Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
213. S2- tinggal di apartement Ivan


__ADS_3

Setelah kepulangan Afrin sekeluarga. Khairi minta izin pada dokter untuk pulang juga. Awalnya dokter tidak mengizinkannya karena luka pria itu masih basah. Akan tetapi, pria itu tetap kekeh ingin pulang. Akhirnya pihak rumah sakit mengizinkannya dengan syarat pria itu harus berhati-hati dan jika terjadi sesuatu, itu di luar tanggung jawab rumah sakit.


Khairi pun menyanggupinya. Dia juga mendapat kabar jika orangtuanya pulang hari ini karena itu, pria itu memilih pergi ke apartemen Ivan. Menurutnya di sana lebih aman, sudah pasti Khairi tidak bisa bergerak dengan bebas karena lukanya masih terasa sakit. Kalau dia pulang ke rumah pasti ketahuan oleh orang tuanya.


Ivan sempat marah pada atasannya itu karena meminta pulang begitu saja, padahal lukanya masih belum sembuh, tetapi apalah daya, dia hanya seorang bawahan jadi, dia harus menurut begitu saja.


*****


"Dasar kekanakan," gerutu Emran saat mereka sedang makan siang bersama.


"Siapa yang kekanakan, Pa?" tanya Yasna.


Wanita itu heran, siapa yang dimaksud suaminya kekanakan? Perasaan dari tadi tidak ada yang bicara sama sekali.


"Siapa lagi kalau bukan Khairi. Dia pulang hari ini."


"Apa! Tapi dia, kan, masih belum sembuh?" tanya Yasna.


"Pasti karena kita bawa Afrin pulang, makanya dia juga ingin pulang."


"Papa, sih! Aku tadi nggak mau pulang, tapi Papa maksa. Bagaimana kalau nanti terjadi sesuatu sama Khairi?" gerutu Afrin.


"Cie ... yang sudah khawatir sama calon suami, nih," goda Aydin.


"Apaan, sih! Aku cuma khawatir saja sama dia. Bagaimanapun dia sudah menolongku."


"Iya, iya. Kakak juga sebenarnya juga khawatir sama dia, tapi dia kan laki-laki, pasti bisa menjaga dirinya sendiri."


Afrin hanya mengangguk. Dia tidak punya pilihan lain, dari tadi memang hatinya gelisah memikirkan keadaan Khairi. Besok pagi gadis itu akan datang ke rumahnya. Afrin teringat Jika dia tidak tahu alamat rumahnya.


"Pa, apa Papa tahu di mana rumahnya Khairi?" tanya Afrin.


"Apa kamu mau ke sana?" tanya Emran balik.


"Aku cuma mau lihat keadaannya, tapi nggak hari ini kok, besok," jawab Afrin.


"Ya sudah, besok saja. Lagi pula itu anak nggak pulang ke rumah. Dia pulang ke apartemen asistennya itu."


"Kenapa tidak pulang ke rumahnya?" tanya Yasna.

__ADS_1


"Orang tuanya pulang dari luar negeri. Dia tidak berani pulang ke rumah."


"Pasti dia takut orang tuanya marah karena dia terluka, ya, Pa?"


"Bukan karena itu, Bun." Emran menghela napas sejenak. "Dia takut orang tuanya menyalahkan Afrin bagaimanapun juga dia seperti ini kan karena menolong putri kita."


"Papa tau dari mana?"


"Anak buah Papa tidak sengaja mendengar percakapan Khairi dengan Ivan. Khairi tidak ingin nama Afrin jelek di mata orang tuanya. Mungkin dia takut tidak dapat restu," jawab Emran asal.


"Papa juga belum memberi restu," sindir Yasna.


"Memang, Bunda, sudah merestuinya?" tanya Emran balik.


"Belum, sih," jawab Yasna dengan terkekeh sambil menutup mulutnya.


"Kalau kamu Afrin? Apa kamu sudah jatuh cinta padanya?" tanya Emran.


"Belum, Pa, tapi aku sudah janji pada Khairi untuk membuka hati untuknya. Mengenai nanti bagaimana perasaanku? Itu kembali lagi padaku, aku menerima atau menolaknya."


"Dhek, jika kamu sudah siap membuka hatimu, maka kamu juga harus siap untuk tersakiti, karena cinta bukan hanya tentang kebahagiaan, tapi juga tentang kesedihan," ucap Aydin yang tidak ingin adiknya nanti terluka, seperti dia yang pernah disakiti oleh seorang wanita.


Afrin tersenyum dengan mengangguk. Dia sangat mengerti apa yang dimaksud oleh kakaknya. Gadis itu juga sudah siap akan hal itu. Apa pun yang terjadi nanti dia harus kuat. Meski harus berdarah sekali pun.


"Anak Bunda sekarang sudah besar, ya!" ucap Yasna sambil mengusap rambut putrinya.


"Sebesar apa pun aku tetap anak Bunda," sahut Afrin sambil memeluk Yasna.


Tidak pernah bosan dia bersyukur karena memiliki ibu sambung sebaik Yasna. Pertemuannya dulu dengan wanita itu, tidak akan pernah Afrin lupakan. Hanya bundanya yang selalu sabar menghadapi manjanya Afrin dan kenalan Aydin.


"Bunda senang mendengarnya. Apa pun yang terjadi nanti, kalau pun kamu sudah memilih bersama dengan Khairi. Kamu jangan pernah melupakan Bunda, ya!"


"Tentu tidak Bunda! Bunda adalah orang yang paling aku sayangi, tidak mungkin aku melupakan Bunda."


Yasna tersenyum mendengarnya. Mungkin ini juga yang akan dirasakan oleh semua ibu disaat anak mereka tumbuh dewasa. Takut kehilangan dan tidak lagi ingat tentangnya.


"Ya sudah, ayo! Dilanjutkan makannya," ujar Yasna.


Mereka segera menghabiskan makan siang. Kemudian sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.

__ADS_1


*****


"Tuan, nyonya dan tuan besar mencari keberadaan Anda," ucap Ivan pada atasannya itu.


Saat ini Khairi sedang menikmati sarapannya di apartemen asistennya itu. Semalam dia tidak bisa tidur. Lukanya terasa nyeri, dibalik itu Khairi juga merindukan sang pujaan hati.


"Katakan saja, aku ke luar kota. Liburan atau ke mana, gitu!" jawab Aydin


"Saya sudah mengatakannya, Tuan, tapi sepertinya tuan besar mengetahui sesuatu dan memaksa saya memberitahukan tentang keberadaan Anda."


"Apa kamu mengatakan di mana keberadaanku?"


"Tidak, Tuan."


Khairi menghela napas kasar. Papanya memang sama keras kepala seperti dia. Pria paruh baya itu tidak akan menyerah sebelum mengetahui keberadaannya, tetapi dia juga tidak mungkin pulang dalam beberapa hari ini. Semua gerakannya terbatas.


Bagaimana kalau nanti ada keluarga yang tahu tentang keadaannya? Sudah pasti mereka akan membenci Afrin. Hal itu memang saat ini ingin Khairi tutupi. Jika memang keluarganya tahu, biarlah mereka tahu setelah Pria itu menikahi pujaan hatinya.


"Katakan saja seperti biasanya. Mereka mau percaya atau tidak, biarkan saja," jawab Khairi akhirnya.


Entahlah di harus bersyukur atau tidak karena dia tidak perlu lagi, menjelaskan hal-hal yang tidak penting menurutnya.


"Baik, Tuan."


"Mengenai Agung, bagaimana dengan pria itu?"


"Polisi masih mengurus kasusnya, Tuan. Dari yang saya dengar, dia memang sering membuat masalah akhir-akhir ini di sebuah klub malam."


"Lalu bagaimana tanggapan Om Emran? Apa dia melepaskan Agung begitu saja?"


"Waktu itu Pak Emran sempat ke kantor polisi untuk menghajar Agung hingga pingsan. Saya juga tidak ikut campur sama sekali. Setelahnya Pak Emran menyerahkan pada polisi untuk dihukum seberat-beratnya. Jika yg tidak, maka beliau sendiri yang akan turun tangan."


"Kamu pergilah ke kantor agar Papa tidak curiga," ucap Khairi.


Pria itu beranjak menuju kamar yang ditempatinya. Dia duduk termenung di atas ranjang sambil memainkan ponselnya. Dibukanya galeri foto dan terdapat beberapa gambar seorang gadis yang ada di sana. Pria itu tersenyum melihat itu. Ini baru fotonya saja sudah membuatnya begitu bahagia apalagi bertemu dengan akhirnya sekarang.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2