Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
261. S2 - Di rumah Rani


__ADS_3

"Setelah pekerjaan Papa selesai, Papa akan menyusul mama ke sana," ucap Emran disela pelukan mereka, membuat Afrin merasa iri dan segera memeluk suaminya. Khairi tertawa melihat tingkah istrinya.


"Kenapa, Sayang? Nggak jadi berangkat sama Bunda?" goda Khairi.


"Jadi, dong! Aku cuma pengen peluk kamu," sahut Afrin. Emran dan Yasna pun ikut tertawa melihat tingkah putrinya.


"Ya sudah, Mas. Aku sama Afrin berangkat dulu," ucap Yasna sambil mengurai pelukan mereka.


"Iya, hati-hati." Emran mencium kening istrinya. Yasna dan Afrin menaiki mobil yang dikendarai oleh Pak Hari.


Bagi Emran sangat berat berpisah dengan Yasna. Sejak menikah mereka jarang sekali berjauhan. Ke mana pun Yasna pergi, pasti di sana ada Emran. Pria itu ingin sekali ikut, tetapi perusahaannya juga butuh dia.


"Kamu nggak mau nyusulin istri kamu?" tanya Emran pada menantunya saat mobil sang istri semakin menjauh.


"Tidak, Pa, saya nanti ikut rombongan Ivan."


"Apa kamu tidak takut istrimu digoda pria di kampung?" tanya Emran sekaligus menggoda menantunya.


"Pasti banyak yang menggoda Afrin, tapi aku percaya padanya. Dia tidak akan mempermainkan sebuah perasaan," jawab Khairi dengan yakin.


Itu bukan sebuah bualan seorang menantu pada mertuanya, tetapi memang kenyataannya seperti itu. Dia sangat percaya pada sang istri yang tidak akan membagi hatinya pada siapa pun, kecuali keluarganya.


"Papa sendiri, apa tidak takut jika bunda digoda oleh pria di sana? Meski umur Bunda tidak muda lagi, tapi bunda masih terlihat cantik. Pasti banyak pria yang jatuh hati padanya." Khairi sengaja ingin menggoda mertuanya.


Emran sedikit terkejut, tetapi dia berusaha menguasai diri. Sama seperti Khairi, pria juga percaya pada istrinya, tetapi tidak dipungkiri jika Emran juga merasa was-was. Bukan karena tidak percaya pada Yasna, hanya saja dia takut orang lain menggoda istrinya. Biasanya kalau seperti itu, Yasna akan meminta bantuannya karena sang istri tidak suka ada yang menggodanya.


"Kamu tidak usah membalikan pertanyaan saya. Saya tidak akan terpengaruh dengan kata-katamu." Emran segera berbalik tanpa mendengar jawaban dari menantunya.


"Padahal Papa sendiri yang awalnya ingin menggodaku, giliran digoda malah pergi begitu saja," gumam Khairi dalam hati. "Papa aku balik dulu ya!" ucapnya dengan sedikit keras pada sang mertuanya yang sudah memasuki rumah.


"Sudah pergi sana! Tidak usah pamit segala," balas Emran.

__ADS_1


"Baiklah, aku pergi dulu, assalamualaikum." Khairi pun meninggalkan rumah keluarga Emran dengan tersenyum. Menyenangkan juga bisa menggoda mertuanya. Dia tidak menyangka jika bisa menjadi menantu di sana. Padahal sebelumnya mereka tidak saling mengenal sama sekali.


Khairi juga tidak begitu mengenal keluarga Emran. Apalagi Afrin, tetapi jatuh cinta pada pandangan pertama, membuat dunianya berubah. Banyak hal yang dia ketahui dan pelajari setelah menjadi bagian dari keluarga mereka.


*****


Rani sendiri di dalam kamarnya. Dia sedang memikirkan acara besok. Wanita itu sangat gugup sekali. Sekarang saja sudah seperti ini, bagaimana dengan besok? Membayangkannya saja Rani tidak berani.


Pintu kamar calon pengantin wanita diketuk seseorang dari luar. Segera Rani membukanya. Terlihat sang ibu yang datang. Mereka saling melempar senyum.


"Iya, Bu."


"Boleh Ibu bicara sebentar sama kamu?" tanya Rahmi yang diangguki putrinya.


Rani melebarkan pintu dan mempersilakan ibunya untuk segera masuk dan kembali menutupnya. Mereka duduk di tepi ranjang dengan saling berhadapan. Rahmi menggenggam telapak tangan putrinya.


Rani tahu jika sang Ibu ingin mengatakan sesuatu yang penting. Dia hanya diam sampai Ibunya mengungkapkan isi hatinya. Rahmi mengembuskan napasnya dengan pelan sebelum berbicara.


"Ibu tahu jika kamu dan Ivan tidak memiliki hubungan sebelumnya," ucap Rahmi yang membuat Rani terkejut. "Kamu tidak perlu menjelaskan semuanya. Memang kalian tidak memiliki hubungan, tapi Ibu percaya jika dia bisa membuatmu bahagia. Dari tatapan matanya, Ibu tahu juga dia menyukai Putri Ibu yang cantik ini," lanjut Rahmi membuat Rani tersenyum malu.


"Saat nanti kamu sudah menjadi istrinya, kamu harus berbakti padanya. Apa pun perintahnya, kamu harus menurutinya. Asal dalam batas yang wajar dan tidak menyalahi aturan hukum maupun agama. Perlakukan keluarga Ivan seperti kamu memperlakukan keluarga kamu di sini, kamu mengerti, kan, maksud Ibu?" Rahmi menatap Rani, berharap kata-katanya akan selalu diingatnya.


"Iya, Bu. Terima kasih sudah membesarkan Rani, hingga seperti sekarang ini. Aku tidak bisa membalas apa pun pada ibu. Justru, mungkin aku akan sangat merepotkan Ibu di waktu mendatang. Aku masih butuh doa dari Ibu untuk melanjutkan kehidupan rumah tanggaku. Aku juga butuh nasehat Ibu," ujar Rani yang kemudian mencium tangan ibunya yang sedari tadi dia genggam.


"Ibu akan selalu mendoakanmu. Doa Ibu juga tidak akan berhenti mengalir untuk kalian anak-anak Ibu."


"Terima kasih," mereka pun berpelukan, menyalurkan rasa kasih sayang yang begitu besar. Sudah sangat lama Rani tidak bermanja-manja dengan ibunya.


"Setelah ini mungkin pelukan ini akan sangat jarang terjadi karena kamu sudah ada seseorang yang bisa kamu peluk dan menjadikannya sandaran."


"Bu, meskipun dunia ini sudah terbalik, tetapi Ibu tetaplah Ibuku dan itu tidak bisa berubah sampai kapan pun."

__ADS_1


Pintu kamar Rani kembali diketuk oleh seseorang. Segera Rani mengurai pelukan mereka.


"Sebentar, Bu. Aku buka dulu pintunya," ucap Rani sambil berjalan menuju pintu kamar. Tampak sepupunya berdiri di sana dengan tersenyum ke arahnya.


"Kak, di luar ada tamu dari kota."


"Siapa?" tanya Rani.


"Tadi dia bilang namanya Bu Yasna."


"Bu Yasna sudah datang!" seru Rani kemudian beralih menatap ibunya yang masih di atas ranjang. "Bu, ayo kita keluar. Ada Bu Yasna di luar."


"Ya ampun! Bu Yasna sudah datang? Ibu belum menyiapkan apa pun. Pasti dia mau menginap di sini, terus kita kasih tidur di mana? Rumah ini sudah tidak layak pakai."


"Jangan berkata seperti itu, Bu Yasna juga tidak mengharapkan apa pun. Pasti dia sangat senang bisa datang ke sini menghadiri pernikahanku. Sebaiknya kita temuin dia saja dulu. Mengenai tempat tidurnya, biar kita pikirkan nanti."


"Iya, ayo, kita keluar! Kasihan Bu Yasna pasti sudah menunggu," ajak Rahmi.


Mereka berdua berjalan menuju ruang tamu. Di sana tampak Yasna dan Afrin sedang berbincang dengan kerabat mereka.


"Hai, Mbak Rani, apa kabar?" tanya Afrin saat melihat Rani keluar bersama dengan ibunya. Wanita itu segera memeluknya.


"Baik, Non," jawab Rani. "Non Afrin sendiri bagaimana kabarnya?" tanya Rani yang berada dalam pelukan wanita itu.


"Saya juga baik," jawab Afrin dengan mengurai pelukan mereka.


"Bu Yasna apa kabar?" tanya Rani sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan majikannya itu.


"Baik," jawab Yasna dengan memeluk Rani juga.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2