
Azan subuh berkumandang membangunkan umat muslim agar melakukan kewajiban mereka. Afrin menggeliat dan membuka matanya. Dia melihat sang suami yang sudah tidur di sampingnya. Pria itu masuk ke kamarnya saat hampir tengah malam jadi, istrinya tentu saja sudah tidur.
Wanita itu memilih membersihkan diri lebih dulu di kamar mandi, sekalian mengambil air wudhu. Setelah selesai dia melihat suaminya ternyata sudah bangun dan duduk di tepi ranjang. Mungkin pria itu menunggunya keluar dari kamar mandi.
"Tunggu sebentar, ya, Sayang. Aku ambil wudhu dulu, kita shalat jamaah," ucap Khairi saat akan ke kamar mandi.
"Iya, Mas," sahut Afrin.
Wanita itu pun menunggu sang suami sambil menyiapkan peralatan ibadah. Keduanya melakukan shalat berjamaah. Di setiap gerakan yang mereka lakukan dengan penuh penghayatan dan hati yang ikhlas. Doa-doa mereka panjatkan, tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk semua orang.
Usai shalat, Khairi membalikkan tubuhnya agar bisa berhadapan dengan sang istri. Dia ingin mengatakan niatnya dengan hati-hati agar tidak menyakiti orang yang dicintainya.
"Sayang, aku ingin mengatakan sesuatu," ucap Khairi.
"Iya, Mas, katakan saja," sahut Afrin dengan menatap suaminya.
"Aku ingin mengajak kamu tinggal di sini. Kamu tahu bagaimana keadaan papa. Aku bisa saja menyewa seorang perawat untuk merawatnya, tapi aku tidak mungkin melakukan hal itu. Meski dari kecil papa tidak begitu memperhatikanku, tapi hanya papa yang aku miliki saat ini. Mama kandungku pun aku tidak tahu di mana keberadaannya. Aku tidak ingin menyesal di kemudian hari karena mengabaikan keberadaan papa. Aku mohon kamu mengerti akan hal itu," ujar Khairi dengan menggenggam kedua telapak tangan Afrin.
Wanita itu pun tersenyum, dia tahu bagaimana perasaan sang suami. Afrin juga akan melakukan hal yang sama jika itu menimpa orang tuanya.
"Mas, aku sudah pernah mengatakan ke mana pun kamu pergi, aku akan ikut. Bahkan jika kamu ingin tinggal di tengah hutan pun, aku akan di sana bersamamu. Apalagi tujuanmu baik, ingin berbakti kepada orang tua. Tentu aku akan mendukungnya. Aku hanya minta satu hal, apa pun yang aku lakukan di rumah ini nanti, tolong percaya padaku."
"Tentu, aku sangat tahu bagaimana kamu. Kamu tidak akan melakukan sesuatu jika kamu merasa itu hal yang buruk."
"Terima kasih kamu sudah percaya padaku. Aku harap itu akan berlangsung selamanya."
Khairi pun memeluk istrinya. Dia begitu bahagia memiliki istri sebaik Afrin. Padahal sebelumnya pria itu berpikir bahwa istrinya akan menolak karena rumah ini sudah membuat wanita itu tidak nyaman. Akan tetapi, Khairi lupa siapa istrinya, wanita dengan pengertian yang besar.
"Sudah, Mas, aku mau masak dulu," ucap Afrin dengan melepas pelukan sang suami.
"Di sini sudah ada yang masak, Sayang. Kamu tidak perlu repot lagi."
"Tetap saja aku ingin memasak untuk kamu. Walaupun di sini semuanya sudah tersedia, aku tetap ingin melayanimu."
__ADS_1
"Ya sudah, terserah kamu. Aku mau lihat papa dulu."
Keduanya pun beranjak pergi ke tujuan masing-masing. Saat Afrin memasuki dapur, sudah ada Bik Asih dan Fatma yang sedang melakukan tugasnya. Tidak ada Mama Merry, wanita itu sedang di teras menyirami tanamannya.
"Selamat pagi, Bik, Fatma," sapa Afrin.
"Selamat pagi, Non. Apa ada sesuatu yang Nona butuhkan?" tanya Bik Asih.
"Tidak, Bik. Saya hanya mau bantu masak saja."
"Jangan, nanti saya dimarahi tuna Khairi. Non Afrin, duduk saja, biar kami yang masak. Tinggal bilang apa yang dimasak biar kami yang kerjakan."
"Tidak apa-apa, Bik. Saya juga sudah terbiasa setiap hari memasak untuk suami saya."
Afrin mulai membantu Apa yang dilakukan kedua ART itu. Bik Asih dan Fatma tidak bisa melakukan apa-apa. Keduanya hanya membiarkan apa yang dilakukan menantu keluarga ini. Tidak perlu menunggu lama makanan pun sudah siap dihidangkan. Afrin memilih kembali ke kamar sebelum sarapan. dia belum membersihkan tubuhnya. Hari ini wanita itu ada kelas pagi jadi, harus segera bersiap.
*****
"Kamu benar akan tinggal di sini? Papa tidak mau jika kamu melakukannya dengan terpaksa. Apalagi kamu tahu kan jika seorang istri tinggal bersama dengan mertuanya, rentan akan masalah."
"Jika kamu sudah memutuskan seperti itu, Papa tidak bisa berbuat apa-apa. Papa hanya berharap agar bisa cepat sembuh dan kalian bisa kembali hidup seperti sebelumnya. Papa tidak ingin menyusahkan kalian."
"Papa bicara apa, sih! Tidak ada yang menyusahkan di sini. Aku melakukannya karena memang ini kewajibanku sebagai seorang anak," kilah Khairi.
"Papa senang dengan kehadiran Afrin di kehidupan kamu. Dia telah membuat anak Papa menjadi orang yang baik dan memiliki hati. Padahal dulu Papa tidak terlalu perhatian padamu. Papa terlalu sibuk dengan pekerjaan."
"Tidak perlu memikirkan masa lalu. Semuanya sudah lewat, yang penting sekarang, Papa harus jaga kesehatan. Apa, Papa, tidak ingin melihat cucu?"
"Bukannya Afrin masih menunda kehamilannya sampai dia lulus kuliah?" tanya Papa Hamdan balik.
"Justru itu, Papa, harus sabar menunggu sampai istriku lulus kuliah."
"Itu masih lama, bukannya setelah melahirkan bisa kuliah kembali? Kenapa kalian tidak program dulu?"
__ADS_1
"Aku tidak ingin memaksanya, Pa. Aku sudah cukup bahagia dengan kehadirannya. Aku tidak ingin istriku tertekan," jawab Khairi yang diangguki oleh Papa Hamdan.
Dia mengerti apa yang dipikirkan oleh putranya. Sama seperti Khairi, pria itu juga tidak ingin memaksa menantunya. Afrin cukup baik dengan mengikuti suaminya tinggal di sini.
"Apa pun yang menurutmu baik, Papa akan dukung," ucap Hamdan.
"Terima kasih, Pa."
Saat kedua pria itu sedang berbincang, pintu kamar diketuk seseorang dari luar.
"Masuk," teriak Khairi, pintu pun terbuka. Tampak Afrin yang memasuki kamar.
"Mas, ayo, kita sarapan dulu!" ajak Afrin pada sang suami.
"Iya, Sayang."
"Papa, sudah selesai sarapannya? Aku bawa ke belakang, ya, piringnya?"
"Iya, minumannya taruh saja di meja, nanti Papa minum lagi," sahut Hamdan sambil melihat ke arah minuman yang ada di samping piringnya tadi.
"Iya, Pa. Kami pergi dulu."
Afrin membawa piring bekas makan mertuanya ke dapur. Dia pergi bersama dengan sang suami ke ruang makan.
"Kamu nggak kerja, Mas?" tanya Afrin di sela langkah mereka.
"Tidak, Sayang. Hari ini aku ambil cuti, nanti kamu akan dijemput sama Ivan biar dia yang mengantar kamu ke kampus, tadi aku sudah kirim pesan padanya," ujar Khairi yang diangguki Afrin.
Afrin ingin bertanya lagi, tapi mereka sudah sampai di ruang makan. Di sana sudah ada Mama Merry yang sudah menunggu.
.
.
__ADS_1
.