
Kata sah menggema di aula gedung yang dijadikan tempat berlangsungnya acara akad nikah pasangan pengantin Khairi dan afrin. Keduanya merasa bahagia, begitu pun dengan keluarga dan juga para tamu yang terdiri dari beberapa kerabat. Seperti janji pria itu, acara dilangsungkan secara besar-besaran. Beberapa media juga datang meliput acara tersebut.
Siapa yang tidak mengenal Khairi. Pengusaha muda yang namanya melejit di dunia bisnis dalam dua tahun terakhir. Pemuda dengan wajah tegas dan berwibawa. Siapa yang tidak terpikat dengannya. Wanita mana pun pasti akan rela mengantre untuknya.
Semua orang pasti ingin tahu kehidupan pribadinya juga. Namun, Khairi sudah mengatakan jika mereka hanya boleh meliput saat acara saja. Setelah selesai, para wartawan harus mematikan kameranya.
Doa dibacakan oleh seorang Ustaz yang diaminkan oleh semua orang yang hadir di sana. Afrin mencium punggung tangan Khairi yang dibalas oleh pria itu dengan mencium kening wanita yang sudah menjadi istri sah-nya.
Kini acara pun dilanjutkan dengan sungkeman kepada para orang tua dari kedua mempelai. Air mata Yasna tidak bisa dibendung lagi. Dia begitu terharu melihat gadis yang dulu memintanya menjadi seorang, ibu kini sudah menjadi seorang istri.
Dipeluknya sang putri mengingat kebersamaan mereka berdua, yang mungkin sudah tidak bisa dirasakannya lagi karena sudah ada seorang pria yang akan menjadi sandarannya.
"Jadilah istri yang taat pada suami. Jangan sekali pun membantah perintahnya kecuali, memang perintahnya itu melanggar norma dan agama. Kamu harus selalu ingat pada Allah. Ingatkan suamimu jika dia melakukan kesalahan. Tegur dia dengan cara yang baik-baik," ucap Yasna dengan air mata yang masih menetes. Pelukannya semakin erat membuat Afrin tak kuasa menahan air matanya.
"Iya, Bunda, terima kasih nasehatnya. Aku akan selalu mengingat apa pun yang Bunda ajarkan kepadaku," sahut Afrian.
Tangis haru dirasakan oleh semua orang yang melihatnya. Emran juga menasehati putrinya agar menjadi istri yang baik dan taat. Kini gadis itu sudah bukan lagi tanggung jawabnya. Sudah ada seorang pria yang menggantikan perannya.
"Titip Afrin, jaga dia dengan baik, seperti Papa menjaganya. Jangan biarkan dia mengeluarkan air mata kesedihan," ucap Emran dengan menggenggam telapak tangan menantunya.
"Aku pasti akan menjaganya, Om. Sekarang dia istriku, sudah sepantasnya aku membuatnya bahagia."
"Jangan panggil, Om. panggil Papa, seperti Afrin."
"Iya, pa."
Kedua pengantin beralih sungkem kepada orangtua Khairi. Namun, saat Afrin sungkem kepada Mama Merry, wanita itu hanya bersalaman sebentar tanpa mau berkata, apalagi memeluk menantunya itu.
Afrin dapat merasakan jika Mama Merry tidak menyukainya, padahal kemarin Wanita itu sangat sayang padanya. Khairi mengerti jika mamanya tidak suka dengan istrinya mungkin karena sikap Afrin kemarin. Pria itu segera mengajak sang istri berdiri. Dia tidak ingin perlakuan mamanya menjadi bahan sorotan.
__ADS_1
Setelah acara selesai, pasangan pengantin dan keluarganya, pergi ke hotel terdekat yang sudah disiapkan. Mereka harus istirahat untuk acara resepsi nanti.
*****
"Pa, sepertinya Nyonya Merry tidak suka sama Afrin. Tadi Papa lihat, kan, waktu sungkeman! Dia seolah enggan disentuh sama Afrin," ucap Yasna pada suaminya saat mereka sudah sampai di kamar hotel.
"Itu perasaan, Bunda, saja kali."
Sebenarnya Emran juga merasakannya. Akan tetapi, dia tidak ingin istrinya kepikiran. Pria itu juga tahu alasan Merry tidak menyukai Afrin.
"Tidak, sebagai seorang wanita, aku bisa merasakannya. Bahkan tatapan matanya pada Afrin, seperti seseorang yang tidak suka."
"Jangan terlalu berlebihan, Bunda. Kalau memang benar, Nyonya Merry tidak menyukai Afrin, Papa yakin, anak Papa bisa meluluhkan hati mertuanya. Anggap saja itu sebagai proses pendewasaan untuknya. Dia masih muda. Langkahnya akan semakin berliku, banyak yang akan dia lalui nanti dan itu harus."
"Tetap saja, Pa. Dari kecil Bunda selalu merawatnya, tapi sekarang dia harus menerima tatapan sinis dari mertuanya. Bagaimanapun juga Nyonya Merry, kan, pengganti Bunda saat ada di rumahnya Khairi."
"Kita doakan saja agar Afrin baik-baik saja. Bunda harus percaya pada anak Bunda." Walaupun ragu Yasna tetap mengangguk, dalam keadaan apa pun, dia tidak akan pernah lupa untuk mendoakan anak-anaknya. Kali ini wanita itu berdoa agar Afrin diberikan kekuatan untuk meluluhkan hati mertuanya.
*****
Sementara di kamar pengantin baru, Afrin masih duduk di tepi ranjang Khairi pun mendekatinya dan segera memeluk sang istri.
"Eh, kamu mengagetkanku saja," pekik Afrin.
"Kamu masih berhutang penjelasan padaku, Sayang," ucap Khairi dengan berbisik tepat di telinga wanita itu.
"Penjelasan apa?" tanya Afrin yang berusaha untuk tetap tenang. Padahal dirinya kini sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana bisa Khairi langsung memeluknya begitu saja, tanpa memberi aba-aba. Tentu saja hal itu membuatnya terkejut.
"Kamu tidak tahu, apa pura-pura tidak tahu?"
__ADS_1
"Ih, aku beneran enggak tahu. Apa sih maksud kamu?"
"Bagaimana kamu bisa berada di sini? Padahal sebelumnya orang suruhanku kembali dan mengatakan kalau kalian mengusirnya."
"Memang aku mengusir mereka, setelah selesai meriasku tentunya," jawab Afrin dengan terkekeh.
"Terus, mengenai kebaya ini, kamu membelinya? Ini bukan kebbaya yang aku belikan."
"Iya, dong! Aku juga ingin memilih sendiri, pakaian yang akan aku pakai dihari pernikahanku karena semuanya mendadak jadi, aku pilih yang sudah jadi."
"Kamu cantik memakai kebaya ini," ucap Khairi. "Kamu membuatku hampir saja kehilangan dunia karena aku mengira kamu akan tetap dengan pendirianmu untuk menolakku."
"Sejujurnya dari beberapa hari yang lalu, aku masih tetap kekeh ingin membatalkan pernikahan ini, tapi saat aku habiskan waktu di sebuah kafe bersama dengan Zahra, aku melihat Vira. Dia bersama dengan seorang laki-laki. Dari situ aku tahu kalau dia tidak benar-benar mencintai kamu. Dia hanya memanfaatkan kamu karena kehebatan kamu atau koneksi yang kamu miliki mungkin."
"Apa pun alasannya, aku senang karena kamu datang diwaktu yang tepat. Malah aku yang datang terlambat."
Khairi tidak peduli alasan apa yang membuat Istrinya itu akhirnya datang, tetapi dia bersyukur karena mereka kini telah sah. Pria itu berharap apa pun ujian yang akan mereka hadapi nanti, semua bisa dilalui dengan baik.
"Aku ingin mengatakan sesuatu," ucap Afrin dengan mencoba melepas pelukan Khairi dan menghadap pria itu.
"Ada apa?" tanya Khairi dengan menggenggam kedua telapak tangan istrinya.
"Berjanjilah untuk tidak pernah mengkhianatiku. Apa pun yang terjadi, kamu harus selalu menceritakan padaku. Sekalipun itu menyakitkan untukku. Aku ingin kita sama-sama jujur. Aku tidak ingin ada rahasia yang nantinya akan menghancurkan rumah tangga kita. Kamu mau kan berjanji?"
"Tentu, apa pun akan aku lakukan untukmu dan aku akan melindungimu, apa pun yang akan terjadi. Bahkan jika aku harus menyerahkan nyawaku, aku rela," sahut Khairi dengan mengusap pipi istrinya.
.
.
__ADS_1
.
.