Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
37. Jalan-jalan


__ADS_3

"Anda sungguh hebat, Pak Emran. Tidak heran, jika banyak pengusaha yang tertarik bekerjasama dengan Anda," ucap David, rekan bisnis Emran.


"Anda terlalu memuji, Anda bahkan lebih hebat dari saya," ujar Emran.


"Pak, bisakah kita mulai makannya? Saya sudah lapar," sela Fazilah.


"Ya, silakan," sahut Emran.


"Saya biasanya melihat seorang sekretaris perempuan, tapi Pak Emran sekretarisnya laki-laki, apa saya boleh tahu alasannya, Pak? Bukan karena Anda takut sama pasangan, kan?" tanya David.


"Tidak ada alasan khusus, saya hanya merasa tidak nyaman, saat bekerja dengan perempuan," jawab Emran.


"Apa Anda juga tidak nyaman, saat bekerja dengan saya?" tanya Fazilah.


"Bukan seperti itu, seorang sekretaris pasti lebih sering bekerja dengan atasannya, dari pada pegawai lainnya. Apapun pekerjaan saya, pasti dia akan terlibat dan itu yang membuat saya tidak nyaman," terang Emran.


"Aku jadi iri sama Yasna," sela Fazilah.


"Yasna, siapa?" tanya David.


Fazilah menatap Emran, membiarkan Emran menjawabnya. David pun ikut menatap Emran.


"Calon istri saya, Pak," jawab Emran.


"Anda akan menikah?" tanya David.


"Doakan saja," jawab Emran. "Anda sendiri, masih betah melajang?"


"Saja juga minta doanya," jawab David.


Fazilah sedih mendengarnya, tetapi dia berusaha tetap biasa saja. David memang sudah bertunangan dan akan menikah tiga bulan lagi. Fazilah sadar jika ia tidak mungkin bisa bersama dengan atasannya ini, karena mereka berbeda keyakinan.


David dapat melihat raut wajah Fazilah yang berubah, ia juga memiliki perasaan terhadap Fazilah, tetapi ia tidak mungkin membatalkan pernikahannya, ayahnya pasti akan menghapusnya dari daftar warisan.


*****


"Papa, ayo ke rumah bunda! Aku mau lihat bunda," ajak Afrin.


"Bunda lagi istirahat, Sayang. Besok saja, sepulang sekolah," tawar Emran.


"Nggak mau, maunya sekarang."


"Oma lagi arisan, Sayang. Kasihan kakak ditinggal sendiri."


"Kakak ikut saja."


"Apa kakak mau? Coba tanyain?"


Afrin mendekati Aydin yang sedang bermain game di ponselnya.


"Kak, ayo jenguk bunda!" ajak Afrin.


"Ayo," sahut Aydin.


Emran terkejut, ia pikir tadi Aydin akan menolak hingga membuat Afrin membujuknya, tetapi sekarang dengan mudah ia mengatakan iya, ia senang, mungkin Aydin ingin melihat keadaan Yasna akibat ulahnya.


"Ayo, Pa!" seru Afrin.


"Iya." Emran segera bangkit dan mengikuti langkah kedua anaknya.


Mereka menaiki mobil yang dikemudikan oleh Emran sendiri. Afrin sangat senang, ini pertama kalinya ia akan ke rumah Yasna, ia bisa melihat apa saja yang biasa bundanya lakukan.


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka sampai. Terlihat Alina berada di halaman rumah, ia sedang menyiram bunga.

__ADS_1


"Nenek!" teriak Afrin.


Alina yang semula fokus pada tanamannya pun menoleh, dilihatnya Emran turun dari mobil dan berjalan dengan kedua anaknya.


"Assalamualaikum," ucap Emran sambil mencium punggung tangan Alina.


"Waalaikumsalam. Kalian ke sini? Kenapa nggak bilang?" tanya Alina.


"Alin mau lihat bunda, apa bunda masih sakit?" tanya Afrin.


"Bunda sudah sembuh, ayo kedalam!" ajak Alina.


Mereka semua masuk ke dalam rumah. Alina memanggil Yasna yang berada di dapur sedang membuat kue. Sama seperti ibunya, Yasna juga suka membuat kue.


"Bunda," panggil Afrin, ia mengikuti Alina ke dapur.


"Anak Bunda ke sini! Sama siapa?" tanya Yasna.


"Sama Papa, sama Kakak," jawab Afrin.


Yasna membuatkan minuman, tidak lupa juga ia membawa kue yang ia buat tadi, kebetulan sudah ada yang matang.


"Ayo! Kita keluar," ajak Yasna.


"Bunda sudah sembuh?" tanya Afrin disela langkah mereka.


"Sudah, Bunda sudah sehat," jawab Yasna.


Yasna meletakkan minuman di atas meja.


"Silakan diminum, Mas, Aydin," ucap Yasna.


"Terima kasih," ucap Emran.


"Aydin tidak suka minumannya? Mau rasa yang lain?" tanya Yasna.


"Tidak perlu Tante, ini saja, aku suka kok ... aku minta maaf sama Tante, karena sudah membuat Tante sakit, aku tidak tahu akan jadi seperti itu," ucap Aydin dengan menundukkan kepalanya.


"Kemarin kan Tante sudah maafin Aydin, tidak perlu minta maaf lagi," ucap Yasna.


"Terima kasih Tante," ucap Aydin.


"Sama-sama," sahut Yasna.


Mereka berbicara banyak hal, Aydin juga sesekali menimpali. Yasna dibuat tertawa mendengar cerita Afrin.


Alina yang melihat dari dalam merasa bahagia. Ibu mana yang tidak bahagia melihat senyum di wajah anaknya. Apalagi setelah Yasna mengalami kehancuran rumah tangganya kemarin, membuat Yasna yang hidup seakan mati, tetapi kini melihat tawa Yasna membuat air mata Alina menetes, bukan karena kesedihan tetapi karena kebahagiaan.


"Bunda, jalan-jalan, yuk!" ajak Afrin.


"Bunda masih harus istirahat, Sayang," sela Emran, Afrin sedih mendengarnya, padahal ia sangat ingin pergi bersama Yasna.


"Bunda suda sembuh kok. Ayo, kita pergi!" ajak Yasna.


"Bunda benar sudah sembuh?" tanya Afrin.


"Iya," jawab Yasna.


"Na ....


"Nggak papa, Mas. Aku baik-baik saja," sahut Yasna.


Yasna tidak sampai hati membuat Afrin sedih, lagi pula ia baik-baik saja, pergi sebentar tidak akan membuatnya sakit. Senyum Afrin adalah obat penghilang rasa sakitnya.

__ADS_1


*****


Hari ini Zahran pergi bersama dengan Avi dan kedua anaknya ke sebuah mall, tadinya ia ingin pergi berdua saja dengan Putri, karena sebelumnya ia sudah berjanji, akan mengajak putri jalan-jalan. Namun, anak itu meminta Avi juga ikut. Tanpa Zahran tahu, sebenarnya itu memang rencana Avi.


"Papa, aku mau boneka barbie," pinta Putri.


"Iya, ayo kesana!" ajak Zahran.


Putri memilih boneka kesukaannya, Zahran dengan telaten mengikutinya dari belakang bersama Avi. Setelah cukup memilih, mereka memutuskan untuk makan di restoran mall itu. Pria itu memilih restoran yang menyajikan makanan khas Indonesia, makanan kesukaan Yasna. Saat baru memasuki restoran, langkah Zahran terhenti, kala melihat seseorang yang sudah sangat ia rindukan.


"Yasna," gumam Zahran.


Zahran melihat Yasna sedang makan siang, bersama dengan seorang laki-laki dan dua anak, siapa lagi kalau bukan Emran dan kedua anaknya. Zahran menghampiri Yasna, tanpa peduli dengan istri dan kedua anaknya.


"Yasna," panggil Zahran.


"Kak Zahran, apa kabar?" Yasna menyapa Zahran, meski ia sempat terkejut dengan kehadiran pria itu di sini.


"Baik ... siapa mereka?" tanya Zahran.


"Kenalkan, ini Mas Emran dan mereka anak-anak Mas Emran, namanya Aydin dan Afrin. Mas, ini Kak Zahran," ucap Yasna.


"Emran," ucap Emran dengan mengulurkan tangannya.


"Zahran," sahut Zahran dengan menjabat tangan Emran.


Emran memang belum mengenal Zahran. Namun, ia sangat tahu siapa pria di depannya ini, karena namanya pernah di sebut, saat kejadian penculikan yang pernah dialami Yasna.


Sementara Zahran menatap Emran dengan saksama, ia tidak tahu sama sekali siapa Emran dan apa hubungannya dengan Yasna.


"Mas," panggil Avi, ia berjalan mendekati mereka dengan kedua anaknya.


.


.


.


.


Mau promo guys punya kak @shan_neen


BERBAGI CINTA : TERNYATA AKU SEORANG PELAKOR


Berawal dari pertemuannya kembali di acara reuni SMA, Sarah Amalia berjumpa dengan cinta pertamanya, setelah sekian lama berpisah.


Kedekatan mereka pun kembali terjalin, dan kabar gembira datang setelah beberapa bulan menjalin kembali hubungan.


"Mau kah kamu menjadi istriku?" ucap Miko, sang cinta pertama Sarah.


Dengan mata berkaca-kaca, perempuan itu pun mengiyakan ajakan kekasihnya.


Pernikahan pun terjadi. Setelah beberapa bulan, tiba-tiba datanglah seorang wanita ke hadapannya.


"Perkenalkan, saya istri pertama suamimu."


Bagai tersambar petir, Sarah harus menerima kenyataan pahit itu, dikala dirinya tengah mengandung buah cintanya dengan Miko.


Bagaimanakah Sarah melewati semua kenyataan pahit ini? Akankah ia terus bersama dengan Miko atau justru mendapatkan jodoh yang lain?


Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor, di sini dapat lihat: http://h5.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1531133&\_language\=id&\_app\_id\=2


__ADS_1


__ADS_2