Renungkan semuanya terlebih dahulu. Aku mau lihat persiapan tahlilan untuk papa. Untuk satu Minggu ini, sebaiknya jangan membicarakan masalah ini dulu. Selama itu juga pikirkan baik-baik."
Afrin segera berlalu keluar menuju dapur. Hanya tempat itu yang saat ini bisa mengalihkannya sejenak dari semua permasalahan yang ada.
"Ada apa, Non? Apa Non Afrin membutuhkan sesuatu?" tanya Bik Asih.
"Tidak ada, Bik. Lanjutkan saja pekerjaan, Bibi," ucap Afrin yang lebih memilih duduk di meja makan.
Bik Asih hanya melihatnya tanpa berani bertanya. Dia yakin jika Khairi dan Afrin sedang ada masalah, tetapi wanita itu tidak mau ikut campur. Bik Asih masih mencintai pekerjaannya.
.
__ADS_1
.
.