Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
153. S2 - Berbicara dengan Airin


__ADS_3

"Pa, sudah buat list teman Papa yang mau diundang nanti?" tanya Yasna pada sang suami.


"Biar Hendra yang buat listnya. Papa juga nggak begitu hafal nama rekan bisnis. Nanti Papa buat list untuk teman-teman dekat saja. Sudah, ayo, kita ke kamar! Kamu pasti juga sudah sangat capek mengurus semua keperluan pernikahan Aydin."


Yasna terlalu bersemangat mengurus semua keperluan pernikahan putranya. Hingga tidak sadar jika tubuhnya juga perlu istirahat. Semua ibu juga akan melakukan hal yang sama. Mereka tidak akan mengeluh saat menyiapkan pesta untuk anak mereka.


Semua keperluan memang disiapkan olah EO, tapi wanita itu setiap hari selalu menghubungi pihak yang menangani pesta, untuk memastikan semua sudah benar-benar terlaksana dengan baik. Dia tidak ingin kekurangan sesuatu apa pun.


"Aku nggak capek. Aku nggak ngapa-ngapain, semuanya sudah dikerjain sama EOnya," jawab Yasna dengan bersandar di dada Emran.


Pria itu mendekap Yasna dengan hangat. Meski tidak muda lagi, dia tetap akan selalu menyayangi sang istri. Tidak sekali pun dia berniat untuk mencari pemuas di luar sana, hal yang selalu ditawarkan rekan bisnisnya kala sedang ada proyek baru, apalagi di luar kota.


Emran bahkan pernah menolak sebuah proyek besar karena rekan bisnisnya itu, memaksa dia untuk menikahi putrinya. Pria itu heran, bagaimana bisa ada seorang ayah yang ingin menikahkan putrinya yang masih muda untuk dinikahi pria berumur seperti dia.


Uang memang membutakan setiap manusia. Hanya mereka yang masih memiliki keyakinan dan hati nurani akan hidup dengan tenang.


"Ke kamar, yuk, Sayang! Nggak enak dilihatin anak-anak nanti," ajak Emran.


"Memangnya kenapa? Kita nggak ngapa-ngapain juga."


"Sudah, ayo!" Emran menarik tangan istrinya menuju ke kamar, tempat mereka menyelam ke alam mimpi. Area ternyaman dalam mencurahkan segala hal. Dari yang sedih sampai bahagia.


Kehidupan seperti ini yang dari dulu diharapkan Yasna. Wanita itu sempat berpikir jika dia tidak akan pernah merasakannya, setelah perpisahannya dengan Zahran, tetapi Tuhan sangat baik padanya dengan mengirim keluarga yang sangat Yasna cintai kini.


*****


"Nay, bagaimana persiapan pernikahanmu?" tanya Rini pada ponakannya itu.


"Nggak tahu, Bik. Semuanya sudah di atur sama EOnya."


"Bibi bisa bantu apa? Bibi jadi nggak enak sama Mbak Yasna. Sama sekali tidak bisa bantu apa-apa."

__ADS_1


Sebagai orang tua yang menggantikan posisi ibunya, Rini merasa seperti orang tidak berguna karena disaat sang keponakan akan menikah, justru dia hanya diam saja. Semua sudah ditangani oleh keluarga Emran, yang membuatnya merasa tidak enak.


"Kata Bunda nggak usah, Bik. Bunda juga nggak ngapa-ngapain," jawab Nayla. "Kata Bunda suruh bantu doa saja, semoga semuanya berjalan dengan lancar."


"Tanpa diminta Bibi selalu berdoa untuk kalian. Lagian kamu kenapa sih mendadak sekali. Dua minggu mungkin untuk kita yang membuat acara sederhana pasti bisa, tapi mereka orang kaya sudah pasti persiapannya sangat banyak. Kenapa tidak sebulan atau dua bulan lagi."


"Tiba-tiba Nayla pengen aja nikah di hari itu, Bi. Itu kan tanggal lahir ibu," jawab Nayla dengan tersenyum.


Rini terdiam. Dia juga ingat jika itu tanggal kelahiran kakaknya. Wanita itu sempat berpikir alasan Nayla memilih itu, tapi Rini takut akan membuka luka di hati gadis itu. Dia yakin pasti ada alasannya kenapa Nayla memilih hari itu. Biarlah itu menjadi rahasianya.


"Bagaimana dengan gaun kamu? Apa semua sudah selesai?" tanya Rini berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Belum, Bi. Tinggal sedikit lagi. Sama baju keluarga ada yang kurang sedikit."


"Apa bisa selesai sampai hari itu tiba?"


"Insya Allah bisa, Bi. Aku juga nggak ngerjain yang lainnya dulu."


"Syukurlah kalau bisa teratasi. Bibi khawatir jika kita mengecewakan keluarga Pak Emran. Mereka sudah keluar banyak uang. Kita sama sekali tidak mengeluarkan sepeser pun."


Nayla mencoba mulai membiasakan diri seperti yang Yasna katakan. Dia harus terbiasa dengan kemewahan yang keluarga itu berikan. Keluarga Emran juga tidak melarang Nayla untuk menyombongkan diri sebagai menantu di keluarga itu, asal gadis itu tahu batasannya.


"Karena itu kamu harus buat pakaian untuk keluarga Aydin dengan memakai kain yang bagus, mahal juga nggak pa-pa. Kalau kamu nggak ada uang, pakai uang Bibi saja."


"Bibi, simpan saja uang itu, aku masih punya. Mengenai baju keluarga, sudah semua, Bi. Hanya nambahin dikit. Kemarin aku sempet ukur tubuh Bunda meskipun beliau sempat menolak, akhirnya mau juga. Kalau mengenai Afrin, aku pakai ukuran tubuh Via. Ukuran tubuh mereka sama."


"Syukurlah, kalau semua sudah beres," ucap Rini. Setidaknya mereka memberi sesuatu, meski tidak seberapa dengan yang mereka keluarkan.


"Iya, Bik," sahut Nayla. "Aku berangkat ke butik dulu, masih harus melanjutkan desain gaunnya."


"Ya sudah, hati-hati."

__ADS_1


"Paman mana, Bik?"


"Masih di belakang. Hari ini, kan, tanggal merah jadi, pamanmu libur. Biasalah dia sibuk dengan ikan-ikannya. Kamu langsung berangkat saja, pamanmu sudah pasti kotor."


"Salam sama paman, Bik. Aku berangkat. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Nayla pergi menggunakan mobilnya. Jujur dalam hati dia merasa tidak percaya diri, saat harus dihadapkan dengan keluarga Aydin yang sangat jauh dengan dirinya, tetapi dalam hatinya dia meyakini jika mereka adalah pilihan yang tepat untuk menjadikan dirinya bagian dari mereka, walaupun Nayla hanya mengenal keluarga itu sebentar. Akan tetapi, gadis itu sangat tahu keluarga Emran orang-orang yang baik meski mereka dari keluarga terpandang.


Saat sedang asik dengan lamunannya. Nayla melihat seseorang yang sudah beberapa hari ini dia cari. Orang itu menaiki sebuah taksi. Dia memutuskan untuk mengikutinya, ternyata taksi tersebut sedang menuju sebuah rumah sakit. Gadis itu tetap mengikuti orang tersebut masuk ke dalam rumah sakit.


Nayla ingin tahu, apa yang dilakukan orang itu di rumah sakit? Lorong demi lorong dia lewati hingga sampai juga di sebuah ruangan yang diketahui Nayla itu adalah ruangan khusus penyakit dalam. Gadis itu tidak bisa mengikutinya masuk, hanya bisa menunggu di luar.


Detik demi detik telah terlewati hingga satu jam lebih. Akhirnya orang itu keluar dan sangat terkejut saat mendapati Nayla berada di sana. Netra mereka saling bertatapan seolah mengatakan ketidaksukaan diantara mereka berdua. Lebih tepatnya orang yang baru saja keluar.


"Hai, ketemu lagi. boleh bicara sebentar?" ucap Nayla pada orang yamg ada di depannya, yang tidak lain adalah Airin.


"Mau apa kamu di sini? Kamu mengikutiku?"


"Saya ingin bicara dengan kamu. Saya tadi tidak sengaja melihatmu di jalan dan mengikuti kamu ke sini," jawab Nayla. Dia tidak perlu berbohong ataupun berbasa-basi dengan Airin karena itu tidaklah penting menurutnya.


Menghadapi gadis seperti Airin tidak perlu berdrama. Nayla cukup tahu jika wanita yang ada di depannya ini tidak menyukai dirinya.


"Ayo, kita keluar!" ajak Airin.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2