Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
249. S2 - Bukan ibu kandung


__ADS_3

"Ivan, tolong antarkan saya ke rumah mertuaku," ucap Khairi saat keduanya keluar dari perusahaan.


"Kenapa ke rumah Bu Yasna, Tuan?"


"Istriku ada di sana," jawab Khairi. "Barangkali kamu juga ingin bertemu Rani?"


"Tidak, Tuan," jawab Ivan.


Padahal dalam hati, dia sangat ingin bertemu dengan gadis pujaan hatinya. Akan tetapi, pria itu tidak mungkin mengatakan yang sesungguhnya pada atasannya. Bisa-bisa Ivan akan diejek habis-habisan. Dia sangat tahu bagaimana kepribadian Khairi.


"Kalau kangen, bilang aja kangen. nggak usah pura-pura," sindir Khairi yang tidak ditanggapi oleh Ivan.


Segera asisten itu melajukan mobil ke arah rumah keluarga Emran. Dalam perjalanan Ivan merasa gugup, padahal dia 'kan ke sana hanya untuk mengantar atasannya, tetapi pria itu merasa seperti dirinya yang mengunjungi pujaan hatinya.


Tidak berapa lama akhirnya mereka sampai juga di depan rumah keluarga Emran. Tampak juga Emran dan Aydin baru pulang dari kantor. Keduanya turun dan segera menyapa pemilik rumah.


"Assalamualaikum, Pa, Kak," sapa Khairi. Sementara Ivan hanya menundukkan kepalanya sebentar.


"Waalaikumsalam."


"Khairi, kamu sendiri? Afrin nggak kamu ajak?" tanya Aydin.


"Saya sama Ivan, justru saya ke sini mau jemput Afrin, Kak. Dia dari pulang kampus langsung ke sini."


"Oh, aku kira kamu memang sengaja datang."


"Tuan, saya pulang dulu," pamit Ivan.


"Kamu nggak mau mampir dulu, Van? Di dalam ada Rani," ucap Aydin yang sengaja menggoda.


"Tidak perlu, Tuan, karena mama saya ada di apartemen sendiri takut beliau menginginkan sesuatu," tolak Khairi.


"Oh, kalau begitu hati-hati."


Ivan meninggalkan ketiga pria itu. Sesekali dia melirik ke arah pintu rumah, berharap seseorang keluar melihat dirinya meski hanya senyuman yang diberikan orang itu, tetapi hingga pria itu memasuki mobil, tidak ada satu orang pun yang keluar dari rumah.


Akhirnya dengan kecewa pria itu melajukan mobilnya dan meninggalkan rumah itu. Tanpa diketahuinya sedari tadi Rani bersembunyi di samping rumah. Tadi dia sedang ada di taman, saat mendengar suara mobil dia mencoba melihat siapa yang datang, ternyata kedua majikannya setelah itu datang Khairi bersama Ivan.


Gadis itu berharap jika Ivan mau singgah sebentar. Namun, ternyata pria itu menolak dengan alasan mamanya tinggal sendiri. Memang benar mamanya seorang diri di apartemen, tetapi tidak bisakah Ivan mampir sebentar saja sebelum menemani sang mama? Mungkin minum segelas kopi dan bertanya kabar. Itu sudah mampu membuatnya bahagia.


Rani yang tidak ingin memendam kekecewaan, akhirnya berbalik dan kembali melanjutkan tugasnya membersihkan taman samping. Sementara Emran, Aydin dan Khairi, memasuki rumah. Tampak Yasna mengobrol bersama Afrin, ada Nuri juga di sana sedang bermain.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap ketiga pria itu serempak.


"Waalaikumsalam, kalian kok bisa barengan?" tanya Yasna dengan menyambut suaminya.


"Iya ketemu di depan, Sayang," jawab Emran.


"Ya sudah, sekarang kalian bersih-bersih dulu," ujar Yasna.


Khairi mendekati sang istri dan mencium keningnya. Pria itu mengusap rambut istrinya yang panjang. Dia senang melihat istrinya tersenyum seperti ini.


"Mau mandi dulu, Mas? Ayo, ke kamarku saja!" tawar Afrin.


"Tidak, Sayang. Nanti saja, mandi di apartemen."


"Mas, nggak mandi! Bau tahu."


"Masa, sih!" Khairi mencium kedua ketiaknya. "Ah, nggak ah."


"Ih, jorok!" seru Afrin justru membuat Khairi terkekeh dan mencubit hidung istrinya.


"Kalian makan malam di sini dulu, ya! Jangan pulang dulu."


"Aydin, mandi dulu sana!"


"Iya, Bunda," sahut Aydin. "Nayla mana, Bun?"


"Tadi ada telepon dari pegawainya. Mungkin ada di kamar."


Aydin mengangguk dan berlalu memasuki kamarnya. Sementara Khairi dan Afrin duduk di ruang tamu, sambil menjaga Nuri karena yang lain sudah masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.


"Nuri, ayo salim sama Om Khairi!" seru Afrin pada Nuri.


Segera gadis kecil itu bangkit dari duduknya dan mendekati Khairi setelah itu mencium punggung tangan pria itu. Nuri akan kembali ke tempat bermainnya. Namun, dicegah oleh Afrin.


"Mau ke mana kamu?" tanya Afrin dengan menarik


"Main Ate,"


"Sini dulu," Afrina menaikkan Nuri ke atas pangkuannya. "Nuri katanya mau punya adik, ya? Senang tidak punya adik?" Nuri hanya mengangguk tanpa mengucapkan satu kata pun.


"Nanti kalau punya adik dijagain, ya! Adiknya diajak main." Nuri kembali mengangguk.

__ADS_1


"Sayang, Kak Nayla hamil?" tanya Khairi yang penasaran dengan apa yang diucapkan istrinya.


"Kata bunda tadi begitu, Mas. Hanya saja, entah kenapa dia sepertinya tidak senang."


"Kenapa tidak senang?"


"Bunda bilang, dia trauma, takut kejadian Nuri akan terulang kembali."


"Kejadian Nuri? Kejadian apa?"


"Nanti saja ceritanya di rumah. Tidak enak di sini, nanti kedengeran sama Kak Nayla." Khairi mengangguk dan akhirnya diam saja.


*****


Khairi dan Afrin sudah pulang ke apartemennya setelah makan malam di rumah Keluarga Emran. Kini mereka bersiap untuk terbang ke alam mimpi. Pria itu memeluk istrinya dan dan menjadikan lengannya sebagai bantal sang istri.


"Sayang, kamu tadi bilang mau cerita tentang kejadian Nuri, kejadian apa?" tanya Khairi yang masih penasaran apa yang sebenarnya terjadi.


"Mas, masih ingat saja," sahut Afrin. "Jadi begini. Dulu waktu Kak Nayla hamil. Dia menderita kanker payudara jadi, setelah melahirkan Nuri, Kak Nayla berobat ke luar negeri selama satu tahun. Setelah itu dia pulang, tetapi karena memang Kak Nayla tidak pernah bertemu dengan Nuri, hanya lewat sambungan telepon. Nuri jadi takut setiap Kak Nayla ingin mengajak atau menggendong. Dia pasti menangis. Mungkin itu yang membuatnya trauma hingga tidak mau memiliki anak lagi. Kak Nayla takut sakit dan harus berpisah dengan anaknya. Apalagi waktu itu Nuri hampir saja kehilangan nyawanya, kalau saja Kak Aydin tidak datang tepat waktu."


"Kehilangan nyawanya? Kenapa?"


"Waktu itu Kak Nayla ingin memiliki waktu berdua bersama putrinya. Hingga memaksa Nuri untuk pergi bersamanya. Saat itu Bunda khawatir, sepertinya dia merasakan sesuatu pada cucunya, akhirnya tengah malam bunda membangunkan Kak Aydin dan memintanya melihat keadaan Nuri. Kak Aydin tidak tega melihat bunda yang memohon, akhirnya dia datang ke rumah bibi Rini dan ternyata benar di sana Nuri demam tinggi dan kakak segera membawa ke rumah sakit. Dokter bilang, untung saja tidak terlambat. Nuri itu tidak bisa dipaksa dan tidak bisa tertekan. Bahkan kena hujan sedikit saja langsung demam berhari-hari, padahal keluarga juga pernah membawanya terapi, tapi semuanya seolah tidak ada artinya."


"Bunda sepertinya sayang banget sama Nuri. Sampai bisa memiliki ikatan batin seperti itu."


"Bunda itu baik ke semua orang. Aku belum cerita tentang bunda ya sama kamu."


"Cerita apa?"


"Mengenai Bunda yang bukan ibu kandungku."


"Jadi, Bunda Yasna bukan ibu kandung kamu?" tanya Khairi terkejut.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2