Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
165. S2 - Harus sabar


__ADS_3

"Bunda, aku mau Panggil Afrin dulu, ya?" ucap Nayla yang akan beranjak.


"Iya, sama temannya juga."


"Ada temannya Afrin?"


"Iya, semalam menginap. Katanya mereka ada tugas kelompok gitu."


"Aku panggil afrin dulu." Nayla berlalu meninggalkan mertua dan suaminya.


Setelah Nayla tidak terlihat. Yasna segera mendekati Aydin dan bertanya. Dia ingin tahu, sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa menantunya itu terlihat aneh?


"Ada apa dengan istrimu? Kenapa dia seperti itu?"


"Aku juga tidak tahu, Bunda. Pagi-pagi dia nangis-nangis, terus habis itu senyum senyum seperti sekarang. Tadi aku juga terkejut melihat dia berdandan seperti tadi. Meskipun terlihat cantik, tapi seperti bukan dirinya."


"Nayla nangis kenapa? Apa karena dia datang bulan, hingga membuat perutnya sakit lagi?" tanya Yasna yang khawatir terjadi sesuatu pada menantunya


"Bukan, Bunda. Nayla nangis karena dia datang bulan, itu berarti dia tidak hamil. Dia sudah sangat berharap sebelumnya, tapi tadi pagi dia kecewa karena tamu bulanannya datang."


"Oh, jadi, dia nangis karena belum hamil?"


"Iya, Bunda."


Yasna sangat mengerti bagaimana perasaan Nayla karena dia seorang wanita, yang tidak akan pernah bisa lagi merasakan kehamilan. Wanita itu sangat tahu betapa kecewanya sang menantu, kala Tuhan belum memberinya kepercayaan.


Dulu dia sangat menunggu kehadiran janin. Akan tetapi, Tuhan mengambilnya kembali dengan cara yang sangat menyakitkan, tetapi dibalik itu, Yasna bersyukur karena Tuhan sudah memberinya keluarga yang begitu mencintai dan menyayanginya.


"Semua itu, kan, rezeki dari Allah. Kamu harus sabar, Insya Allah kalau sudah waktunya, Tuhan pasti akan memberikan apa yang kalian inginkan," ujar Yasna.


Hanya kata-kata menenangkan yang bisa dia katakan. Tidak lupa juga doa untuk anak dan menantu, di setiap sujudnya.


"Iya, Bunda. Aku juga bilang seperti itu padanya."


"Mudah-mudahan dia baik-baik saja. Jangan ada lagi wanita yang bernasib sama seperti Bunda."


"Bunda jangan seperti itu. Kami juga anak-anak Bunda."


"Iya, justru itu, Bunda sangat bersyukur bisa memiliki kalian."


Aydin segera memeluk Yasna. Dia tahu rasanya akan berbeda jika kita memiliki anak kandung. Pria itu tidak marah akan kata-kata Yasna karena saat ini, posisinya juga dia seorang laki-laki yang ingin menjadi ayah kandung bukan Ayah sambung.


Akan tetapi, jika nanti Nayla tidak bisa memiliki anak pun, tidak masalah. Aydin tidak akan keberatan jika mereka harus mengadopsi seorang anak. Dia akan tetap menyayangi anak itu seperti yang Nayla lakukan padanya dan Afrin.


"Ada apa, ini? Kenapa pagi-pagi kamu meluk istri Papa? tanya Emran yang baru saja datang.

__ADS_1


Pria itu sebenarnya sudah mendengar pembicaraan mereka, hanya saja dia ingin mengalihkan pembicaraan, agar tidak ada yang sedih di keluarga ini. Apalagi ini masih pagi.


"Apa, sih, Papa. Dia juga bundaku."


"Tetap saja tidak boleh. Kalau mau peluk, sana peluk saja istrimu. Sudah punya istri juga. Kenapa malah peluk istri Papa?"


"Astaga, Bunda! Kenapa Bunda bisa memiliki suami seperti dia?" gerutu Aydin membuat Yasna tertawa.


"Kakak, dia juga Papamu," sela Yasna.


"Nanti ditukar tambah saja, Bunda."


"Apaan kamu enak saja main tukar-tambah. Kamu saja yang di tukar tambah!" kilah Emran.


"Sudah, ayo, kita duduk! Waktunya sarapan," potong Yasna. Kalau tidak akan semakin panjang perdebatan antara papa dan anak ini.


"Selamat pagi," sapa Afrin yang baru saja datang bersama Nayla dan Nuri.


"Selamat pagi, Sayang," sahut Yasna.


"Kakak apa kabar? Sudah dua minggu nggak ke sini."


"Sibuk," jawab Aydin singkat.


"Kamu itu masih kecil, sok tahu banget. Memang kamu tahu caranya bikin anak?" tanya Aydin.


"Nggak tahu. Biasanya kalau ada pengantin baru, orang tua biasa ngomong begini, banyak-banyak bikin anak Mumpung masih muda, begitu."


Nayla yang mendengar kata anak menjadi sedih kembali. Yasna tidak sengaja melihat ke arah menantunya, segera menghentikan ucapan mereka.


"Sudah, sudah, ayo, kita makan!" sela Yasna. Dia memperhatikan wajah menantunya yang tiba-tiba sedih. Wanita itu tahu kalau Nayla sedang memikirkan kata-kata afrin.


"Nay, bunda masakin udang buat kamu, makan yang banyak, ya!" Yasna memindahkan udang ke dekat Nayla.


"Masakan kesukaan Aydin mana, Bunda? Masa Nayla doang yang dibuatin?" tanya Aydin dengan sara yang sengaja dibuat seperti orang merajuk.


"Bukannya kamu pemakan segala? Tinggal pilih saja mau yang mana," jawab Yasna membuat Aydin mendengus.


"Wah, terima kasih, Bunda," ucap Nayla. "Bukannya Bunda alergi udang?"


"Bunda alergi saat memakannya. Kalau masak nggak pa-pa, yang tadi nyicipin juga Rani. Bunda nggak tahu itu rasanya bagaimana, mudah-mudahan enak."


"Aku coba, ya, Bunda."


"Iya."

__ADS_1


Nayla memasukkan satu ekor udang ke dalam mulutnya. Dia melebarkan matanya, mencoba menikmati sensasi bumbu yang membaluri udang. Rasanya begitu nikmat, padahal sebelumnya wanita itu agak ragu saat melihat tampilannya.


"Wah, ini enak sekali! Belum pernah aku merasakan yang seperti ini!" seru Nayla.


"Kamu ini, bisa saja."


"Nanti ajarin aku resepnya, ya, Bunda. Aku mau coba nanti masak di rumah."


"Iya, nanti Bunda kasih tahu. Makannya habiskan dulu."


"Iya, Bunda," sahut Nayla. "Mas mau coba udangnya?"


"Tidak perlu, itu semua buat kamu saja, Sayang," jawab Aydin. "Aku pemakan segala jadi, bisa makan apa saja."


"Kak, aku mau coba, boleh nggak?" pinta Afrin.


"Boleh, ambil saja." Nayla menggeser piring yang berisi udang agar lebih dekat dengan Afrin.


"Nuri, silakan saja dimakan. Nggak usah sungkan, anggap saja rumah sendiri," ucap Yasna pada sahabat putrinya karena sedari tadi, gadis itu hanya diam.


"Terima kasih, Bunda. Saya sudah ambil, kok," ucap Nuri sambil memperlihatkan piringnya.


Yasna mengangguk sambil tersenyum. Mereka semua makan dengan lahap. Sesekali berbincang dan tertawa. Tanpa seorang pun ketahui Nuri sedari tadi curi-curi pandang ke arah Aydin. Rasa kagum gadis itu pada kakak sahabatnya semakin bertambah. Apalagi saat melihat bagaimana pria itu memperlakukan istrinya.


Nayla tanpa sengaja melihat ke arah Nuri yang sesekali mencuri pandang ke arah suaminya. Dia tahu arti dari pandangan itu bukan pandangan yang biasa melainkan pandangan seorang wanita yang memuja laki-laki.


Sebagai seorang istri, dia tidak rela ada gadis mana pun yang memuja suaminya, tetapi Nayla tidak mungkin marah-marah. Apalagi ini di rumah sang mertua. Gadis itu juga sahabat dari adiknya yang sudah pasti orang baik.


"Nama kamu siapa?" tanya Nayla.


Nuri yang sedang menatap Aydin pun jadi gelagapan. Dia tidak sadar jika sudah memperhatikan suami orang secara berlebihan.


"Nuri, Kak," jawabnya dengan tersenyum.


'Ya Allah, maafkan aku, yang sudah sangat berdosa karena memandang seseorang yang haram untukku. Umi, Abi, maafkan Nuri sudah menambah dosa untuk kalian,' batin Nuri.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2