Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
243. S2 - Izin pergi


__ADS_3

"Assalamualaikum," ucap Khairi saat memasuki apartemennya.


"Walaikumsalam," sahut Afrin yang mendekati suaminya dan mencium punggung tangannya.


"Bunda mana, Sayang?" tanya Khairi sambil melihat sekeliling.


"Sudah pulang sore tadi," jawab Afrin. "Kok, terlihat lesu begitu, Mas! Apa terjadi sesuatu?"


Khairi diam menunduk, memikirkan kata-kata untuk dia utarakan pada istrinya. Pria itu tidak mau ada rahasia sekecil apa pun dalam rumah tangganya.


"Sayang, jika perusahaan bangkrut dan aku tidak memiliki apa pun apa kamu akan tetap bersamaku?" tanya Khairi dengan menatap kedua mata istrinya.


Afrin yang ditanya seperti itu, tentu saja terkejut. Dari nada suaranya saja dia bisa tahu jika apa yang dikatakan suaminya itu serius dan bukan sesuatu hal untuk dibuat bercanda. Akan tetapi, bangkrut karena apa? Bukankah selama ini perusahaan baik-baik saja.


"Mas tahu, kan, bagaimana aku? Kalaupun kamu tidak memiliki apa pun, aku akan tetap disisimu. Jika memang aku harus berhenti kuliah juga, aku tidak apa-apa. Aku akan membantumu bekerja," ucap Afrin dengan sungguh-sungguh.


Memang sejak menikah semua kebutuhan Afrin ditanggung oleh Khairi karena pria itu sendiri yang memintanya. Untuk kuliah wanita itu juga Khairi yang menanggung. Sebagai seorang suami, dia tidak mungkin membiarkan mertuanya memenuhi permintaan istrinya.


"Untuk kuliah, kamu harus tetap melanjutkannya. Hanya saja mungkin nanti akan terasa berbeda. Kita harus banyak berhemat nanti, tapi aku yakin kamu bisa, kok!"


"Apa terjadi sesuatu dengan perusahaanmu? Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Afrin.


Dia juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, jika memang terjadi sesuatu pada perusahaan suaminya, Afrin tidak mungkin diam saja ketika usaha suaminya berada di ujung tanduk. Wanita itu yakin perusahaan masih bisa diselamatkan karena Khairi juga termasuk pengusaha hebat.


"Rekan bisnis, Mas, ingin membatalkan kerjasama. Padahal kerjasama ini sangat berarti untuk perusahaan yang aku besarkan."


Khairi pun menceritakan semuanya, bahkan tentang Luna. Dia tidak ingin sesuatu terjadi nanti karena kebohongannya. Afrin sempat terkejut mendengarnya. Ternyata pria itu pernah menjalin hubungan dengan seseorang saat masih sekolah. Padahal sebelumnya semua orang mengatakan, bahwa Khairi tidak pernah memiliki hubungan dengan siapa pun, tapi dia berusaha tetap tenang dan mendengarkan apa saja yang diceritakan oleh suaminya. Meski dalam hatinya, wanita itu ingin memaki dan memukul Khairi.


"Begitulah, Sayang, karena aku menolak permintaan Luna, makanya dia berniat ingin membatalkan kerjasama ini," ucap Khairi.


"Kenapa tidak minta bantuan sama Papa Hamdan atau Papa Emran saja, mas?"


"Papa Hamdan juga sedang ada masalah dan aku tidak mau memanfaatkan posisi dan koneksi. Aku tahu kalau Papa Emran bisnisnya sangat luar biasa, tapi aku ingin bekerja dengan usahaku sendiri," tolak Khairi.

__ADS_1


"Kalaupun kamu bekerjasama dengan papa, itu juga atas usahamu sendiri. Papa juga tidak mungkin bekerjasama dengan orang yang asal-asalan, meski dia adalah menantunya."


"Tetap saja, Sayang, itu artinya aku memanfaatkan papa."


"Lalu bagaimana saat kamu bekerja sama dengan orang lain? Bukankah itu juga sama saja manfaatkan orang lain. Kita hidup di dunia bisnis memang saling memanfaatkan dan saling menguntungkan. Tidak ada salahnya dengan hal itu. Asalkan kita bertanggung jawab atas apa yang kita manfaatkan dan Kita untungkan. Kalaupun meminta bantuan papa dan pekerjaan tidak beres, papa juga tidak akan membantumu dan menarik kembali menari modalnya kembali."


"Ya udah, Sayang, aku mau semua usaha sendiri. Aku tidak ingin memanfaatkan papa," ucap Khairi.


Dia tetap tidak ingin bergantung pada mertuanya padahal Afrin sudah menjelaskan semuanya. Akhirnya wanita itu diam. Dia tidak lagi berbicara, percuma saja Afrin berkata panjang lebar dan akhirnya suaminya tidak mendengarkan ucapannya sedikit pun, seolah apa yang yang dirinya katakan tidaklah penting.


"Mas, sudah makan malam?" tanya Afrin mengalihkan pembicaraan.


"Belum, Sayang."


"Sebentar, ya! Aku buatin, kamu mandi saja dulu." Afrin segera pergi ke dapur untuk membuatkan suaminya makanan.


Kebetulan tadi dia sudah memasak ayam, tinggal memberi bumbu saja. Sementara Khairi pergi ke kamar ingin membersihkan diri. Pria itu memikirkan kata-kata Afrin tadi. Memang benar apa yang dikatakan istrinya itu, bahwa dunia bisnis memang saling memanfaatkan dan saling menguntungkan, tergantung bagaimana pekerjaan kita.


"Mas, dari tadi belum mandi juga?" tanya Afrin yang baru saja memasuki kamar.


"Iya, Sayang. Ini juga mau mandi," ucap Khairi beranjak dari duduknya.


Dia merutuki dirinya. Kenapa sampai melamun? Afrin tahu jika suaminya memikirkan masalah yang menimpa perusahaan. Wanita itu juga tidak bisa banyak membantu karena dia tidak mengerti apa pun tentang bisnis. Saat Afrin menawarkan agar minta bantuan papanya saja Khairi menolak dengan alasan ingin mandiri. Alasan yang sudah basi padahal dengan meminta bantuan dan dia juga masih bisa mandiri. Emran hanya memberi bantuan, semua pekerjaan masih dilakukan Khairi


Tidak mau terlalu berpikir. Dia pun menyiapkan baju untuk suaminya dan menunggu suaminya di tepi ranjang sambil memainkan ponsel.


*****


Saat sedang menyiapkan makan malam, Rani memberanikan diri untuk bicara dengan Yasna. Kebetulan di dapur hanya ada mereka berdua.


"Maaf, Bu. Besok saya boleh izin sehari karena saya harus ikut Mas Ivan pulang ke rumah menemui ibu," ucap Rani.


"Kamu pergi sama siapa saja?"

__ADS_1


"Sama Mas Ivan dan ada mamanya."


"Bukannya mamanya Ivan ada di luar kota?"


"Katanya malam ini sudah ada dalam perjalanan ke rumah Mas Ivan dan besok pagi kami akan pergi ke kampung."


"Iya, tidak apa-apa, yang penting kalian jangan pergi berdua saja. Kalau pergi berdua, saya tidak izinin."


"Iya, Bu. Terimakasih, paginya saya tetap masak, kok, Bu. Mungkin siang dan malam yang tidak."


"Iya, tidak apa-apa. Kamu jangan terlalu memikirkan kami. Saya juga masih bisa memasak."


"Iya, Bu." Rani senang akhirnya bisa pulang kampung. Sebenarnya dia sudah kangen dengan rumah yang ada di desa. Besok dia akan memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin.


Pagi harinya Rani sudah siap dengan keperluannya untuk pulang kampung. Dia tidak membawa barang apa pun karena dia izin hanya satu hari pada Yasna.


Tidak berapa lama sebuah mobil memasuki halaman rumah keluarga Emran. Ivan turun dari kemudi sementara ibunya tetap duduk di dalam mobil. Belum sempat Ivan mengucap salam, Rani dan Yasna sudah keluar.


"Jaga Rani baik-baik, ya, Van!"


"Iya, Nyonya. Anda tenang saja, saya akan menjaganya dengan sebaik mungkin."


"Ibu kamu mana?"


"Ada di dalam mobil, Bu. Hanya saja kakinya sakit jadi tidak bisa turun."


"Ya sudah, tidak apa-apa. Kalian berangkat saja. Hati-hati di jalan."


"Iya, Bu. Kami permisi, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2