Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
278. S2 - Menjenguk besan


__ADS_3

"Papa, makan dulu, ya!" ucap Mama Merry sambil menyuapkan makanan untuk sang suami. Meski kesulitan, tapi pria itu mencoba untuk menerima suapan dari istrinya.


Pagi tadi Papa Hamdan sudah tersadar dan dokter mengatakan jika sebelah tangan pria itu belum bisa digerakkan dan meminta keluarga untuk membantu penyembuhannya dengan sering melatihnya secara perlahan. Dokter juga menyarankan makanan yang sehat.


Mama Merry sempat merasa terpukul dengan apa yang terjadi. Khairi dan Afrin mencoba memberi pengertian jika semua ini ujian yang harus mereka lalui. Perlahan wanita paruh baya itu mulai menerima semua yang terjadi.


Sementara Khairi harus pergi ke perusahaan papanya. Ada sesuatu yang harus dikerjakan. Afrin pun harus berangkat kuliah, hari ini ada kelas pagi. Meski mereka tengah bersedih, kehidupan mereka harus tetap berjalan.


"Assalamualaikum," ucap seseorang yang baru memasuki ruangan setelah mengetuk pintu beberapa kali. Orang itu tidak lain adalah Emran dan Yasna.


"Waalaikumsalam," sahut Merry.


"Selamat pagi, Pak Hamdan. Bagaimana kabarnya?" sapa Emran.


"Ba ... ik," jawab Hamdan terbata.


Yasna memberikan sebuah parcel kepada Merry yang langsung diterima oleh besannya. Mereka saling berpelukan dan cipika-cipiki.


"Bagaimana keadaan Pak Hamdan, Bu Merry?" tanya Yasna.


"Alhamdulillah, sudah lebih baik. Mudah-mudahan saja ada perkembangan yang lebih baik agar suami saya bisa cepat pulih."


"Amin, mudah-mudahan Pak Hamdan cepat sembuh."


Mereka pun membicarakan banyak hal. Pak Hamdan hanya menimpali sesekali. Meski dengan ucapannya yang terbata.


Tidak ada yang tahu kapan datangnya musibah. Kita hanya bisa berusaha menjadi manusia yang lebih baik. Mungkin cobaan itu adalah bentuk teguran yang Tuhan berikan karena kita lupa bersyukur.


*****


Sementara Khairi sangat sibuk sekali. Banyak pekerjaan papanya yang terbengkalai karena memang sebelumnya beberapa hari pria paruh baya itu tidak pergi ke kantor. Khairi bahkan tidak sempat makan siang. Asisten dari papanya yang mengantarkan makanan.


"Maaf, Pak. Nanti setelah makan siang ada meeting dengan perusahaan milik Pak Imam, diharapkan kita tidak datang terlambat karena kita sudah mengundurnya dua minggu yang lalu," ucap sekretaris papanya.

__ADS_1


"Kamu atur saja waktunya. Nanti kalau sudah tiba, kamu panggil saya," sahut Khairi.


"Baik, Tuan. Ini berkas yang harus Anda pelajari mengenai meeting nanti. Saya permisi,' ucap sekretaris itu sambil menyerahkan berkas.


Dia segera pergi untuk mempersiapkan segala hal tentang meeting nanti. Khairi benar-benar dibuat sakit kepala. Memang pria itu suka berbisnis, tetapi tidak harus menangani masalah sebanyak ini juga. Apalagi dia tidak tahu permasalahan sebenarnya.


Saat makan siang sang sekretaris memberitahu agar segera pergi. Khairi pun mengiyakan saja, mengikuti ke mana pun sekretarisnya melangkah. Mereka menggunakan mobil yang dikendarai oleh sopir perusahaan. Dalam perjalanan Khairi masih harus mempelajari berkas mengenai meeting hari ini.


"Ini kunci apa?" tanya Khairi saat melihat di dalam tas papanya ada sebuah kunci kecil.


"Saya tidak tahu, Tuan, tapi Pak Hamdan selalu membawanya ke mana pun beliau pergi. Sepertinya itu sangat penting, tapi setiap saya bertanya, beliau tidak pernah menjawab," jawab sekretaris itu.


Khairi memperhatikan kunci itu dengan saksama. Tadi dia mengambil tas itu di ruang kerja papanya. Pria itu tidak meneliti apa yang ada di dalam tas. Khairi sangat yakin jika kunci itu sangat penting karena itu papanya selalu membawanya ke mana pun.


Sekarang yang harus dilakukannya adalah mencari tahu itu kunci untuk apa? Bentuknya sangat kecil, baru kali ini pria itu melihatnya. Pasti itu dibuat secara khusus, tetapi untuk apa? Khairi harus mencari tahu.


Sekarang papanya berada di rumah sakit. Nanti malam dia harus mencari di seluruh rumah. Tinggal mencari cara agar rumah malam ini sepi. Bagaimana caranya?


"Tuan," panggil sekretaris itu membuyarkan lamunan Khairi.


"Kita sudah sampai."


"Oh, iya, ayo!"


Mereka memasuki sebuah restoran tempat meeting akan dilaksanakan. Rekan kerja mereka belum datang. Itu memang sengaja dilakukan karena tidak ingin meninggalkan kesan buruk. Beberapa kali Papa Hamdan membatalkannya dengan alasan kesehatan. Kali ini harus ada kesan baik.


*****


"Assalamualaikum," ucap Afrin saat memasuki ruang rawat mertuanya.


"Waalaikumsalam," sahut semua orang yang masih berada di sana. Emran dan Yasna belum pulang.


"Papa sama Bunda ada di sini? Aku cuma beli dua saja," ucap Afrin sambil memperlihatkan bungkusan makanan yang dibelinya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa biar mama kamu yang makan. Pasti beliau sudah lapar. Bunda bisa beli nanti di luar," sahut Yasna.


"Biar itu buat, Bu Yasna, saja. Saya tidak lapar," sahut Merry.


"Jangan bicara seperti itu, Bu.Bu Merry juga perlu tenaga untuk menjaga Pak Hamdan," sahut Yasna dengan pelan agar tidak terkesan menggurui. Dia takut jika besannya salah faham dengan maksud kata-katanya.


"Begini saja. Mama sepiring sama aku, Bunda sama Papa. Kalau Papa Hamdan, kan, sudah ada makanannya. Lagi pula nggak boleh juga makan ini," sahut Afrin yang segera menyiapkan makanan. Hamdan hanya tersenyum menanggapi.


Semua orang pun akhirnya setuju dengan ide Afrin. Makan rame-rame terasa nikmat juga. Bahkan Mama Merry makan dengan lahap. Afrin sengaja memakan sedikit membiarkan mertuanya memakan lebih banyak.


Papa Hamdan yang melihatnya pun merasa terharu. Pria itu tahu jika istrinya dari kemarin hanya makan sedikit. Kedatangan keluarga Emran memang membawa dampak baik bagi keluarganya. Dia jadi teringat semua dosa yang sudah dilakukannya di masa lalu.


"Kamu tadi pulang sama siapa, Frin? Bukannya tadi pagi kamu diantar Khairi?" tanya Merry.


"Aku tadi pulang naik taksi, Ma. Terus ke sini bawa mobil."


"Oh, kamu tadi pulang dulu?"


"Iya, Ma."


Setelah mereka selesai makan Emran pamit pulang pada kedua besannya. Afrin sebenarnya masih kangen dengan orang tuanya, tetapi dia juga tidak mungkin memaksa mereka tetap tinggal. Pria paruh baya itu masih harus ke kantor. Meski semua sekarang semua sudah di handle Aydin, tetapi Emran masih sesekali datang ke sana.


Bukannya dia tidak percaya pada putranya, hanya saja Emran belum terbiasa duduk diam di rumah. Yasna ikut suaminya ke kantor. Lagi pula suaminya hanya melihat saja sebentar, setelah itu mereka pulang.


Aydin pun tidak mempermasalahkan kedatangan papanya. Asalkan Emran masih bisa menjaga kesehatan dan tidak terlalu memikirkan masalah yang ada di perusahaan. Biar semua dia saja yang ambil alih.


"Bunda kenapa ikut pria ini? Bikin capek saja. Lebih baik di rumah," ucap Aydin saat melihat orang tuanya ada di perusahaan.


"Memangnya kenapa? Dia istri Papa. Sudah sepantasnya dia ikut ke mana pun Papa pergi," sahut Emran dengan sinis. Dia tahu Aydin sedang menyindirnya karena masih saja datang ke kantor. Padahal dirinya yang dari dulu selalu memaksa Aydin agar segera mengambil alih perusahaan.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2