Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
183. S2 - Ada Kak Nayla


__ADS_3

Aydin berpikir sejenak, benar apa yang dikatakan bundanya. Jika Nayla ada di sini dia tidak akan khawatir bila ada sesuatu yang mendesak, tentang pekerjaan dan mengharuskannya pergi ke kantor.


"Iya, Sayang. Benar apa yang dikatakan Bunda. Kita tinggal di sini saja. Kamu di sini banyak yang nemenin nggak sendiri seperti di apartemen," ucap Aydin.


Nayla memang terkadang merasa bosan di tempat tinggalnya seorang diri. Dia juga tidak ingin membuat Aydin khawatir padanya.


"Aku ikut saja, Mas," jawab Nayla akhirnya membuat Aydin senang.


"Nanti aku akan ke apartemen untuk mengambil baju-baju kita."


"Aku bantuin, Mas."


"Jangan, kamu di sini saja. Nanti aku minta bantuan sama Rani juga Pak Hari."


"Iya, Nay. Kamu di rumah saja sama Bunda. Setiap hari Bunda selalu sendiri, bosan nggak ada teman. Kalau kamu di sini, kan, ada temannya."


"Iya, Bunda."


Aydin segera pergi ke apartemen bersama dengan Rani dan Pak Hari. Pria itu tidak akan sanggup melakukannya sendiri.


*****


Hari ini Afrin pulang dari sekolah bersama dengan Nuri. Mereka ada tugas sekolah yang harus segera diselesaikan, karenanya kedua gadis itu sepakat mengerjakan bersama.


"Assalamualaikum," ucap Afrin dan Nuri bersamaan.


"Waalaikumsalam," jawab Nayla yang berada di ruang keluarga.


Nuri terkejut melihat keberadaan Nayla di rumah ini, karena dia tahu jika wanita itu dan suaminya tinggal di apartemen, tetapi kenapa sahabatnya tadi tidak mengatakan apa pun tentkng kehadiran kakaknya.


Meski terkejut, gadis itu mencoba untuk tetap tersenyum. Dia tidak ingin memperlihatkan kecanggungannya. Nuri sangat kagum dengan kepribadian Nayla yang sangat ramah pada siapa pun.


"Ada Nuri. Ayo, duduk!" ajak Nayla. Mereka duduk di ruang keluarga.


"Kalian ada tugas di sekolah?" tanya Nayla saat melihat Afrin dan Nuri membawa beberapa peralatan di dalam papper bag.


"Iya, Kak," jawab Nuri begitu Canggung menghadapi kakak ipar dari sahabatnya itu.


"Bunda mana, Kak?" tanya Afrin.


"Lagi ke supermarket, katanya mau beli bahan-bahan untuk membuat kue."

__ADS_1


"Ya sudah, kami mau ke kamar dulu, Kak. Mau ngerjain tugas sekolah."


"Iya, kalau nanti ada yang tidak mengerti. Kalian panggil Kakak saja."


"Iya, Kak. Kami masuk dulu, ya!" ucap Nuri.


"Iya."


Afrin dan Nuri berlalu meninggalkan Nayla seorang diri di ruang keluarga. Kedua gadis itu menuju kamar.


Nayla memandang punggung dua gadis yang meninggalkannya. Lebih tepatnya punggung Nuri. Dia penasaran dengan gadis itu yang kata Afrin pandai mengaji. Mengenai agama juga hebat.


"Kamu, kok, nggak bilang kalau kakak kamu ada di sini?" tanya Nuri saat mereka baru masuk kamar.


Gadis itu merasa tidak nyaman.Jika tahu akan ada Nayla di sini, dia pasti memilih pulang. Lebih baik Nuri pulang saja dan mengerjakan semuanya di rumah.


"Memangnya kenapa kau kakak ada di sini?" tanya Afrin balik.


"Aku merasa nggak enak, kalau mereka ada di sini," jawab Nuri sekenanya.


"Kamu harus mulai membiasakan diri. Kak Aydin sama kak Nayla akan tinggal di sini mulai sekarang," ucap Afrin.


Lebik baik Nuri menghindar daripada nanti kedatangannya menimbulkan masalah. Dia bukan orang yang suka berurusan dengan orang lain apalagi sampai bermasalah.


"Kamu itu terlalu berlebihan. Aku 'kan sudah pernah mengatakan, hapus rasa itu. Kamu sendiri yang nekat."


"Perasaan seseorang tidak bisa dipaksakan. Dia datang dan pergi tanpa kita sadari. Kalau boleh memilih, aku juga tidak suka dengan perasaan ini, tapi apa boleh buat. Semua hadir begitu saja tanpa permisi, karena itu lebih baik aku menghindar. Daripada keberadaanku di sini semakin menambah dosaku yang sudah begitu banyak."


Mungkin dengan tidak bertemu dengan Aydin, bisa membuat gadis itu melupakan perasaannya sedikit demi sedikit.


Sejujurnya Afrin juga merasa kasihan pada temannya. Dia tahu, Nuri orang yang baik dan tulus. Tidak pernah mengharapkan balasan untuk setiap kebaikan yang dia lakukan terhadap orang lain. Hanya saja, kadang orang salah paham padanya dan menganggap itu hanya topeng.


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Kita harus segera mengerjakan tugas. Aku mau mandi dulu. Badanku udah nggak enak, lengket banget," pungkas Afrin.


Nuri menghela napas dan mengangguk. "Iya, kamu mandi aja dulu. Aku habis kamu."


Afrin berlalu memasuki kamar mandinya. Sementara Nuri duduk di tepi ranjang, memikirkan kehidupannya yang begitu rumit. Dia sudah mengambil keputusan, akan menghindar dari Aydin dan Nayla. Gadis itu hanya akan datang disaat mereka tidak ada di rumah ini atau mungkin memang ini terakhir Nuri datang.


Nayla sedang membuatkan minuman untuk afrin dan temannya. Dia juga ingin mengenal kepribadian Nuri.


*****

__ADS_1


Pintu kamar Afrin diketuk oleh seseorang dari luar. Pemilik kamar yang sedang menyisir rambut, meminta orang tersebut untuk masuk dan ternyata adalah Nayla. Wanita itu datang dengan membawa dua gelas minuman berwarna orange.


"Ya ampun, Kak. Kenapa repot-repot," ucap Afrin dengan merebut nampan yang dibawa oleh kakak iparnya.


"Nggak repot, cuma minuman saja. Mbak Rani lagi nyuci baju di belakang jadi, aku saja yang buat. Aku nggak mau ganggu dia."


"Nanti juga aku bisa buat sendiri. Lagi pula Nuri tidak meminum minuman seperti ini. Dia itu minumnya air putih saja."


"Air putih?" ulang Nayla.


"Iya, sudah aku sediain, kok, kak. Itu air mineral," sahut Afrin sambil menunjuk sebotol air mineral. "Dia jarang sekali minum minuman seperti ini, karena dia selalu menerapkan pola hidup sehat. Aku saja kadang aku sudah kesel kalau enggak dibolehin makan ini dan itu," ucap Afrin dengan cemberut. Membuat Nayla tertawa.


"Eh, ada Kak Nayla!" seru Nuri begitu keluar dari kamar mandi.


Nayla melihat Nuri yang tidak memakai hijab begitu kagum. Dia tampak sangat cantik dengan rambut panjangnya yang lurus. Selama ini kecantikan gadis itu tertutupi kain segi empat miliknya.


Merasa diperhatikan, segera Nuri meraih hijabnya yang berada di atas ranjang Afrin. Gadis itu malu, meski yang menatapnya seorang wanita. Nayla tersenyum melihatnya. Dia kagum pada gadis itu. Di usianya yang masih sangat muda Nuri sangat menjaga dirinya dengan baik.


"Maaf, ya! Kakak tidak tahu kalau kamu tidak minum minuman seperti ini jadi, Kakak buatin saja minuman," ucap Nayla sambil menunjukkan minuman buatannya.


"Kata siapa aku enggak minum minuman seperti itu? Aku mah makan dan minum apa saja," sahut Nuri.


"Kata Afrin kamu biasanya minum air putih."


"Itu karena memang di rumah gak ada, Kak. Kalau ada, semua aku minum," jawab Nuri dengan mengambil minuman yang dibawakan oleh Nayla dan segera meminum sedikit. "Enak, Kak. Terima kasih."


"Sama-sama, jangan dipaksakan kalau tidak suka. Kakak mengerti, kok."


"Iya, kak.


"Ya sudah, Kakak keluar dulu. Kalian lanjutkan mengerjakan tugas." Nayla berlalu meninggalkan kedua gadis itu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2