Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
144. S2 - Mendapat restu


__ADS_3

"Nayla gadis yang sangat baik. Anda beruntung memiliki putri sebaik dia. Sebenarnya saya juga tidak tahu jika dia masih memiliki seorang ayah. Saat aku berkenalan dengannya, tidak ada satu orang pun yang membahas tentang Anda. Bahkan Nayla sendiri, tapi saat saya melamarnya, dia mengatakan kalau dia tidak akan menikah jika Anda tidak merestuinya. Saya sempat terkejut, ternyata dia masih memiliki ayah. Dia juga menceritakan semua tentang masa lalu keluarganya. Saya sangat salut padanya, dia wanita yang kuat dan tegar menghadapi semua ujian dalam hidupnya. Diusianya yang kini, dia memiliki pemikiran yang sangat matang. Dia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri," ujar Aydin sedikit berbohong.


Padahal dia mengetahui tentang ayah Nayla dari Rizki saat insiden salah pukul. Untunglah saat itu korban tidak menuntut padanya dan mengerti apa yang dirasakan oleh Aydin.


"Dia memang seperti Asih. Dia juga selalu memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri. Itu juga yang membuat kami berpisah," sahut Roni membuat Aydin heran.


Bukankah ayah Nayla meninggalkan istri dan anaknya agar bisa hidup mewah? Kenapa Roni berkata seolah semuanya terbalik?


"Kenapa Anda berbicara seperti itu? Bukankah Anda--" Aydin tidak melanjutkan kata-katanya. Dia sadar jika itu akan menyakiti hati Roni.


"Itu memang benar. Saya meninggalkan dia karena saya tidak ingin hidup susah, tapi jika saja Asih mau meminta bagian warisannya pada pamannya, pasti kami juga tidak akan kekurangan apa pun dan aku tidak harus meninggalkan mereka, tapi percuma juga, semuanya sudah berlalu dan sudah terjadi."


Keheningan terjadi di antara mereka. Aydin dan Roni sama-sama memikirkan, apa yang harus dilakukan kini pada Nayla.


"Jadi, Pak Roni, bagaimana dengan permintaan saya tadi? Apa Anda merestui saya yang akan menikah dengan putri Anda?" tanya Aydin dengan menatap Roni, berharap pria itu menyetujui dan tidak mempersulitnya.


"Kamu tahu siapa saya, kan? Tidak ada yang gratis di dunia ini," ucap Roni.


Tebakan Aydin memang benar, Roni pasti menginginkan sesuatu. Pria itu bisa saja menurutu keinginannya, tapi apa itu tidak akan menyakiti Nayla? Dia takut gadis itu merasa direndahkan dengan permintaan ayahnya.


"Apa yang Anda inginkan?" Tanya balik Aydin.


"Saya ingin kamu membelikan saya mobil."


Aydin tidak terkejut dengan permintaan Roni, tapi dia dilema, membelikannya atau tidak. Setelah berpikir sejenak pria itu memutuskan akan menuruti permintaan ayah Nayla dengan harapan Roni tidak mempersulitnya.


"Saya akan menuruti keinginan Anda dengan syarat, Anda tidak boleh mengatakan pada siapa pun bahwa saya memberikan Anda mobil termasuk pada Nayla. Saya tidak ingin dia merasa dimanfaatkan. Saya yakin, pasti dia akan merasa sangat sedih jika mengetahuinya," tutur Aydin.


"Terserah padamu jika memang harus seperti itu, akan saya lakukan," sahut Roni. "Bolehkah aku menemuinya sebelum kalian menikah? Aku ingin tahu bagaimana keadaannya sekarang."


"Mengenai itu bukan hak saya untuk menjawab Jika anda ingin bertemu, sebaiknya Anda menghubungi dia sendiri. Kalau Anda mau, saya akan memberi Anda nomor ponselnya."


Roni memberikan ponselnya pada Aydin meminta pria itu mengetikkan nomor Nayla. Dia ingin tahu keadaan putrinya saat ini. Dalam hati pria itu berdoa mudah-mudahan gadis itu mau menerima kedatangannya.

__ADS_1


"Silakan dinikmati, Pak Roni," ucap Aydin setelah para pelayan menghidangkan pesanannya.


"Terima kasih." Roni segera melahap makanannya tanpa berbasa-basi.


Aydin masih bergelud dengan pikirannya. Memikirkan apakah keputusannya sudah benar atau tidak. Dia hanya tidak ingin Roni menghalangi dirinya untuk menikah dengan Nayla. Pria itu juga tidak ingin Roni mengganggu kehidupan gadis yang dia cintai.


Aydin takut jika Roni akan mengganggu hidup Nayla. Pria itu ingat jika saat ini gadis yang dicintainya sudah memiliki butik. Nayla sudah sangat berjuang untuk usahanya itu dan Aydin tidak akan membiarkan siapa pun mengganggunya.


"Kenapa kamu tidak makan? Apa kamu tidak suka dengan hidangannya?" tanya Roni menyadarkan lamunan Aydin.


"Tidak, Pak, saya suka. Mari makan!" Aydin segera memakan makanannya. Mengenai Nayla, mudah-mudahan Roni bisa menjaga ucapannya dengan tidak mengatakan apa pun pada semua orang.


Setelah menyelesaikan makannya, Aydin mengantarkan Roni kembali ke rumah Arya dan segera pulang ke rumah. Dia juga perlu memberi kabar pada keluarganya dan Nayla jika Roni sudah memberi restu padanya.


Dalam perjalanan pulang. Aydin menghubungi Nayla. Dia tidak sabar memberu kabar pada gadis yang mengisi hatinya itu. Panggilan terhubung beberapa detik segera diangkat oleh Nayla.


"Halo, assalamualaikum," ucap seorang gadis di seberang telepon yang tidak lain adalah Nayla.


"Waalaikumsalam, Nay. Tadi aku sudah bertemu dengan ayah kamu dan beliau sudah memberi restui padaku untuk menikahimu," ujar Aydin.


"Bagaimana keadaan Ayah, Mas? Dia sekarang tinggal di mana? Apa dia baik-baik saja?" tanya Nayla beruntun.


Meskipun Roni sudah menelantarkannya, tapi rasa rindunya pada sosok ayah mengalahkan rasa bencinya. Apalagi didikan Ibu Asih, melarang dia untuk menyimpan dendam dalam hatinya karena dendam, hanya akan merugikan diri sendiri.


"Sekarang dia tinggal di rumah keluarga Pak Arya, anak dari almarhum istri ayah kamu."


Nayla menganggukkan Kepala, dia lupa jika lawan bicaranya ini tidak ada di depannya. Sudah pasti tidak dapat melihat anggukan gadis itu.


"Jadi, kamu menerima lamaranku, kan, Nay?" tanya Aydin ingin meyakinkan jawaban Nayla. Bagaimanapun dia butuh kepastian.


"Seperti yang aku katakan kemarin, Mas. Jika ayah menyetujui, aku juga akan menerimanya," jawab Nayla.


Aydin tersenyum mendengar jawaban Nayla. Akhirnya perjuangannya tidak sia-sia. Sebentar lagi gadis yang dia cintai akan menikah dengannya.

__ADS_1


"Besok malam, aku dan keluarga akan datang ke rumah Bibi Rini untuk melamarmu."


"Apa ayah akan datang?" tanya Nayla.


"Aku tidak tahu, tadi aku sudah memberi nomormu padanya. Mudah-mudahan dia segera menghubungimu."


"Iya, Mas. Terima kasih sudah mau repot-repot mencari keberadaan ayah."


"Aku tidak repot. Aku senang, setidaknya aku bisa berjuang untuk bisa mendapatkanmu agar kedepannya aku bisa lebih menghargai Keberadaanmu disisiku."


Nayla tersenyum mendengar ucapan Aydin. Gadis itu tidak menyangka jika pria yang sudah mengisi hatinya, mau berjuang memenuhi syarat yang diajukan. Memang bukan syarat yang sulit, tapi dia merasa menjadi gadis yang spesial karena ada seorang pria yang memperjuangkannya.


"Nay, kenapa diam? Apa kamu saat ini sedang tersenyum?" goda Aydin.


"Tidak, Mas," jawab Nayla dengan mencoba menahan agar suaranya terdengar biasa saja.


"Aku pikir kamu tersipu karena kamu diam setelah mendengar jawabanku mungkin saja, kamu merasa tersanjung dengan perjuanganku."


"Aku senang, Mas mau berjuang untukku. Itu saja," bohong Nayla. Tidak mungkin gadis itu mengatakan yang sesungguhnya pada Aydin. Meski memang seperti itu kenyataannya.


"Jadi, kamu merasa biasa saja dengan perjuangan ku?"


"Bukan seperti itu. Aku ... aku, itu ... hanya ...."


"Aku tahu, aku hanya bercanda," sahut Aydin terkekeh.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2