Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
149. S2 - Restoran romantis


__ADS_3

Sepulang kerja Aydin menjemput Nayla. Dia berencana mengajak tunangannya itu makan malam. Pria itu ingin menghabiskan waktu sekaligus mengenal lebih dekat calon istrinya itu.


Sebelumya, dia sudah mengirim pesan pada Nayla, awalnya gadis itu menolak karena di rumah Roni sendirian, tapi pria itu terus merayu dan akhirnya gadis itu mau.


Mengenai Roni, Nayla bisa membelikannya nanti, saat makan malam. Gadis itu ingat jika sang ayah sangat menyukai sea food dan kebetulan dia ingin mendatangi sebuah restoran yang cukup terkenal akhir-akhir ini.


"Assalamualaikum," ucap Aydin saat memasuki butik.


Di sana tampak Nayla dan dua pegawainya sedang membereskan semua pakaian karena butik akan segera tutup. Gadis itu memang sangat menjaga kebersihan maka dari itu, dia tidak akan pulang sebelum semua pekerjaannya selesai.


"Waalaikumsalam, sudah datang, Mss?" sahut Nayla.


"Iya, jalanan juga tidak begitu macet," jawab Aydin.


"Sebentar, ya, Mas. Aku bereskan ini dulu."


"Iya, tidak apa-apa," jawab Aydin. "Boleh aku bantu?"


"Tidak perlu, Mas."


"Tidak apa-apa." Aydin pun membantu membereskan semua baju yang berserakan.


Nayla tidak hanya menjual gaun buatannya. Ada beberapa juga hasil karya temannya, tapi tidak sembarangan juga. Gadis itu harus lebih dulu melihat rancangannya, baru memperbolehkan temannya membawa ke butiknya untuk di jual.


"Mas Aydin, kapan nikahnya sama Mbak Nayla?" tanya Fika.


"Kamu tanya saja sama atasan kamu."


Fika menoleh ke arah Nayla, berharap gadis itu mau menjawab pertanyaannya. Dia sangat tahu kalau atasannya itu sangat tertutup mengenai urusan pribadi. Beberapa kali, Fika juga menggodanya. Namun, Nayla tak juga mengatakan yang sebenarnya.


"Kalau mbak Nayla Mau ditanya, sudah dari kemarin saya tanya."


"Sepertinya atasan kamu sangat rapi dalam menyimpan rahasia."


"Iya, Mas, tapi saya juga kesal. Saya juga pengen dengar berita bahagia tentang pernikahan kalian," ucap Fika dengan cemberut.


"Sama, saya juga pengen dengar, kapan hari bahagia itu akan tiba."


Fika terkejut mendengarnya. Bukankah Nayla akan menikah dengan Aydin? Kenapa pria itu mengatakan seolah dia tidak tahu apa-apa.


"Loh, kan, Mas yang mau nikah? Seharusnya Mas juga tahu harinya."


"Keluarga saya menyerahkan semuanya pada Nayla dan keluarganya, tapi sampai detik ini saya masih menunggu jawabannya."

__ADS_1


"Jadi, Mas Aydin masih digantung, nih, ceritanya?"


"iya, rasanya tidak enak sekali."


"Sabar, Mas. Mudah-mudahan pintu hati Mbak Nayla segera dibuka," bisik Fika yang masih bisa didengar orang karena gadis itu berbisik dengan suara keras.


Via menutup mulutnya, gadis itu menahan tawa. Dia tahu atasannya ini sudah mulai kesal dengan pembicaraan Fika dan Aydin.


"Kalian mau bergosip atau melanjutkan pekerjaan? Fika, Apa kamu mau berhenti bekerja?" sela Nayla.


"Jangan, Mbak. Mas Aydin yang ngajakin saya bergosip," sahut Fika.


Aydin mendengus, begitulah wanita. Padahal Fika yang lebih dulu bertanya, tetapi malah dia yang dijadikan kambing hitam. Pria itu hanya bisa pasrah meski dalam hati Aydin sangat kesal.


"Cepat, selesaikan pekerjaan kalian!" perintah Nayla. "Mas juga harus siap-siap menerima hukuman dari saya. Sudah waktunya menerima hukuman."


Aydin menelan ludahnya dengan susah payah. Kalau tahu begini, dia seharusnya tidak usah memaksa Nayla untuk makan malam. Pria itu harusnya pulang saja. Hukuman seperti apa nanti yang akan didapatkannya.


Setelah selesai membereskan semua yang ada di butik. Fika dan Via pulang dengan menggunakan mobil atasannya, sementara Nayla dan Aydin pergi ke sebuah restoran. Gadis itu memilih restoran yang tempatnya di pinggir pantai.


Sudah lama dia mendengar tentang restoran itu. Namun, Nayla tidak pernah datang ke sana karena menurut sumber yang beredar, di sana banyak sekali pasangan muda-mudi jadi, rasanya akan terasa aneh jika ke restoran itu sendirian atau bersama dengan teman sesama wanita.


Pemandangan romantis, menambah nilai sendiri untuk restoran yang terkenal sebagai restoran khusus untuk pasangan kekasih atau suami istri itu. Bahkan ada pula pasangan lanjut usia yang datang.


"Ada beberapa teman yang sering membicarakannya. Aku jadi penasaran, bagaimana tempatnya karena mereka semua nggak ada yang mau saat aku ajak ke sini. Sendiri pun akan terasa aneh. Aku juga sering mendengar di sini banyak pasangan kekasih. Temanku saja sampai berpura-pura menjadi pasangan kekasih agar bisa datang ke sini."


"Oh, ya! Sampai segitunya daya tarik restoran ini."


Semua orang penasaran bagaimana suasana di tempat ini dan memang benar-benar romantis. Apalagi ruangan yang terbuka dengan semilir angin dan suara ombak, serta alunan musik yang merdu. Membuat siapa pun yang datang, enggan untuk pulang.


"Ayo, masuk," ajak Aydin.


"Iya, Mas." Mereka berjalan menuju restoran dengan beriringan.


Aydin yang melihat Nayla berjalan sedikit jauh pun segera mendekati Gadis itu dan menggenggam telapak tangannya agar bisa bergandengan. Nayla tidak menolak, dia hanya diam mengikuti ke mana Aydin mengajaknya.


Aydin memilih tempat di lantai dua yang bisa melihat ke segala arah. Tempatnya juga terbuka. Semilir angin laut terasa dingin menusuk kulit. Pria itu membuka jasnya dan diberikan kepada tunangannya. Nayla lupa tidak membawa jaketnya hingga membuat Aydin mengorbankan tubuhnya yang kedinginan.


"Tidak usah, Mas. Kamu juga pasti kedinginan," tolak Nayla.


Gadis itu tahu angin laut terasa sangat dingin. Apalagi dimalam hari seperti sekarang, tetapi sebagai laki-laki tidak mungkin Aydin membiarkannya kedinginan.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja," bohong Aydin. Padahal dia sudah kedinginan.

__ADS_1


"Pantas saja banyak yang suka tempat ini, ya, Mas. Sangat romantis dan sangat mendukung buat orang yang sedang bersama dengan kekasihnya."


"Iya, ini juga pertama kali aku kesini," sahut Aydin.


Dia segera memanggil seorang pelayan untuk memesan makanan. Sambil menunggu pesanan, mereka berbincang mengenai pribadi masing-masing. Meski terkadang diselingi dengan candaan agar tidak terlalu membosankan.


Makanan mereka telah datang. Nayla juga memesan makanan untuk dibawa pulang. Dia memesan beberapa menu sea food. Mereka pun menikmati hidangan lahap, makanan yang masih terasa hangat sangat cocok dengan udara yang dingin. Hingga tidak terasa semuanya hampir habis tak tersisa.


"Mau berdansa?" tawar Aydin saat mendengar suara lagu yang terdengar sangat merdu di indera pendengaran mereka. Terlihat beberapa pasangan yang sedang berdansa di depan pemain musik.


"Aku tidak bisa berdansa, Mas," tolak Nayla.


"Tidak apa-apa, kita pelan-pelan saja. Ayo, kalau nggak dicoba, nggak akan pernah tahu rasanya berdansa bagaimana."


Nayla akhirnya mengikuti ajakan Aydin, meski dia sedikit ragu dengan dirinya. Dia takut akan membuat malu tunangannya itu. Akan tetapi, pria itu berusaha meyakinkan sang pujaan hati.


"Jangan terlalu tegang, santai saja. Kalau kamu tegang akan terasa aneh gerakannya. Rilekskan dulu tubuh kamu," ujar Aydin.


Nayla mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan. Dia berusaha untuk santai, meski agak sulit di tengah keramaian. Apalagi ada beberapa pasang mata yang menatap ke arahnya. Pasti dirinya kini terlihat sangat memalukan karena tidak tahu cara berdansa.


Aydin membimbing Nayla untuk bergerak pelan-pelan. Untungnya gadis itu mudah belajar jadi, tidak sulit baginya berinteraksi dengan musik dan gerakan dansa.


Aydin tersenyum melihatnya. Nayla memang gadis yang luar biasa. Tidak heran jika banyak orang yang menyukainya.


"Bagaimana? Mudah, bukan?" tanya Aydin dengan suara pelan.


"Masih sedikit kaku."


"Tapi, ini sudah luar biasa bagi seorang pemula. Mungkin kamu harus lebih sering datang ke tempat ini."


"Itu maunya kamu datang ke sini," cibir Nayla dengan mendengus.


"Memangnya kamu tidak?" tanya Aydin dengan menatap lekat wajah Nayla yang begitu dekat.


Nayla hanya tersenyum dengan menundukkan kepalanya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2