
Pintu yang bernuansa putih itu terbuka. Keluarlah seorang dokter wanita dengan memakai jubah kebesarannya.Dia tersenyum pada ketiga orang yang sudah menunggu dengan wajah cemas.
Segera seorang pria mendekati dokter itu, ingin memastikan bagaimana keadaan sang istri yang terbaring lemah di atas ranjang.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" tanya Aydin.
"Saya tadi sudah memeriksanya dan juga sudah mengetes urin Bu Nayla. Ternyata beliau saat ini sedang hamil."
Aydin terkejut mendengarnya. Dia tidak mengerti apa-apa tentang wanita hamil. Nayla juga tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Namun, jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, pria itu sangat bahagia mendengar apa yang disampaikan dokter.
"Jadi, istri saya sedang hamil, Dok?" tanya Aydin ingin memastikan apakah pendengarannya benar atau tidak.
"Benar, Pak. Bu Nayla saat ini sedang hamil, untuk memastikannya sebaiknya Anda membawa Bu Nayla USG."
"Tapi kemarin, dia bilang kalau sedang datang bulan, kenapa sekarang tiba-tiba Dokter bilang hamil?"
"Bu Nayla tadi juga sudah menjelaskan kepada saya, mengenai kejadian kemarin dan itu hanya berupa flek, tapi Bu Nayla menganggap itu datang bulan. Mungkin karena kurangnya pemahaman dari Bu Nayla. Flek juga termasuk tanda-tanda kehamilan, Pak."
"Jadi istri saya benar-benar hamil, Dokter?"
"Benar, Pak."
"Terima kasih, Dokter." Aydin menjabat tangan dokter wanita yang ada di depannya.
Dia sangat bahagia dan tidak menyangka akan kehadiran malaikat kecil, yang akan meramaikan keluarganya. Nayla juga pasti akan sangat bahagia karena dia sudah menunggu kehadirannya.
"Boleh saya bertemu dengan istri saya, Dokter?" tanya Aydin.
"Silakan, Bu Nayla juga sudah menunggu Anda."
Tanpa permisi pria itu segera memasuki ruangan tempat Nayla masih terbaring. Dia tidak sabar ingin memeluk sang istri. Menyalurkan kebahagiaan yang tidak bisa digambarkan dengan apa pun.
Setiap pasangan pasti menginginkan kehadiran seorang malaikat kecil, yang akan memberi kebahagiaan untuk mereka.
"Sayang," panggil Aydin dengan segera berlari dan memeluk Nayla. Dia sangat bahagia mendengar kabar ini.
"Mas," sahut Nayla dengan membalas pelikan sang suami.
"Aku bahagia, Sayang mendengar jika kamu saat ini sedang hamil," ucap Aydin dengan mengusap perut datar istrinya.
"Aku juga sangat bahagia, Mas. Kemarin aku sempet sedih karena belum hamil. Ternyata saat ini Tuhan mengabulkan semua doa-doaku. Aku benar-benar sangat bahagia," ucap Nayla dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah menghadirkan malaikat kecil dalam perut kamu."
__ADS_1
"Kita harus bersyukur pada Tuhan karena menghadirkan kebahagiaan di keluarga kita, Mas."
"Iya, kamu benar," sahut Aydin. "Oh iya, aku lupa belum memberi kabar sama bunda dan papa."
Aydin merogoh sakunya untuk mencari ponsel. Dia ingin menghubungi salah satu keluarganya. Pria itu yakin, mereka akan bahagia mendengarnya. Namun, Nayla mencegahnya. Wanita itu
"Mas, jangan dulu."
"Kenapa? Mereka juga pasti akan sangat bahagia mendengar berita ini."
"Aku mau bertemu mereka dulu, Mas. Aku ingin mengatakannya secara langsung dan melihat ekspresi bahagia mereka."
Nayla berkata dengan wajah berseri-seri. Dia tidak sabar melihat ekspresi bahagia yang ditunjukkan semua orang. Terutama Bunda Yasna yang selama ini selalu baik padanya.
Wanita itu juga ingin memberi kabar pada Rini, tetapi
"Baiklah, kalau begitu. Kamu benar, mengatakannya secara langsung pasti sangat membahagiakan bagi mereka."
Aydin dan Nayla saling pandang dan tersenyum. Keduanyaa tidak menyangka jika kabar gembira begitu cepat datangnya di keluarga mereka.
"Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa ada sesuatu yang tidak nyaman?"
"Aku tidak apa-apa, Mas."
"Aku tidak ingin makan dan tidak ingin apa-apa. Aku saat ini sedang bahagia jadi, tidak memikirkan apa pun lagi," jawab Nayla dengan tersenyum.
Berita kehamilannya membuat semua terasa indah. Bahkan semua keinginan yang sebelumnya sudah ada, kini telah terlupakan. Nayla tidak sabar ingin memberi kejutan untuk keluarganya. Baik itu keluarga dari Aydin atau dari dirinya sendiri.
"Ya sudah, kamu istirahat dulu."
"Kita nggak pulang, Mas?"
"Aku belum bertanya sama dokternya. Kamu juga belum dikasih resep obat dan vitamin. kamu istirahatlah dulu, nanti aku tanyakan pada dokternya."
"Iya, Mas."
*****
Setelah jam makan siang, Nayla diperbolehkan pulang, setelah dokter memeriksa keadanya dan semua sudah stabil dan baik-baik saja. Dokter juga memberi resep dan vitamin. Aydin dan Nayla memutuskan untuk pergi ke rumah Emran.
Mereka ingin berbagi kabar kebahagiaan dengan keluarga Aydin terlebih dahulu, baru setelahnya memberi kabar pada Roni, Doni dan Rini. Lagi pula saat ini, paman dan bibinya itu berada di luar kota menjenguk cucu mereka.
Satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di rumah yang begitu besar, dengan banyak tanaman hias yang sengaja di ditanam oleh Yasna. Ada pula beberapa tanaman buah yang ada di samping rumah. Semua menambah keasrian dan keindahan rumah itu.
__ADS_1
Di depan rumah itu hanya ada satpam yang menunggu pintu gerbang. Di halaman tidak ada satu orang pun terlihat. Aydin memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu utama. Segera dia turun dan membukakan pintu untuk sang istri.
Sebelum mereka sampai, pintu rumah sudah terbuka. Tampak Yasna di sana yang sedang tersenyum ke arah anak dan menantunya. Wanita itu tadi mendengar suara mobil. Dia mengira sang suami yang pulang, ternyata kedua anaknya.
"Assalamualaikum, Bunda," ucap Aydin dan Nayla bersamaan.
"Waalaikumsalam, kalian ke sini nggak bilang-bilang! Bunda nggak nyiapin apa apa," ucap Yasna saat kedua anaknya berjalan menghampirinya.
"Nggak perlu, Bunda. Kita makan apa saja yang ada. Tidak perlu repot mencari sesuatu. Kami makan apa saja yang ada. Lagipula kami ke sini mau main, bukan menginginkan sesuatu."
Aydin mencium punggung tangan Bundanya diikuti sang istri, dibalas Yasna dengan menarik tubuh Nayla ke dalam pelukannya.
"Baiklah, ayo, kita masuk! Afrin belum pulang, mungkin sebentar lagi. Kalau papa kalian tahu sendiri papa pulang kantor jam berapa," ujar Yasna.
Mereka berjalan menuju ruang keluarga karena di sana, tempat yang terasa nyaman saat di rumah ini, daripada harus duduk di ruang tamu. Seolah mereka adalah tamu di rumah ini. Meski kenyataannya sekarang memang seperti itu.
"Rani, yolong buatin minum," teriak Yasna.
"Iya, Bu," jawab Rani yang berada tidak jauh dari ruang keluarga.
"Kamu nggak kerja, Kak?" tanya Yasna sambil menatap Aydin.
"Tadi kerja, Bunda. Aku juga sempat memimpin rapat, hanya saja tadi ada sesuatu yang mengharuskan aku pulang," jawab Aydin tersenyum membuat Yasna menatap aneh pada putranya.
"Terjadi sesuatu? Apa yang sudah terjadi?"
"Mengenai itu, nanti saja nunggu papa pulang. Aku juga harus mengatakannya pada papa," jawab Aydin yang diangguki oleh Nayla.
Bukan hanya Aydin yang tersenyum, tapi Nayla juga. Hal itu membuat Yasna semakin merasa aneh pada kedua anaknya.
"Kalian membuat Bunda tidak bisa tenang. Ada apa, sih? Bunda sudah penasaran!"
"Tunggu saja, Bunda. Sebentar lagi papa juga pulang," jawab Aydin membuat Yasna semakin kesal.
.
.
.
.
.
__ADS_1