
Siang ini, Aydin makan seorang diri di kantin perusahaan. Airin bilang ada pekerjaan yang belum selesai. Gadis itu mengatakan pada kekasihnya, jika dia sudah membawa bekal sebelumnya. Airin memang sudah mengira, kalau hari ini banyak pekerjaan.
Saat sedang menikmati makanannya. Aydin mendengar bisik-bisik dari para perempuan yang berada dibelakangnya.
"Kamu sudah dengar, belum? Gosip terbaru tentang office girl itu."
"Oh, sudah dong. Di grup, kan, sudah sangat ramai yang melihat berita itu, ada juga yang mengatakan jika dia pernah melihatnya," sahut temannya.
"Aku sungguh tidak menyangka. Kelihatannya dia wanita yang polos, tapi kelakuannya ternyata ...." Wanita itu hanya menggeleng tanpa melanjutkan kata-katanya.
"Iya, dia terlihat seperti wanita kampung, tapi tidak tahunya simpanan pria tua kaya."
"Siapa, sih, yang kalian maksud? Dari tadi ngomongin office girl mulu, yang mana orangnya?" tanya teman lainnya.
"Office girl itu, loh, kalau nggak salah namanya Airin. Memang kamu nggak lihat grup apa?"
"Kamu tahu dari siapa? Aku belum buka ponselku."
"Ini kamu lihat sendiri fotonya. Kamu lihat kan ini Airin bersama seorang pria tua. Kalau nggak salah dia pengusaha restoran."
"Ya ampun, udah aki-aki! Kok dia mau, ya?"
"Namanya juga orang kaya. Cewek juga butuh duit kali."
Aydin yang mendengarnya jadi emosi. Dia tidak terima sang kekasih difitnah seperti itu. Selama ini Airin sudah bersikap baik, tapi mereka seenaknya menggosipkannya.
"Apa yang kalian bicarakan? Dia bukan wanita yang seperti itu. Dia wanita baik-baik. Kalau bicara, sebaiknya jaga mulut kalian!" ucap Aydin dengan meninggikan suaranya.
"Kami juga tidak akan membicarakannya kalau tidak ada bukti!"
"Bukti apa?"
Wanita itu pun menyalakan ponselnya dan memberikannya pada Aydin. Pria itu mengamati foto yang ada di ponsel dengan saksama. Jika dilihat memang itu terlihat seperti Airin, tapi ini dari samping belum tentu juga itu benar-benar gadis itu.
"Foto ini diambil dari samping. Bisa saja, kan, kalau ini hanya mirip. Kalian saja yang terlalu suka bergosip."
"Kami tahu kalau kamu suka sama dia, tapi nggak usah membenarkan kesalahannya juga kali. Dilihat sekilas, orang juga tahu kalau ini Airin. Meski yang difoto wajahnya penuh dengan make up. Beda kalau saat kerja, dia tidak memakai apa pun."
__ADS_1
Aydin menyerahkan kembali ponsel temannya itu. Dia segera pergi meninggalkan kantin. Pria itu sangat marah mendengar berita itu. Jujur dalam hati Aydin ragu kalau memang benar yang ada di foto itu adalah Airin, tapi selama ini dia mengenal Airin sebagai wanita yang baik. Tidak mungkin jika gadis itu seperti yang dibicarakan.
Aydin mencoba mencari keberadaan Airin. Dia ingin menanyakan kebenaran berita itu. Namun, tak juga menemukannya. Pria itu juga mencoba menghubungi lewat sambungan telepon, tapi gadis itu tidak mengangkatnya.
Tidak kunjung menemukan keberadaan sang kekasih. Aydin memilih kembali ke ruang kerjanya. Dia ingin menenangkan pikiran terlebih dahulu. Pria itu terlihat lesu, Aydin masih berpikir tentang gosip yang beredar di perusahaan.
Saat akan kembali ke ruangannya Aydin memilih menggunakan tangga darurat. Dia terlalu malas ada dalam satu lift dengan banyak orang. Di tangga yang sepi, pria itu seperti mendengar suara seseorang berbicara karena penasaran, Aydin pun mencari keberadaan orang itu.
Dia melangkah dengan pelan menaiki tangga demi tangga. Suara mereka pun terdengar semakin jelas. Aydin bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Kamu sudah dengar, kan, gosip yang sudah beredar tentang kamu?" tanya seorang pria.
"Karena itu, Pak. Saya mohon agar Bapak bisa meredam gosip itu dan tidak memecat saya. Saya tidak mau kehilangan pekerjaan ini. Saya sangat membutuhkannya," ucap seorang wanita mengiba.
"Bukannya kamu sudah dapat banyak uang dari pria-pria kaya itu?"
"Itu tidak cukup untuk pengobatan ayah saya."
"Baiklah, saya akan mencoba untuk meredam gosip itu dengan syarat. Nanti malam kamu harus menemani saya dan memuaskan saya."
"Baiklah, Pak," jawab wanita itu dengan lesu.
"Jadi, benar gosip yang beredar saat ini?" tanya Aydin mengagetkan wanita itu, yang tidak lain adalah Airin.
"Mas Aydin!"
"Aku sudah mencoba untuk tidak percaya dengan apa yang mereka katakan, tapi sekarang aku mendengarnya sendiri dari mulutmu. Kenapa kamu melakukan hal itu?"
"Karena aku membutuhkan uang untuk pengobatan ayahku. Hanya mengandalkan pekerjaan sebagai cleaning service, itu tidak akan cukup."
"Kamu pikir dengan uang itu, ayahmu bisa sembuh? Bahkan jika ayahmu sudah sembuh, dia akan lebih memilih mati daripada harus hidup dengan uang yang dihasilkan dengan cara kotor."
"Ayah tidak akan tahu selama tidak ada yang berbicara dan aku akan menutup mulut siapapun yang ingin mengatakan pada ayah. Kamu tidak akan mengerti bagaimana perasaanku. Kamu hidup serba berkecukupan, tidak seperti saya, untuk membeli makan saja kurang. Apalagi untuk pengobatan ayah."
"Sepertinya percuma juga aku bicara denganmu. Prinsip kita berbeda, sebaiknya kita akhiri hubungan kita. Aku tidak bisa bersama dengan seorang wanita yang menjual dirinya hanya karena uang. Semoga ayahmu bisa segera sembuh."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Aydin segera pergi meninggalkan Airin seorang diri di tangga darurat. Pria itu merasa sakit hati meski saat mengatakannya dia terlihat biasa saja.
__ADS_1
Aydin memutuskan untuk pulang. Dia tidak akan bisa berkonsentrasi saat hatinya terluka. Pria itu mengendarai motornya dengan tidak tenang. Kenangan saat mereka bersama, tiba-tiba muncul. Sungguh Aydin tidak menyangka, Airin yang terlihat begitu polos, ternyata tidak ada bedanya dengan wanita lain.
Tidak mebutuhkan waktu lama, akhirnya Aydin sampai di rumahnya. Terlihat Yasna sedang menyiram bunga di depan rumah.
"Kamu, kenapa? Sepertinya ada masalah yang besar.Ada apa?" tanya Yasna saat melihat raut wajah putranya yang terlihat sedih.
"Tidak ada apa-apa, Bunda. Aku hanya, lagi stress saja. Banyak sekali pekerjaan. Daripada pusing di kantor lebih baik aku pulang saja," Jawab Aydin berbohong. Dia tidak mungkin menceritakan mengenai apa yang terjadi antara dirinya dan sang kekasih.
"Ya sudah, jangan terlalu capek biar nanti papa, Bunda marahin. Seenaknya buat anak Bunda stress."
"Bunda memang yang terbaik." Aydin memeluk bundanya dan bersandar di pundak Yasna. Tempat ternyamannya untuk berkeluh kesah.
"Kamu mandi dulu, sana!" perintah Yasna. "Kamu sudah makan siang?"
"Aku sudah makan, Bunda. Aku mau mandi dulu."
"Iya, mandi sana!"
Aydin segera menuju ke kamarnya. Dia merasa sedih, pria itu tidak tahu harus mengatakan apa pada keluarganya karena pilihannya ternyata salah. Airin bukanlah wanita baik seperti yang dia kira. Padahal sebelumnya Aydin sudah menolak bundanya yang ingin menjodohkan dia dengan perempuan lain.
"Tadi itu kakak, kan, Bunda?" tanya Afrin. Dia tadi sekilas melihat seorang pria.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Kok tumben sudah pulang?"
"Katanya lagi pusing banyak pekerjaan makanya dia pulang."
"Nggak biasanya ngeluh karena pekerjaan banyak? Biasanya dia paling suka bekerja," ucap Afrin yang merasa aneh dengan kakaknya.
Bukan hanya Afrin. Yasna juga merasa heran, tidak biasanya Aydin mengeluhkan pekerjaan. Biasanya pria itu akan mengerjakan semua pekerjaan tanpa diminta.
.
.
.
__ADS_1
.