Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
41. Lamaran


__ADS_3

"Ayah, Ibu, ada yang ingin aku katakan," ucap Yasna pada orang tuanya.


"Katakan saja, apa ada sesuatu yang penting?" tanya Hilman.


"Aku dan Mas Emran memutuskan akan menikah, apa Ayah dan Ibu setuju?"


"Itu masa depanmu, semua keputusan ada padamu. Ayah dan Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu."


"Jadi Ayah setuju?"


Hilman mengangguk sebagai jawaban, ia senang melihat senyum di wajah sang putri, senyum yang sama, saat dulu Zahran meminangnya. Mudah-mudahan kali ini putrinya tidak akan mengalami kehancuran lagi.


"Apapun yang membuat kamu bahagia, Ayah pasti dukung," jawab Hilman. "Sebenarnya, kemarin Emran sudah bicara dengan Ayah dan Ibu, mengenai hubungan kalian, juga rencana pernikahan yang akan kalian lakukan."


"Kapan Mas Emran ketemu sama Ayah dan Ibu?"


"Kemarin dia datang ke toko kue, dia bicara sama Ayah dan Ibu mengenai rencananya," jawab Alina.


"Kenapa Mas Emran nggak cerita?"


"Kamunya sibuk pendekatan sama calon anak, gimana Emran bisa cerita."


"Ibu mah, ledekin aku terus ... aku mau berangkat, Ibu sama Ayah juga sudah tahu jadi, aku nggak usah cerita."


"Eh, kamu belum cerita pendekatan kamu dan calon anak kamu."


"Nggak perlu, nanti Ibu malah ledekin aku. Aku berangkat, assalamualaikum." Yasna mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan pergi, sebelum ibunya bicara panjang lebar.


"Kamu ini, Bu, suka sekali godain anaknya," tegur Hilman.


"Ibu kan kepo, Yah."


"Seperti anak muda saja bahasanya, kepo segala."


*****


Pagi hari Karina membantu Bik Ima membuat sarapan, Emran datang dari luar, ia baru saja selesai lari pagi di sekitar kompleks.


"Mama dengar, kamu akan menikah dengan Yasna, apa benar?" tanya Karina.


"Insyaallah, Ma. Doakan saja."


"Kapan rencana kalian menikah?"


"Saya harus membicarakan dulu dengan Yasna," jawab Emran. "Kemarin Aydin sama Yasna ngobrol apa saja, Ma?"


"Kamu tanya saja sendiri sama orangnya."


"Kalau Aydin seperti Afrin yang cerewet, sudah pasti aku tanyain dari kemarin, Ma."


"Dia begitu juga nurun dari kamu," cibir Karina.

__ADS_1


"Aku nggak sekaku Aydin."


"Sama saja," sela Karina. "Sudah sana, mandi!"


Emran pergi dari dapur menuju kamar dan menguncinya. Memang, sejak kejadian Tisya waktu itu, Emran selalu mengunci kamarnya, ia tidak ingin terjadi hal seperti itu dikemudian hari.


Hari ini Emran yang mengantar anak-anak, saat mengantar Afrin, ada Yasna di depan gerbang, ia sedang menyambut anak lainnya yang baru datang. Emran memberi kode pada Yasna jika ia ingin bicara sebentar.


"Ada apa, Mas?" tanya Yasna setelah mereka berhadapan.


"Nanti malam, aku akan ke rumahmu bersama mama dan anak-anak."


Yasna masih berusaha mencerna kata-kata Emran.


"Aku akan melamarmu nanti malam." Emran menjelaskan pada Yasna, karena ia melihat wanita itu hanya bengong saja.


"Apa tidak terlalu cepat?"


"Lebih cepat lebih baik, kita bukan anak muda lagi yang harus berpacaran dulu, kan?"


"Apasih, Mas."


"Mungkin habis isya kami sampai. Jangan dandan terlalu cantik, aku takut nggak mau pulang." Emran pergi meninggalkan Yasna yang sedang merona, karena malu sekaligus gugup.


"Sejak kapan Mas Emran pandai menggombal, aku jadi, semakin gugup," gumam Yasna.


"Ekhemm." Deheman seseorang dari belakang membuyarkan lamunan Yasna.


"Nadin! Ngagetin aja sih."


"Siapa yang melamun?"


"Masih mengelak. Ayo, masuk! Waktunya ngajar." Nadin pergi lebih dulu diikuti Yasna.


*****


"Papa, kita mau kemana?" tanya Afrin.


Seperti yang dikatakan Emran tadi pagi, saat ini mereka dalam perjalanan menuju rumah Yasna.


"Kita mau ke rumah Bunda Yasna," jawab Emran.


"Yeay! Ke rumah bunda." Afrin bersorak kegirangan.


"Adek, jangan banyak gerak!" tegur Aydin.


Afrin cemberut mendengar teguran Aydin. Namun, Aydin tak menghiraukannya, ia kembali asyik dengan gamenya.


Setelah menempuh perjalanan empat puluh menit, akhirnya mereka sampai. Rumah sederhana yang menjadi tempat tinggal calon istri Emran dan calon ibu sambung Aydin dan Afrin.


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam, silakan masuk ... maaf, Bu, beginilah gubuk kami," ucap Alina.


"Ibu, terlalu merendah. Bagaimanapun bentuk rumah, itu adalah tempat ternyaman untuk kita tinggali."


"Iya, Anda benar."


"Ini ada sedikit oleh-oleh." Karina menyerahkan sebuah bingkisan pada calon besannya itu.


"Kenapa repot-repot segala?"


"Tidak repot, itu hanya sekedarnya saja."


Yasna keluar dengan membawa beberapa minuman, di atas nampan. Untuk beberapa saat, Emran terpaku dengan penampilan Yasna. Padahal tadi pagi, Emran sudah katakan untuk tidak terlalu cantik, tetapi kenapa sekarang ia tampil cantik, sangat cantik malah, hingga membuat Emran terhipnotis.


Emran masih saja menatap Yasna, membuat wanita itu salah tingkah. Semua orang juga melihatnya, hingga Karina menyenggol lengan anaknya, membuat Emran tersadar, ia melihat sekeliling, ternyata semua orang menatapnya, ia merasa malu, tapi ia berusaha menutupinya.


"Silakan diminum, dicicipi juga kuenya, ini buatan Yasna sendiri," ucap Alina.


"Yasna, bisa buat kue?" tanya Karina.


"Iya, beberapa kali juga bantu saya di toko."


Mereka menikmati hidangan yang di sajikan oleh keluarga Yasna. Emran sedari tadi gelisah, ia bingung mau memulai pembicaraan dari mana. Padahal di rumah tadi, ia sudah belajar berbicara di depan cermin, tetapi saat sudah sampai, semuanya kata-katanya malah hilang.


Emran berusaha untuk tenang, ia akan bicara seadanya saja, tidak perlu basa-basi.


"Maaf, Pak, Bu. Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya ingin menikah dengan putri Bapak dan Ibu, karena itu malam ini saya datang ke sini ingin melamarnya."


"Saya menyerahkan semua keputusan pada Yasna, karena dia yang menjalaninya, tapi saya harap kamu tidak akan menyakitinya. Sudah cukup kesedihan yang selama ini ia alami."


"Saya akan melakukan yang terbaik semampu saya, agar Yasna selalu bahagia, tapi jika saya melakukan kesalahan, Bapak jangan sungkan untuk menegur atau memarahi saya, layaknya Bapak memperlakukan anak sendiri."


"Bagaimana, Nak? Apa kamu mau menerima lamaran Nak Emran?" tanya Alina.


"Saya bersedia, tapi saya punya permintaan," jawab Yasna.


"Permintaan apa? Saya akan berusaha memenuhinya," tanya Emran.


"Saya bukan gadis, usia saya juga tidak muda lagi. Saya tidak ingin ada pesta pernikahan, cukup akad nikah saja, tapi jika memang harus merayakannya, cukup bersama keluarga besar dan kerabat saja, setelah acara akad nikah. Bagaimana, Mas?"


"Saya setuju."


"Alhamdulillah, karena kedua calon pengantin sudah setuju, sekarang kalian harus memakai cincin untuk mengikat, agar semua orang tahu jika kalian sudah ada yang memiliki." Alina mengeluarkan cincin di dalam tas yang ia dapat dari Emran tadi sebelum berangkat.


Karina mengambil cincin yang lebih kecil dan memakaikannya di jari Yasna, begitupun dengan Hilman, ia juga memakaikan cincin di jari Emran.


Semua orang tersenyum menyaksikan Kebahagiaan kedua calon pengantin.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2