Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
103. S2 - Ayah sakit apa?


__ADS_3

Emran mendekati Yasna dan segera memeluk istrinya itu. Dia tahu bagaimana berartinya ayah dan ibu bagi Yasna.


"Lebih baik kita cari tahu dulu, Sayang. Jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Nanti malah semua orang makin panik," ucap Emran mencoba menenangkan istrinya.


"Iya, Mas. Sekarang kita harus bagaimana?" tanya Yasna setelah mencoba menenangkan dirinya.


"Maaf, Bu. Siapa yang mengantar ayah mertua saya ke rumah sakit?" tanya Emran pada tetangga Yasna.


"Tadi yang mengantarkan Pak RT, Mas."


"Apa boleh saya minta nomornya?"


"Sebentar, saya cari dulu." wanita itu membuka ponsel dan mencari nomor Pak RT dan menyerahkannya pada Emran. "Ini, Mas."


Emran segera mencatat nomor tersebut dan menyerahkan kembali ponsel wanita itu. Pria itu bersyukur para tetangga mau membantu mertuanya. Di saat ini sangat jarang menemukan orang yang peduli, akan kesusahan orang lain.


"Terima kasih, Bu."


"Sama-sama. Semoga Pak Hilman segera sembuh. Saya permisi dulu."


"Amiin."


Emran segera memanggil nomor tersebut. Dia juga sama khawatirnya seperti Yasna. Pria itu tidak ingin sesuatu terjadi kepada mertuanya itu. Hanya mereka orang tua yang Emran miliki.


"Assalamualaikum," ucap seseorang di seberang telepon.


"Waalaikumsalam. Maaf, Pak, saya menantu dari Ayah Hilman, kalau boleh tahu ayah di bawa ke rumah sakit mana, ya, Pak?"


"Rumah sakit dekat terminal, Mas. Sebaiknya, Mas segera ke sini karena ada sesuatu yang harus segera dilakukan, untuk kesehatan Pak Hilman."


Emran semakin gelisah. Sepertinya ada sesuatu yang buruk dengan kesehatan mertuanya, tapi dia berusaha baik-baik saja agar Yasna tidak panik.


"Baik, pak, saya segera ke sana. Assalamualaikum." Emran segera memutuskan panggilan tanpa menunggu jawaban dari seberang.


"Sayang, kita ke rumah sakit sekarang."


"Bagaimana keadaan ayah, Mas?"


"Belum tahu, Sayang. Ayah masih diperiksa," bohong Emran, pria itu tidak ingin istrinya khawatir. Dia sendiri juga harus memastikan sesuatu. Sebenarnya apa yang dimaksud oleh Pak RT.


"Kalian mau pulang atau ikut ke rumah sakit?" tanya Emran. "Aydin?"


Emran tahu kalau putranya sangat tidak menyukai rumah sakit karena itu, dia tidak ingin memaksa anak-anaknya.


"Kalian pulang saja, biar Bunda pergi sama Papa," sela Yasna.

__ADS_1


"Aku ikut, Bunda," sahut Afrin.


"Aku juga ikut," sahut Aydin.


"Tapi, kamu ...."


"Aku nggak pa-pa, Bunda." Aydin memotong ucapan Yasna.


Aydin dan Afrin ingin selalu berada di sisi bundanya. Apalagi disaat seperti ini. Mereka tidak mungkin meninggalkan Yasna begitu saja, meski mereka tidak bisa melakukan apa pun, setidaknya mereka mampu membuat wanita itu tetap kuat.


"Baiklih, ayo, kita ke rumah sakit!" ajak Emran.


Mereka Segera menaiki mobil dan menuju rumah sakit. Dalam perjalanan Yasna tak henti-hentinya berdoa agar ayahnya baik-baik saja. Afrin dari tadi melihat ke arah bundanya. Dia tahu, bundanya sangat menyayangi kedua orang tuanya. Gadis iti juga berdoa, mudah-mudahan kakeknya baik-baik saja dan bisa berkumpul kembali.


Tidak memakan waktu lama, akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit. Segera Yasna berlari, menuju tempat informasi tanpa menunggu keluarganya.


"Maaf, Mbak. Pasien atas nama Pak Hilman ada di mana, ya?"


"Sebentar, Bu." Wanita itu mengotak-atik laptopnya. "Maaf, tapi di sini tidak ada pasien atas nama Pak Hilman, Bu."


"Bagaimana bisa tidak ada? Ayah saya dibawa ke sini, kok!"


"Sayang, ayah baru tadi dibawa ke sini jadi, belum terdaftar," ucap Emran yang baru saja sampai. "Ayah juga masih di ruang UGD. Ayo, kita ke sana!"


Yasna mengikuti suaminya menuju ruang UGD. Di depan ruangan tampak Pak RT dan 2 orang laki-laki, mereka tetangga Ayah Hilman.


"Pak, di mana Ayah saya?"


"Ada di dalam, Neng."


Yasna segera masuk meninggalkan Emran yang ada di luar. Wanita itu ingin melihat keadaan ayahnya. Apa yang terjadi pada pria paruh baya itu, hingga membuatnya harus dilarikan ke rumah sakit.


"Maaf, Pak. Sebenarnya apa yang terjadi dengan ayah mertua saya?" tanya Emran pada Pak RT.


"Sebaiknya Anda bicara dengan dokter saja. Saya juga tidak begitu paham tentang penyakit Pak Hilman, yang pasti Pak Hilman jantungnya ada masalah."


"Baiklah, terima kasih Bapak sudah mengantar ayah saya. Kalau begitu saya cari informasi dulu, siapa dokter yang menangani Ayah Hilman."


"Iya, Pak."


Emran segera menuju tempat informasi. Dia menanyakan beberapa hal tentang, siapa dokter yang menangani mertuanya. Emran segera pergi ke ruangan dokter tersebut dengan diantar oleh seorang perawat.


Tampak dokter pria paruh baya yang menangani penyakit Ayah Hilman. Dokter itu menjelaskan jika mertuanya itu harus segera menjalani transplantasi jantung.


Namun, di rumah sakit ini semua alatnya tidak mendukung jadi, dokter merekomendasikan untuk segera dibawa ke rumah sakit yang memiliki peralatan yang lebih canggih. Emran mengerti, dia pun segera mencari rumah sakit yang penanganannya lebih cepat dan dan sudah teruji kualitasnya.

__ADS_1


*****


"Papa ke mana?" tanya Yasna pada anak-anaknya yang berada di luar.


"Pergi ke tempat informasi, Bunda. Katanya mau menanyakan tentang kondisi kakek," jawab Aydin.


"Ke arah mana Papa pergi?"


"Ke sana, Bunda," tunjuk Afrin.


Yasna segera menuju tempat ditunjuk. Namun, baru beberapa langkah, dia melihat Emran sudah kembali dengan membawa beberapa berkas.


"Apa itu, Mas?" tanya Yasna.


"Ini berkas ayah. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit yang memiliki peralatan yang lebih lengkap. Di sini dokter tidak bisa memeriksanya lebih detail karena alatnya tidak mendukung."


Yasna semakin takut. Dia yakin pasti terjadi sesuatu dengan ayahnya, tapi apa? Wanita itu mencoba bertanya pada suaminya, berharap ada jawaban.


"Apa keadaan Ayah parah, Mas."


"Kita belum tahu, Sayang. Makanya kita harus segera membawanya. Kamu bilang, ya, sama ibu. Aku mau mengurus beberapa berkas lagi agar ayah bisa segera berangkat secepatnya."


"Iya, Mas." Yasna segera kembali ke dalam ruangan di mana ayahnya terbaring. Dia juga memberitahu pada ibunya untuk bersiap-siap untuk memindahkan ayahnya ke rumah sakit yang lebih besar.


Ibu Alina sempat terkejut. Dia berpikir, apa penyakit suaminya begitu parah, hingga harus dibawa ke rumah sakit, tapi Yasna meyakinkan ibunya agar lebih banyak berdoa agar semuanya baik-baik saja.


Emran datang dengan beberapa perawat. Mereka memindahkan Ayah Hilman ke ranjang yang bisa dibawa menaiki ambulans.


"Ayo, Sayang! Kita naik ambulans nggak pa-pa, kan? Tadi Aydin sama Afrin sudah aku suruh pulang."


"Iya, Mas. Nggak pa-pa, aku juga nggak mau jauh dari ayah."


"Ya sudah, Ayo!" ajak Emran. "Mari, Bu."


"Makasih, Nak Emran. Sudah mau mengurus semua keperluan ayah."


Alina merasa beruntung dengan kehadiran Emran. Dia tidak tahu harus melakukan apa, kalau menantunya itu tidak ada.


"Ayah dan Ibu juga orang tuaku, sudah sepantasnya aku melakukan semua ini. Ibu harus kuat agar semuanya baik-baik saja," ucap Emran dengan menggenggam tangan meetuanya.


"Ibu akan berusaha."


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2