Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
299. S2 - Laily mulai luluh


__ADS_3

"Khairi sama Afrin kapan pulangnya, Bun?" tanya Emran saat mereka sedang sarapan pagi.


"Katanya hari ini, Pa. Ibu dan adiknya Khairi juga ikut. Awalnya mereka menolak, tapi akhirnya mereka mau," jawab Yasna. "Mereka akan tinggal di apartemen Khairi yang masih satu gedung, sama apartemen tempat tinggalnya dulu."


"Besok saja kita berkunjung ke sana. Hari ini pasti mereka lelah," ucap Emran yang diangguki Yasna.


Sebelumnya wanita itu berniat akan ke sana saat makan siang, terapi setelah sang suami berkata demikian, dia tidak bisa menolaknya. Putrinya juga pasti sangat lelah selama perjalanan.


"Apa Om Hamdan tahu, Bun, kalau mantan istrinya akan datang?" tanya Aydin.


"Kenapa kamu jadi bergosip? Jangan suka ikut campur urusan orang!" sela Emran yang memang tidak suka ada keluarganya yang bergosip. Bahkan saat Yasna membicarakan orang lain pun selalu ditegurnya kecuali memang ada urusan.


Aydin langsung merapatkan bibirnya. Dia lupa ada papanya yang anti gosip. Padahal pria itu sangat penasaran dengan reaksi mertua dari adiknya, tetapi Aydin juga tidak ingin mendapat teguran dari papanya untuk kedua kalinya.


"Pa, hari ini aku nggak ke kantor. Aku mau mengantar Nuri, waktunya dia periksa," ucap Aydin.


"Iya, tidak apa-apa. Biar Papa yang ke kantor hari ini," sahut Emran.


Mereka pun melanjutkan sarapan dalam diam. Nuri yang biasanya berceloteh, kini hanya diam menikmati sarapannya. Gadis kecil itu sudah mulai belajar makan sendiri walaupun belepotan sana sini. Nayla membiarkannya saja, baginya itu merupakan proses tumbuh kembangnya.


*****


Rombongan Khairi telah meninggalkan desa menuju kota, tempat yang akan mengubah kehidupan Nur dan Laily. Afrin dan Wulan satu mobil dengan Pak Hari. Sementara Khairi, Nur, dan Laily menaiki taksi online.


Sebelum pergi, Khairi memberi amplop berisi uang kepada Ibu Nia, ibunya Wulan. Menurut pria itu berkat putri beliau dia bisa menemukan ibu dan adiknya. Wanita paruh baya itu sempat menolak, tetapi dengan bujukan Khairi dan Afrin akhirnya Ibu Nia menerima.


"Mbak Wulan, aku sangat berterima kasih karena berkat Mbak, kami bisa bertemu dengan Bu Nur dan Laily," ucap Afrin dalam perjalanan sambil menggenggam tangan asisten rumah bundanya itu.


"Saya tidak melakukan apa-apa, Non.Saya hanya mengatakan yang sesungguhnya saja. Saya juga senang melihat Bu Nur bisa bertemu dengan anaknya yang sudah bertahun-tahun tidak berjumpa," sahut Wulan.


"Apa pun itu, saya tetap berterima kasih. Mbak, sudah menjadi perantara kami bertemu ibu dan Laily."

__ADS_1


Sementara di taksi online, Khairi tidak sanggup lagi menahan kantuknya. Dia tertidur dengan pulasnya. Untung saja sopir tidak kehilangan jejak mobil yang dikemudikan oleh Hari jadi, tidak perlu bertanya alamatnya. Ibu Nur dan Laily menikmati pemandangan di luar jendela.


Banyak yang berubah setelah bertahun-tahun kepergian Nur. Seperti hatinya yang kini sudah berubah mungkin pria yang di ujung sana pun sama. Wanita itu berharap apa pun yang akan terjadi nanti, dia bisa kuat menghadapinya.


Laily sangat kagum dengan banyaknya bangunan yang begitu tinggi. Di sekitar tempat kerjanya juga ada, tetapi tidak setinggi di kota ini. Terlalu asyik dengan pemandangan yang mereka lihat, hingga tidak sadar mobil yang ditumpangi berhenti. Sopir pun membangunkan Khairi yang tertidur.


"Pak, sudah sampai," ucap sopir dengan mengguncang tubuh Khairi.


"Eh, iya, Pak. Maaf saya ketiduran," sahut Khairi sambil mengucek matanya. "Saya tidak ada uang cash, bisa saya transfer saja?"


"Bisa, Tuan," jawab sopir itu dan segera memberikan nomor rekeningnya. Khairi pun mengirim lewat ponselnya.


"Sudah saya kirim, Pak."


"Iya, Tuan. Sudah masuk, terima kasih banyak, semoga Tuhan membalas kebaikan Anda."


"Amin, terima kasih, Pak. Saya juga berterima kasih pada Anda." Khairi pun turun dari taksi bersama dengan ibu dan adiknya.


"Pak Hari bawa saja mobil saya. Tolong sekalian antar Mbak Wulan ke rumah Papa Emran," ujar Khairi.


"Iya, Tuan. Terima kasih, saya pamit dulu."


"Saya juga pamit, Tuan," sahut Wulan.


Mobil yang dikendarai Pak Hari pun meninggalkan apartemen, yang akan menjadi rumah untuk Nur dan Laily saat ini, sampai pria itu menemukan rumah yang cocok untuk ibu dan adiknya. Dia juga belum bertanya rumah impian mereka seperti apa.


Khairi akan membangun rumah seperti keinginan ibu dan adiknya. Dia akan melakukan segalanya demi membuat kedua wanita itu bahagia. Meski pria itu tahu, hanya kebersamaan yang mampu menerbitkan senyum keduanya.


Khairi mengajak ketiga wanita itu masuk ke gedung apartemen. Mereka menaiki lift menuju lantai unitnya berada. Begitu sampai, pria itu menekan tombol yang ada di sebelah pintu karena dia tidak membawa kartu aksesnya. Khairi juga mengajari ibu dan adiknya cara membuka pintu.


Saat semua orang memasuki apartemen semua tampak rapi. Pria itu memang sudah meminta kepada Ivan untuk membersihkannya. Dia juga meminta Rani untuk membeli beberapa perabotan yang tidak ada dan mengisi lemari esnya dengan berbagai makanan, minuman dan keperluan dapur.

__ADS_1


"Wah, besar banget rumahnya! Aku cuma berdua dengan ibu, tidak perlu sebesar ini, Kak. Pasti uang sewanya mahal. Kita cari tempat yang lain saja, yang lebih kecil," ucap Laily pada Khairi.


Pria itu tersenyum. Baru kali ini gadis itu mau berbicara dengannya. Biasanya jika ada sesuatu pasti dia menyampaikannya ke Afrin atau ibunya. Khairi yakin, tidak akan sulit memenangkan hatinya. Tinggal sedikit lagi, seiring berjalannya waktu.


"Apartemen ini milik Kakak, berarti milik kamu juga jadi, tidak perlu memikirkan uang sewa," sahut Khairi dengan tersenyum. "Kakak senang kamu sudah mau bicara dengan Kakak."


Laily menunduk, dia juga tidak sadar jika tadi berbicara dengan kakaknya begitu saja. Mungkin kebaikan Khairi yang sudah membuatnya luluh. Tidak menutup kemungkinan jika suatu hari gadis itu akan bergantung padanya.


"Ayo! Aku perlihatkan kamar kalian. Kamarnya ada di atas," ujar Khairi dan berjalan lebih dulu.


Mereka bertiga mengikutinya tanpa banyak bertanya.


"Ini kamar Ibu dan yang ini, kamar buat kamu, Laily," ucap Khairi sambil menunjuk sebuah kamar.


"Kenapa harus terpisah, Nak? Kenapa Ibu dan Laily tidak satu kamar saja?" tanya Nur pada putranya.


"Bu, Laily sudah dewasa, sudah sepantasnya tidur sendiri. Sebentar lagi juga dia tidur sama suaminya," ucap Khairi menggoda adiknya.


"Enggak, aku belum mau menikah. Aku mau kuliah," sahut Laily dengan cepat.


"Dulu kakak iparmu juga berkata seperti itu, tapi dia luluh juga sama Kakak," ucap Khairi menyombongkan dirinya membuat Afrin berdecak sinis.


"Itu karena kamu memaksaku. Coba kalau tidak. Aku pasti masih single saat ini."


"Aku memang memaksa, tapi kamu suka, kan?" tanya Khairi dengan menaik turunkan alisnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2