
Seluruh keluarga Emran tengah menikmati makan malam. Aydin masih terlihat sedih, meski dia sudah berusaha menutupinya dengan tetap tersenyum. Akan tetapi, semua orang tahu kalau Aydin menyembunyikan sesuatu.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Aydin berniat untuk memasuki kamar. Namun, Yasna lebih dahulu mencegahnya. Dia ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya pada pria itu.
"Aku sudah selesai. Aku mau ke dalam dulu," ucap Aydin segera berdiri.
"Aydin, duduk dulu. Bunda ingin bicara sebentar."
"Iya, Bunda. Ada apa?" tanya Aydin dengan masih tetap berdiri.
"Duduk dulu."
Aydin terpaksa duduk kembali. Dia sebenarnya masih ingin sendiri dulu, tapi pria itu tidak mungkin menolak perintah Yasna.
"Iya, Bunda."
"Ada apa denganmu? Kalau ada apa-apa katakan saja. Bunda nggak mau kejadian Afrin terulang lagi pada kalian. Bunda sudah bilang, bicarakan masalah kalian sama Bunda dan Papa, tapi kalau kalian memang tidak mau cerita juga nggak pa-pa, Bunda nggak maksa."
Aydin tetap diam dengan menundukkan kepalanya. Dia terlalu malu pada bundanya jika menceritakan masalahnya.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau mengatakannya. Itu hak kamu. Kamu juga sudah dewasa pasti bisa menyelesaikan masalahmu sendiri," pungkas Yasna saat melihat Aydin masih terdiam..
Kejadian Afrin memberi pelajaran pada wanita itu, agar semua orang saling terbuka, tapi hari ini putranya seperti tidak ingin mengatakan apa yang terjadi padanya.
Sebenarnya hal itu sangat wajar. Mengingat usia Aydin yang sudah bukan remaja lagi jadi, sudah sepantasnya dia ingin menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Bunda sudah selesai makan. Sebaiknya Bunda masuk ke kamar." Yasna segera berdiri.
"Maafkan aku, Bunda," ucap Aydin membuat gerakan Yasna terhenti. "Aku mau minta maaf sama Bunda juga Papa. Ternyata pilihanku selama ini salah."
"Pilihan apa?" tanya Yasna. Dia kembali duduk.
"Mengenai kekasih Aydin, Bunda. Ternyata dia bukan wanita baik-baik. Dia hanya menggunakan kepolosannya Untuk memanfaatkan orang lain," jawab Aydin dengan lesu.
"Kamu tahu dari mana? Apa dia sudah memanfaatkanmu?"
"Aku dengar sendiri saat dia bicara dengan seorang pria. Dia juga dengan sukarela menyerahkan tubuhnya hanya karena uang."
Yasna terkejut. Dia menutup mulutnya. Wanita itu tidak percaya, bagaimana bisa Aydin mengenal wanita seperti itu, tapi dia juga bersyukur karena putranya mengetahuinya lebih dulu.
Bukan hanya Yasna saja, Afrin juga sama terkejutnya. Berbeda dengan Emran yang terlihat tenang karena sudah lebih tahu masalah itu.
"Mungkin dia memang bukan jodoh kamu. Seharusnya kamu bersyukur karena kamu belum terlambat mengetahuinya," ucap Yasna.
"Iya, Bunda. Aydin bersyukur hubungan kami belum terlalu jauh."
"Papa kenapa diam saja?" tanya Yasna.
__ADS_1
"Memangnya Papa harus apa? Papa juga sudah tahu dari sebelumnya," jawab Emran membuat semua orang menatapnya.
"Kenapa Papa tidak bilang padaku?" tanya Aydin
"Kalau Papa yang bilang, itu tidak akan menjadi pelajaran untuk kamu. Setelah ini kamu harus pandai menilai orang. Ya, contohnya Nayla, dia gadis yang baik. Dia juga pekerja keras, tidak suka bergantung pada orang lain."
"Papa jugaa menyelidiki tentang Nayla?" tanya Yasna.
"Tentu, Papa nggak mau, keluarga Papa dimanfaatkan oleh orang lain jadi, Papa harus menyelidiki semua orang."
Yasna mengangguk, dia mengerti tujuan dari suaminya. Itu pasti untuk kebaikan keluarganya. Wanita itubersyukur karena pandangannya tentang Nayla tidak salah.
"Sekarang, bagaimana kalau kakak dijodohin aja sama Kak Nayla, Bunda."
"Enggak, enggak, Bunda nggak mau maksa. Biar Kakak cari sendiri."
"Aku mau, kok, Bunda," sahut Aydin.
Yasna sangat terkejut mendengar jawaban dari putranya itu. Dia pun bertanya untuk memastikannya.
"Apa kamu yakin?"
"Yakin, Bunda. Aku tahu kalau siapa pun pilihan Bunda pasti itu yang terbaik untukku."
"Tapi masalahnya, Nayla sekarang sudah ada calonnya. Bunda tidak mau memaksanya. Itu pasti tidak nyaman untuknya."
"Belum, mereka masih pendekatan."
"Apalagi pendekatan, masih bisalah ditikung, yang sudah nikah saja bisa ditikung."
"Adek, ngomong apa, sih, itu?"Sela Yasna. "Tapi, terserah Kakak kamu saja. Bunda nggak mau jodoh-jodohin. Kalau Kakak mau, usaha sendiri deketin dia."
"Kakak harus berusaha mendekati Kak Nayla. Aku dukung Kakak." Afrin berbicara dengan penuh semangat. Dia juga menyukai Nayla.
"Bunda juga dukung," sahut Yasna
"Papa juga dukung," sahut Emran.
"Kalian semuanya malah dukung, dukung saja. Aku mau tidur, pengen menenangkan hati dan pikiran."
"Nenangin hati jangan tidur! Banyakin ngaji dan jangan lupa shalat."
"Iya, Adikku yang cantik dan solehah. Makasih nasehatnya." Aydin segera berlalu menuju kamarnya setelah mencubit pipi sang adik.
"Kakak! Sakit!" teriak Afrin sambil mengusap pipinya.
Sampai di kamar Aydin berpikir. Benar apa yang dikatakan adiknya. Dia harus mengaji. Sudah lama juga pria itu tidak membacakan surah Yasin untuk almarhumah mamanya. Akhirnya Aydin memutuskan untuk mengambil wudhu dan membaca surah Yasin yang ditujukan kepada almarhumah mamanya.
__ADS_1
Setelah selesai membaca surah Yasin. Aydin merasa lebih tenang.
'Mama pasti bahagia di surga karena kami di sini juga bahagia. Kami memiliki bunda yang sangat menyayangi kami, sama seperti mama menyayangi kami. Maafkan Aydin yang sudah lama tidak mengirim doa untuk mama. Padahal bunda selalu mengingatkan Aydin ketika selesai salat, untuk terus mengirim doa untuk mama. Meski dengan surah al-fatihah. Mama tahu, aku sangat senang dengan kehadiran bunda di antara kami. Bunda juga tidak pernah Egois dengan hanya memikirkan dirinya sendiri. Bunda juga memikirkan perasaan mama. Dia juga selalu mengingatkan kami agar tidak melupakan mama. Mama yang tenang di sana karena kami bahagia di sini.'
*****
"Sejak kapan Papa tahu kalau pacar Aydin itu bukan gadis yang baik?" tanya Yasna setelah Aydin memasuki kamarnya.
"Setelah Aydin mengatakan Jika dia sudah punya kekasih. Papa penasaran dengan gadis yang sudah membuat Aydin jatuh cinta. Makanya Papa ingin cari tahu tentang dia. Papa juga mencari tahu tentang Nayla karena Papa tidak mau keluarga Papa dimanfaatkan orang lain."
"Jadi Nayla gadis baik, kan, Pa?" tanya Yasna.
"Iya. syukur lah dia wanita yang baik. Sama seperti almarhum ibunya."
"Iya, almarhum Ibu Asih memang baik," ucap Yasna yang teringat kebaikan ibunya Nayla. Padahal mereka tidak saling mengenal apalagi bertemu.
"Apa Papa punya foto pacar Kak Aydin?" tanya Afrin.
"Ada di laptop Papa. Memangnya kamu buat apa?"
"Aku penasaran saja. Seperti apa rupa gadis itu. Sampai membuat Kak Aydin jatuh cinta."
"Sama saja seperti wanita yang lainnya. Sudah, kamu nggak perlu tahu."
"Papa, mah gitu!" rajuk Afrin. "Bunda sebaiknya hati-hati. Jangan sampai gadis itu menggoda Papa. Dia kan kerja di perusahaan Papa, apalagi Papa nyimpan fotonya."
Yasna segera menatap sang suami. Emran yang ditatap langsung gelagapan. Memang putrinya itu suka sekali membuat orang tuanya dalam masalah.
"Apa, sih, Sayang. Kamu jangan dengerin omongan Afrin. Papa nggak mungkin kegoda sama gadis seperti itu."
"Jangan percaya, Bunda. Semua pria suka gombal." Afrin segera berlari sebelum sang Papa mengeluarkan tanduknya.
"Kamu mau ke mana bocah kecil. Sudah membuat masalah main pergi saja!" teriak Emran. Sementara Afrin cekikikan di dalam kamarnya.
"Mas, nggak akan kegoda sama dia, kan?"
"Tidak, Sayang. Kamu nggak usah dengerin Afrin. Dia itu cuma ingin membuat kita bertengkar saja. Lebih baik kita ke kamar. Biar Rani yang membereskan mejanya."
Emran segera membawa sang istri ke kamar. Dia tidak ingin masalah semakin bertambah panjang, gara-gara ulah iseng putrinya itu.
.
.
.
.
__ADS_1
.