Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
66. Merasa tercubit


__ADS_3

Fazilah merasa tertampar dengan kata-kata Nuri, Ia baru ingat jika dia sudah bertunangan dengan Hafiz, ia melihat ke arah jarinya yang sudah tersemat cincin di sana.


Fazilah bingung harus berbuat apa? Jujur jauh di lubuk hatinya, dia masih sangat mencintai Hafidz, terlepas dari penghianatan yang dulu pria itu lakukan. Memang dia sakit hati, tapi dia tidak pernah bisa melupakan Hafiz.


"Kenapa kamu mengatakannya padaku, di saat seperti ini?"


"Maksudmu apa? Kamu tidak berpikir untuk membatalkan pertunangan, bukan?"


Fazilah terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa, karena memang seperti itulah yang ada di pikirannya saat ini.


"Kalau kamu tidak mencintainya, kenapa kamu bertunangan dengan kakak iparku? Kenapa kamu mau menerimanya?"


Fazilah tiba-tiba menangis, membuat Nuri serba salah, karena mereka kini sudah menjadi pusat perhatian orang-orang sekitar.


"Fa, jangan nangis, dong. Kita di lihatin banyak orang," kata Nuri.


"Aku bingung, apa yang harus aku lakukan, sekarang aku sudah menerima perjodohan ini dan sudah bertunangan, semua itu karena mama yang mendesakku, jujur aku tidak pernah mencintai dia dan aku juga tidak mungkin menyakitinya, dia pria yang baik."


"Maafkan aku, sudah membuatmu bingung dan ragu, tapi sungguh aku tidak ada niat untuk menghancurkan pertunanganmu apalagi masa depanmu dan mengenai kakak iparku, dia memang orang yang baik, jangan menyakitinya."


Nuri berpindah duduk di sebelah Fazilah, ia mengusap lengan wanita itu untuk menenangkannya. Dulu mereka sangat akrab kemana-mana selalu bersama. Namun, kejadian itu membuat hubungan mereka menjauh, hingga akhirnya Fazila pindah keluar kota dan bertemu dengan Yasna.


"Aku tahu ini semua salahku, seharusnya aku berpikir dengan matang, sebelum memutuskan sesuatu." Fazilah masih menangis, membuat Nuri salah tingkah, karena semakin banyak orang yang melihatnya.


"Apa yang akan kamu putuskan?"


"Aku belum memikirkannya, aku akan berpikir dengan sangat hati-hati kali ini, sebelum memutuskan semuanya, aku tidak ingin kembali menyesal suatu hari nanti."


Fazilah mengusap air matanya, ia berusaha menenangkan hati dan pikirannya, ia tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan, karena masalah ini bukan hanya menyangkut dirinya saja, ada banyak orang yang terlibat, jika Fazilah salah mengambil keputusan, akan banyak hati yang terluka.


"Apa kamu sudah memaafkanku?" tanya Nuri dengan menatap Fazilah setelah beberapa menit terdiam.


"Apa aku perlu memaafkanmu? Setelah apa yang kamu lakukan padaku!"


Nuri tak lagi bertanya, dia tahu kalau sudah sangat menyakiti hati mantan sahabatnya itu.


*****


Hari ini Celina datang ke rumah keluarga Emran bersama dengan ketiga anaknya, padahal hari ini Emran dan Yasna sudah berencana mengajak anak-anak pergi ke pantai.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, cucu-cucu Oma ke sini nggak ngasih kabar?" tanya Karina.


"Dadakan, Ma ... Mama apa kabar?" tanya Celina.


"Mama baik, kamu sendiri bagaimana?"


"Saya juga baik, Ma."

__ADS_1


"Tante!" Panggil Afrin, yang baru saja keluar dari kamar.


"Ponakan tante cantik sekali. Mau ke mana?"


"Alin mau pelgi ke pantai sama Papa, Bunda, kakak."


"Yaah, padahal adik-adik kesini mau main sama Afrin, tapi Afrinnya mau pergi."


Yasna dan Emran ke luar dari kamar, karena mendengar keributan saat Celina datang.


"Hai, Mbak Yasna, apa kabar?"


"Baik, kamu sendiri bagaimana?"


"Baik juga, kata Afrin kalian mau pergi?" tanya Celina.


"Iya, kami mau pergi ke pantai, anak-anak Sudah lama tidak pergi liburan, Papanya sibuk terus." jawab Yasna.


"Boleh Ikut enggak, Mbak. Masa kami sudah jauh-jauh ke sini eh, yang punya rumah malah pada keluar."


Yasna melihat ke arah suaminya seolah meminta persetujuan, Emran hanya mengendikkan kedua bajunya, seolah mengatakan kalau semua keputusan terserah pada Yasna.


"Boleh, kamu boleh ikut, tapi kamu dan anak-anak nggak bawa baju ganti, bagaimana?"


"Nggak pa-pa, di mobil ada kok, beberapa baju juga."


"Oh, ya sudah, kalian siap-siap saja, kita bawa satu mobil yang lebih besar."


"Tidak, Kak. Dia lagi banyak kerjaan."


"Sekarang usahanya berkembang pesat, ya? Makanya sering lembur."


"Kakak lebih hebat, usaha Kakak sudah di mana-mana."


"Bunda, kapan kita perginya? Dari tadi bicara terus!" seru Afrin.


"Kakak mana? Kok belum keluar?" tanya Yasna.


Afrin segera berlari menuju kamar Aydin, ia memanggilnya karena mereka akan segera berangkat.


"Aku ke depan dulu, Kak. Mau ambil baju di mobil," ucap Celina yang diangguki Emran.


"Kakak sudah siap, Bunda," ucap Afrin dari dalam diikuti Aydin di belakangnya.


"Ayo, kita berangkat," ajak Yasna.


Mereka semua berjalan keluar setelah pamit pada Karina.


"Mbak, boleh nggak aku duduk di depan, aku kalau duduk di belakang suka muntah," ucap Celina dengan nada memelas, membuat Yasna merasa serba salah.

__ADS_1


"Boleh," jawab Yasna dengan enggan.


Yasna duduk di tengah bersama Afrin dan Aydin, sementara dua anak Celina duduk di kursi belakang, sedangkan yang bungsu duduk bersama Celina di depan karena masih terlalu kecil.


Dalam perjalanan Celina selalu mengajak Emran berbicara, bahkan mereka berdua sampai tertawa terbahak-bahak, saat bercerita tentang masa lalu. Entah kenapa Yasna merasa hatinya tercubit, ia meremas kedua tangannya yang berada di pangkuannya, tanpa sadar Aydin sedari tadi melihat hal itu.


"Bunda, ini bagus, kan?" tanya Aydin, sambil memperlihatkan sebuah gambar di ponselnya. Dia berusaha mengalihkan perhatian Yasna.


"Ini gaun buat siapa?" tanya Yasna saat tahu Aydin Perlihatkan sebuah gambar gaun pesta.


"Buat Bunda."


"Memang kamu punya uang, buat beliin Bunda gaun?"


"Nanti minta sama papa." Yasna tertawa mendengarnya.


Adin merasa lega, karena sudah berhasil mengalihkan perhatian Bundanya.


"Nanti bunda pasti cantik kalau pakai gaun ini."


"Lain kali, kalau mau kasih hadiah sama Bunda atau siapa pun, harus pakai uang Aydin sendiri, masak kasih kado buat orang hasil minta sama papa."


"Nanti kalau Aydin sudah besar, sudah kerja, Bunda mau minta apa saja, pasti Aydin kasih."


"Benar, ya! Kalau Aydin sudah besar, Bunda tagih janji yang kamu ucapkan hari ini, kamu nggak boleh lupa."


"Tentu, Aydin 'kan laki-laki jadi, harus menepati janji, Aydin hanya butuh doa Bunda agar bisa sukses suatu hari nanti."


"Pasti Bunda akan selalu doakan Ayden dan Afrin, agar sukses."


"Susses itu, apa sih, Bunda?" tanya Afrin.


Yasna terkekeh mendengarnya, afrin memang selalu ingin tahu setiap kata yang dia dengar.


"Sukses, dhek. Bukan Susses," sela Aydin.


"Sukses itu ketika kita menjadi orang yang hebat, setelah melalui berbagai ujian, apa yang kita inginkan juga sudah tercapai."


"Aku juga mau sukses,"


"Tentu, semua orang pasti ingin sukses."


Yasna memeluk kedua anaknya, sungguh sangat beruntung Yasna memiliki keduanya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2