Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
174. S2 - Apa sakit?


__ADS_3

Sejak hari itu, Nayla jadi pendiam. Aydin sempat dibuat kebingungan dengan sikap istrinya. Bahkan untuk makan saja wanita itu harus beberapa kali dipaksa. Hari ini tiba-tiba sikap Nayla mulai kembali seperti sebelumnya, meski ada sedikit kegundahan dalam hatinya.


"Mas, ayo, sarapan dulu!" ajak Nayla saat sang suami akan berangkat bekerja.


"Iya, sebentar," sahut Aydin yang masih berada di kamar. Aydin melihat Nayla hari ini sudah rapi, pasti istrinya ingin keluar.


"Kamu mau ke mana, Sayang?" tanya Aydin.


"Aku mau ke butik, Mas. Sudah tiga hari aku tidak ke sana."


"Memangnya kenapa, kalau tidak ke sana? Kan ada Fika dan via yang setiap hari laporan sama kamu."


"Aku juga kangen sama situasi butik, Mas."


"Baiklah, tapi kamu hati-hati. Jangan pergi ke mana-mana sendiri. Ajak Fika atau Via. Aku nggak mau kejadian seperti kemarin terulang lagi."


"Iya, Mas."


"Aku antar kamu dulu, habis itu baru aku ke kantor."


"Memangnya kamu nggak sibuk? Kalau sibuk, aku bisa pergi dengan mobil, kok, Mas"


"Aku pagi ini nggak banyak kerjaan," jawab Aydin yang diangguki Nayla.


Mereka melanjutkan sarapan. Saat sedang menikmati makanan, ponsel dalam tas Nayla berdering. Tertera nama ayahnya di sana, dengan segera wanita itu mengangkatnya.


"Halo, assalamualaikum."


Tanpa menjawab salam dari Nayla, Roni marah-marah begitu saja. Pria itu tengah kehabisan uang.


"Kamu ini bagaimana, sih? Ayah tidak punya uang. Harus berapa kali Ayah ingatkan untuk mengirim uang secepatnya."


"Kan, baru empat hari yang lalu aku transfernya, Yah. Masa sudah habis? Kemarin itu sudah banyak."


"Kamu sama orang tua perhitungan sekali. Pokoknya saya tidak mau tahu. Kamu harus segera transfer!"


Nayla benar-benar geram dengan tingkah ayahnya. Dia sudah menizinkan pria itu menempati rumahnya dan mengirim uang satu minggu sekali, tetapi Roni sama sekali tidak tahu terima kasih. Meski pria itu ayahnya, tetap saja merasa kesal.


"Kemarin sudah aku transfer. Aku, kan, sudah bilang, aku hanya akan mentransfer Ayah satu minggu sekali."


"Tapi uangnya sudah habis, Ayah nggak punya uang sama sekali."

__ADS_1


"Tidak punya uang, itu karena Ayah gunain uangnya buat judi. Aku nggak mau kasih uang kalau hanya untuk melakukan perbuatan haram."


"Kamu itu jangan sok nasehati orang tua."


"Pokoknya aku hanya akan mentransfer untuk makan sehari-hari, selebihnya terserah Ayah mau cari ke mana."


Nayla segera menutup panggilannya dengan kesal Padahal Roni sudah pernah mengatakan jika dia akan berubah. Namun, nyatanya perubahannya hanya untuk sementara.


"Ada apa, sih, Sayang?" tanya Aydin.


"Ayah minta transfer uang lagi. Padahal baru empat hari yang lalu aku mengirim uang," jawab Nayla kesal.


"Biar aku saja yang transfer."


"Tidak usah, Mas. Aku nggak mau kalau sampai kamu transfer ke ayah. Aku sudah memberinya cukup banyak uang untuk selama satu minggu. Ayah saja yang menggunakannya dengan cara yang salah."


"Baiklah, terserah kamu, tapi kalau kamu merasa butuh bantuan kamu harus segera mengatakannya padaku."


"Iya, Mas."


Aydin sebenarnya tidak suka dengan mertuanya, yang suka seenaknya sendiri dan memanfaatkan kebaikan Nayla. Dia sudah pernah memperingati Roni, tetapi pria paruh baya itu tidak menggubrisnya.


Tanpa Aydin ketahui, bahwa sebenarnya Nayla berniat menuju rumah sakit, yang beberapa hari lalu dia datangi. Wanita itu sudah memutuskan untuk memeriksakan dirinya. Nayla sudah siap mengetahui penyakitnya. Mengenai apa yang akan dijalaninya nanti, biarlah waktu yang menjawabnya.


Wanita itu memberhentikan sebuah taksi yang sedang lewat. Segera dia mengatakan tujuannya pada sopir taksi. Telapak tangan Nayla mulai mendingin, padahal dari kemarin wanita itu sudah membulatkan tekadnya, bahwa dia akan menghadapi apa pun yang akan dokter katakan. Namun, saat waktunya tiba, kenapa sekarang dia ragu?


Kegelisahan yang menguasai pikirannya, membuat dia tidak menyadari, bahwa dirinya telah sampai di depan rumah sakit.


"Maaf, Mbak. Sudah sampai," tegur sopir taksi.


"Maaf, Pak. Saya terlalu banyak pikiran."


"Tidak apa-apa."


Nayla membayar sopir taksi dan melangkahkan kakinya menuju ruangan seorang dokter, yang sudah direkomendasikan oleh Dokter Wiwin. Ternyata dokter itu, seorang pria. Sebelumnya Nayla tidak membaca nama dokter yang tertera dalam kertas yang diberi oleh Dokter Wiwin jadi, dia tidak tahu jika dokternya adalah laki-laki. Mau tidak mau, dia harus tetap memeriksakan diri.


Setelah mendaftarkan diri, Nayla diminta untuk menunggu bersama dengan pasien lainnya. Banyak wanita di sana. Dari yang masih muda hingga berumur.


"Sudah berapa kali, datang ke sini?" tanya seorang wanita yang duduk di samping Nayla.


"Ini baru pertama kali, Mbak," jawab Nayla.

__ADS_1


"Berarti belum tahu sakitnya sejauh mana, ya?"


"Iya."


"Mbak sedang hamil?" tanya wanita itu yang dijawab Nayla dengan mengangguk dan tersenyum. "Mudah-mudahan Mbak dan dedek bayinya sehat."


"Amin, terima kasih doanya."


"Iya, sama-sama."


"Mbak sendiri sakit apa?" tanya Nayla yang penasaran.


"Saya sakit kanker payudara."


"Apa terasa sakit, Mbak?" tanya Nayla lagi. Dia ingin tahu banyak tentang penyakit itu. Setidaknya wanita itu harus siap dengan apa pun yang akan terjadi nanti.


"Setiap penyakit, sudah pasti sakit. Kita jatuh sedikit saja, terasa perih. Apalagi penyakit kanker," jawab wanita itu dengan tersenyum.


Nayla sungguh kagum pada wanita yang ada di depannya ini. Di saat keadaannya seperti ini, dia masih bisa tersenyum. Sedangkan dirinya, jangankan senyum, mencoba terlihat baik-baik saja, itu sangat sulit.


"Penyakit saya sudah menyebar ke kelenjar getah bening. Sebenarnya saya sendiri juga sudah menyerah, tetapi suami saya selalu percaya saya bisa melakukan pengobatan jadi, saya melakukannya hanya untuk dia dan keluarga," lanjut wanita itu menjelaskan.


"Sekarang di mana suami, Mbak?"


"Dia sedang mencari minuman. Mbak, kenapa datang sendiri?"


"Sebenarnya suami saya tidak tahu tentang apa yang terjadi pada saya, Mbak," jawab Nayla dengan menunduk dan mata yang berkaca-kaca.


"Kenapa? Kenapa Mbak nggak cerita?"


"Saya takut dengan berita buruk yang dokter katakan kepada saya nanti. Saya takut jika dokter mengatakan harus memilih antara aku dan anakku, sudah pasti suamiku akan memilih untuk menyelamatkanku dan mengorbankan anakku. Sebagai seorang wanita, Mbak sudah pasti mengerti apa yang saya rasakan. Saya sudah menunggunya. Meski usia pernikahan saya baru seumur jagung, tapi saya sangat mengharapkan kehadirannya, jika Tuhan memang harus mengambil nyawaku. Aku rela, asal jangan anakku. Aku tidak akan bisa hidup dengan tenang, jika harus mengorbankan nyawa anakku. Aku akan hidup dalam penyesalan selamanya, karena sebagai seorang ibu aku tidak bisa menyelamatkan nyawa anakku dan lebih mementingkan diriku sendiri," ujar Nayla dengan meneteskan air mata.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2