
"Habis makan jangan tidur dulu, kerjakan tugas sekolah. Kalau tidak ada, dipelajari lagi ya peljarannya," ucap Yasna pada Aydin.
"Iya, Bunda," jawab Aydin membuat Yasna tersenyum.
Aydin berlalu memasuki kamarnya. Karina dan Emran saling tatap, mereka terkejut Aydin memanggil bunda pada Yasna, padahal sebelumnya ia tidak pernah mau.
"Na, Mama tadi nggak salah dengar, kan? Aydin manggil kamu Bunda?" Karina bertanya karena ingin memastikan pendengarannya tidak salah.
"Aydin memang sekarang manggil aku Bunda, Ma."
"Sejak kapan?"
"Tadi, waktu aku manggil dia makan."
"Jadi itu yang membuat wajah kamu sembab?" tanya Emran.
"Aku bahagia, Mas. Akhirnya dia bisa nerima aku, padahal aku sempat ragu, bisa membuatnya luluh."
"Aku juga bahagia melihat kamu dan anak-anak bahagia."
Yasna merasa hidupnya sempurna saat ini, ia bisa merasakan, bagaimana menjadi seorang ibu, hal yang tidak pernah ia bayangkan, mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Ia juga senang memiliki suami yang mencintai dirinya dan juga mertua yang menyayanginya seperti anak sendiri, mudah-mudahan akan selamanya seperti itu.
"Bunda, Alin mau tidul sama Bunda," rengek Afrin.
"Eh, habis makan kok tidur? Kita main dulu, yuk!" bujuk Yasna.
Afrin mengangguk, meski saat ini ia sangat mengantuk.
*****
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Hafidz, kamu mau ke mana? Rapi banget," tanya Fazilah.
Setiap pagi dan malam Fazilah akan datang ke rumah Alina untuk melihat keadaan Hafidz, tapi sampai saat ini Hafidz sama sekali belum menunjukkan perubahan. Ia juga selalu membawa makanan atau snack.
"Aku mau cari kerja, aku nggak enak ngerepotin kamu terus."
"Cari kerja di mana? Zaman sekarang susah cari kerja, apalagi kamu tidak ada ijazah."
"Apa saja, yang penting halal."
Hubungan mereka kini juga lebih dekat, sesekali mereka keluar untuk jalan-jalan di malam hari. Fazilah mengakui, Hafidz memang sangat tampan dan juga baik, bahkan tak jarang ia dibuat terpesona dengan tampilan Hafidz yang sederhana dan berkharisma.
"Ada Fazilah? Kenapa tidak masuk? Malah ngobrol di depan," tegur Hilman.
"Iya, Yah," sahut Fazilah.
Mereka masuk ke dalam rumah, Fazilah menuju dapur, di sana ada Alina yang sedang menyiapkan sarapan.
"Kamu sudah datang?" tanya Alina. "Kenapa selalu bawa makanan? Ibu sudah masak banyak."
"Hanya seadanya saja, Bu."
"Bukannya mamamu sudah pulang, kenapa tidak menemaninya?"
__ADS_1
"Mama masih belum pulang, Bu. Pekerjaannya belum selesai, mungkin tiga hari lagi. Padahal aku sudah memintanya untuk berhenti bekerja."
"Mamamu sudah terbiasa bekerja, pasti dia akan merasa kesepian di rumah seorang diri, kecuali kamu nikah, terus kasih dia cucu, pasti mamamu mau berhenti kerja."
"Ternyata mama sama Ibu sama saja pembahasannya."
"Karena memang itu jalan keluarnya."
Fazilah mendengus, bagaimana dia mau menikah? Pacar saja tidak punya, mau nikah sama siapa?
*****
Setelah menjemput anak-anak, Yasna mengajak mereka pergi ke mall, mereka menghabiskan banyak waktu di tempat bermain, hingga seseorang datang menyapa Yasna.
"Mbak!" seseorang menepuk bahu Yasna, membuatnya menoleh.
"Iya."
"Halo, Mbak. Masih ingat sama saya?"
"Iya, kamu Celina, kan?"
"Iya, kita belum pernah kenalan. Perkenalkan namaku Celina." Celina mengulurkan tangannya yang kemudian disambut oleh Yasna.
"Yasna, kamu sendirian?"
"Iya, Papanya anak-anak masih di kantor."
Mereka duduk sambil mengawasi anak-anak yang sedang bermain, banyak juga orang tua lainnya yang mengawasi anak mereka.
"Kamu sangat beruntung bisa memiliki suami sebaik Kak Emran. Dulu Mama Karina pernah menyarankan agar Kak Emran menikahiku, tpi dia menolaknya mentah-mentah, dia beralasan tidak ingin menyakiti hati adiknya, padahal adiknya sudah meninggal. Aku sempat terkejut saat mama bilang dia akan menikah, aku penasaran siapa yang bisa merebut hati Aydin? Karena seingatku, dia pernah mengatakan jika dia tidak akan menikah jika Aydin tidak setuju. Ternyata pilihannya memang sangat tepat, Mbak Yasna memang orang yang baik. Meski aku hanya bisa melihat dari jauh, tapi aku juga seorang wanita dan seorang Ibu, aku tahu kasih sayang yang kamu berikan pada Aydin dan Afrin itu tulus."
"Iya, sangat baik, sampai bisa membuatmu masuk rumah sakit."
"Kamu tahu juga tentang kejadian itu?"
"Iya, Mama Karina yang cerita, bahkan Aydin sampai ketakutan melihat alergimu kambuh."
"Alergiku memang sangat parah."
"Tante Celina!" panggil Afrin.
"Hai, Sayang. Apa kabar?"
"Baik," jawab Afrin. "Bunda, lapal."
"Ayo! Cari restoran, makan dulu setelah itu kita pulang," ajak Yasna. "Celina, ayo! Kita makan sama-sama."
"Sebentar, aku panggil anak-anak."
Mereka makan di restoran bersama-sama, usai makan mereka pulang. Celina juga ikut, sudah lama ia tidak datang ke rumah, sejak pernikahan Emran.
Afrin sangat senang sepupunya main ke rumah, ia jadi banyak teman. Berbeda dengan Aydin yang lebih menyukai ketenangan.
Tiga puluh menit akhirnya mereka sampai di rumah, Afrin berlari bersama ketiga sepupunya. Celina memiliki tiga anak, dua anak dari almarhum adik Emran dan satu dari suaminya yang sekarang.
"Assalmualaikum," teriak anak-anak.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, cucu Oma semuanya ke sini, sama siapa?" tanya Karina yang sedang menonton televisi.
"Assalamualaikum, Ma."
"Waalaikumsalam, kalian kok bisa barengan?"
"Tadi nggak sengaja ketemu di mall," jawab Celina.
"Sudah makan?"
"Sudah, Ma. Tadi kami makan di restoran sama-sama."
Celina duduk di samping Karina, sementara Yasna pergi ke dapur, membuatkan minum untuk semua orang.
"Silakan diminum, ini juga ada kue." Yasna meletakkannya diatas meja.
"Kenapa repot-repot sih, Mbak. Aku bisa ambil sendiri."
"Nggak pa-pa, cuma air saja."
Mereka ngobrol hingga sore hari, anak-anak pun sangat senang bisa bermain bersama, hanya Aydin yang memilih di kamar sendirian. Celina menunggu suaminya menjemput, tadi ia ikut di mobil Yasna.
"Assalamualaikum."
Suara dua orang laki-laki membuat semua orang menoleh.
"Waalaikumsalam, kalian sama-sama juga ke sininya?" tanya Karina.
"Tadi ketemu di depan, Ma," jawab Emran.
"Apa kabar, Tante?" sapa Ilham, suami Celina.
"Baik, kamu sendiri gimana?"
"Saya juga baik, Tante."
"Ayo, duduk dulu! Berdiri saja," ucap Karina.
"Sayang, tolong buatkan minuman, ya!" pinta Emran.
"Iya, sebentar, Mas." Yasna ke dapur, membuatkan minuman untuk suami dan tamunya.
"Sudah lama kalian tidak ke sini?"
"Maaf, Ma. Akhir-akhir ini saya sibuk, banyak kerjaan sering lembur juga."
Sejujurnya Ilham kurang suka berada di rumah ini, tapi rasanya tidak sopan jika menjemput istri dan anaknya tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
"Silakan diminum, Kak." Yasna meletakkan dua gelas minuman diatas meja.
"Terima kasih."
.
.
.
__ADS_1
.