
"Kenapa kamu mau mencelakaiku?" tanya Fazilah.
"Karena kamu sudah menarik seluruh perhatian David," jawab Vira.
"Maksudmu?"
"David selalu memujimu, membandingkan aku dengan dirimu, setiap hari dia akan memandangi fotomu. Aku istrinya, tapi dia tidak menganggap keberadaanku, aku cemburu mendengar dia selalu memujimu, seolah kamu adalah wanita yang sempurna." Vira berkata dengan emosi, dia sangat mencintai David, tapi suaminya itu tidak pernah melihatnya, apalagi menghargainya.
"Kenapa kamu menyalahkanku atas kesalahan yang dilakukan oleh suami, Aku bahkan tidak melakukan apa pun, seharusnya kamu tanyakan sendiri pada suamimu, kenapa dia melakukan hal itu."
"Benar, David? Kamu melakukan hal itu? Apa kamu masih mencintainya? Apa dia mantan kekasihmu?" tanya Mamanya Vira.
"Maaf, aku tidak pernah menjalin hubungan apa pun dengan Pak David, hubungan kami hanya sekedar atasan dan bawahan, itu saja tidak lebih," sela Fazilah.
"Kalau kalian tidak memiliki hubungan, bagaimana mungkin David bisa--
"Kami memang tidak memiliki hubungan apapun, tapi aku sangat mencintainya, dia wanita yang baik yang bisa menghargai ku sebagai laki-laki," potong David.
"Memang selama ini anakku tidak pernah menghargaimu?" tanya mama Vira.
"Sebaiknya Anda tanyakan sendiri pada Putri Anda."
"Maaf, sepertinya aku harus pergi, aku tidak ingin terlibat dengan drama rumah tangga orang lain." Fazilah pergi meninggalkan mereka semua, ia tidak ingin terlibat lagi dengan David dan keluarganya, mengenai tuntutan dia akan segera mencabutnya.
"Tunggu, bagaimana dengan tuntutannya?" tanya Mama Vira.
"Anda tenang saja saya akan segera mencabutnya." Fazilah pergi dengan diikuti oleh Yasna dan Emran dibelakangnya.
"Kak Emran, tolong katakan pada pengacara untuk segera mencabut laporan yang sudah saya buat."
"Apa kamu yakin?" tanya Emran, ia ingin memastikannya.
"Saya yakin, sangat yakin."
"Baiklah, jika itu yang kamu mau."
Emran segera menghubungi pengacara, untuk mengatakan apa yang Fadillah inginkan. Setelah itu mereka pergi ke kantor, Yasna juga ikut, ini pertama kalinya ia ikut suaminya ke kantor. Sebenarnya ia ingin menolak, tapi Emran dan Fazilah yang mendesaknya, akhirnya ia hanya bisa pasrah.
Saat sampai di perusahaan, semua pegawai menatap atasan mereka, ini pertama kali mereka melihat Nyonya Emran. Ada yang mencibir, ada pula yang kagum.
"Pagi, Pak," sapa Hendra.
"Pagi."
Yasna mengikuti Emran memasuki ruangannya, ruangan yang sangat luas, untuk ukuran satu orang.
"Mas tadi lihat tidak? Semua orang tadi ngelihatin aku terus."
"Memangnya kenapa kalau mereka lihatin kamu? Mereka punya mata, sudah pasti bisa lihat."
"Aku serius, Mas."
__ADS_1
"Sudahlah, kamu tidak perlu mempedulikan mereka."
"Aku malu, Mas."
"Kamu malu menjadi istri bos?"
"Bukan itu, hanya saja aku malu menjadi pusat perhatian, apalagi sekarang aku lagi jelek."
"Siapa bilang istriku jelek? Kamu selalu cantik dalam keadaan apapun." Emran segera memeluk Yasna.
"Gombal."
*****
Fazilah menunggu Hafidz dengan gelisah, waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 tapi hafidz tak kunjung pulang. Fazilah khawatir jika terjadi sesuatu pada Hafidz, mengingat keadaannya yang belum sembuh.
"Seharusnya kemarin aku belikan dia ponsel, kalau seperti ini, gimana mau tahu keberadaannya," gumam Fazilah.
"Kamu tidur saja, Ndhuk. Biar Ayah yang nunggu dia," ucap Hilman.
"Nggak pa-pa, Yah. Aku juga belum ngantuk, Ayah saja yang tidur, pasti capek seharian bantu di toko."
"Ayah tidak apa-apa."
"Sudah, Ayah tidur saja, biar Fazilah sendiri yang tunggu."
Hilman menurut saja, karena memang dia sangat lelah. Tak lama setelah itu, yang ditunggu pun akhirnya datang juga.
"Kamu dari mana saja? Kenapa jam segini baru pulang?" tanya Fazilah.
"Kamu ditanya malah balik nanya."
Hafidz diam memperhatikan Fazilah yang sedang kesal, ia mengulum senyum karena merasa lucu melihat Fazilah seperti itu.
"Ayo, ikut aku!" Hafidz menarik tangan Fazilah mengajak wanita itu pergi, setelah meninggalkan sebuah kertas kecil di atas meja sebagai pesan untu orang di rumah itu.
"Mau ke mana? Ini sudah tengah malam!"
"Memangnya kenapa? Besok hari minggu juga, kamu libur, kan?"
Fazilah mengangguk, ia hanya menurut ketika Hafidz membawanya pergi. Mereka menaiki taksi menuju tempat yang sudah di sebutkan oleh Hafidz.
Sebuah bukit kecil dengan pemandangan keindahan kota di malam hari, Fazilah sangat senang melihatnya.
"Kamu tahu tempat ini dari mana?"
"Temanku yang memberi tahu?"
"Teman?" Fazilah heran mendengarnya, bukankah Hafidz hilang ingatan? Atau dia sudah mengingatnya?
"Teman yang baru aku kenal kemarin," jawab Hafidz seolah mengerti pertanyaan dari Fazilah.
__ADS_1
Fazilah mengangguk, ia mengerti maksudnya.
"Duduk sini, Fa!"
Mereka duduk sambil memperhatikan pemandangan kota, sungguh sangat indah, Fazilah sangat menyukainya.
"Fa, boleh aku mengatakan sesuatu?"
"Katakan saja."
Hafidz terdiam memikirkan bagaimana dia harus mengatakannya.
"Aku ... aku jatuh cinta padamu, Fa. Kamu wanita yang baik, aku sudah mencoba melupakan perasaanku, tapi aku tidak bisa. Semakin aku ingin melupakanmu, itu semakin membuatku tersiksa."
Fazilah menatap Hafidz tidak percaya, bagaimana mungkin dia bisa jatuh cinta? Mengingat pertemuan mereka yang baru beberapa minggu. Tidak dipungkiri Fazilah juga merasa nyaman berada di samping Hafidz, tapi ia ragu apa itu cinta atau bukan.
"Kita baru saling mengenal, apa kamu yakin dengan perasaanmu? Sebaiknya pikirkan kembali semua itu."
"Buat kamu memang kita baru saling kenal, tapi tidak denganku, aku merasa sudah mengenalmu sejak lama. Aku tidak akan memaksamu menerimaku, bisa mengatakan semua perasaanku saja sudah cukup membuatku tenang."
Fazilah diam memperhatikan Hafidz, ia bisa melihat ketulusan dari sorot mata pria itu, tapi ia ragu dengan perasaanya.
"Beri aku waktu untuk berpikir, aku juga tidak tahu bagaimana perasaanku padamu."
Hafidz mengangguk dan berkata, "Jangan terlalu terbebani, biarkan semuanya mengalir seiring berjalannya waktu. Sebaiknya kita nikmati pemandangan ini."
Hafidz membuka jaket dan menyampirkannya di tubuh Fazilah. Udara menjelang pagi cukup dingin, ia tidak ingin Fazilah jatuh sakit.
"Pakailah, udara semakin dingin."
"Kamu sendiri bagaimana?"
"Jangan terlalu memikirkanku, tapi kalau kamu mau memelukku, itu mungkin bisa mengurangi rasa dingin ... aku bercanda." Hafidz terkekeh setelah mengatakannya.
Fazilah memakai jaket itu, kemudia melingkarkan tangannya di lengan Hafidz, ia juga menyandarkan kepalanya di pundak pria itu. Sungguh pemandangan yang sangat romantis, jika orang lain yang melihatnya tanpa tahu bagaimana perasaan mereka.
"Fa, jika ingatanku sudah kembali, apa kamu masih bersikap baik seperti ini?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Memang selama ini aku jahat sama orang? Perasaan, aku selalu baik pada siapapun."
"Aku hanya bertanya, aku takut kamu membenciku, suatu hari nanti."
"Jika kamu tidak melakukan kesalahan, untuk apa aku membencimu."
'Justru sekarang, aku sedang melakukan kesalahan, aku terpaksa melakukannya, kuharap jika kamu mengetahui semuanya, kamu mau memaafkanku,' batin Hafidz.
.
.
.
__ADS_1
.
.