
"Itu Afrin, Bunda?" tanya Nayla.
"Iya."
"Apa sudah bertemu dengan mamanya Khairi?" tanya Nayla. Dia sudah mengetahuinya dari Yasna tadi pagi.
"Sudah, baru saja Bunda bicara dengannya."
"Bagaimana orangnya, Bunda?"
"Sepertinya baik, masih cantik juga. Mudah-mudahan saja dia bisa menyayangi Afrin seperti putrinya sendiri."
Sebagai orang tua Yasna selalu takut jika Afrin mendapat mertua yang galak dan selalu mencari kesalahannya, seperti yang pernah dia alami. Dia tidak rela jika putrinya diperlakukan seperti itu. Cukup dirinya yang merasakan, jangan anak dan menantunya.
"Pasti, Bunda. Afrin selalu baik sama siapa pun pasti dia akan di kelilingi orang-orang baik," ujar Nayla mencoba memberikan ketenangan untuk mertuanya.
"Amin, mudah-mudahan," sahut Yasna. "Oh, iya, besok Nuri waktunya periksa, kan?"
"Iya, Bunda. Sekarang fisiknya lebih kuat. Kemarin sempat jatuh, alhamdulillah, dia baik-baik saja. Bahkan demam pun tidak."
"Syukurlah, kalau begitu."
Nuri sudah sebulan menjalani pengobatan alternatif. Ini adalah rekomendasi dari rekan kerja Aydin. Awalnya sempat ragu, tetapi Nayla mencoba membujuk sang suami agar mau berusaha. Dia kasihan melihat putrinya yang terbatas ruang geraknya.
Sebagai seorang ibu, Nayla tahu jika Nuri ingin bermain dengan anak-anak lainnya, tetapi selalu dilarang semua orang. Mereka takut jika ada anak melakukan sesuatu pada gadis kecil itu dan membuatnya jatuh sakit. Namun, kini Nayla bisa sedikit lega karena ada perkembangan untuk putrinya.
*****
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," sahut Wulan. "Non Afin! silakan masuk."
"Tidak usah, Mbak. Saya mau langsung ke rumah ibu. Saya hanya ingin mengantar makanan ini. Mungkin malam ini kami menginap di sana, besok baru kita pulang. Itu pun kalau Ibu Nur dan Laily mau pulang bersama kami ke kota."
"Iya, Non. Saya mengerti. Saya juga setuju jika Bu Nur tinggal di kota. Beliau sudah cukup menderita hidup di desa ini."
__ADS_1
"Iya, Mbak. Terima kasih atas sarannya," ucap Afrin. "Ini, buat Mbak Wulan sekeluarga. Kalau begitu saya pamit."
"Terima kasih, Non. Anda sudah sangat baik. Mudah-mudahan Tuhan mempermudah urusan Nona."
"Sama-sama dan terima kasih doanya."
Afrin pun pamit dan segera meninggalkan rumah Wulan. Mereka kembali berjalan menuju rumah Bu Nur. Khairi sempat berbisik dengan Pak Hari dan memintanya mencari hotel. Dia tidak mungkin mengajak sopir dari mertuanya untuk tinggal di rumah ibunya. Pria itu tahu betapa tersiksanya tidur di lantai dengan alas tikar.
Begitu sampai di rumah Bu Nur, tampak seorang wanita berdiri di teras. Tangan dan lehernya dipenuhi dengan emas. Banyak yang bilang itu toko emas berjalan.
"Assalamualaikum," ucap Bu Nur.
"Waalaikumsalam, maaf, Bu Nur. Saya ke sini untuk menagih uang kontrakan, Ibu sudah menunggak tiga bulan. Mau berapa bulan lagi mau di bayar?" tanya Wanita itu dengan angkuhnya. Dia juga menatap sinis ke arah Bu Nur seolah meremehkannya.
Khairi menghela napas. Rumah hampir roboh ini ternyata kontrakan. Kenapa ibunya memilih tinggal di sini? Kenapa tidak mencari kontrakan yang lebih layak? Kembali lagi-lagi karena uang dan itu semakin membuatnya bersalah.
"Maaf, Bu Meli, tapi saya sedang kedatangan anak saya. Besok saya akan datang ke rumah Bu Meli."
"Ke rumah saya! Untuk apa? Untuk meminta keringanan lagi? Saya sudah bosan dengan kalimat itu. Lebih baik, Bu nur, tinggal di masjid saja, di sana nggak perlu bayar. Nggak punya uang saja sok-sokan tinggal ngontrak," ucap Bik Meli dengan nada sinis.
Suara berat dan tegas yang keluar dari bibir pria itu membuat bulu kuduk Meli merinding. Begitupun dengan lainnya yang berada di sana. Afrin tahu jika Khairi sedang emosi pun hanya bisa mengusap pundak suaminya.
"Mas, ajak ibu dan Laily masuk, biar aku saja yang menyelesaikannya," ucap Afrin pada akhirnya.
Dia tidak ingin sang suami melakukan sesuatu dan mengundang perhatian warga. Mereka hanya datang bertamu jadi, wanita itu takut akan diusir. Khairi pun mengangguk dan membawa ibu serta adiknya masuk.
"Maaf, Bu. Berapa total semua uang kontrakan Ibu saya?" tanya Afrin dengan lembut.
Wanita itu pun membuka buku dan memperlihatkannya pada Afrin. "Sebenarnya 600.000, tetapi karena Bu Nur telat jadi kena denda setiap bulannya lima puluh ribu. Total semuanya 750.000."
Afrin pun membuka tasnya dan memberikan uang seratus ribuan sebanyak delapan lembar. Wanita yang bernama Meli itu pun menerima dan menghitungnya. Dia segera memasukkannya ke dalam tas, tanpa mau memberi kembaliannya.
"Maaf, Bu. Uang saya masih ada kembalian lima puluh ribu," ucap Afrin yang berusaha tetap sopan.
"Kamu, kan, kaya! Uang segitu nggak ada apa-apanya. Biasanya orang kaya begitu, kan, kalau bayar sesuatu nggak minta kembalian," ucap Bu Meli dengan angkuhnya.
__ADS_1
"Itu orang lain, Bu, bukan saya. Buat saya lebih baik uang itu saya masukkan ke kotak masjid, yang bisa memberi tempat tidur secara gratis," sindir Afrin mengikuti ucapan Meli tadi. "Daripada memberikannya pada Ibu yang tidak bisa sopan pada ibu saya," lanjutnya
Bu Meli pun kembali membuka tas dan memberikan uang kembaliannya dengan kasar. Wanita itu kesal dengan sikap Afrin. Setelah itu dia pergi tanpa mengucapkan satu kata pun membuat istri dari Khairi itu menggelengkan kepalanya.
Afrin pun masuk ke dalam rumah dan bergabung dengan semuanya.
"Apa Bu Meli sudah pulang, Nak?" tanya Nur pada menantunya.
"Sudah, Bu, baru saja," jawab Afrin.
"Dia nggak nyakitin Kakak, kan?" tanya Laily.
"Tidak, memang biasanya nyakitin kalian?" tanya Afrin.
"Tidak nyakitin secara fisik, tapi hati kami yang disakiti," jawab Laily dengan kesal.
"Laily, tidak baik seperti itu. Bu Meli bersikap seperti itu karena kita memang telat bayar uang sewa," sela Nur.
"Tetap saja, Bu. Seharusnya dia bisa jaga perasaan kita, tidak seenaknya menghina kita," sahut Laily.
"Sudah, jangan disimpan di dalam hati, nanti malah jadi penyakit hati. Tadi Kakak sudah bayar uang sewanya, kok!" sahut Afrin.
"Kenapa repot-repot, Nak," sela Nur yang merasa tidak enak.
"Tidak repot, Bu. Justru sebenarnya Mas Khairi dan saya berniat membawa Ibu dan Laily ke kota untuk tinggal di sana."
Nur dan Laily terkejut mendengarnya. Mereka tidak pernah berpikir untuk pergi ke kota. Terutama wanita paruh baya itu, mengingat bagaimana masa lalu yang pernah sangat menyakitinya. Disaat kini dia sudah melupakan sakit hatinya, sang putra justru ingin membawanya kembali.
Sementara Laily bingung harus menjawab apa, dulu dia juga pernah berkeinginan tinggal di kota. Bukan untuk tinggal bersama kakak atau ayahnya, tetapi untuk bekerja seperti teman lainnya. Di desanya memang para gadis banyak yang memilih bekerja di kota sebagai ART. Ada juga yang bekerja di perusahaan sebagai office girl.
"Iya, Bu. Ibu mau, kan, tinggal di kota? Ibu dan Laily nanti akan tinggal di apartemenku. Aku akan sering berkunjung ke sana. Bukannya aku tidak mau tinggal sama Ibu, hanya saja aku harus menjaga perasaan Mama Merry," ujar Khairi dengan menunduk. Dia juga merasa tidak enak dengan ibunya, tetapi pria itu harus jujur dari sekarang.
.
.
__ADS_1
.