Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
182. S2 - Emran kecewa


__ADS_3

Malam itu tidak seorang pun bisa tidur dengan nyenyak. Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Memikirkan bagaimana nasib menantu rumah ini selanjutnya. Bahkan Rani yang seorang asisten rumah tangga, juga ikut sedih, saat mendengar majikannya itu menderita sakit yang begitu ganas.


"Bunda, sedang apa?" tanya Emran saat melihat Yasna sedang meminum sesuatu.


Tadi Emran tidak mendapati sang istri di sampingnya. Dia pun berinisiatif mencarinya dan ternyata ada di dapur.


"Tidak, Bunda nggak ngapa-ngapain," kilah Yasna dengan menyembunyikan sesuatu dibalik tubuhnya.


"Apa itu, Bunda?" tanya Emran dengan mencoba melihat sesuatu yang disembunyikan Yasna.


"Bukan apa-apa."


"Papa mau lihat."


Yasna menggeleng. Emran segera merebut paksa apa yang dipegang oleh istrinya. Saat melihatnya, emran menyipitkan mata. Ternyata sebuah obat.


"Obat apa ini, Bunda?


Yasna diam, tidak mau menjawab. Lebih tepatnya, tidak berani. Dia takut suaminya marah setelah tahu itu obat apa.


"Bunda, obat apa ini?" tanya Emran lagi.


"Obat tidur." Yasna terpaksa menjawabnya karena sang suami terus memaksa.


Emran terkejut. Awalnya dia berpikir itu hanya sebuah vitamin, ternyata obat tidur. Untuk apa istrinya itu meminumnya? Apa selama ini Yasna sulit tidur dan pria itu tidak tahu apa pun?


"Kenapa bunda meminumnya? Jangan bilang kalau Bunda tidak bisa tidur?" tanya Emran dengan memandang istrinya yang menunduk.


Yasna hanya mengangguk sebagai jawaban. Wanita itu tidak punya


"Sejak kapan, Bunda, meminumnya?"


"Enam bulan yang lalu."


"Enam bulan! Jadi selama enam bulan, Bunda, meminumnya?" tanya Emran dengan menaikkan sedikit nada bicaranya.


Meski merasa takut. Yasna tetap mengangguk.


"Berarti Bunda meminum obat ini sejak Aydin menikah?" tanya Emran. "Aku tidak tahu, apa alasan Bunda meminum obat ini, tapi tidakkah Papa cukup untuk menjadi tempat keluh kesah Bunda? Sampai Bunda harus meminum obat tidur?"

__ADS_1


Yasna diam, tidak mengeluarkan satu kata pun. Entahlah, saat itu yang ada dalam pikirannya hanya bisa tidur dengan tenang dan obat tidur adalah satu-satunya jalan baginya saat itu.


"Papa kecewa sama Bunda," sahut Emran dan berlalu meninggalkan istrinya yang masih menggenggam obat tidur itu.


Setelah kepergian Emran. Yasna masih berdiam diri dengan memandang obat tidur, yang ada di telapak tangannya. Sebenarnya dia ingin menyusul sang suami, tetapi dia takut jika suaminya marah padanya.


Beberapa menit, akhirnya dia memutuskan untuk ke kamar. Saat membuka pintu, wanita itu melihat suaminya yang ternyata sudah tidur atau mungkin pura-pura tidur dengan membelakangi dirinya.


Yasna merebahkan tubuhnya dan memakai selimut. Dipandangnya punggung sang suami, ingin sekali tangan itu memeluk. Namun, dia tidak memiliki keberanian sebesar itu. Akhirnya wanita itu memilih untuk tidur.


Tidak perlu waktu lama akhirnya wanita itu memasuki alam mimpi, karena memang sebelumnya Yasna sudah minum obat tidur, sebelum sang suami memergokinya.


Emran yang mendengar tarikan nafas yang beraturan, sudah pasti istrinya itu tertidur. Pria itu membalikkan tubuhnya. Mencoba melihat wajah sang istri dari dekat. Dia tidak marah pada Yasna. Hanya saja dia kecewa karena obat tidur lebih dia butuhkan daripada dirinya


*****


Keesokan paginya Yasna menyiapkan sarapan dengan dibantu oleh Rani. Sedangkan Nayla hanya duduk. Dia tidak diperbolehkan oleh mertuanya untuk bekerja. Bukan hanya karena penyakit Nayla, tetapi juga karena perutnya yang semakin membesar.


Wanita itu tidak tega melihat menantunya yang bergerak dengan susah payah. Yasna takut apa yang dulu pernah dia alami akan terjadi pada Nayla. Meski berusaha menolak, nyatanya rasa trauma itu masih ada.


Saat sarapan tiba, semua orang berkumpul dan segera makan dalam diam. Nayla merasa bersalah karena sepertinya semua orang sedang sedih. Acara semalam gagal karena dia dan kini tidak ada yang bersuara sedikit pun.


"Kamu jangan merasa bersalah. Ini bukan karena kamu, percaya sama aku. Bunda lagi berantem sama papa," bisik Aydin pada Nayla yang tidak bisa didengar oleh siapa pun kecuali wanita itu sendiri.


Nayla langsung menatap sang suami. Seolah bertanya, apa benar yang dikatakan Aydin, jika kedua mertuanya sedang bertengkar?


"Melihat bagaimana bunda selama ini selalu sabar menghadapi semua orang, itu sudah pasti. Kamu lihat, ya!" bisik Aydin lagi.


Pria itu menegakkan tubuhnya dan berucap, "Bunda, kalau Papa minta jatah itu sebaiknya dikasih jadi ngambek, kan."


"Apa sih kamu, Kak. Ngomong sembarangan," kilah Yasna dengan melototkan matanya


Terlalu memalukan membahas seperti ini dengan anaknya. Jika itu Fazilah, pasti Yasna akan menimpali, tetapi ini putranya. Tidak mungkin wanita itu membalas.


"Enggak usah ngeles, aku tahu kalau Bunda sama Papa lagi bertengkar. Apalagi coba kalau bukan soal itu."


"Sok tahu kamu," sahut Yasna.


Sementara Emran tetap melanjutkan makannya. Pria itu diam menikmati sarapannya. Dia masih marah pada Nayla, lebih tepatnya kecewa.

__ADS_1


"Kamu lihat, kan, Sayang. Papa sama sekali tidak menanggapi. Itu berarti benar, mereka sedang bertengkar, biasanya papa akan membela bundq apa pun kesalahannya," bisik Aydin lagi.


Nayla hanya mengangguk. Memang benar apa yang dikatakan suaminya. Papa memang selalu membela bunda jika ada mengejek wanita itu. Namun. pria itu hanya diam. Dia jadi berpikir, bagaimana jika dirinya yang bertengkar dengan sang suami.


"Papa sudah selesai. Papa berangkat dulu," pamit Emran dengan segera beranjak dari tempat duduknya, tanpa berpamitan pada sang istri.


Yasna memandang punggung suaminya. Dalam hati dia bertanya. Apa kesalahannya begitu besar? Hingga Emran berbuat seperti itu di depan anak-anaknya.


Wanita itu memang mengaku bersalah, tetapi dia tidak suka menunjukkan pertengkarannya di depan anak-anak. Itu sama saja mengajarkan pada mereka tentang perilaku orang tuanya yang tidak baik.


Yasna membuang nafas pelan. Setelah itu melanjutkan sarapannya. Wanita itu tidak suka seperti ini. Jika Emran marah, dia pun bisa marah.


"Bunda, nggak kejar Papa?" tanya Afrin.


"Kenapa dikejar? Papa 'kan mau berangkat kerja," jawab Yasna membuat Afrin dan Aydin semakin bingung dengan kedua orangtuanya.


"Kamu nggak kerja, Kak?" tanya Yasna mengalihkan pembicaraan.


"Tidak, Bunda."


"Kenapa tidak kerja, Mas?" tanya Nayla dengan memandang sang suami.


"Aku mau nemenin kamu, Sayang."


"Aku tidak apa-apa, Mas."


"Nay, maaf bukannya Bunda mau ikut campur, tapi apa tidak sebaiknya kalian tinggal di sini lagi. Biar kamu ada yang nemenin. Meski Bunda tidak ada di rumah, masih ada Rani. Ada Afrin juga setelah dia pulang sekolah," ujar Yasna.


Wanita itu berpikir jika Nayla di sini, dia tidak akan selalu kepikiran tentang keadaan menantunya. Yasna bisa melihat sendiri keseharian Nayla.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2