
Sebulan sudah terlewati, Khairi benar-benar membuktikan ucapannya. Dia menjadi pria yang bertanggung jawab atas setiap apa pun yang dilakukannya. Pria itu juga menjadi lebih sabar menghadapi apa pun.
Semua orang disekitar Khairi merasa senang perubahannya, terutama pegawai kantor. Mereka tidak menyangka, pria yang dulu suka marah-marah, kini menjadi lebih santun pada siapa pun.
Hari ini ada meeting pagi. Khairi sudah siap dengan pakaian formalnya. Pria itu menuju meja makan, bersiap untuk menikmati sarapan. Namun, dia terkejut melihat pemandangan yang sudah satu bulan ini tidak terlihat.
Seorang wanita sedang menyiapkan hidangan sarapan pagi di meja makan, siapa lagi kalau bukan Afrin. Mata Khairi sudah berkaca-kaca. Dia sangat bahagia karena terlalu bahagia, tetapi tidak berani mendekat. Pria itu takut kalau apa yang dilihatnya adalah ilusi saja.
"Selamat pagi, Mas," sapa Afrin dengan tersenyum.
Khairi segera berlari dan memeluk istrinya, setelah yakin jika itu nyata. Dia menangis, menumpahkan kerinduan yang satu bulan ini sudah menumpuk. Tidak jauh berbeda dengan pria itu, Afrin juga sangat merindukan sang suami. Wanita itu membalas pelukan sang suami dan bisa meluapkan semuanya.
"Aku merindukanmu ... sangat rindu. I love you," bisik Khairi dengan suara serak dan air mata yang masih deras.
Pria itu mengurai pelukannya dan menangkup wajah Afrin. Diciuminya seluruh wajah sang istri dengan lembut tanpa terlewat satu inci pun. Wajah keduanya sudah basah oleh air mata. Namun, mereka tidak peduli.
Bik Asih dan Fatma yang melihat kejadian ini ikut meneteskan air mata. Keduanya sangat tahu bagaimana majikannya berusaha untuk berubah. Pria itu juga memperlakukan Fatma layaknya adik, membuat gadis itu merasa tersanjung. Fatma juga sudah membuang keinginannya untuk bersanding dengan Khairi, setelah melihat begitu besarnya cinta kedua majikannya itu
"Aku sangat bahagia melihatmu di rumah ini. Maafkan semua kesalahan yang pernah aku lakukan. Maaf, sudah menyakiti hatimu," ucap Khairi sambil menyatukan keningnya dengan kening sang istri.
"Tidak perlu ada ucapan maaf lagi. Aku senang melihatmu berubah dan kuharap ini bukan perubahan sementara."
Khairi teringat sesuatu, dia melepaskan dirinya dari Afrin dan beralih mengusap perut rata sang istri. Pria itu tersenyum dengan air mata yang masih mengalir.
"Bagaimana keadaan anak kita?"
"Dia baik, sangat baik, meski aku terkadang muntah, tapi masih batas normal," jawab Afrin.
Khairi menekuk kakinya dan menjadikan lutut sebagai penyangga tubuhnya. Wajahnya tepat di depan perut sang istri. Dia mencium perut Afrin yang masih datar. Ada rasa yang tidak bisa diungkapkan. Sudah lama pria itu menunggu momen ini.
"Anak Papa, apa kabar? Baik-baik ya di sana. Jangan buat mama susah! Kita harus membuatnya bahagia," bisik Khairi yang kemudian memeluk perut istrinya.
Afrin mengusap air matanya yang mengalir. Dia sangat bahagia hari ini. Bukan hanya Khairi, wanita itu juga banyak belajar selama satu bulan mereka berpisah. Afrin memang hanya memberi hukuman satu bulan untuk suaminya. Enam bulan yang dia rencanakan memang cuma wacana saja.
Sebenarnya wanita itu berniat akan kembali jika suaminya benar-benar berubah. Ternyata Khairi mengerti tujuannya dan mau berubah menjadi lebih baik dalam waktu singkat jika tidak, maka mungkin hukuman akan bertambah lebih lama lagi. Itu juga sangat menyiksanya.
__ADS_1
"Ayo, kita sarapan, Mas. Aku sudah masak buat kamu," ajak Afrin sambil menarik tubuh suaminya agar berdiri.
"Kamu yang masak, Sayang?" tanya Khairi.
"Iya."
"Kamu datang jam berapa? Kenapa tidak masuk kamar?"
"Sebelum subuh," jawab Afrin sambil duduk di kursi diikuti Khairi. "Bagaimana aku bisa masuk, kalau kamu mengunci pintu kamar dari dalam."
"Oh, iya, maaf."
Sejak kepergian Afrin, Khairi memang selalu mengunci kamar jika dia sedang tidur. Dia ingin menenangkan diri tanpa ada gangguan dari siapa pun.
"Ini silakan," ucap Afrin sambil menyerahkan sepiring nasi beserta lauknya.
"Terima kasih, Sayang." Khairi makan dengan begitu lahap.
Pria itu selalu melihat istrinya. Dia tidak menyangka bisa bertemu dengannya hari ini. Usai menghabiskan sarapannya, Khairi masih saja menatap Afrin yang masih duduk sambil ngemil.
"Hari ini aku libur saja, Sayang."
Afrin melototkan matanya. Baru juga berubah baik, kenapa sekarang mau kembali lagi? Khairi yang melihatnya pun hanya menunjukkan deretan giginya.
"Mas, ada meeting, kan?"
"Iya."
"Sekarang berangkat, tanggung jawab dulu sama pekerjaan."
Sebenarnya Afrin juga berat untuk membiarkan sang suami pergi bekerja hari ini. Sama seperti Khairi, dia juga ingin menghabiskan banyak waktu berdua. Namun, perusahaan masih membutuhkan tanggung jawab suaminya.
"Baiklah, Sayang. Nanti setelah pekerjaanku selesai, aku akan pulang dan kamu tidak boleh melarangku. Aku masih sangat merindukanmu," ujar Khairi yang diangguki Afrin.
Khairi bangun dari duduknya dan kembali memeluk sang istri yang masih duduk. Pria itu mencium puncak kepala Afrin sambil mengusap perut wanita itu.
__ADS_1
"Ayo, aku antar ke depan!" ajak Afrin sambil berjalan menggandeng lengan sang suami.
"Kamu tidak akan pergi lagi, kan, Sayang?" tanya Khairi begitu mereka sampai di teras.
Pria itu takut saat nanti pulang, Afrin sudah tidak ada di rumah. Dia tidak ingin kebahagiaan ini pergi begitu saja.
"Tidak, Mas. Aku tidak akan pergi ke mana-mana. Ini adalah rumahku. Maaf jika kemarin aku membuatmu sedih karena aku pun juga merasakannya, tapi sungguh kali ini aku tidak akan pergi, kecuali kamu yang memintanya."
"Aku tidak mungkin melakukan hal itu. Kamu adalah segalanya untukku. Hidupku tidak berarti tanpa kehadiranmu."
Keduanya kembali berpelukan, setetes air mata jatuh membasahi pipi yang semula sudah kering. Bukan karena sedih, tapi karena kebahagiaan. Mereka akan lebih menghargai arti kebersamaan setelah perpisahan ini.
"Ya sudah, aku berangkat dulu. Jangan lagi menangis, aku tidak ingin mata yang cantik ini mengeluarkan air mata," ucap Khairi sambil mengusap pipi istrinya yang basah.
"Iya, Mas, hati-hati di jalan."
"Jangan pergi ke mana pun. Kalau mau pergi hubungi aku dulu, nanti aku kirim sopir kantor buat kamu."
"Aku bisa nyetir sendiri, Mas."
"Tidak boleh, mulai sekarang kamu pergi pakai sopir."
Afrin menghela napas, dia tinggal di mana pun ternyata sama saja. Di rumah Bunda Yasna, apartemen Bu Nur, di kampung Mama Merry, mereka selalu membatasi gerak wanita itu. Memang selama ini dia selalu tinggal berpindah dari tiga rumah orang tuanya itu.
Awalnya dia ingin menenangkan pikiran dengan bersenang-senang, tetapi para ibu-ibu itu justru membuatnya kesal karena selalu melarang apa pun yang dikerjakannya. Namun, Afrin senang bisa mendapatkan kasih sayang dari mereka.
"Baiklah, Mas, aku tidak akan ke mana-mana, di rumah saja," sahut Afrin dengan tersenyum paksa.
"Bagus kalau seperti itu. Aku berangkat dulu, assalamualaikum." Khairi mencium kening sang istri yang dibalas wanita itu dengan mencium punggung tangannya.
"Waalaikumsalam."
.
.
__ADS_1
.