
Aydin sedang mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia bingung harus melakukan apa, dia tidak pernah berada dalam situasi sekarang ini. Padahal ini lamaran yang kedua, kemarin saat dia melamar Nayla tidak seperti saat ini.
Pintu kamar diketuk oleh seseorang yang berada di luar. Tubuh Aydin sedikit terlonjak. Dia terkejut mendengar ketukan, yang terdengar biasa saja. Pria itu segera membukanya, ternyata ada Yasna di sana.
"Iya, Bunda."
"Kamu kenapa dari tadi nggak keluar-keluar? Semua sudah menunggu."
Yasna memperhatikan Aydin dengan saksama. Sepertinya pria itu sedang gugup dan gelisah. Itu hal yang wajar, tapi kemarin biasa saja.
"Bunda, aku jadi gugup, tidak tahu harus melakukan apa?" ucap Aydin pada Yasna berharap bundanya memberi solusi.
"Banyak istighfar, baca asma Allah. Kamu pasti bisa. Ayo, kita keluar! Tidak enak kalau bertamu terlalu malam," ucap Yasna dengan mengusap lengan Aydin.
"Iya, Bunda." Aydin turun bersama Yasna. Dalam hati pria itu terus berdoa agar semuanya berjalan dengan lancar.
Semua orang sudah menunggu di ruang tamu. Parsel hantaran sudah dimasukkan ke dalam mobil. Mereka akan membawa dua mobil. Emran juga mengajak Hari untuk mengantar kedua mertuanya.
Wajah-wajah bahagia terlihat di sana. Semua orang berharap kebahagiaan untuk Aydin.
"Kakak, lama banget, sih! Tampilannya juga gitu doang," gerutu Afrin.
"Berisik anak kecil. Kalau kamu nggak bisa sabar, sebaiknya nggak usah ikut. Di rumah saja."
"Sudah cantik-cantik gini masa ditinggal. Aku sudah dandan dari sore."
"Habisnya kamu bawel."
Afrin mendengus mendengar ucapan kakaknya. Dia sudah kesal karena menunggu Aydin terlalu lama. Gadis itu tidak sabar ingin melihat acara peetunangan kakaknya.
"Sudah-sudah, kalian jangan bertengkar. Ayo, kita berangkat! Bik Rini sudah menunggu kita," sela Yasna.
"Kita ke rumah Kak Nayla atau ke rumah Bibi Rini, Bunda?" tanya Afrin.
"Ke rumah Bik Rini. Di sana lebih ramai. Bik Rini juga mengundang beberapa tetangga."
"Ayo, kita berangkat! Semua sudah siap, kan?" ajak Emran.
"Sudah, Pa."
"Ibu sama Ayah diantar sama Hari, ya," ucap Emran pada mertuanya. "Kalau kalian berdua terserah mau ikut siapa," ucap Emran pada kedua anaknya.
__ADS_1
"Aku ikut kakek sama nenek saja," sahut Afrin.
"Aku sama Papa saja," jawab Aydin.
"Ya sudah, ayo, kita berangkat!" Dua mobil itu pergi meninggalkan rumah Emran.
Dalam perjalanan, Aydin yang sedang duduk di belakang merasa gelisah. Sesekali dia menggosok kedua tangannya, berusaha menghilangkan kegugupannya. Semakin dekat tempat yang dituju, semakin bertambah kegelisahan yang dirasakan pria itu.
"Baca doa, Kakak," ucap Yasna. Wanita itu sedari tadi juga bisa melihat Aydin yang tidak tenang. Dia berusaha menenangkan sang putra.
"Iya, Bunda."
"Tarik napas dalam-dalam, keluarkan dengan peelahan. Jangan terlalu fokus pada satu hal, itu akan membuatmu semakin gelisah," ujar Yasna yang diangguki Aydin.
Tidak berapa lama, akhirnya mereka sampai juga di rumah keluarga Doni. Di sana sudah tampak beberapa orang yang siap menyambut kedatangan mereka.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Mbak Yasna sudah datang? Mari masuk!" ajak Rini.
Semua keluarga Emran masuk ke rumah, sementara Hari menurunkan beberapa hantaran parcel, dibantu beberapa tetangga Bu Rini. Semua orang yang ada di sana nampak takjub dengan apa yang keluarga Emran bawa.
"Sebentar, Mbak, saya panggilkan calon pengantin wanitanya dulu, ya." Rini berlalu memanggil Nayla yang berada di dalam kamar.
"Ponakan Bibi cantik sekali!" puji Rini.
"Apa aku terlihat aneh, Bik?" tanya Nayla yang kurang percaya diri dengan penampilannya.
"Aneh bagaimana? Kamu cantik ... cantik sekali malah."
Nayla kemnali melihat kearah tubuhnya mencari sesuatu yang terlihat masih kurang. Rini hanya tersenyum melihatnya. Dia tahu keponakannya ini sedang gugup.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Rini yang diangguki Nayla. "Ayo, kita keluar! Semua orang sudah menunggu. Pasti mereka akan takjub dengan kecantikan ponakan Bibi ini."
Rini membawa Nayla keluar. Benar saja, semua orang terkesima melihat tampilan Nayla yang lebih cantik dari biasanya. Ditambah senyum yang menghiasi bibirnya, semakin menambah kadar kecantikannya
Aydin yang melihat itu, merasa kesal. Dia tidak rela kecantikan Nayla dilihat oleh banyak orang terutama para laki-laki.
Rini mengajak Nayla duduk disamping dirinya dan Doni. Roni sudah menghubungi Nayla tadi pagi dan mengatakan tidak bisa datang. Pria paruh baya itu akan datang saat hari pernikahan mereka saja.
"Bisa kita mulai?" tanya seorang pria yang bertugas sebagai pembawa acara.
__ADS_1
"Tunggu! Sebelum acara dimulai saya ingin berbicara berdua dengan Nayla. Ada yang perlu saya sampaikan lebih dulu," sela Aydin.
Aydin ingin mengatakan semuanya pada Nayla, mengenai Roni yang meminta mobil padanya. Dia tidak ingin merahasiakan apa pun pada gadis itu. Pria itu sudah berpikir sedari tadi dan inilah keputusan yang diambilnya. Aydin berharap Nayla mengerti keadaan dan posisinya.
"Ada apa, sih, Kak? Kenapa nggak dari kemarin-kemarin saja?" bisik Yasna, dia khawatir terjadi sesuatu yang akan mempengaruhi acara saat ini.
"Hanya sebentar, Bunda," jawab Aydin dengan berbisik juga. "Bagaimana, Nayla? Saya ingin bicara sebentar dengan kamu," tanyanya
"Boleh, tapi harus ada yang ikut dengan kita. Aku tidak mau hanya berdua saja," jawab Nayla.
"Baiklah, biar Bunda saja yang ikut," jawab Aydin yang diangguki oleh Nayla.
Nayla berjalan ke sebuah kamar di ikuti oleh Aydin dan Yasna. Wanita itu juga penasaran apa yang ingin disampaikan sang putra pada calon istrinya.
Sampai di kamar Nayla, mereka duduk di sofa yang ada di kamar itu. Cukup lama mereka terdiam, membuat Yasna ingin sekali memukul kepala putranya. Bukankah dia ingin bicara? Kenapa malah saling diam?
"Kalian mau sampai kapan diam-diaman seperti ini? Di luar semua orang sedang menunggu, loh?" tanya Yasna sambil menatap kedua anaknya.
Sebelum mengatakan sesuatu, Aydin berusaha menenangkan dirinya terlebih dahulu.
"Sebelumnya aku minta maaf sama kamu, Nay. Sama Bunda juga. Aku tidak jujur tentang sesuatu."
"Sesuatu apa?" tanya Nayla dan Yasna bersamaan.
"Kemarin, saat aku bertemu dengan ayah Kamu, dia memang memberi restu, tapi dia juga meminta syarat agar aku membelikan dia sebuah mobil. Bukan maksudku untuk perhitungan. Aku hanya tidak ingin berbohong padamu. Aku ingin memulai sebuah hubungan atas dasar kejujuran."
Nayla tidak begitu terkejut berbeda dengan Yasna. Semua orang tahu penyebab Roni meninggalkan keluarganya jadi, tidak heran jika dua masih memikirkan tentang hartanya.
"Lalu, Mas membelikan ayah mobil?" tanya Nayla.
"Iya, aku membelikannya. Aku sudah menganggapnya seperti ayah sendiri, saat aku memutuskan untuk menikah denganmu jadi, seperti Bunda yang ingin meminta sesuatu padaku, aku akan segera mengembalikannya selama aku mampu. Begitupun dengan ayahmu," tutur Aydin sambil menatap Nayla lekat.
Yasna juga menatap Nayla, menunggu gadis itu mengatakan sesuatu. Dia berharap semua masih baik-baik saja.
.
.
.
.
__ADS_1
.