
Setelah mengantar anak-anak ke sekolah. Yasna mendapat pesan dari Celina, wanita itu memintanya untuk datang ke sebuah taman, tidak jauh dari sekolah anak-anak. Yasna sudah mencoba menghubungi Emran untuk pamit, tapi sepertinya pria itu sedang ada meeting.
Akhirnya, Yasna memutuskan mengirim pesan pada suaminya yang menjelaskan Jika dia akan bertemu dengan Celina. Yasna meminta Pak Hari mengantarnya. Tidak berapa lama, sampailah dia di taman itu. Terlihat Celina sudah menunggu di sana.
"Sudah lama, Cel?" tanya Yasna.
"Lumayan," jawab Celina datar.
Yasna duduk di samping wanita itu. Cukup lama mereka terdiam, hingga membuat Yasna jenuh.
"Ada apa kamu memintaku ke sini?" tanya Yasna.
"Kamu sudah tahu, kan, tentang rencana Mas Ferdi?" tanya balik Celina tanpa menjawab pertanyaan Yasna.
Yasna merasa bingung dengan pertanyaan yang Celina ajukan. "Rencana apa?"
"Aku mendengar dia berbicara dengan mamanya, mengenai rencana dia untuk membawaku dan anak-anak pergi ke luar negeri."
"Aku memang sudah mengetahuinya, tapi aku tidak tahu dan tidak mau tahu, tentang urusan keluarga kalian."
Yasna memang mengkhawatirkan keadaan Vino dan Vico, tapi dia tidak mau mencampuri urusan keluarga mereka. Wanita itu cukup hanya dengan mendengar jika anak-anak dalam keadaan baik-baik saja.
"Aku sudah berusaha untuk mengambil hatinya selama ini, tapi dia sama sekali tidak pernah melihat ke arahku." Celina menghela nafas. "Aku heran, kenapa dia mau menikahimu? Padahal kalian baru saja saling mengenal."
Awalnya yasna tidak tahu siapa dia yang dimaksud oleh Celina, tapi diakhir kalimat membuat Yasna tahu, siapa dia yang dimaksud dari wanita itu.
"Aku juga tidak begitu mengenalnya. Waktu itu aku hanya bersikap apa adanya, mungkin itu juga yang membuat Mas Emran tertarik padaku. Apalagi saat itu Afrin sangat dekat denganku," sahut Yasna dengan percaya diri.
"Aku mohon perbolehkan aku menjadi istri kedua Kak Emran," pinta Celina dengan menatap wanita yang ada disampingnya itu.
Yasna sangat terkejut mendengarnya. Bagaimana Celina bisa berfikir seperti itu disaat dia masih memiliki suami? Tidakkah dia memikirkan Ferdi dan anak-anaknya?
"Apa kamu sudah gila? Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mengizinkan suamiku menikah lagi," sahut Yasna dengan emosi. Dia mencengkram gaun yang ia pakai dengan kuat.
__ADS_1
Ingin sekali Yasna menampar mulut Celina yang seenaknya saja berbicara. Tidakkah dia memiliku hati? Kenapa semua wanita senang sekali merebut semua orang?
"Aku sangat mencintainya, bahkan dari dulu. Sebelum aku menikah dengan Erwin," ucap Celina. Erwin adalah mantan suaminya, adik Emran.
Yasna kembali dibuat terkejut. Apa Emran juga tahu jika Celina lebih mencintai dia daripada adiknya dan apa alasannya?
"Kalau kamu mencintai Mas Emran lalu kenapa kamu menikah dengan adiknya?"
"Karena saat itu, aku sedang berusaha mendekati Kak Emran dengan memanfaatkan Erwin, tapi ternyata dia salah paham. Dia mengira aku mencintainya dan saat itu Kak Emran juga akan menikah."
"Kamu benar-benar tidak masuk akal." Yasna menggelengkan kepalanya. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran wanita itu. "Sepertinya percuma saja aku bicara denganmu. Lupakan pertemuan kita hari ini, anggap saja kita tidak bertemu. Aku tidak ingin mendengar kamu berkata seperti tadi."
Yasna segera pergi tanpa mendengar jawaban dari Celina. Dalam perjalanan pulang, Yasna berusaha meredakan emosinya. Dia tidak ingin mertuanya mengetahui apa yang sudah terjadi. Pasti beliau akan kepikiran karena Yasna tahu Karina masih menyayangi Celina.
Sementara Celina yang masih berada di taman, merasa hidupnya tidak adil karena cintanya tidak pernah berbalas. Padahal cintanya begitu besar pada Emran.
"Apakah aku salah jika ingin meraih cintaku?" gumam Celina.
"Mas Ferdi!" Celina terkejut melihat kehadiran Ferdi di sana.
Dari mana suaminya tahu kalau dia ada di sini? Sejak kapan pria itu datang? Apa Ferdi mendengar pembicarannya dengan Yasna. Berbagai pemikiran hanya bisa dia tahan di dalam hati.
Ferdi duduk di samping Celina, dia mengamati istrinya dengan saksama.
"Aku sudah mendengar semuanya. Aku hanya memberimu pilihan dan kamu harus memikirkannya baik-baik. Minggu depan, aku akan ke luar negeri bersama Revan Jika kamu ingin ikut denganku, kamu boleh pergi ke bandara bersama Vino dan Vico dan kita akan memulai hidup baru di sana, tapi jika kamu masih ingin meraih cintamu, lakukanlah dan aku akan mengirimkan surat cerai kepadamu."
Setelah mengatakan hal itu, Ferdi segera beranjak meninggalkan Celina. Membuat wanita itu terdiam seketika.
Celina akui, Ferdi adalah orang yang sangat baik. Selama ini pria itu selalu sabar dalam menghadapinya, tapi dia sama sekali tidak mencintai Ferdi. Wanita itu tidak tahu harus mengambil keputusan yang mana.
Kalau Celina memilih tetap mengejar Emran, bagaimana dengan Revan? Dia tidak bisa jauh dari anaknya itu. Wanita itu memutuskan meninggalkan taman dan pergi menuju rumah mamanya. Sudah lama dia tidak bertemu dengan kedua orang tuanya. Entah bagaimana keadaan mereka saat ini.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya dia sampai. Tampak mamanya sedang menyiram bunga di depan rumah.
__ADS_1
"Celina, kamu tumben ke sini? Ada angin apa?" sindir Mama Windy.
Namun, Celina hanya diam karena dia tahu bagaimana sifat mamanya. Windi melihat anaknya bergeming, dia merasa pasti anaknya ini sedang dalam masalah.
"Ayo, masuk!" ajak Windi.
Mereka masuk ke dalam rumah. Mama Windi mengajak Celina ke ruang makan. Mungkin anaknya belum makan dia ingin menawari, kebetulan masih banyak makanan.
"Kamu sudah makan?" tanya Windi yang dijawab anggukan oleh Celina.
Mama Windi membuatkan minum untuk putrinya. "Ini di minum dulu, setelah itu cerita semua sama Mama ... apa telah terjadi sesuatu?"
Celina terdiam beberapa detik dan berkata, "Aku harus bagaimana, Ma? Mas Ferdi ingin membawa Revan keluar negeri dan tinggal di sana."
"Kenapa Ferdi membawa Revan tinggal di sana?" tanya Windi yang memang tidak mengerti dan tidak tahu apa pun.
"Mas Ferdi ingin memulai hidup baru di sana," jawab Celina dengan menundukkan kepalanya.
"Maksud kamu apa, sih? Mama semakin gak ngerti." Mama Windi menaikkan intonasi suaranya. Karena merasa gregetan dengan penjelasan Celina yang seolah berbelit-belit.
"Mas Ferdi ingin mengajak Revan ke luar negeri dan tinggal di sana. Jika aku ingin ikut dengannya. Aku harus ke bandara bersama Vico dan Vino lalu ikut bersamanya tinggal di luar negeri dan melupakan semua masalah di sini. Kami akan memulai hidup baru di sana, tapi kalau aku menolak Mas Ferdi akan menceraikan aku."
"Lalu, apa keputusan kamu?"
.
.
.
.
.
__ADS_1