Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
280. S2 - Kotak masa lalu


__ADS_3

Benar apa yang dikatakan istrinya. Dia harus mempersiapkan segala kemungkinan apa pun yang akan terjadi nanti. Dalam hati pria itu yakin ini pasti ada berhubungan dengan mama kandungnya.


Apa mungkin wanita yang memakai seragam SMA itu kekasih papanya? Karena hal itu, justru membuat mamanya sakit hati karena Papa Hamdan masih memikirkan masa lalu? Semuanya masih menjadi misteri. Biarlah waktu yang akan menjawabnya.


Tidak terasa mereka sampai juga di rumah. Pasangan suami istri itu segera masuk. Keduanya akan memulai pencarian. Hanya malam ini waktu yang mereka miliki. Selanjutnya akan sulit membuat rumah ini kosong. Apalagi jika papa sudah pulang.


"Sayang kalau kamu mau mandi, mandi saja dulu. Aku mau langsung mulai mencari di ruang kerja papa. Nanti kamu ke sana saja," ucap Khairi pada istrinya. Dia tahu jika Afrin pasti tidak nyaman jika belum membersihkan diri.


"Iya, Mas. Nanti aku ke sana," jawab Afrin kemudian berlalu meninggalkan sang suami seorang diri.


Khairi pun segera pergi ke ruang kerja papanya. Dia mulai mencari di semua tempat. Namun, tidak ada petunjuk sama sekali. Dua puluh menit kemudian Afrin menyusul sang suami dan membantunya mencari sesuatu yang berhubungan dengan kunci atau foto.


"Sepertinya di sini tidak ada, Sayang. Kita cari di kamar papa saja," ucap Khairi.


Afrin mengangguk, meski sebenarnya dia sudah mengantuk. Namun, wanita itu tidak mungkin membiarkan suaminya mencari sesuatu sendiri. Mereka pergi ke kamar orang tuanya. Mudah-mudahan di sana ada petunjuk untuk keduanya.


"Mas, hati- hati, jangan sampai kita membuat papa dan mama curiga jika kamarnya sudah kita geledah," ucap Afrin begitu mereka sampai di kamar.


"Iya, Sayang," jawab Khairi.


Di kamarnya pun tidak ada petunjuk sama sekali. Khairi hampir putus asa, pikirannya kacau, tubuhnya juga lelah. Namun, dia tidak bisa berhenti begitu saja. Pria itu sudah melangkah sejauh ini, tidak mungkin menyerah begitu saja.


"Mas, sebaiknya kita istirahat dulu. Kamu juga sepertinya sangat lelah."


"Tidak apa-apa, Sayang. Kalau kamu lelah kamu istirahat saja. Aku bisa mencari sendiri."


"Bukan begitu, Mas. Kita harus memikirkan sesuatu. Kamu sudah sejak kecil tinggal sama papa, sebaiknya kamu pikirkan kira-kira di mana tempat yang menurut kamu aman bagi papa menyimpan rahasianya. Kita harus menggunakan otak juga tidak hanya tenaga karena itu kita istirahat sambil berpikir."


Khairi memikirkan kata-kata istrinya. Memang benar apa yang dikatakan Afrin. Papa Hamdan adalah orang pandai menyimpan rahasia. Pasti dia tidak meletakkan sesuatu yang disimpannya selama ini sembarangan.


Tiba-tiba pria itu teringat sebuah tempat yang sudah sangat lama tidak dia datangi. Segera Khairi mendatangi tempat itu. Pria itu mencari semua kunci cadangan rumah ini.

__ADS_1


"Ayo, ikut aku." Khairi menarik tangan istrinya ke gudang belakang.


"Ini ruangan apa, Mas?" tanya Afrin.


"Kata almarhum Pak Udin ini dulu tempat bermain saat aku masih kecil, tapi tidak digunakan lagi setelah dewasa. Yang aku heran, kenapa aku sama sekali tidak ingat pernah bermain di ruangan ini?" ucap Khairi sambil berusaha membuka pintu.


"Pak Udin siapa, Mas?"


"Tukang kebun di rumah ini dulu, ayahnya Pak Jono, tapi beliau sudah meninggal delapan tahun yang lalu," jawab Khairi yang diangguki Afrin.


Cukup lama pria itu mencoba membuka pintu akhirnya pintu terbuka. Ruangan begitu gelap, membuat mereka tidak bisa melihat apa-apa. Khairi mencoba menyalakan lampu, ternyata tidak berfungsi. Dia pun mengambil ponsel yang ada dalam saku dan menerangi ruangan itu.


Banyak debu dan sarang laba-laba di mana-mana. Ruangan itu sungguh sangat pengap. Hingga membuat keduanya kesulitan bernapas. Beberapa kali Afrin harus mengibaskan telapak tangannya untuk mengurangi rasa tidak nyaman.


"Sayang, kamu tunggu di luar saja. Di sini sangat pengap," ujar Khairi.


"Sebaiknya kita buka pintunya lebar-lebar agar ada angin yang masuk," ucap Afrin tanpa menghiraukan perintah sang suami.


Afrin juga ikut menyalakan ponselnya. Wanita itu tetap ikut membantu sang suami mencari, hingga dia menemukan sebuah kotak besar. Dibukanya, ternyata dalamnya ada sebuah album keluarga. Tidak ada yang dikenalnya dalam foto itu, hanya Papa Hamdan yang masih terlihat muda dan seorang wanita yang ada di sampingnya.


Afrin memperhatikan wajah wanita itu dan memang sama seperti yang ada di foto yang Khairi tunjukkan tadi. Apa memang benar, kalau itu adalah mama kandung Khairi?


"Mas, lihat ini," panggil Afrin membuat pria itu segera mendekat. "Bukankah wanita ini sama seperti yang ada dalam foto yang kamu bawa tadi?"


Khairi memperhatikan apa yang ditemukan oleh istrinya. Memang benar wanita itu adalah orang yang sama.


"Kita bawa ke depan saja, Sayang. Biar lebih jelas."


"Tapi ini masih ada lagi di dalam kotak dan ini berat," sahut Afrin sambil menunjukkan kotak didepannya.


"Biar aku saja yang angkat. Mudah-mudahan bisa"

__ADS_1


"Sama-sama saja, Mas. Pasti lebih muda," ucap Afrin yang diangguki Khairi


Khairi dan Afrin pun mengangkat kotak itu bersama-sama. Mereka membawanya ke tempat yang lebih terang. Pria itu mulai membongkar isi kotak besar itu. Terdapat beberapa foto lama papanya, ada juga fotonya sewaktu masih bayi dengan digendong wanita itu.


Dia semakin yakin jika wanita itu memang mamanya. Akan tetapi kenapa mamanya meninggalkannya seorang diri? Di foto itu sangat terlihat jika wanita itu bahagia, begitu pun dengan papanya lalu, apa penyebab mereka berpisah? Memikirkannya membuat kinerja otak Khairi melemah.


Pria itu mencoba mencari sesuatu yang lainnya di dalam kotak untuk bisa menjawab pertanyaannya. Sebuah gaun pernikahan beserta Jas dan kemeja. Ada juga sepasang cincin perhiasan di dalam kotak. Sepertinya itu cincin pernikahan. Diamatinya cincin itu, terukir nama Hamdan dan Nur.


'Nur? Apa wanita yang berada dalam foto ini bernama Nur? Apa dia juga ibu kandungku?' pikir Khairi


Seruan Afrin membuat Khairi tersadar dari lamunannya.


"Mas, lihat ini ada kotak yang terkunci. sepertinya cocok dengan kunci yang kamu pegang, ini lubangnya kecil sekali!" seru Afrin membuat Khairi mengalihkan pandangannya.


"Coba lihat."


Afrin menyerahkan kotak itu kepada suaminya. Diamatinya dengan saksama kemudian Khairi mencoba membukanya dengan kunci yang dia temukan, tetapi terasa sulit saat diputar.


"Kok, nggak bisa, ya, Sayang? Apa bukan ini kuncinya?" tanya Khairi yang masih berusaha memutar kunci.


"Sepertinya macet, Mas. Mungkin karena sudah terlalu lama tidak digunakan. Tunggu sebentar."


Afrin memasuki rumah mengambil sesuatu. Tidak lama wanita itu kembali sambil membawa minyak goreng, membuat kening Khairi menyernyit.


"Coba ditetesi sidikit minyak ke kuncinya, Mas, biar lebih mudah membukanya," ucap Afrin sambil menyerahkan minyak goreng ke suaminya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2