Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
60. Terungkap


__ADS_3

Yasna sedang menemani afrin bermain di ruang keluarga. Aydin belum pulang dari sekolah, ia tadi berpamitan sedang ada tugas sekolah bersama dengan teman-temannya jadi, Yasna tidak menjemputnya.


Tidak Berapa lama, Aydin akhirnya pulang, tapi wajahnya terlihat sedang sedih, ia merebahkan kepalanya di pangkuan Yasna dan memejamkan matanya.


Aydin memang sudah tidak malu lagi bermanja-manja dengan Yasna, bahkan terkadang ia rebutan dengan adiknya untuk mendapat perhatian Yasna.


"Ada apa ini anak bunda? Kenapa tidak mengucap salam?" tanya Yasna sambil mengusap rambut Aydin, yang ditanya hanya diam tak menjawab, anak itu memalingkan wajahnya ke perut Yasna, ia memeluk perut bundanya menutupi kesedihan di wajahnya.


"Enggak mau cerita sama Bunda?"


Aydin masih diam tak menjawab, Yasna akhirnya diam tidak bertanya lagi. Ia tahu anaknya butuh sandaran untuk menumpahkan kesedihannya.


"Kakak, jangan begini, ini Bundaku." Afrin mendorong kepala Aydin yang berada di pangkuan Yasna.


Bukannya menurunkan kepalanya, Aydin malah mengejek sang adik dengan menjulurkan lidahnya.


"Kakaakk!"


Melihat adiknya yang sedang kesal, Aydin semakin mempererat pelukannya.


"Sudah, sudah jangan bertengkar lagi, Bunda ini Bundanya kalian berdua." Yasna berusaha melerai mereka, tapi mereka tetap tidak ada yang mau mengalah.


"Tidak mau, ini Bundaku!"


"Afrin anak baik, kan? Jadi tidak boleh bertengkar dengan Kakaknya, Kakak juga gitu, jangan godain adik."


Afrin akhirnya diam, dengan mengerucutkan bibirnya, ia tidak mau bundanya di miliki orang lain.


"Ayo, Kakak mandi dulu sana!" perintah Yasna.


"Iya, Bunda." sahut Aydin, ia mencium punggung tangan Yasna dan berlalu.


*****


Hari ini mamanya Fazilah pulang dari luar kota, Fazilah menjemputnya di bandara, cukup lama ia menunggu, tapi yang ditunggu tak kunjung datang.


Saat ia sedang jenuh menunggu mamanya, ia melihat seseorang yang sepertinya ia kenal dan anehnya orang itu dikawal beberapa orang bodyguard, karena penasaran Ia pun mengikuti pria tersebut, ia sangat terkejut ternyata pria itu benar orang yang ia kenali dan orang itu adalah Hafidz.


Fazilah dapat melihat kalau Hafidz adalah atasan mereka, melihat dari tingkah laku mereka yang selalu menunduk dihadapan pria itu. Ia masih mematung di tempat melihat ke arah di mana Hafidz berdiri memunggunginya.


"Apa kalian sudah mengerjakan tugas yang saya berikan?" tanya Hafidz dengan begitu berwibawa.

__ADS_1


"Sudah, Tuan," jawab salah satu dari mereka.


"Bagus, saya tidak mau ada kesalahan, sekecil apapun."


"Kali ini saya jamin tidak, Tuan."


Hafidz menganggukkan kepalanya dan berkata, "Kalian boleh pergi Saya masih ada urusan, jangan ikuti saya."


"Baik, Tuan." Hafidz berbalik dan dia sangat terkejut melihat keberadaan Fazilah di sana.


"Fazilah!"


"Ternyata selama ini kamu membohongiku?Aktingmu sungguh sangat bagus selama ini."


"Aku hanya ... hanya ...."


"Hanya menipuku, aku tidak tahu apa tujuanmu membohongiku, tapi kamu sudah berhasil membuatku menjadi seorang wanita yang bodoh." Fazilah segera pergi tanpa menunggu pembelaan dari Hafidz.


Hafidz mengejar Fazilah, ia tidak ingin wanita itu salah faham, ia juga tidak ingin kehilangannya. Ia mengelilingi seluruh bandara, tapi ia sudah kehilangan jejak.


Sementara di lorong yang sepi Fazilah meneteskan air matanya, ia tidak menyangka, orang yang sudah sangat ia percayai, ternyata membohonginya. Ponsel di dalam tasnya bergetar, tartera nama mama di sana, segera ia mengangkat panggilan itu.


"Waalaikumsalam, Kamu di mana? Mama sudah sampai," tanya Mama Mirna di seberang telepon.


"Mama keluar saja, tunggu aku di parkiran bandara, aku memakai mobil yang biasanya."


"Ya sudah, Mama ke sana, kamu jangan lama-lama."


Setelah panggilan terputus, Fazilah mencari toilet untuk membersihkan wajahnya, ia tidak ingin mamanya melihat wajah yang sembab karena habis menangis.


Usai membersihkan wajahnya, Fazilah keluar mencari Mama Mirna, ternyata mamanya sudah berdiri disamping mobil.


"Kamu ke mana saja sih? Lama sekali, Mama sudah capek," gerutu Mirna.


"Maaf, Ma, tadi Fazilah kebelet mau ke toilet."


"Ya sudah cepat, Mama ingin istirahat."


Mereka menaiki mobil dan meninggalkan bandara. Dalam perjalanan, Fazilah sama sekali tidak berbicara, ia hanya terdiam, dengan pandangan lurus ke depan.


Mirna heran dengan Fazilah, biasanya anak itu selalu cerewet, tapi kenapa sekarang dia jadi pendiam? Berbagai pertanyaan ada dibenak Mirna, tapi ditahannya, ia akan menanyakan nanti di rumah.

__ADS_1


Sementara di Bandara, Hafidz marah-marah pada anak buahnya, karena dinilai tidak becus dalam bekerja. Hafidz memerintahkan mereka semua mencari keberadaan Fazilah, hingga salah satu dari mereka mengatakan jika Fazilah sudah pulang bersama mamanya.


Hafidz ingin mengejarnya, tapi rasanya tidak pantas kalau sekarang ia ke rumahnya, karena ada mamanya Fazilah di rumah, ia akan bicara nanti jika waktunya tepat.


*****


Pagi ini menurut Yasna ada yang aneh dengan semua orang, karena sedari tadi tidak ada yang mengajaknya berbicara, mereka seolah menganggap Yasna tidak ada, bahkan untuk ke sekolah pun anak-anak tidak mau di antar Yasna, mereka di antar Emran seorang diri.


Karina juga enggan berbicara dengan Yasna, sepanjang hari dia hanya diam di dalam kamar. Karena merasa bosan ia menghubungi Fazilah dan membuat janji dengannya di danau, tempat mereka biasa bertemu, Fazilah pun mengiyakannya, karena dia juga ada yang ingin dibicarakan dengan Yasna mengenai Hafidz.


Mereka akan bertemu saat makan siang, Yasna mengatakan akan datang sebelum jam makan siang. Dia berpamitan pada Bik Ima, karena dia sudah mengetuk pintu kamar Karina berkali-kali. Namun tak ada jawaban.


Sepuluh menit menunggu, akhirnya yang ditunggu pun datang.


"Kamu lama banget sih, Fa," gerutu Yasna.


"Aku kan sudah bilang kalau aku datangnya saat jam makan siang, kamu malah bilang datang sebelumnya ... kamu bawa apa ini?"


"Aku bawain makan siang buat kamu, aku tahu kamu pasti belum makan, kan?


"Kamu tahu aja kalau aku kelaparan."


"Kita 'kan Soulmate, apapun yang kamu rasakan, aku pasti merasakannya. Seperti hari ini, aku bisa merasakan kalau kamu sedang gelisah."


Fazilah menghela nafas panjang, ternyata sahabatnya ini bisa menebak apa yang ada dipikirannya. Yasna yang melihat Fazilah diam pun rasa aneh, Padahal dia hanya asal berbicara, dia membicarakan dirinya sendiri, tapi sepertinya Fazila juga sama memiliki masalah.


Akhirnya Yasna pun membatalkan niatnya, untuk menceritakan masalahnya kepada Fazilah, ia akan menjadi pendengar untuk hari ini, lain kali saja ia ceritakan pada Fazilah mengenai masalahnya atau mungkin tidak perlu, itu hanya masalah sepele.


"Kita makan dulu, nanti aja ceritanya setelah makan," ajak Yasna, ia tidak ingin sahabatnya tidak jadi makan, karena setelah menceritakan kesedihannya, pasti dia Tidak selera untuk makan.


Fazilah senang memiliki sahabat seperti Yasna yang selalu mengerti keadaannya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2