Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
180. S2 - Kebersamaan yang sederhana


__ADS_3

"Loh, makanannya mau dibawa ke mana, Rani?" tanya Yasna saat memasuki ruang makan bersama dengan Emran. Dia melihat Rani membawa semua makanan ke samping rumah.


"Ini, Bu. Pak Aydin mau makan di taman samping, sekalian mau buat api unggun," jawab Rani.


"Jadi ceritanya, dia mau romantis-romantisan! Tumben ngajak kita?" tanya yasna pada suaminya.


"Biarkan saja. Ayo, kita lihat! Dia mau buat apa?" ajak Emran. "Memang di rumah kita ada kayu bakar?" tanyak Emran, sambil berjalan merangkul pinggang istrinya.


"Aku juga tidak tahu. Kita 'kan tidak pernah buat api unggun," jawab Yasna.


Emran dan Yasna berjalan menuju tempat di mana anak-anaknya berada. Sudah lama mereka tidak mengadakan acara berkumpul seperti ini. Terakhir kali, saat merayakan kelulusan Aydin waktu SMP karena setelahnya anak-anak bertekad menutupi identitas mereka.


*****


"Kakak, dapat kayu bakar dari mana?" tanya Afrin saat melihat kakaknya datang dengan membawa banyak kayu dan dibantu Pak Hari.


"Pak Hari yang beli, entah beli di mana," jawab Aydin.


"Di perempatan depan, Non," jawab Hari sebelum Afrin bertanya.


Gadis itu mengangguk dan kembali membantu Nayla dan Rani menyiapkan makanan. Dia sangat senang dengan ide Aydin dengan membuat acara ini


"Kalian buat apa ini?" tanya Yasna begitu melihat Aydin menata api unggun dengan Hari. Sementara Nayla dan Afrin membantu Rani menata makanan di atas tikar.


"Kak Aydin ngajak kita renungan malam, Bunda," canda Afrin membuat Aydin mendengus.


"Kalau kamu nggak mau ikut, ya udah, sana! Pakai ngejek segala," sahut Aydin.


"Jangan dong, Kak. Aku 'kan juga mau romantis-romantisan. Eh, aku sama siapa dong?" tanya Afrin yang baru sadar jika dirinya sendiri. Sementara Kakak dan kedua orang tuanya berpasangan. "Mbak Rani, sini saja temani aku. Masa aku lihat mereka mesra-mesraan sendirian."


"Iya, Mbak Rani, temenin dia. Kasihan nanti jadi jomblo ngenes," sahut Aydin membuat Afrin mencebikkan bibirnya. Sang kakak memang paling jago jika untuk menyindir.


"Ayo, kita makan dulu!" ajak Nayla.


"Pak Hari, ayo, sini! Kita makan sama-sama," ajak Aydin.

__ADS_1


"Tidak bisa, Tuan. Saya harus segera pulang. Terima kasih atas tawarannya. Saya pamit, assalamualaikum," ucap Hari.


"Waalaikumsalam."


Mereka semua menikmati makan malam sambil bercengkrama dan bercanda. Banyak sekali yang menjadi bahan obrolan mereka. Terutama kecerewetan Afrin yang sangat berguna disaat seperti ini dan Aydin mengakui hal itu.


Setelah makan malam selesai, Aydin bertugas menyalakan api unggun. Semua orang duduk melingkar berdampingan dengan pasangan mereka.


Begitupun dengan Emran dan Yasna. Hanya tinggal Afrin dan Rani sebagai penonton. Meski sempat kesal, tetapi kedua Gadis itu menikmati acara malam ini.


"Tunggu sebentar, aku ambilin gitar. Kita nyanyi sama-sama." Afrin berlari ke dalam rumah mengambil sebuah gitar. Tidak lama dia kembali dan menyerahkan alat musik itu, kepada kakaknya untuk dimainkan dan mereka bernyanyi bersama.


Lagu "Kupilih Hatimu" dari Andhika Pratama dan Ussy. Menjadi lagu pertama yang mereka nyanyikan.



Bait demi bait dinyanyikan oleh Aydin dengan penuh penghayatan. Hingga tidak terasa pria itu meneteskan air mata. Bukan hanya dia yang menangis, tetapi Nayla juga ikut menangis mendengar lagu yang dinyanyikan oleh sang suami. Wanita itu tidak menyangka bisa sedih disaat masih bisa duduk di samping suaminya.


Setelah lagu selesai, Afrin dan yang lainnya bertepuk tangan. Mereka kagum pada suara Aydin yang begitu merdu. Apalagi dengan penghayatannya yang mampu membuat mereka ikut terbuai olehnya. Bahkan Yasna dan Afrin yang tidak tahu apa pun ikut meneteskan air matanya.


Aydin tersenyum menanggapi. Begitu pun dengan Nayla yang begitu senang mendengar lagu yang dinyanyikan sang suami. Meski dia sedih, tetapi dia sangat bahagia, masih ada di sini saat ini.


"Terima kasih, Mas. Lagunya bagus sekali," ucap Nayla dengan tersenyum.


"Jadi lagunya aja yang bagus? Suaraku nggak bagus?"


Nayla tersenyum mendengar pertanyaan dari sang suami dan berkata, "Justru karena kamu yang nyanyiin, lagunya terdengar sangat indah. Melebihi Andhika Pratama dan Ussy."


Mereka tertawa bersama. Hal sederhana yang mampu membuat dunia terasa indah. Memang seperti inilah yang Nayla suka. Bahagia tidak harus sesuatu yang mewah dan mahal. Semua bisa dilakukan di mana pun dan kapan pun.


"Kamu sudah pandai berbohong, ya!" ucap Aydin sambil mencubit hidung Nayla. "Tetaplah di sisiku. Jangan pernah meninggalkanku. Aku tidak bisa bertahan hidup tanpamu di sini," bisik Aydin yang tidak bisa didengar oleh siapa pun kecuali Nayla.


Tubuh wanita itu menegang. Bagaimana bisa disaat seperti ini, sang suami mengatakan hal seperti itu? Jika Nayla belum mengetahui apa pun tentang penyakitnya. Pasti wanita itu akan mengiyakan apa yang dikatakan sang suami, tetapi dia tak bisa, sekarang semua berbeda. Jangankan meminta waktu untuk bersama dengan keluarganya selamanya. Tuhan memberinya waktu untuk bisa melihat wajah anaknya saja, Nayla akan sangat bersyukur.


"Ayo, nyanyi lagi, Kak!" seru Afrin membuyarkan lamunan Nayla.

__ADS_1


"Iya, Mas. Ayo, nyanyi lagi." Nayla mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


Aydin pun terpaksa bernyanyi kembali. Sungguh malam ini mereka begitu berbahagia. Hanya acara berkumpul keluarga yang sederhana. Namun, justru hal itu membuat semua orang senang.


Nayla mengusap perutnya dan berkata dalam hati. 'Sayang, Mama bisa pergi dengan tenang dengan menitipkan kamu bersama dengan keluarga ini. Keluarga yang penuh cinta tanpa meminta imbalan apa pun. Mereka orang-orang yang baik dan kamu harus bersyukur karena ada darah mereka yang mengalir dalam tubuh kamu. Akan Mama pastikan jika kamu memiliki ibu sambung yang luar biasa seperti Bunda Yasna.'


Tiba-tiba Nayla merasa dadanya panas seperti terbakar. Dia mencoba untuk terlihat biasa saja. Wanita itu tidak ingin menghancurkan acara malam ini.


"Mas, aku mau ke toilet sebentar," ucap Nayla yang diangguki Aydin.


Sementara sang istri masuk ke rumah. Aydin kembali melanjutkan nyanyiannya. Hingga satu lagu telah selesai. Namun, Nayla tak kunjung kembali.


"Nayla kok lama?" tanya Yasna.


"Mungkin sakit perut, Bunda," sahut Afrin.


Aydin yang teringat sesuatu, segera berlari memasuki rumah dan mencari keberadaan sang istri. Tempat pertama yang dituju, tentu adalah kamarnya


Yasna yang melihat wajah lutranya yang begitu khawatir, segera mengikutinya. Dia yakin telah terjadi sesuatu. Semua orang pun ikut berlari mengikuti Aydin. Mereka penasaran, sebenarnya ada apa dengan Nayla?


Begitu sampai di depan kamar, segera Afrin masuk dan mencari keberadaan sang istri.


"Sayang, kamu ada di dalam? Kamu baik-baik saja, kan?" teriak Aydin di depan pintu kamar mandi sambil berusaha membuka pintu yang ternyata dikunci dari dalam.


"Sayang! Buka pintunya!" teriak Aydin lagi. Namun, Nayla masih diam.


"Didobrak saja, Din," ucap Yasna yang juga khawatir.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2