
Hari-hari, Afrin habiskan di kampus dan di rumah, tidak ada tempat lain yang dia kunjungi selain kedua tempat itu. Gadis itu masih memikirkan langkah apa yang harus ditempuh. Bahkan saat di kelas beberapa kali Afrin ditegur dosen karena tidak fokus padahal dia termasuk mahasiswa yang pandai.
"Kamu mau langsung pulang, Frin?" tanya Zahra, yang ditanya hanya diam melamun. "Afrin ... Afrin," panggil Zahra lagi dengan menepuk bahu sahabatnya itu.
"Eh, iya, Ra. Ada apa?" tanya Afrin gelagapan.
"Kamu kenapa, sih? Beberapa hari ini selalu aja melamun, kamu ada masalah?"
"Bukan hanya masalah, ini sama saja dengan menentukan hidup dan matiku," jawab Afrin sambil menatap ke depan dengan pandangan kosong.
"Kamu bicara apa, sih? Mengerikan sekali pakai bawa-bawa mati!" ucap Zahra bergidik ngeri.
Afrin menghela napas panjang membuat sahabatnya itu menatap dengan intens. Zahra merasa gadis yang ada di sampingnya ini sedang dalam masalah. Dia jadi penasaran, sebenarnya apa yang telah terjadi.
"Khairi, dia akan menggelar pesta pernikahan hari Jumat," jawab Afrin lirih.
"Hari Jumat? Cepet banget! Baru putus sama kamu sudah memutuskan untuk menikah. Memang dia menikah sama siapa?"
"Sama aku."
"Kamu? Kamu nikah kok nggak bilang-bilang?" tanya Zahra. "Eh, bukannya kamu bilang sudah membatalkan rencana pernikahan itu? Bagaimana bisa?"
"Ceritanya itu bikin pusing, aku juga nggak tahu cerita sama kamu mulai dari mana," jawab Afrin dengan menyembunyikan wajahnya di lengan tangannya yang bertumpu pada meja
"Terserah kamu mau mulai dari mana, aku akan dengerin. Kebetulan hari ini restoran lagi tutup jadi, aku libur. Kamu mau bicara di sini atau di mana pun, sepanjang apa pun, aku bisa kok!"
Afrin melihat ke sekeliling, tidak ada satu pun mahasiswa. Akan tetapi, dia tidak ingin bicara di sini. gadis itu tidak ingin ada yang mendengar pembicaraan mereka dan yang lebih penting, Afrin juga butuh suasana yang tenang dan aman.
"Kita pergi saja, yuk! Takut ada yang nguping," ucap Afrin yang diangguki Zahra.
Keduanya meninggalkan kampus. Afrin dan Zahra menaiki mobil, menuju tempat yang menurut mereka nyaman untuk berbicara.
__ADS_1
"Kita mau ke mana, Frin?" tanya Zahra.
"Ke mana, ya? Kamu mau ke mana?" tanya Afrin sambil berpikir. "Bagaimana kalau kita ke kafe saja."
"Terserah kamu, jika tempatnya nyaman, boleh saja."
Afrin pun melajukan mobilnya menuju kafe yang sedikit jauh dari kampus. Mereka tidak ingin ada yang mendengar, apalagi jika orang itu mengenalnya, bisa heboh nanti satu kampus. Tidak berapa lama, akhirnya mereka sampai di sebuah kafe dengan bernuansa classic.
Keduanya turun dan memasuki kafe tersebut tampak beberapa pengunjung yang dinominasi pekerja. Afrin dan Zahra memilih duduk paling pojok, di dekat jendela yang terbuat dari kaca hingga mereka bisa melihat ke luar cafe, begitu pun sebaliknya.Mereka memesan minuman dan beberapa cemilan.
"Jadi, sebenarnya ada apa?" tanya Zahra yang sudah tidak sabar ingin tahu sebenarnya.
"Beberapa hari yang lalu Khairi bersama kedua orang tuanya datang ke rumah. Mereka datang dengan membawa hantaran sekaligus lamaran."
"Serius? Bukannya kamu bilang kamu mau membatalkan acara pernikahan itu?" tanya Zahra dengan suara sedikit keras.
"Ssssttt ... kamu jangan keras-keras ngomongnya," ucap Afrin dengan meletakkan telunjuk di bibirnya.
"Aku memang berencana seperti itu, tapi Khairi ngotot bahwa pilihanku itu, bukan dari dalam hatiku karena itu dia datang melamar."
"Memang benar, kan? Kamu mengambil keputusan hanya karena Vira? Lagipula apa sih kurangnya Khairi? Dia pria yang baik, dia juga cinta banget sama kamu. Saran dariku lebih baik dicintai daripada mencintai."
"Entahlah, aku juga masih bingung. Semua orang sepertinya mendukung dia."
"Karena dia memang pantas didukung," sahut Zahra. "Kamu sudah dapat petunjuk setelah melakukan shalat?"
Afrin menggeleng, gadis itu memang sudah mendapatkan petunjuk. Hanya saja, dia perlu mayakinkan hal itu. Afrin belum ingin berbagi mengenai petunjuk yang didapatnya.
"Lalu, waktu lamaran kemarin kamu jawab apa pada Khairi?"
"Aku tolak, karena itu Khairi tetap menyiapkan acara pernikahan hari Jumat. Dia akan menungguku di sana. Jika aku memang ingin menikah dengannya maka aku harus datang, tapi jika aku sudah tidak mencintainya maka aku tidak perlu datang,"
__ADS_1
"Hari Jumat, berarti tiga hari lagi, dong! Dan kamu belum mendapatkan jawabannya? Ya ampun, aku tuh heran sama kamu. Kamu tuh dalam mata pelajaran pintarnya Masya Allah, tapi kenapa dalam kehidupan dunia harus banyak beristighfar?"
"Kamu memuji apa menghinaku?" tanya Afrin dengan kesal.
"Terserah kamu, menurut kamu seperti apa? Aku mah masa bodo."
Pesanan mereka sudah datang. Zahra lebih memilih menikmati cemilan dan minumannya, daripada harus mendengarkan kata-kata sahabatnya yang membuat kepalanya pusing.
"Frin, itu bukannya Vira?" tanya Zahra saat melihat seorang gadis yang dia kenal memasuki cafe tersebut bersama dengan seorang pria. Mereka terlihat begitu mesra.
Afrin yang sedang menikmati minumannya pun menoleh, ke arah yang ditunjuk oleh Zahra dan benar saja, itu memang Vira dan seorang laki-laki yang tidak mereka kenal. Gadis itu segera memalingkan wajahnya agar Vira tidak melihatnya.
Begitupun dengan Zahra yang segera menundukkan kepala. Gadis itu buru-buru memakai masker untuk menutupi wajahnya. Saat ini posisi Afrin membelakangi pintu. Jadi, Vira tidak bisa melihat wajahnya, hanya bisa melihat wajah Zahra yang tertutupi oleh masker.
Afrin sedikit deg-degan, dia takut Vira tahu keberadaannya.Zahra yang mengerti pun segera membuka tasnya dan mengambil jaket miliknya untuk diberikan pada sahabatnya itu. Afrin yang mengerti segera memakai jaket itu untuk menutupi tubuhnya.
Sebagai seseorang yang merasa telah dibohongi. Afrin begitu marah, ingin sekali gadis itu membuat perhitungan dengan mantan sahabatnya itu. Bisa-bisanya dia saat ini berjalan dengan seorang pria, saat sebelumnya dia membuat hubungannya dengan Khairi berakhir begitu saja.
Terdengar suara langkah kaki menuju ke meja mereka. Afrin dan Zahra semakin gelisah. Mereka takut jika keberadaannya diketahui oleh Vira. Namun, mereka salah, sepasang manusia itu duduk di belakang Afrin. Sudah pasti kedua gadis itu bisa mendengar jelas apa saja yang dikatakan oleh pasangan itu.
Afrin dan Zahra saling pandang saat pria itu memanggil Vira, Sayang. Dari kedekatan mereka, sepertinya hubungan pasangan itu sudah terjalin lama, tetapi bukankah sebelumnya Vira masih memiliki kekasih? Baru satu bulan yang lalu gadis itu memutuskannya.
"Sayang, bagaimana nasib sahabatmu itu?" tanya si pria.
"Aku tidak tahu, katanya dia membatalkan pernikahannya," jawab Vira. Afrin yakin yang sedang mereka bicarakan adalah dirinya. Memang siapa lagi yang membatalkan pernikahan selain dia.
.
.
.
__ADS_1