Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
166. S2 - Dia menyukai suamiku


__ADS_3

"Kamu teman sekolahnya Afrin?" tanya Nayla lagi.


"Iya, Kak. Kami ini sudah berteman sejak SMP. Nuri ini termasuk anak yang pandai di sekolah. Dia juga dapat beasiswa di sana," jawab Afrin padahal Nayla bertanya pada sahabatnya.


"Kamu terlalu berlebihan, Frin," sela Nuri. Dia merasa tidak enak karena Afrin terlalu memujinya.


"Aku tidak berlebihan, yang aku katakan memang benar."


"Seharusnya kamu mencontohnya, jangan hanya main melulu," cibir Aydin.


"Aku juga, kan, pandai sama kayak Nuri. Kita juga sering kejar-kejaran nilai. Iya, kan, Ri?" sahut Afrin membela diri.


"Iya, kak. Afrin juga termasuk murid yang pandai. Aku juga sering bertanya sama dia Kalau nggak ngerti soal pelajaran," sahut Nuri.


"Itu bagus, kalian harus saling membantu jika diantara kalian ada yang tidak mengerti soal pelajaran. Asalkan jangan saat ulangan, ya! Jangan saling mencontek. Itu tidak baik." Emran memberi nasehat pada putrinya.


"Iya, Pa," jawab Nuri dan Afrin bersamaan.


Jujur Nayla sedikit cemburu pada sahabat adiknya itu. Nuri sepertinya sudah sangat dekat dengan keluarga Emran. Bahkan memanggil Yasna dan Emran dengan panggilan bunda dan papa, tapi dia sangat tahu pasti itu atas permintaan kedua mertuanya sendiri karena memang mereka orang-orang yang baik.


Nayla pernah berpikir, jika dia bukan menantu di rumah ini, apakah Emran dan Yasna akan menyayanginya? Kini wanita itu tahu jawabannya adalah iya. Siapa pun orang yang baik pada keluarga ini, pasti mereka juga melakukan hal yang sama pada orang itu.


"Bunda, hari ini kami mau ke rumah Siska, mau lanjutin tugas," ucal Afrin meminta izin.


"Bukannya besok kalian mau semester akhir? Kenapa masih ngerjain tugas saja?" tanya Emran.


"Iya, Pa. Ini tugas terakhir. Sebenarnya kemarin sudah dikumpulkan, tapi ada kesalahan jadi, dibalikin sama pak guru suruh menyempurnakannya."


"Berarti kalian telat, dong?" tanya Aydin.


"Nggak, Kak. Kan sebenarnya sudah selesai, tapi gurunya ingin lebih sempurna lagi. Yang lain juga dibalikin semuanya. Besok Suruh kumpulin."


"Kenapa tidak di sini saja? Kan, Nuri sudah ada di sini?" tanya Yasna.


"Yang lain nggak mau, Bunda. terlalu jauh kalau ke sini."


"Ya sudahlah, terserah kalian, tapi ingat jangan pulang larut. Sore sudah harus di rumah."

__ADS_1


"Iya, Bunda. Mungkin habis ashar aku pulang."


"Nanti dianterin Pak Hari, ya! Bunda tidak mau kalian naik ojek atau naik kendaraan umum. Ini hari minggu pasti sangat ramai. Nanti kalau mau pulang hubungi Pak Hari lagi. Kalau kamu memang tidak mau ditungguin," ujar Yasna.


"Iya, Bunda."


Yasna sangat tahu jika Afrin tidak suka diperlakukan layaknya putri yang harus ditungguin sepanjang hari. Banyak gadis di luar sana yang ingin diperlakukan bagai putri raja, tetapi tidak bagi putrinya.


Afrin selalu merasa risih jika orang terlalu memanjakan atau melayaninya. Itu yang saat ini dia rasakan sejak identitasnya terbongkar. Banyak teman yang mencari perhatian padanya dan itu membuat dia tidak nyaman.


Berbeda jika yang memanjakannya adalah keluarga sendiri. Afrin dengan sangat senang akan bergelayut manja pada mereka. Mengatakan seluruh keluh kesahnya.


Afrin dan Nuri sudah pergi menuju rumah temannya. Mereka berdua di antar oleh Pak Hari. Sementara Aydin dan Nayla masih tetap berada di sana. Yasna melarang anak dan menantunya pulang sekarang.


"Bunda, apa temannya Afrin itu sering menginap di sini? Kok aku baru lihat," tanya Nayla saat dia membantu mertuanya membereskan sisa sarapan.


"Sejak semua teman-temannya tahu kalau Afrin itu anak papa, dia sering nginep di sini. Sebelumnya tidak pernah karena tidak ada yang tahu, siapa Afrin yang sebenarnya."


Nayla mengangguk, Aydin juga pernah menceritakan tentang hal itu jadi, dia tidak begitu terkejut mendengar masa lalu Afrin.


"Apa dia orang baik, Bunda? Maaf, bukan maksudku untuk berburuk sangka. Hanya saja, aku takut dia memanfaatkan Afrin."


"Jadi, Papa sudah tahu tentang siapa dia, Bunda?"


"Iya, semua orang yang dekat dengan Afrin, papa sudah menyelidikinya. Mungkin ada beberapa juga yang memanfaatkan Afrin, tapi untungnya dia tidak deket sama mereka. Dekatnya cuma sama Nuri tadi."


Sebagai seorang ibu, Yasna juga tidak ingin ada yang memanfaatkan putrinya karena itu, dia sangat senang saat Emran mengatakan jika sudah mencari tahu tentang teman-teman Afrin.


"Berarti, dulu waktu Bunda mau jodohin aku sama Mas Aydin, papa juga menyelidiki tentang aku?"


"Papa menyelidiki kamu sebelum Bunda berkeinginan jodohin kalian. Lebih tepatnya, saat pertama kali kita bertemu. Papa tidak mau Bunda dimanfaatkan orang lain."


Nayla mulai mengerti, pantas saja saat Yasna memberinya modal, keluarganya tidak ada yang protes. Padahal mereka tidak saling kenal.


"Terus kenapa waktu Mas Aydin dekat sama Airin, papa sampai nggak tahu?"


"Kamu tahu tentang Airin?"

__ADS_1


"Iya, pernah bertemu."


"Oh, iya. Aydin juga pernah cerita tentang itu," sahut Yasna. "Papa bukannya nggak tahu. Hanya saja papa ingin Aydin mengetahuinya sendiri dan itu bisa membuat dia belajar cara menilai orang. Bukan hanya satu atau dua hari karena dalam satu dua hari, mereka masih bisa memakai topeng tapi lama-kelamaan orang akan lelah memakai topeng dan akhirnya semua terbuka."


"Jadi, papa sebelumnya memang sudah tahu tentang wanita itu dan membiarkan Mas Aydin mengetahuinya sendiri?"


"Iya, Bunda juga setuju dengan apa yang papa pikirkan."


Nayla tahu, mengetahui semua kebenaran sendiri memang lebih menyakitkan, tetapi demi kebaikan, itu harus dilakukan. Lagipula, Aydin belum tentu percaya jika saat itu papanya mengatakan tentang kejelekan Airin karena cinta terkadang membutakan.


"Apa, Bunda, sangat dekat sama temennya Afrin yang bernama Nuri tadi?"


"Bunda dekat dengan siapa pun yang dekat dengan keluarga kita."


"Kalau Papa sama Mas Aydin juga dekat sama nuri?"


"Kamu jangan terlalu cemburu pada suamimu. Nuri memang menyukai Aydin, tapi suamimu tidak menyukainya. Dia hanya menganggap Nuri sebagai adiknya."


Yasna memang sudah mengetahui hal itu sejak pertama kali Nuri bertemu dengan Aydin. Akan tetapi, dia tahu jika gadis itu bukanlah orang yang nekat, apalagi sampai menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu.


Dari tatapan dan tingkah gadis itu saat melihat Aydin, setiap wanita akan mengerti tanpa harus dijelaskan. Namun, Yasna tidak ingin bertindak selama Nuri tidak melakukan apa pun.


"Bunda tahu kalau Nuri suka sama Mas Aydin?"


"Bunda juga wanita. Bunda pernah merasakan apa itu jatuh cinta."


"Jadi, apa yang aku lihat tadi tidak salah, Bunda?"


"Mengenai salah atau tidaknya, Bunda juga tidak tahu. Bunda tidak bisa membaca hati dan pikiran orang lain, tapi yang Bunda tangkap dari sikap dan dari tatapan Nuri. Dia memang menyukai suamimu, tapi kembali lagi, suamimu hanya menganggapnya sebagai adik, tidak lebih. Bunda berharap kamu juga jangan pernah membahasnya dengan Aydin. Kamu bisa pegang kata-kata Bunda, kalau suamimu tidak akan pernah menghianatimu."


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2