Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
108. S2 - Bunda terlihat aneh


__ADS_3

Matahari sudah meninggi. Yasna juga sudah merasa lebih tenang, dia pun memutuskan untuk kembali ke rumah. Dalam perjalanan pulang, wanita itu mencoba untuk menguatkan hati dan pikirannya. Mudah-mudahan dia bisa bersikap seperti biasa, agar mereka tidak curiga jika dia mendengar pembicaraan Aydin dan Emran.


"Sudah sampai, Bu," tegur tukang ojek karena Yasna tak kunjung turun.


"Oh, iya, pak. Terima kasih, ini uangnya."


"Tidak ada kembaliannya, Bu."


"Tidak apa-apa, buat Bapak saja."


"Tapi, ini banyak sekali?"


"Tidak apa-apa. Ini rezeki untuk keluarga Bapak."


"Terima kasih, Bu."


"Sama-sama."


Tukang ojek itu pergi meninggalkan Yasna berdiri di depan pagar rumah.


Yasna menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan. Wajah yang tadinya sedih, dia coba untuk tersenyum dan melangkahkan kakinya memasuki rumah.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," ucap Emran yang berada di ruang tengah. "Sudah pulang, Sayang?"


"Iya, Mas," jawab Yasna dengan mencium punggung tangan Emran. "Aku masuk dulu, ya, Mas. Mau mandi sebentar."


Emran menyernyitkan keningnya. Dia heran dengan sikap Yasna yang sedikit aneh dan kenapa Yasna tidak bertanya keberadaan anak-anak? Biasanya dia selalu mencari mereka, kenapa sekarang tidak.


"Papa, aku tadi denger ada suara bunda? Apa bunda sudah pulang?" tanya Afrin yang baru keluar dari kamarnya.


"Iya, bunda sudah pulang baru saja. Sekarang masih di kamar sedang mandi."


Afrin menganggukkan kepalanya. Dia menunggu Yasna di ruang tengah bersama papanya. Cukup lama mereka menunggu. Namun wanita itu tak kunjung keluar. Tidak biasanya dia berlama-lama di kamar.


"Pa, bunda kok lama?"


"Papa juga nggak tahu. Sebentar biar Papa lihat."


"Aku ikut."


"Kamu ini, seperti anak kecil saja," tegur Emran. Namun, Afrin masih mengikutinya.


Mereka berjalan menuju kamar dan saat membuka pintu, ternyata Yasna sedang tidur.


"Bunda tidur, Pa."


"Iya, mungkin bunda capek. Sudah, biarkan saja. Ayo, keluar. Biarkan bunda istirahat."


Tanpa mereka ketahui, sebenarnya Yasna tidak tidur. Dia sengaja menghindari bertatap muka dengan Aydin. Wanita itu terlalu malu pada putra sambungnya itu.


*****


"Kita masak apa, Bu?" tanya Rani saat mereka tengah menyiapkan makan malam.

__ADS_1


"Kita masak--." ucapan Yasna terhenti saat dia ingat kembali kata-kata Aydin. Wanita itu tidak mau terlalu berkuasa di rumah ini.


"Masak apa, Bu?" tanya Rani kembali karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Yasna.


"Terserah kamu saja, Ran. Saya enggak tahu mau masak apa. Saya ngikutin kamu saja."


Rani bingung dengan jawaban Yasna. Biasanya majikannya itu paling suka memainkan menu, tapi kenapa sekarang terlihat seperti orang bingung?


"Saya tidak tahu mau masak apa, Bu."


"Terserah kamu saja, masak yang menurut kamu enak saja."


"Masak ayam goreng saja, sama sambal. Bagaimana, Bu?" usul Rani yang disetujui Yasna.


"Iya, masak itu saja."


Memasak kali ini didominasi oleh Rani. Yasna hanya membantu sedikit. Setelah selesai mereka menyajikannya di atas meja. Rani dibuat bingung dengan sikap majikannya itu.


"Selamat pagi," sapa Afrin dengan ceria.


"Selamat pagi," sahut Yasna dengan tersenyum.


"Selamat pagi, Non Afrin. Hari ini ceria sekali, apa ada sesuatu?" tanya Rani.


"Iya, dong. Hari senin harus ceria, biar selalu cerah setiap hari."


Emran keluar bersama Aydin. Mereka semua menikmati sarapan pagi sambil berbincang. Semua orang dibuat bingung dengan sikap Yasna yang tiba-tiba jadi pendiam.


"Bunda kenapa? Sakit?" tanya Afrin.


"Kenapa kamu diam saja? Apa terjadi sesuatu kemarin, saat kamu bertemu dengan rekanmu?"


"Tidak, semuanya baik-baik saja," Jawab Yasna berbohong. Dia sendiri tidak tahu, bagaimana pertemuan Nayla dengan relasinya. Entah gadis itu bisa mengatasinya atau tidak.


"Ayo, kita berangkat, Dek! Kakak harus menyelesaikan pekerjaan kemarin, yang harus dilaporkan hari ini."


"Iya, kak. Bunda bekal aku mana?"


"Kamu mau bawa bekal? Bentar, ya, Bunda bilang sama Rani supaya menyediakannya."


"Kenapa harus Mbak Rani? Kenapa bukan Bunda yang nyiapin?"


"Kamu mau disiapin sama Bunda? Sebentar Bunda ambil kotaknya dulu." Yasna segera berdiri menyiapkan bekal untuk Afrin.


Semua pergerakan Yasna diamati oleh ketiga orang yang berada di meja makan. Mereka saling pandang seolah bertanya, ada apa dengan Yasna?


"Ini bekal kamu, Sayang." ucap Yasna dengan memberikan kotak makanan Afrin.


"Terima kasih, Bunda. Aku sama Kakak berangkat, ya."


"Iya, hati-hati."


"Aku juga berangkat, Sayang," pamit Emran dengan mencium kening Yasna.


"Iya, Mas juga hati-hati jangan ngebut-ngebut."

__ADS_1


Mereka semua berangkat meninggalkan Yasna seorang diri di depan pintu, dengan berbagai pemikiran yang ada di dalam kepalanya.


"Kakak, merasa ada sesuatu yang aneh, nggak? Sama Bunda." Afrin bertanya pada Aydin saat dalam perjalanan ke sekolah.


"Iya, kakak juga merasa ada sesuatu yang aneh sama Bunda, tapi Kakak nggak tahu apa yang terjadi."


"Kira-kira ada apa, ya, Kak? Apa mungkin Kak Nayla mengembalikan uang bunda, karena tersinggung dengan kata-kata kakak? Atau mungkin kerjasamanya dengan orang yang bunda temui kemarin gagal?"


Afrin mecoba mengira-ngira, apa penyebab bundanya bersikap aneh. Aydin juga memikirkan kemungkinan itu.


"Kakak tidak tahu. Kakak juga ingin bertemu dengan wanita itu dan menanyakan apa yang sudah terjadi."


"Wanita Itu? Siapa ... Kak Nayla?"


"Siapa lagi kalau bukan dia, bunda hanya pergi dengannya."


"Kakak jangan suudzon dulu, nanti malah jadi masalah lagi. Aku nggak mau kakak melakukan hal seperti kemarin. Kata-kata Kakak itu sudah menyakiti hati Kak Nayla."


"Iya, kakak, tahu. Kakak juga ingin sekalian minta maaf mengenai kemarin," sahut Aydin yang tidak ingin disalahkan.


"Bener, ya! Awas kalau bohong!"


"Iya, iya."


Akhirnya mereka sampai di sekolah. Afrin turun dan berpamitan pada kakaknya. Baru beberapa langkah dia berjalan, seseorang menghampirinya, berusaha untuk mengambil hatinya.


"Hai, Afrin. Kamu masih dianterin sama kakak kamu? Bukannya semua orang sudah tahu, ya, siapa kamu sebenarnya?" tanya orang itu yang tidak lain adalah Ihsan.


"Memangnya kenapa? Aku lebih suka diantar sama kakak. Aku juga merasa aman jika bersama kakak, tidak ada laki-laki buaya yang berani menggangguku," jawab Afrin sekaligus menyindir, tapi rupanya pria itu tidak peka.


"Berarti kamu belum pernah pacaran, dong?"


"Belum dan aku enggak pernah berniat untuk punya pacar. Aku hanya ingin menyelesaikan sekolahku dan membuat kedua orang tuaku bangga," ucap Afrin dengan penuh keyakinan.


"Kamu nggak bawa kendaraan, kan? Nanti sepulang sekolah, aku antar, ya?"


"Tidak perlu. Ada Pah Hari yang jemput. Terima kasih tawarannya," tolak Afrin. Dia juga tidak ingin mencari masalah dengan pacar Ihsan. Lagipula gadis itu tidak tertarik dengan buaya seperti pria di sampingnya ini.


"Hai, Frin," sapa Vira yang baru datang.


"Hai, mana Sisca dan Nuri?"


"Kalau Sisca sakit jadi, dia tidak masuk. Kalau Nuri ada di belakang lagi parkir mobilku."


Hal seperti ini yang tidak Afrin sekai dari Vira. Dia seolah menjadikan temannya sebagai pembantu, yang bisa dia suruh-suruh sesuai keinginannya.


Sebelumnya Afrin pernah menegurnya dan dia hanya mengiyakan tanpa mau berubah.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2