Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
104. S2 - Bagaimana jika ...


__ADS_3

Di dalam mobil ambulans, tak hentinya Ibu Alina berdoa sambil menggenggam tangan Ayah Hilman. Dia tidak rela jika suaminya pergi lebih dulu, meninggalkannya seorang diri. Meskipun wanita itu memiliki dua orang anak, tapi tidak akan sama dengan kehadiran suami di sisinya.


Begitupun dengan Yasna. Dia berusaha menguatkan sang ibu agar tetap kuat. Wanita itu merasa sedih melihat Ibu Alina yang menangis sedari tadi.


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit yang lebih besar. Perawat mendorong ranjang Ayah Hilman menuju ruang ICU, yang sebelumnya sudah dipesan oleh Emran.


"Kamu temenin ibu, ya, Sayang. Aku mau urus berkas sama administrasi dulu," ucap Emran.


"Iya, Mas."


Emran segera pergi menuju tempat administrasi. Dia juga mengupayakan semuanya agar cepat. Pria itu akan melakukan segala hal untuk mertuanya, selama dia masih mampu.


*****


"Bagaimana keadaan kakek, Kak?" tanya Afrin setelah Aydin menutup ponselnya.


Pria itu baru saja menghubungi papanya. Dia menanyakan keadaan kakek Hilman. Aydin dan Afrin sama-sama tidak bisa tenang saat di rumah. Mereka terus memikirkan keadaan kakeknya.


"Kakek harus menjalani operasi pencakokan jantung dan sekarang papa lagi nyari jantung yang cocok buat kakek dan itu nggak mudah. Ada yang cocok, tapi keluarganya menolak untuk mendonorkan. Papa sampai memohon pada mereka," jawab Aydin lesu.


"Astaghfirullahaladzim!" Afrin menutup mulutnya. Dia tidak menyangka kakeknya akan mengalami hal seperti ini. Padahal sebelum ini, Hilman tak pernah mengeluh apapun tentang tubuhnya, tapi kenapa sekarang tiba-tiba sakit.


Aydin dan Afrin memikirkan bagaimana perasaan Yasna. Dia pasti sangat terpukul. Wanita itu sangat menyayangi kedua orang tuanya, mudah-mudahan saja bundanya bisa sabar menghadapi semua ini.


"Apa kita tidak jenguk kakek? Aku juga mau ada di samping bunda dan nenek. Aku ingin menyemangati mereka."


Afrin merasa sedih. Disaat seperti ini, dia tidak ada di samping Yasna. Padahal wanita itu selalu ada untuknya dalam keadaan apa pun.


"Kata papa kita suruh tunggu di rumah saja, nanti malah makin merepotkan jika kita di sana. Sebaiknya kita banyak berdoa agar kakek cepat mendapatkan donor jantung," jawab Aydin berbohong.


Sebenarnya Emran hanya melarang Afrin, agar tidak datang karena gadis itu pasti akan menangis histeris jika ke sini, Aydin pun tidak sampai hati meninggalkan adiknya sendiri, meski di rumah ada Rani.


"Amin, semoga kakek semakin membaik, ya, Kak. Aku tidak tega melihat bunda, pasti dia sangat sedih sekali melihat keadaan kakek seperti ini."


"Iya, tapi Kakak yakin bunda pasti bisa melewatinya dengan mudah," ucap Aydin yang diangguki Afrin.


Sama seperti Afrin. Aydin juga sedih dengan keadaan ini. Mereka memang bukan cucu kandung Hilman, tapi pria paruh baya itu sangat menyayangi keduanya seperti cucu sendiri.


*****

__ADS_1


Hari telah berganti. Namun, dokter tak kunjung mendapatkan pendonor membuat Emran semakin kalut.


Yasna menangis bersama ibunya. Mereka tidak tahu lagi harus berbuat apa. Hingga detik ini belum ada jantung yang cocok untuk ayahnya. Saat ada yang cocok, keluarganya menolak untuk mendonorkan. Sedangkan keadaan Ayah Hilman sudah sangat kritis.


Berbagai pemikiran buruk mulai merasuki mereka. Meskipun begitu, doa tak hentinya mereka panjatkan.


"Bagaimana jika ayah meninggalkan Ibu, Na? Nanti Ibu akan sendirian nggak ada yang nemenin lagi," ucap Ibu Alina dengansuara lirih.


"Ibu, jangan bicara seperti itu. Ayah pasti akan sembuh, dia akan baik-baik saja, kita berdoa sama-sama dan Ibu jangan merasa sendiri, ada aku, Mas Emran dan anak-anak, ada Kak Gibran juga jadi, Ibu jangan merasa sendiri."


"Bagaimana dengan Gibran? Apa kamu sudah menghubunginya?"


"Sudah, Bu. Mas Gibran akan segera pulang. Tadi dia bilang masih di bandara nunggu check in."


Emran datang dengan tergesa-gesa. Dia mendekati ibu mertua dan istrinya. Pria itu tersenyum, meski wajahnya terlihat jika dia sangat lelah.


"Mas, ada apa?" tanya Yasna, dia takut terjadi sesuatu pada ayahnya.


"Dokter sudah menemukan donor yang cocok untuk ayah dan sekarang operasi akan segera dilakukan. Jantung pendonor tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Semuanya sudah diperiksa dan hasilnya bagus karena pendonor sudah meninggal jadi, harus segera dilakukan operasi."


"Alhamdulillah, terima kasih, ya Allah. Maaf, bukan maksud hamba bersyukur atas meninggalnya seseorang, tapi hamba bersyukur karena ayah bisa segera sembuh."


Emran memeluk istrinya, dia sangat tahu perasaan Yasna. Bahkan dari semalam mereka belum ada yang makan, semua tertutupi dengan kegelisahan akan keadaan Ayah Hilman.


"Amin."


*****


Operasi berjalan dengan lancar. Ayah Hilman masih berada di ruang ICU. Dia masih dalam masa observasi untuk mengetahui bagaimana hasilnya.


"Apa, Mas, tahu siapa sebenarnya yang sudah mendonorkan jantungnya pada ayah?"


"Belum tahu, Sayang, tapi kata dokter namanya Ibu Asih."


"Kita harus menemui keluarganya untuk mengatakan terima kasih, Mas."


"Iya, nanti kita minta informasi dari rumah sakit. Semoga saja mereka mau memberikan informasi,"


"Iya, Mas. Aku berhutang nyawa pada mereka. Aku tidak bisa membalasnya, tapi setidaknya kita bisa mengucapkan terima kasih pada keluarga itu yang sudah mengizinkan dokter mendonorkan jantung pada ayah. Pasti mereka orang-orang yang baik."

__ADS_1


Tidak akan ada yang bisa mereka berikan sebagai balasan pada keluarga pendonor. Hanya ucapan terima kasih yang bisa mereka katakan.


"Na, nanti ajak Ibu juga menemui keluarga itu. Ibu juga mau ngucapin terima kasih," sela Alina, dia juga merasa perlu berterima kasih pada keluarga pendonor.


"Iya, Bu."


"Maaf, Tuan Emran. Ini pesanannya," ucap Pak Hari dengan menyerahkan bungkusan nasi di dalam kantong kresek.


"Terima kasih, Pak Hari," ucap Emran.


"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu saya permisi." Pak Hari segera pergi meninggalkan rumah sakit.


"Mas, tadi nyuruh Pak Hari?" tanya Yasna.


"Iya, dari semalam, kita belum ada yang makan. Sebaiknya kita makan dulu, nanti sakit."


Yasna merasa bersalah pada suami dan ibunya. dia melupakan mereka karena terlalu larut dengan keadaan sang Ayah.


"Aku sampai lupa. Maaf, ya, Mas," ucap Yasna menyesal.


"Tidak apa-apa, aku mengerti. Sekarang lebih baik kita makan."


"Iya, Mas. Ayo! Ini Ibu juga harus makan. Ibu jaga kesehatan, jangan sampai Ayah sembuh malah Ibu yang sakit," ucap Yasna dengan menyerahkan sebungkus nasi.


"Iya, maafkan Ibu, ya. Sampai melupakan kalian, pasti kalian kelaparan."


"Sudah, nggak usah dipikirkan, Bu. Lebih baik Ibu cepat makan," sela Emran.


"Iya, terima kasih Nak Emran."


"Sama-sama, Bu."


Mereka makan dengan susah payah menelannya. Meski Ayah Hilman sudah dioperasi, tapi keadaannya masih belum baik-baik saja. Itulah kenapa mereka makan dengan terpaksa demi tubuh, agar baik-baik saja.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2