Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
246. S2 - Di kampung Rani


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Ivan memasuki sebuah perkampungan. Banyak anak kecil yang bermain di jalanan, membuat Ivan melajukan mobilnya dengan sangat hati-hati. Rani menunjukkan arah Di mana rumahnya, hingga sampailah mereka di sebuah rumah yang cukup besar untuk ukuran di kampung mereka.


"Ini rumah kamu, Nak?" tanya Mama Sari.


"Iya, Bu. Mari, saya bantu!" tawar Rani.


"Boleh."


Rani membantu Mama Sari turun dari mobil. Sementara Ivan mengambilkan tongkat yang berada di bagasi dan memberikannya kepada Mama Sari yang dibantu oleh Rani. Mereka menuju ke rumah Rahmi. Ivan masih harus mengambil beberapa oleh-oleh yang sudah disiapkannya dari rumah.


"Assalamualaikum," ucap Rani sambil mengetuk pintu.


"Waalaikumsalam," sahut seseorang yang berada di dalam rumah. Saat pintu terbuka tampak Bik Rahmi, Ibu Rani.


"Rani!"


"Ibu." Keduanya berpelukan, menumpahkan rasa rindu dan bahagia bersamaan.


"Kamu pulang nggak bilang-bilang?" tanya Bik Rahmi.


"Iya, Bu, dadakan soalnya. Kenalkan, ini Bu Sari, mamanya Mas Ivan," ucap Rani setelah mengurai pelukan mereka.


"Selamat siang, Ibu. Nama saya Rahmi, ibunya Rani," ucap Bik Rahmi sambil mengulurkan tangannya.


"Saya Sari, mamanya Ivan."


"Mari, silakan masuk!" Rani kembali membantu Mama Sari berjalan masuki rumah mereka. Semua duduk di ruang tamu. Begitu pun dengan Ivan yang baru memasuki rumah. Pria itu juga memberi salam pada ibu Rani.


"Ibu tinggal sendiri di sini?" tanya Sari.


"Tidak. Ada anak saya yang sulung sama suaminya tapi dia sedang menjemput anaknya sekolah. Mungkin sebentar lagi juga pulang. Kalau menantu saya sedang bekerja."


"Sudah punya cucu rupanya. Pasti sangat menyenangkan bisa bermain dengan mereka."


"Iya, Bu," jawab Bik Rahmi. "Ibu sendiri belum punya cucu?"


"Belum, ini baru juga akan menikah. Kalau anak kedua saya perempuan, tetapi masih kuliah."


Mereka pun berbincang-bincang juga mengenai rencana pernikahan Ivan dan Rani. Bik Rahmi mengatakan jika sebaiknya langsung saja acara pernikahan karena keluarga mereka semua sudah setuju. Tinggal persetujuan dari keluarga Ivan.


Mama Sari pun mengatakan jika keluarganya tidak pernah keberatan dengan pilihan Ivan, walaupun dia seorang asisten rumah tangga. Bagi mereka itu urusan setiap keluarga masing-masing.

__ADS_1


Saat mereka sedang berbincang, seorang wanita datang bersama dengan anaknya yang masih menggunakan seragam merah putih.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, Kakak!" Rani mendekati kakaknya dan mencium punggung tangan saudaranya. Setelah itu dia kembali duduk di samping ibunya.


Rani memang tidak begitu dekat dengan kakaknya karena dari dulu mereka tidak pernah akur. Apa pun yang dimiliki Rani, sang kakak selalu merebutnya dengan paksa.Itulah yang membuat wanita itu lebih suka bercerita apa pun pada bibi atau ibunya daripada sama kakaknya.


"Eh, ada tamu rupanya. Kenapa enggak dibikinin minum, Ran?" tegur kakaknya.


"Maaf, Kak, kami baru datang jadi, belum sempat buat minum," sahut Rani.


"Kamu saja yang buatin. Rani juga capek perjalanan ke sini," tegur Bik Rahmi.


"Aku juga capek, Bu. Habis jemput anak sekolah."


"Tidak usah, Bu. Kami juga belum haus," sahut Mama Sari.


"Jangan begitu, Bu. Bagaimanapun juga tamu harus dihormati."


"Sebentar, Bu. Aku mau ke dalam dulu," ucap Rani.


Dia menuju dapur untuk membuatkan tamunya minuman. Lebih baik Rani sendiri yang membuat minuman daripada semakin panjang hanya karena minuman. Kakaknya itu benar-benar tidak mengerti cara memuliakan tamu. Dia merasa malu hanya karena masalah sepele harus diperdebatkan.


"Saya tanggal berapa pun, terserah Ibu saja bagaimana baiknya. Saya juga nggak tahu rencana mereka bagaimana," jawab Rahmi.


Rani memang tidak memberitahu apa pun pada ibunya. Setiap Rahmi bertanya lewat sambungan telepon, Rani selalu mengatakan jika semua diserahkan kepada Ivan.


"Apa kamu sudah memiliki rencana, kapan pernikahan kalian akan dilakukan?" tanya Mama Sari pada putranya.


"Kalau Ivan sendiri, lebih cepat, lebih baik, tapi terserah Ibu mau kapan satu bulan lagi atau dua bulan lagi, terserah."


"Kalau satu bulan lagi, sepertinya terlalu cepat, Nak. Bagaimana kalau dua bulan lagi saja. Itu cukup untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Itu pun hanya acara sederhana," sahut Bik rahmi.


"Iya, Van. Mama juga setuju kalau satu bulan lagi itu terlalu cepat," timpal Mama Sari.


"Semua terserah Mama, jika sudah mendapatkan tanggalnya, kasih tahu aku saja. Biar aku yang cari EO-nya. Biar mereka yang mengerjakan semuanya. Aku tidak mau Mama sakit."


"Iya."


"Mohon maaf, Bu. Acaranya dilaksanakan di sini apa di kota?" tanya Ivan.

__ADS_1


Sebenarnya pria itu ingin acaranya di kota saja agar dia tidak bolak-balik, tetapi Ivan tidak ingin egois. Keluarga Rani pasti memiliki keinginan mengenai acara pernikahan putri mereka karena itu dia ingin mendengar pendapat ibu Rani.


"Akad nikahnya di sini saja, ya! Masalah resepsi, terserah mau di mana," jawab Rahmi.


"Iya, Bu. Kalau begitu acara resepsinya di kota saja. Nanti saya juga akan mengirim orang untuk membantu acara di sini."


"Tidak perlu, Nak Ivan, akan Ibu siapkan sendiri. Ibu tidak enak ngerepotin kamu semua."


"Tidak apa-apa, Bu. Hanya beberapa orang saja."


"Terima kasih," ucap Rahmi. "Oh, ya, mungkin nanti setelah akad nikah, akan ada beberapa orang datang memberi ucapan selamat untuk kalian. Ibu juga tidak mungkin nggak ngadain acara sama sekali. Di desa kami sudah terbiasa ada acara selamatan meskipun hanya kecil-kecilan. Untuk mempererat silaturahmi saja," ujar Rahmi.


"Iya, Bu. Saya mengerti."


Rani datang dengan membawa nampan dan berisi beberapa minuman dan juga cemilan. Ivan yang melihat kedatangan Rani, segera meraih nampan dari tangan wanita itu dan meletakkannya di atas meja. Rahmi tersenyum begitu perhatiannya Ivan pada putrinya


"Silakan dinikmati, di rumah kami hanya ada teh saja," ucap Rani.


"Iya, Bu, maaf hanya ada teh. Blendernya juga lagi rusak jadi, nggak bisa buat jus," sela Rahmi.


"Tidak apa-apa, ini sudah cukup melegakan tenggorokan," sahut Mama Sari dengan tersenyum.


Ivan dan mama Sari menikmati minuman dibuatkan oleh Rani.


"Manis, seperti orangnya," puji Mama Sari.


"Ibu bisa saja." Rani tersenyum yang diikuti tawa oleh orang yang berada di ruangan itu.


Mama Sari dan Bik Rahmi meneruskan perbincangan mereka. Sementara Ivan dan Rani pergi ke kebun atas perintah ibunya. Mereka harus memetik sayur untuk dibawa oleh Ivan dan mamanya pulang. Hanya itu yang bisa keluarga Rani berikan sebagai oleh-oleh.


Mama Sari sempat menolak karena baginya itu terlalu merepotkan keluarga Rani, tetapi Rahmi tetap memaksa karena baginya itu sebagai penghormatan mereka kepada keluarga Ivan dan tidak ada maksud apa-apa. Akhirnya Sari menerima dan mengizinkan Rani pergi.


Ivan dan Rani tidak hanya berdua. Di kebun sudah ada paman dan bibi jadi, tidak perlu takut akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2