Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
134. S2 - Pembatalan pertunangan


__ADS_3

Di rumah keluarga Rizki. tampak wajah-wajah dingin dan tegang sedang duduk di ruang tamu. Sarah menatap Annisa dengan pandangan sinis. Semua orang bisa melihat jika wanita itu tidak menyukai kekasih Rizki itu.


"Kenapa kamu mengajak wanita itu ke sini?" tanya Sarah dengan suara sinisnya.


"Ma, jangan bicara seperti itu, dia kekasih Rizki dan aku akan menikah dengannya," ucap Rizki.


"Mama tidak akan pernah merestuinya. Kamu hanya akan menikah dengan Nayla, tidak dengan wanita lain apalagi dengannya."


"Tante, maaf. Bukannya aku menolak, tapi karena Kak Rizky sudah mencintai wanita lain, bagaimana aku bisa menikah dengannya? Lihatlah cinta mereka berdua. Kalau dipaksakan, itu juga nggak akan baik untuk rumah tangga kami nanti," sela Nayla.


Gadis itu bisa melihat cinta Rizki yang begitu besar untuk kekasihnya. Jika mereka tetap menikah, Nayla tidak tahu bagaimana rumah tangga mereka nanti. Dilihat dari karakter pria itu yang sangat cuek, sudah pasti rumah tangga mereka akan terasa dingin.


"Tapi, Tante tidak suka dengan dia. Karena wanita itu, Rizki sudah berani membentak Tante. Sekarang juga jarang pulang, pasti gara-gara wanita itu."


"Ma, kalau Mama marah sama aku, marahi saja aku jangan kasar sama Anisa. Jangan limpahkan kesalahanku pada Anisa." Rizki mencoba membela Anisa. Dia tidak rela ada yang menjelekkan kekasihnya dan tanpa dia sadari, sikapnya itu semakin menyakiti Sarah.


"Kamu lihatkan, Nay. Sampai detik ini pun dia masih membela wanita itu," ucap Sarah sambil menatap Nayla dan beralih pada putranya. "Sampai kapan pun Mama hanya akan menyetujui kamu menikah dengan Nayla."


"Ma, aku nggak bisa menikah dengan Nayla, karena saat ini Anisa sedang mengandung anakku," ucap Rizki pada akhirnya.


Sebenarnya dia tidak ingin mengatakan masalah ini pada mamanya, tetapi melihat sikap keras kepala Sarah, membuat Rizki terpaksa harus mengatakannya.


Sarah seketika membeku. Dia terkejut mendengar kata-kata putranya, kalau saat ini Anisa sedang mengandung. Bagaimana dengan pertunangan yang dia rencanakan untuk memisahkan mereka? Seharusnya Rizki tahu jika mamanya tidak menyukai wanita itu. Kenapa sekarang pria itu malah melakukan kesalahan?


"Kenapa kamu bisa melakukan hal sampai jauh itu? Mama tidak pernah mengajarimu untuk memperlakukan wanita seperti ini. Pasti karena dia yang menggodamu bukan?"


Sarah emosi, dia marah dan juga malu. Wanita itu merasa menjadi seorang ibu yang tidak mamlu mendidik anak. Padahal dia selama ini sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk putranya, tapi semuanya sirna begitu saja.


"Ma, ini kesalahan kami berdua. Bukan hanya Anisa," sahut Rizki.


"Saya yakin, ini semua ulah dari wanita Itu." Sarah tidak menyukainya Annisa karena menurut dia, wanita itu hanya membawa dampak buruk untuk Rizki.


Sebelumnya putranya itu orang yang sangat menghargai dirinya. Sekarang, jangankan menghormati, bicara dengan sopan pun sudah tidak ada lagi. Bahkan Sarah juga tidak pernah melihat Rizki mengaji seperti dulu.


"Maafkan aku, Ma. Saat itu aku khilaf," ucap Rizki menyesal.

__ADS_1


Sarah hanya diam dengan pandangan kosong. Air matanya terus menetes. Sakit hati dan kecewanya membuat dia tak mampu berkata apa-apa lagi. Hilang sudah kebanggaannya selama ini karena pergaulan yang salah.


"Ma, jangan terlalu mengekang mereka. Biarkan saja mereka memilih pasangannya sendiri," ucap Papa Rizki.


"Kenapa Papa selalu membelanya. Dia bukan pilihan yang baik untuk menjadi istri Rizki. Mama tidak setuju."


"Mama setuju atau tidak, Rizky akan tetap menikah dengan Anisa," sela Rizki.


"Terserah padamu silakan menikahi wanita yang kamu inginkan. Mama juga sudah menyerah dengan pilihan kamu," ucap Sarah tanpa melihat ke arah anaknya.


Wanita itu beralih menatap Nayla dan berkata, "Nay, Tante minta maaf. Tante yang memintamu untuk menjadi istri Rizki, tapi hari ini anak Tante yang memilih wanita lain untuk menjadi istrinya."


"Tante jangan meminta maaf, saya mengerti maksud Tante, mungkin aku dan kak Rizki memang tidak berjodoh," sahut Nayla dengan menggenggam kedua tangan Sarah.


"Terima kasih, atas pengertiannya," ucap Sarah dengan tersenyum paksa. "Tante sedikit pusing. Tante tinggal dulu, ya? Kamu kalau mau ngobrol silakan saja."


"Tante, nggak pa-pa?" tanya Nayla, dia khawatir dengan kesehatan wanita itu.


"Tidak apa-apa, Tante baik-baik saja. Tante masuk kamar dulu, ya?"


"Tidak perlu, kamu duduk saja. Nikmati minumannya. Tante mau istirahat." Sarah berlalu pergi begitu saja, tanpa menoleh kearah Rizki dan kekasihnya.


"Papa juga mau masuk dulu. Kalian nikmati saja hidangannya," ucap Papa Rizki. Pria itu mengikuti istrinya masuk ke dalam kamar. Dia tahu jika Sarah saat ini pasti sangat kecewa kepada putranya.


"Kak, apa Tante Sarah baik-baik saja? Aku khawatir beliau akan jatuh sakit," tanya Nayla sambil melihat ke arah Sarah pergi tadi.


"Tidak apa-apa, besok juga mama kembali sehat."


Nayla hanya mengangguk. Meski dalam hatinya, dia masih khawatir akan kesehatan Sarah. Gadis itu pernah merawat ibunya yang sakit jadi, Nayla merasa khawatir pada wanita itu.


"Kak, aku harus pulang. Sudah malam, nggak enak sama tetangga," ucap Nayla.


"Perlu diantar? Biar sopir papa yang antar."


"Tidak perlu, Kak. Aku bawa mobil, kok. Ini juga belum terlalu larut."

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu. Kamu hati-hati di jalan."


"Iya, terima kasih," sahut Nayla. "Mari, Kak Anisa! Saya pamit dulu, assalamualaikum."


"Iya, hati-hati. Waalaikumsalam," sahut Anisa.


Nayla pergi meninggalkan rumah Rizki dengan menggunakan mobilnya. Dalam perjalanan dia berpikir, apa mungkin kegagalan pertunangannya ini karena doa Aydin tadi siang? Gadis itu tersenyum memikirkannya.


'Tapi, aku tidak bisa menerima Mas Aydin begitu saja. Aku tidak tahu, dia bisa memegang janjinya atau tidak. Biarlah waktu yang menjawabnya. Mudah-mudahan Tuhan memberikan jodoh yang terbaik untukku. Saat ini yang terpenting adalah bagaimana membuat usahaku bertambah lancar. Aku tidak ingin mengecewakan Bunda Yasna Dan juga para pembeli.'


Nayla melajukan mobilnya menuju rumahnya. Hari ini, dia akan tidur sendiri. Hal yang paling tidak disukai gadis itu akhir-akhir ini karena dia merasa sangat kesepian.


*****


Malam ini Yasna menyiapkan makan malam dengan dibantu Afrin dan Nuri. Temen putrinya itu, kembali menginap di rumah ini. Mereka ada tugas yang harus segera diselesaikan.


"Nuri, kalau di rumah suka masak?" tanya Yasna.


"Hanya bantu-bantu sedikit, Bunda. Kalau nggak di bantuin, mama suka ngomel-ngomel. Maklum, Bunda, kami tidak punya asisten seperti di sini jadi, apapun semuanya dikerjakan sendiri."


"Bagus, dong! Itu bisa membuat kamu jadi mandiri."


"Mama juga bilang seperti itu. Nanti kalau punya suami sudah terbiasa masak dan suami betah di rumah. Padahal aku masih kelas sepuluh, aku juga mau senang-senang seperti temen yang lain," ujar Nuri sambil cemberut.


"Nggak boleh gitu. Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Kamu harus nurut sama mereka, lakukan yang mereka perintahkan dengan ikhlas. Insyaallah hidup kamu akan berkah," nasehat Yasna.


"Iya, Bunda."


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2