
Malam yang tidak diinginkan Fazilah akhirnya tiba, Hisyam datang dengan keluarga besarnya. Yasna tidak bisa datang, karena Afrin sedang demam.
Seseorang mengetuk pintu kamar Fazilah.
"Fa, tamunya sudah datang. Ayo, keluar!"
Fazilah yang berada di kamar pun segera keluar untuk menyambut para tamu. Berkali-kali wanita itu menarik nafas dan mengembuskannya mencoba mengusir keraguan dalam hatinya. Ia meyakinkan diri jika ini yang terbaik untuk semuanya.
"Akhirnya yang ditunggu-tunggu keluar juga," ucap kerabat Hisyam dan disambut tawa beberapa orang.
Fazilah mengedarkan pandangannya ia sangat terkejut melihat keberadaan Nuri, sahabatnya dulu yang juga selingkuhan Hafidz. Begitupun dengan Nuri, ia juga sama terkejutnya ketika melihat ternyata calon istri dari kakak iparnya itu adalah Fazilah.
'Kenapa dia ada di sini? Apa dia kerabat Hisyam?' batin Fazilah.
Acara telah dimulai, semuanya berjalan dengan lancar, hingga ketika waktu tukar cincin, Fazilah tampak ragu, entah kenapa tiba-tiba ia ingin membatalkan pertunangan ini. Namun, dengan bisikan mamanya akhirnya Fazilah memasangkan cincin di jari Hisyam.
Acara sudah selesai, hanya tinggal obrolan santai keluarga saja. Nuri mendekati Fazilah dan menyelipkan sebuah kertas ke tangan mantan sahabatnya itu, Fazilah tidak mengerti, apa maksud dari Nuri? Namun, segera ia memasuk kertas itu ke dalam saku bajunya, dia tidak ingin orang lain mengetahui Jika mereka berdua saling mengenal sebelumnya.
*****
Sepulang sekolah Yasna ingin mengajak Aydin dan Afrin ke toko kue ibunya, sudah lama anak-anak tidak kesana, hingga membuat Alina merindukan mereka.
"Anak-anak, hari ini Bunda mau ajak kalian ke toko kue nenek, mau tidak?"
"Mau, mau!" seru Afrin.
"Kakak, Bagaimana?" tanya Yasna pada Aydin.
"Mau, Bunda."
"Oke, kita ke toko kue nenek."
"Pak hari, kita mampir ke toko kue ibu, ya!" ucap Yasna pada Pak Hari.
"Baik, Bu."
__ADS_1
Pak Hari melajukan mobil ke arah toko kue Ibu Alina. Tidak perlu waktu lama akhirnya mereka sampai.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, kalian datang tidak bilang-bilang?" Alina sangat senang melihat kedatangan putri dan cucu-cucunya, meski mereka bukan lahir dari rahim Yasna, tapi bagi Alina mereka tetap cucunya.
"Alin kangen nenek." Afrin meneluk Alina begitu melihatnya.
"Nenek juga kangen sama Afrin dan Aydin juga," sahut Alina. "Ayo masuk,"
Mereka masuk ke ruangan yang biasa Alina gunakan untuk istirahat.
"Aydin dan Afrin mau kue apa? Biar nenek ambilin." tawar Alina.
"Tidak perlu, Nek. Nanti Aydin ambil sendiri kalau mau," jawab Aydin yang diangguki Alina.
"Kalian duduk di sini dulu, Bunda mau ke belakang sebentar."
"Iya, Bunda."
*****
Aku akan menunggumu di restoran Bintang saat jam makan siang.
Begitulah tulisan yang diberikan Nuri pada Fazilah, saat acara tunangan semalam.
Sebenarnya Fazilah sangat malas bertemu dengan mantan sahabatnya itu, tapi ia juga penasaran, apa alasan Nuri ingin berbicara dengannya? Ia yakin pasti ada sesuatu yang penting yang ingin wanita itu sampaikan.
Siang hari Fazilah pergi ke restoran yang Nuri tuliskan dalam kertas. Saat Fazila sampai di restoran, ternyata Nuri sudah lebih dulu sampai, Fazilah duduk tanpa mengatakan apapun, hingga beberapa menit tak ada pembicaraan, akhirnya dia membuka mulutnya.
"Mau apa kamu memintaku datang ke sini?" tanya Fazilah yang tidak ingin berbasa-basi.
"Sebaiknya kamu pesan minuman dulu." dengan terpaksa Fazila pun memanggil pelayan dan memesan minumannya.
"Ada apa?" tanya Fazilah lagi.
__ADS_1
"Aku ingin minta maaf."
"Minta maaf buat apa?"
"Mengenai apa yang terjadi dulu."
"Itu sudah sangat lama berlalu jadi, tidak perlu dibahas lagi."
"Itu sangat perlu untukku, karena kesalah pahaman ini, membuat hidupku tidak tenang dan merasa bersalah hingga kini."
"Kesalah pahaman apa maksudmu? Jelas-jelas kalian selingkuh di belakangku, lalu kesalah pahaman yang seperti apa yang kamu maksud?" tanpa sadar Fazilah meninggikan suaranya, hingga membuat beberapa pengunjung melihat ke arahnya.
"Fa, aku dan Hafidz tidak pernah menjalin hubungan atau apapun yang seperti kamu pikirkan."
"Kamu mau mengatakan jika aku salah lihat waktu itu, begitu maksudmu!"
"Bukan seperti itu ... Hafidz melakukan itu karena terpaksa, aku yang memaksanya, aku sangat iri padamu, Hafidz begitu sangat mencintaimu. Apapun dia lakukan hanya untukmu, padahal aku juga tidak kalah denganmu, aku cantik, aku juga pintar, tapi Hafidz tidak pernah melihatku, aku selalu memberi perhatian padanya, tapi dia selalu melihat ke arahmu, aku hanya ingin dia melihatku sekali saja. Hingga saat itu, ayahnya jatuh sakit, dia butuh uang banyak untuk operasi ayahnya, kebetulan saat itu aku melihat mereka saat aku mengantar mama periksa. Aku menawarkan diri kalau aku akan membantunya, asalkan dia mau menjadi kekasihku dan memutuskan hubungannya denganmu, tapi dengan tegas dia menolak, dia bilang tidak ingin menyakitimu. Rasanya ingin sekali aku marah padanya, begitu cintanya kah dia padamu, sehingga dia menolak bantuanku dan mempertaruhkan nyawa ayahnya? Satu bulan dia berusaha mencari pinjaman uang, ia bekerja siang dan malam, tetap saja uangnya tidak mencukupi, dia juga tidak mendapatkan pinjaman. Akhirnya dengan terpaksa dia datang padaku dan menerima tawaranku, aku sangat senang saat itu, aku memberinya syarat agar ini hanya akan menjadi rahasia kita berdua, dia tidak boleh menceritakannya pada siapapun termasuk dirimu, kemudian kami membuat drama seolah-olah kami saling jatuh cinta dan mengkhianatimu, setelah kamu melihat kami berciuman, dia menangis memohon padaku untuk mengakhiri semuanya, tapi saat itu aku terlalu tinggi hati, aku sudah menolong ayahnya jadi, aku tidak akan melepasnya begitu saja, aku akan berusaha memilikinya."
Nuri terisak setelah menceritakan masa lalunya, Fazilah juga ikut menangis ia tidak menyangka Hafidz melalui semua itu sendirian, bahkan dengan tega dia menuduh Hafidz berselingkuh.
"Kenapa dia tidak bilang padaku, kalau ayahnya sedang sakit?"
"Apa kamu tidak ingat jika saat itu juga kamu baru saja kehilangan ayahmu? Apa kamu pikir Hafidz akan menceritakan masalahnya, saat kamu sedang dalam musibah? Melihatmu menangis saja, sudah membuat dia sangat terluka, apalagi harus menambahkan bebannya padamu."
Fazilah semakin terisak, rasa bersalahnya pada Hafidz sangat besar. Nuri benar, dulu saat mereka bersama, Hafidz selalu ada untuknya, tapi saat pria itu mengalami musibah, justru ia sibuk dengan pikiran-pikiran buruknya lainnya.
"Aku menceritakan semua ini padamu, karena aku sadar, cinta tidak bisa dipaksakan ... dan satu lagi, jangan menyakiti kakak iparku."
.
.
.
.
__ADS_1
.