Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
208. S2 - Afrin Hilang


__ADS_3

"Pa, Afrin, kok belum pulang? Ini sudah hampir petang, biasanya siang dia sudah pulang. Dari tadi nomornya juga tidak aktif," ujar Yasna pada suaminya karena merasa khawatir pada putrinya.


"Kamu sabar dulu, Sayang. Bentar lagi juga dia pulang," sahut Emran yang ingin menenangkan istrinya. Padahal dia sendiri juga sedang khawatir.


"Aku nggak bisa tenang, Pa. Sebelum tahu bagaimana keadaannya. Kalau ponselnya aktif nggak apa-apa. Ini nggak aktif dari tadi! Aku telepon enggak bisa. Aku juga sudah hubungin Vira dan Siska, tapi mereka bilang nggak tahu."


Emran ingin mengatakan sesuatu, tetapi ponselnya berdering segera pria itu mengangkatnya.


"Sebentar Papa mau angkat dulu," ucap Emran pada Yasna dan beralih mengangkat ponselnya. "Assalamualaikum ... tunggu sebentar, saya cek dulu di ruang kerja saya."


Yasna menatap suaminya seolah bertanya ada apa. Sepertinya ada sesuatu yang penting.


"Papa mau ke ruang kerja dulu, ya!"


Yasna mengangguk, Emran berlalu menuju ruang kerjanya tanpa mematikan sambungan telepon. begitu sampai di ruang kerja dia segera mengunci pintunya agar tidak seorang pun masuk.


"Bagaimana bisa kalian kecolongan seperti ini!" teriak Emran pada orang yang berada di seberang telepon. Untung saja ruang kerjanya kedap suara, hingga orang luar tidak akan tahu pria itu berteriak.


"Maaf, Pak saya sudah mencoba mencari keberadaan Non Afrin, tapi belum menemukan apa pun," sahut orang itu.


"Saya tidak mau tahu. Cari keberadaannya sekarang juga!"


"Baik, Pak. Kami akan berusaha."


"Jika terjadi sesuatu pada putriku, kalian yang akan menanggung akibatnya." Emran segera mematikan sambungan teleponnya.


Bagaimana bisa anak buahnya bisa seceroboh ini, kemarin dia kecolongan saat Afrin dekat dengan Khairi dan itu tidak masalah untuknya karena pria itu juga orang baik, tetapi sekarang putrinya hilang tanpa jejak apa pun. Hanya mobilnya yang berada di tepi jalan.


******


"Tuan, Nona Afrin hilang," ucap Ivan.


"Bagaimana bisa hilang?" tanya Khairi dengan berteriak.


Saat ini dia masih mengurusi proyek kerjasama, tetapi tiba-tiba pria itu mendapat berita yang tidak enak mengenai pujaan hatinya. Bagaimana Khairi bisa tenang kalau seperti ini?

__ADS_1


"Sepertinya ada seseorang yang ingin mencelakainya, tapi sampai saat ini kami belum tahu siapa pelakunya."


"Kerahkan semua anak buat kita. Aku Ingin secepatnya mendapat kabar. Aku tidak mau tahu bagaimana cara mereka bekerja, asal Afrin bisa ditemukan."


"Baik, Tuan."


"Apa kamu tahu, siapa kira-kira pelakunya?"


"Tidak, Tuan. Saya tidak begitu mengenal keluarga Tuan Emran. Anda tahu sendiri keluarganya sangat sulit untuk ditembus."


Pria itu membuang napas kasar. Bagaimana bisa disaat dirinya kini jauh, sesuatu yang berbahaya terjadi pada pujaan hatinya.


Khairi berpikir, siapa kira-kira yang berani bermain-main dengan keluarga Emran. Hanya ada dua kemungkinan, orang itu tidak mengenal siapa Emran dan sengaja ingin meminta uang atau orang itu memang musuh dari keluarga pengusaha itu.


"Ivan, siapkan pesawat hari ini juga. Aku akan segera pulang."


"Tapi, Tuan. Bagaimana dengan kerjasama kita? Ini sangat berarti untuk perusahaan."


"Afrin lebih berarti daripada perusahaan. Kamu saja yang berada di sini menangani semuanya. Jika mereka menolak, batalkan saja kerjasama ini. Afrin adalah segalanya untukku."


"Baik, Tuan," sahut Ivan.


Ivan juga sudah mewanti-wanti anak buahnya agar selalu menjaga keselamatan atasannya itu. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Khairi. Bagaimanapun pria itu tanggung jawabnya.


*****


"Zahra kamu mau ikut sama aku? Nanti aku anterin kamu ke tempat kerja," tanya Afrin pada temannya. Mereka baru saja selesai kelas dan sedang berjalan keluar kampus.


"Enggak usah, tempatnya juga deket. Jalan kaki sebentar juga sudah sampai," tolak Zahra. Dia tidak ingin merepotkan sahabatnya itu.


"Ya sudah, aku balik dulu, ya! Pasti Bunda akan ngomel-ngomel kalau aku pulang telat."


"Iya, hati-hati." Mereka berpisah di tempat parkir.


Afrin menaiki mobilnya membelah jalanan yang begitu ramai dengan suara bising kendaraan bermotor. Suara musik yang diputar seorang penyiar radio menemani kesendiriannya. Sesekali gadis itu mengikuti lirik lagu.

__ADS_1


Tiba-tiba ada seorang wanita yang mencegahnya di tengah jalan. Dia meminta tolong untuk diantarkan ke rumah sakit karena baru saja mendapat kabar jika anaknya mengalami kecelakaan.


Afrin yang tidak tega, akhirnya menolong wanita itu. Dia mengikuti arah yang ditunjuk. Dipertengahan jalan, gadis itu merasa aneh karena orang yang ditolongnya tadi mengarahkan ke jalanan sepi, seperti menuju sebuah hutan. Namun segera dia menepis prasangka buruknya. Afrin tidak mungkin tega membiarkan wanita yang sedang menghawatirkan anaknya pergi seorang diri.


"Tunggu sebentar, tolong berhenti dulu," ucap wanita itu


Afrin segera menghentikan mobilnya. Namun, tiba-tiba wanita itu menutup mulut gadis itu dengan sapu tangan hingga Afrin tidak sadarkan diri.


Sebuah mobil yang sedari tadi mengikuti mereka berhenti di depan. Dua orang pria turun dan membuka pintu yang ada di samping Afrin dan membawa gadis itu ke dalam mobilnya. Mereka segera pergi meninggalkan tempat sebelum ada yang datang. Tak lupa juga memberi uang pada wanita tadi.


*****


Yasna duduk di ruang keluarga menunggu sang suami keluar dari ruang kerjanya. Dia merasa pasti telah terjadi sesuatu pada putrinya. Tidak mungkin Emran tidak tahu apa pun mengenai Afrin karena selama ini semua keluarga dalam pengawasannya.


Pintu ruang kerja terbuka, tampak pria itu keluar dari ruangannya. Yasna tetap duduk di tempatnya tanpa mau beranjak sedikit pun, hingga sang suami yang mendekati dan duduk di sampingnya.


Emran merasa jika Yasna mencurigainya. Mau tidak mau, dia harus mengatakan yang sebenarnya. Bagaimana pun wanita itu juga berhak tahu.


"Ada apa, Bunda? Kenapa diam saja?" tanya Emran pura-pura tidak mengerti.


"Papa tidak usah pura-pura. Papa tahu, kan, di mana Afrin? Pasti terjadi sesuatu sama dia, kan?" tanya Yasna sambil menatap wajah sang suami. Dia ingin tahu seperti apa ekspresi suaminya.


Emran terdiam, memikirkan jawaban apa yang akan diberikannya pada Yasna agar wanita itu tidak terkejut.


"Papa tidak usah berbohong! Bunda sudah tahu, pasti terjadi sesuatu yang buruk, bukan? Ada apa? Papa katakan saja, tidak usah ditutup-tutupi," ujar Yasna seolah tahu apa yang dipikirkan suaminya.


Emran menghela nafas sebelum menjawab. Dia menatap wajah sang istri sambil berkata, "Afrin hilang, Bunda. Papa tidak tahu di mana keberadaannya. Anak buah Papa juga masih berusaha sampai detik ini."


Yasna terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka semua ini dialami oleh putrinya. Pantas saja sedari pagi dia gelisah, tapi wanita itu tidak tahu penyebabnya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2