Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
117. S2 - membantu


__ADS_3

"Bagaimana bisa kami tidak percaya. Saat mata kami melihat kamu berada di sana dengan memakai seragam kerjamu. Di sana juga ada Aydin. Pria yang pernah mengantar kamu pulang ke rumah," ucap Mama Airin dengan rasa kecewa yang teramat dalam.


Orang tua mana yang tidak sedih, saat tahu ternyata anaknya telah menjual diri hanya karena uang. Mereka memang sedang membutuhkannya, tapi bukan berarti harus menghalalkan segala cara.


Airin tidak bisa berkata apa-apa lagi. Memang benar tadi ada Aydin di sana. Pria itu juga yang menolongnya disaat semua orang hanya diam.


"Mulai hari ini, Mama juga tidak mau menerima uang kamu. Mama tidak mau makan uang haram. Kamu nikmati saja uang itu sendiri." Mama Airin segera mematikan panggilannya.


Airin menangis di taman seorang diri. Padahal dia hanya ingin ayahnya sembuh, tapi ternyata pilihannya salah. Gadis itu juga mengakui hal itu, tapi saat itu Airin sangat membutuhkan uang dan dia tidak memiliki pilihan lain.


Airin memutuskan untuk pulang. Gadis itu harus minta maaf kepada orang tuanya karena sudah membuat malu keluarga. Semoga mereka mau memaafkannya. Hanya orang tuanya yang dia miliki saat ini.


*****


Sementara di rumah keluarga Emran. Yasna sedang asyik membaca buku di ruang keluarga. Tiba-tiba Afrin datang dengan hebohnya.


"Bunda coba lihat ini. Bukannya ini Kakak? Dan ini, apa dia mantan pacar Kak Aydin yang diceritakannya kemarin?" tanya Afrin dengan menunjukkan sebuah video yang terjadi di perusahaan.


Yasna memutar Video tersebut. Dia memperhatikan dengan saksama. Wanita itu cukup terkejut melihatnya, dia sampai menggeleng beberapa kali.


"Ya ampun, ini kenapa sampai di posting di media sosial begini? Kasihan dia, pasti sangat malu, apalagi keluarganya. Mereka pasti sangat sedih melihatnya. Ini siapa yang posting?"


"Bunda, kenapa, sih? Dia juga yang salah, kan. Kenapa mau jadi simpanan pria kaya? Jadinya begini. Eh, tapi apa ini nggak berpengaruh sama perusahaan Papa? Kejadiannya, kan, di perusahaan Papa."


"Nggak tahu juga. Coba Bunda tanya sama papa. Mudah-mudahan Papa lagi nggak sibuk." Yasna mencoba menghubungi suaminya.


"Halo, assalamualaikum," ucap Emran dari balik sambungan telepon.


"Waalaikumsalam, Mas, aku baru saja melihat video yang terjadi di perusahaan. Apa mereka tidak apa-apa?"


"Kenapa kamu khawatir pada mereka, Sayang. Kamu jangan terlalu peduli pada orang lain. Mereka baik-baik saja."


"Aku khawatir juga sama kamu. Apa kejadian tadi bisa berpengaruh pada perusahaan, Mas? Lokasi kejadiannya di sana."


"Insyaallah tidak, Sayang. Si pengunggah juga tidak mengatakan itu kejadiannya di mana. Dia hanya ingin menunjukkan seorang pelakor yang dilabrak istri sah, itu saja," jawab Emran. Dia tidak ingin istrinya terlalu khawatir.


"Iya, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa."


"Amin, sebaiknya kamu istirahat jangan terlalu berpikir tentang masalah orang lain. Pasti Afrin yang ngasih tahu kamu. Anak itu memang selalu membuat keributan," gerutu Emran.


"Tidak, Mas. Aku tadi lihat sendiri. Ya sudah aku mau istirahat dulu. Mas juga jangan terlalu capek kerjanya." Yasna mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin Emran menyalahkan Afrin dan berakhir menghukumnya dengan memotong uang saku.


"Iya, assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam."


"Bagaimana Bunda?" tanya Afrin setelah Yasna menutup panggilan.


"Insyaallah, tidak, Sayang karena si pengunggah tidak menyebutkan nama perusahaan.Mudah-mudahan juga tidak ada yang tahu itu lokasinya di mana."


"Syukurlah kalau begitu, tapi bagaimana nasib mantan pacarnya Kak Aydin, Bunda?"


"Nggak tahu, Bunda tanya sama papa malah diomelin. Nggak boleh ikut campur sama urusan orang lain."


Afrin terkikik geli, dia sangat tahu bagaimana papanya yang tidak suka ada yang bergosip, terutama keluarganya.


"Kita tanyakan saja pada Kak Aydin."


"Sudah, kamu ini. Jangan ganggu kakakmu. Dia lagi kerja, nanti saja kalau dia sudah pulang."


*****


Saat jam pulang kerja. Aydin mencari keberadaan Airin karena sebelumnya gadis itu mengatakan jika akan menunggunya di depan perusahaan. Namun, dia tak juga menemukan keberadaannya. Pria itu memutuskan untuk menelepon gadis itu, tapi sayang ponselnya kembali tidak aktif.


Aydin berpikir, apa mungkin ada hubungannya dengan video gadis itu yang sudah tersebar di media sosial? Karena tak juga menemukannya. Aydin memutuskan untuk pulang, dia juga sudah sangat lelah.


Saat dalam perjalanan pulang, Aydin melihat sebuah mobil berhenti di pinggir jalan. sepertinya sedang mogok. Dia pun turun dari motornya, berniat membantu orang tersebut.


Gadis itu segera menoleh dan dia sangat terkejut melihat pria yang ada di depannya ini.


"Nayla!"


"Pak Aydin."


Bukan hanya Nayla yang terkejut, tapi Aydin juga. Dia tidak menyangka, ternyata gadis itu adalah Nayla. Sungguh kebetulan yang tidak diduga, pria itu juga ingin bertemu dengannya.


"Mobil kamu mogok?" tanya Aydin setelah menguasai keadaan dan mencoba terlihat biasa saja.


"Iya, Pak. nggak tahu ini ada masalah apa dengan mesinnya. Saya juga kurang mengerti tentang mobil."


"Boleh aku lihat sebentar?"


"Boleh, Pak. Silakan." Nayla segera menyingkir memberi tempat untuk Aydin agar memperbaikinya.


"Apa aku setua itu? Sampai kamu memanggilku Pak?"


Nayla menggaruk pelipisnya, dia bingung harus memanggil apa.

__ADS_1


"Panggil Aydin saja," sahut Aydin yang melihat kebingungan di wajah Nayla.


"Rasanya nggak enak kalau panggil nama. Panggil Mas saja."


Aydin teringat Airin juga mengatakan hal yang sama saat pertama kali berkenalan. Pria itu berharap Nayla tidak sama seperti mantannya itu.


Aydin mulai mengotak-atik mesin mobil. Cukup lama dan akhirnya selesai juga.


"Coba kamu nyalakan mobilnya!" perintah Aydin.


Nayla segera menaiki mobilnya dan mencoba menghidupkan mobil dan ternyata berhasil. Gadis itu merasa lega, dia tidak harus berlama-lama di tempat ini berdua dengan Aydin. Hal yang membuat kinerja jantungnya tidak baik.


Nayla akui, Aydin sangat tampan dan berkharisma, tapi gadis itu sadar diri siapa dirinya. Mereka sangat jauh berbeda. Dia tidak mau mempermalukan diri mendekati pria seperti Aydin.


"Terima kasih, Mas. Sudah mau menbantu," ucap Nayla setelah kembali turun.


"Sama-sama, itu hanya bantuan kecil. Lebih baik kamu pulang, sebentar lagi petang. Tidak baik seorang gadis ada di jalan seperti ini."


"Iya, Mas, terima kasih. Saya pamit dulu." Nayla segera berbalik menuju mobilnya. Namun Aydin mencegahnya.


"Tunggu, aku minta maaf karena sudah mengucapkan kata-kata kasar kemarin," ucap Aydin dengan nada menyesal.


"Tidak apa-apa, Mas. Saya juga sudah melupakannya. Semuanya sudah berlalu."


"Terima kasih sudah memaafkanku."


"Iya, sama-sama, saya permisi. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, hati-hati di jalan."


Nayla segera melajukan mobilnya, meninggalkan Aydin yang masih berdiri di samping motornya.


Aydin merasa lega, dia sudah meminta maaf. Pria itu tidak mengharapkan lebih dari Nayla. Dia cukup tahu diri, gadis itu terlalu baik untuknya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2