Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
43. Dia akan menikah


__ADS_3

Zahran mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, padahal sebelumnya, ia sangat berharap Yasna mau kembali padanya, tetapi ia harus menelan kekecewaan. Ia sangat menyesal sudah menceraikan Yasna, seharusnya mereka bahagia saat ini.


Mobil yang di kendarai Zahran sampai di depan rumahnya, rumah yang dulu menjadi tempat yang sangat ia rindukan kala pergi. Ia turun dari mobil dan memasuki rumah, dilihat sekelilingnya, ia dapat melihat bayangan Yasna di mana-mana.


Abang, cepat mandi! Aku sudah siapkan makanan kesukaan Abang.


Bang, besok aku mau ke rumah ibu. Abang mau antarin aku?


Abang, jangan terlalu capek kerjanya, nanti sakit.


Kenapa kalian melakukan ini padaku?


Kenapa Mama tidak meminta Papa saja yang menikah lagi? Kenapa harus suamiku?


"Aaaaaa!" Zahran berteriak, ia menghancurkan semua benda yang ada di sekitarnya. Bik Rahmi yang melihat itu pun ketakutan, ia menghubungi Yasna dan memberitahukan apa yang terjadi pada Zahran, ia juga meminta Yasna untuk datang.


"Maafkan aku, Na. Aku mohon kembalilah, aku membutuhkanmu." Zahran menangis menyesali semua yang telah terjadi.


Zaki yang melihatnya hanya bisa menghela nafas, ia sudah tahu semua yang terjadi pada majikannya itu, ia sangat menyayangkan keputusan Zahran menikah lagi, tapi ia juga tahu kalau semua itu dilakukan karena terpaksa.


Sebuah mobil berhenti di depan rumah Zahran, ternyata Hamdan dan Faida yang datang, padahal Bik Rahmi berharap Yasna yang datang.


Sebelumnya memang Bik Rahmi memberi tahu Yasna, tetapi Yasna lebih memilih menghubungi Zaki dan memintanya mengabari kedua orang tua Zahran atau istrinya, ia tidak ingin terlibat apapun dengan mantan suami dan orang tuanya. Hingga orang tua Zahran yang kini datang.


"Zahran, kamu kenapa? Apa yang terjadi padamu?" tanya Faida.


"Ma, sekarang hidupku sudah hancur, Yasna sudah pergi meninggalkanku, dia tidak mencintaiku lagi, dia akan menikah dengan pria lain. Apa sekarang Mama puas, sudah menghancurkan hidupku? Keinginan Mama, semuanya sudah terpenuhi. Sekarang bolehkah aku meminta satu permintaan? Tolong, kembalikan Yasna padaku!" Zahran berkata sambil menangis, ia sudah benar-benar hancur.


Faida terkejut mendengar ucapan Zahran, ia tidak menyangka putranya akan sehancur ini. Ia tidak pernah melihat Zahran menangis, sejak putranya beranjak dewasa, tapi kini ia melihat putranya terisak pilu dan itu karena perpisahan dengan istri pertamanya.


"Aku menikah lagi karena menuruti keinginan Mama, dengan syarat aku dan Yasna bisa pergi dari rumah. Aku melakukannya karena aku tidak mau melihat Mama, terus-terusan menyalahkan Yasna. Aku juga menceraikan Yasna, berharap aku bisa kembali rujuk dengannya, karena aku yakin tidak akan ada pria manapun, yang akan menerima wanita yang tidak bisa memberinya anak, tapi aku salah, itu hanya pikiran picikku saja, ada banyak pria yang dengan suka rela menerima wanita sebaik Yasna, tanpa mengharapkan seorang anak. Apalagi jika pria itu sudah memiliki anak, ia tidak memerlukannya lagi. Bagaimana denganku sekarang? Aku tidak bisa menjalani hidupku tanpa Yasna."


Hamdan memalingkan wajahnya, ia tidak sanggup melihat putranya hancur seperti ini. Ia tahu Zahran sangat mencintai Yasna, terlihat bagaimana Zahran selalu membela istrinya, tapi ia juga mengerti kenapa istrinya menginginkan anaknya itu menikah lagi.


"Zahran, kamu nggak boleh seperti ini, kamu masih memiliki istri dan dua orang anak, mereka masih membutuhkanmu." Faida mencoba menyadarkan putranya itu.


"Dia bukan istriku, aku tidak memiliki istri seperti dia. Istrku hanya Yasna! Tidak ... Yasna sudah tidak mencintaiku lagi, dia akan menikah dengan pria lain. Dia akan menikah dengan pria yang mencintainya ... mereka sudah bertunangan, mereka sangat serasi ... Yasna bilang akan menikah." Zahran terus saja meracau dengan air mata yang terus mengalir.

__ADS_1


Faida segera memeluk putranya itu, ia tidak menyangka cinta Zahran pada Yasna bisa sebesar ini.


"Maafkan Mama, tapi ini semua demi masa depanmu, kelak kamu akan mengerti dan berterima kasih pada Mama."


*****


Hari yang ditunggu akhirnya datang juga, semua persiapan pernikahan Emran dan Yasna telah siap. Meski hanya acara keluarga, semua keperluan ditangani oleh EO jadi, semua orang tidak perlu capek menyiapkan acara.


"Ciee, bentar lagi jadi, Nyonya Emran," goda Fazilah.


"Kamu sendiri kapan jadi nyonya? Betah banget sendiri," tanya Yasna.


"Calonnya aja belum ada."


"Mau aku cariin?"


"Nggak usah."


"Apa sudah ada? Baru sebulan kerja di kantor Mas Emran, sudah ada yang nyangkut aja."


"Nggak ada! Ngaco lo."


"Mana gue tahu, tanya saja sama Pak Emran, dia yang dapat undangan."


"Nggak mungkin aku gosipin rekan kerjanya sama dia, bisa-bisa dia berpikir yang macam-macam."


Pintu kamar Yasna di ketuk seseorang, Fazilah pun membukanya, tampak Ibu Alina di sana.


"Apa pengantinnya sudah siap?" tanya Alina.


"Sudah, Bu," jawab Fazilah.


Alina memasuki kamar Yasna, ia melihat putrinya begitu sangat cantik.


"Putri Ibu sangat cantik hari ini."


"Bu, doakan aku, agar pernikahanku kali ini langgeng, bahagia dunia, akhirat," ucap Yasna sambil menggenggam tangan Alina.

__ADS_1


"Ibu selalu mendoakanmu, tanpa kamu memintanya. Melihatmu tersenyum sudah membuat Ibu bahagia. Jadilah istri yang sholehah, patuhlah pada suamimu, selama itu masih di jalan yang benar."


"Iya, Bu. Aku akan selalu ingat semua nasehat Ibu." Yasna memeluk ibunya. "Ibu harus jaga kesehatan, agar bisa lihat aku bahagia."


Alina mengangguk dengan meneteskan air matanya. Namun, segera ia hapus. Ia tidak ingin bersedih di acara bahagia putrinya.


"Assalamualaikum," ucap seorang laki-laki yang baru datang.


Yasna melepaskan pelukan ibunya dan menoleh ke sumber suara, ia terkejut melihat siapa yang datang.


"Kakak!" Yasna berlari memeluk sang kakak, sudah sangat lama mereka tidak bertemu.


"Udah mau nikah dua kali, masih saja manja," cibir Gibran.


"Biarin, kemarin bilang katanya nggak bisa datang?"


"Kan mau kasih surprise buat adikku tercinta ini. Maaf ya, waktu kamu lagi ada masalah, Kakak nggak ada di samping kamu."


"Nggak papa, aku tahu kakak sibuk. Lagi pula, semuanya sudah selesai. Kakak sendiri? Mbak Nisa sama ponakanku mana?"


"Ada di depan, ketemunya nanti saja, bisa rusak dandanan kamu sama mereka."


Yasna terkekeh mendengar ucapan kakaknya, kedua anak Gibran memang sangat aktif, mereka selalu membuat rusuh, apapun yang ada di depan mereka pasti akan dibuat mainan.


"Ayo, kita ke depan! Pengantin pria sudah menunggu," ajak Gibran.


Yasna berjalan keluar dengan di dampingi Alina dan Gibran, ia terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya berwarna putih. Para tamu dibuat terkesima olehnya.


Tidak berbeda dengan yang lain, Emran pun terhipnotis melihat pengantin wanita yang berjalan ke arahnya. Sungguh sangat cantik, Emran tak berkedip sama sekali saat melihatnya.


"Bisa di mulai?"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2