
Yasna kembali ke taman belakang di mana suami dan anak-anaknya berada.
"Sudah selesai, Bunda? Mana Naylanya?" tanya Emran karena tidak mendapati keberadaan gadis itu.
"Sudah pulang, Pa. Tadi Nayla juga titip salam sama Papa dan kalian. Dia minta maaf nggak bisa pamitan karena terburu-buru. Dia tadi dapat telepon kalau mamanya masuk rumah sakit."
"Masuk rumah sakit? Kenapa, Bun?" tanya Afrin penasaran.
"Nayla juga nggak tahu, dia cuma bilang kalau mungkin penyakit mamanya kambuh, tapi dia nggak bilang sakit apa," jawab Yasna, dia juga khawatir pada Nayla. Saat gadis itu pergi tadi, sepertinya ada sesuatu yang ditutup-tutupi olehnya dan itu membuat Yasna tidak tenang.
"Mudah-mudahan saja semuanya baik-baik saja dan mamanya cepat sembuh," sela Emran.
"Amin, semoga saja, Pa. Padahal Nayla itu anaknya baik. Dia tadi terlihat sangat sedih," ucap Yasna. "Menurut kamu, Nayla gimana, Aydin?"
Yasna ingin tahu pendapat Aydin tentang gadis yang ingin dia jadikan menantu. Wanita itu menatap putranya dengan saksama, berharap pria itu tertarik, tapi semua hanya hayalan Yasna saja.
Aydin sendiri terkejut mendengar pertanyaan dari Yasna. Bagaimana mungkin bundanya bertanya seperti itu? Tanpa dijelaskan pun dia cukup tahu arti dari pertanyaan Yasna.
"Maksud, Bunda, apa sih? Aku nggak tahu lah, aku aja nggak kenal sama dia," kilah Aydin mencoba biasa saja, padahal dalam hati dia sangat jengkel.
"Ya, karena kalian nggak saling kenal. Kenapa nggak pernah coba untuk berkenalan?"
"Nggak perlu, Bunda. Aku nggak minat, aku mau ke dalam dulu." Aydin segera beranjak tanpa menunggu jawaban dari semua orang.
Yasna menghela nafas. Sepertinya akan sangat sulit untuk membujuk Aydin untuk bersama Nayla. Padahal wanita itu sangat berharap pada putranya.
"Sudahlah, Sayang. Kenapa sih kamu mau jodohin Aydin sama Nayla? Gadis itu juga belum tentu mau sama Aydin, laki-laki kaku gitu." Emran mencoba menenangkan Yasna. Pria itu tahu istrinya sedang kecewa karena semua tidak berjalan seperti yang dia inginkan.
"Tapi, Nayla itu wanita yang baik juga sangat sopan. Anaknya juga enak diajak ngobrol, aku suka sama dia."
"Kalau anaknya nggak suka gimana? Kita tidak bisa memaksa mereka, biarkan mereka sendiri yang memilih."
Afrin hanya diam mendengarkan. Dia tidak mau terlalu ikut campur urusan kakaknya, jika Yasna merekomendasikan seseorang mungkin orang itu, memiliki sesuatu yang spesial yang membuat Yasna tertarik. Gadis itu berpikir, pasti kakaknya memiliki kekasih. Hingga membuat pria itu menolak gadis pilihan Yasna, tapi kenapa Aydin tidak pernah bilang?
"Ya sudah, ayo, kita masuk! Sudah waktunya makan siang. Rani tadi bilang makanannya sudah siap," ajak Yasna. "Afrin panggil kakak di kamar, ya?"
"Iya, Bunda."
Mereka berjalan beriringan memasuki rumah menuju ruang makan. Sementara Afrin berbelok menuju ke kamar kakaknya, yang berada di lantai dua. Dia mengetuk pintu beberapa kali. Namun, tak juga terbuka karena kesal Afrin pun mengetuk pintu dengan keras. Pintu terbuka terlihat Aydin sedang kesal.
"Apa, sih, kamu? Ganggu orang saja," gerutu Aydin dengan ketus.
__ADS_1
"Habisnya Kakak dari tadi dipanggil diam saja. Makan siang sudah siap, semuanya nunggu di meja makan, cepat!"
"Iya, sana duluan saja. Kakak mau cuci muka dulu."
"Awas! Jangan lama-lama. Aku sudah lapar."
"Iya, iya, cerewet."
Afrin segera pergi ke meja makan. Sementara Aydin masuk ke kamarnya kembali. Pria itu menenangkan dirinya, agar bisa mengendalikan diri untuk tidak marah-marah jika Yasna, kembali ingin menjodohkannya dengan gadis yang bernama Nayla itu.
"Loh, Kakak mana, Dek?" tanya Yasna.
"Katanya mau cuci muka sebentar, Bun," jawab Afrin.
Tidak lama setelah itu Aydin keluar dan bergabung bersama keluarganya, menikmati makan siang rumah.
Bel rumah berbunyi beberapa kali. Rani bergegas membukakannya dan tidak lama dia kembali lagi.
"Maaf, Bu. di depan ada Bu Vania."
Semua orang saling pandang.
"Sama siapa, Mbak?" tanya Emran.
"Suruh ke dalam saja, Mbak. Biar bisa makan sama-sama. Siapa tahu dia belum makan," ucap Yasna.
"Iya, Bu." Rani segera kembali ke depan lagi, dia akan memanggil Vania.
"Kenapa, sih, Bunda ngundang dia? Sekarang aku jadi, nggak selera makan," sahut Aydin. Dia tidak suka dengan kehadiran Vania, apalagi disaat waktu kebersamaan keluarganya seperti ini.
"Kamu nggak boleh gitu, nanti kedengaran sama orangnya, kan, nggak enak," tegur Yasna.
"Biarin aja, memang aku nggak suka, kok."
"Bagaimanapun dia itu tamu yang harus kita hormati dan kita muliakan. Kalau kita yang bertamu terus nggak di hormati, bagaimana? Pasti kita sakit hati." Yasna mencoba memberi pengertian pada putranya itu. Sekesal apa pun dia pada seseorang, tetap harus saling menghormati.
Aydin hanya bisa diam. Dia tahu kata-katanya terlalu kasar, tapi dia sudah terlanjur kesal kepada Vania. Terutama sikapnya akhir-akhir ini yang seolah-olah dirinya adalah milik wanita itu.
"Selamat siang, semuanya," sapa Vania yang baru datang.
"Siang, Vania. Sini duduk dulu."
__ADS_1
Vania memilih duduk di samping Aydin. Pria itu hanya diam tidak menanggapi sama sekali. Dia asyik dengan makanannya.
"Kamu sudah makan siang, Vania?" tanya Yasna.
"Belum, Tante," jawab Vania dengan tersenyum.
"Kalau begitu, sekalian saja makan di sini. Sebentar, ya," ucap Yasna. "Rani, tolong ambilkan piring satu lagi untuk Vania!"
"Baik, Bu." Rani mengambilkan piring untuk Vania.
Gadis itu langsung makan tanpa rasa malu, sambil sesekali cari perhatian pada semua orang. Namun, sepertinya hanya Yasna yang menanggapinya. Vania tidak patah semangat, dia masih terus berusaha untuk mendapat perhatian Aydin.
"Oh, iya, Din. Kamu hari ini nggak kerja kenapa? Biasanya kamu yang paling rajin kerja?" tanya Vania.
"Kenapa memangnya? Aku juga anak dari pemilik perusahaan itu. Nggak mungkin dipecat juga," jawab Aydin dengan nada ketus.
Vania menahan kekesalannya. Diam-diam tangannya yang berada di bawah meja, mengepal dengan kuat. Dia sudah berusaha bersikap baik kepada Aydin, tapi sepertinya pria itu sangat susah untuk dirayu.
"Afrin kita sudah sudah lama nggak ke mall. Bagaimana kalau siang ini kita jalan-jalan?" ajak Vania.
"Boleh, Kak, sama Bunda juga."
"Nggak bisa, Bunda, kan ...." Yasna tidak melanjutkan kata-katanya, tapi Afrin tahu maksudnya karena memang sudah menjadi kebiasaan Yasna. Dia tidak akan pergi kemanapun jika Emran ada di rumah. Bagi wanita itu saat seperti inilah kebersamaan mereka dan dia tidak ingin melewatkannya.
"Ya ampun, aku lupa, Kak. Aku juga masih ada pekerjaan rumah yang harus aku selesaikan. Besok, tugas itu harus dikumpulkan. Maaf, ya Kak, lain kali saja."
"Tidak apa-apa, kok. Masih ada lain hari, kita bisa jalan-jalan bersama." Vania mencoba tersenyum meski dalam hati dia sangat kesal.
"Makasih Kak atas pengertiannya."
"Sama-sama."
Mereka melanjutkan makannya sambil bercerita. Lebih tepatnya mendengarkan cerita Vania. Gadis itu lebih mendominasi kali ini.
"Aydin ke dalam dulu, mau menyelesaikan pekerjaan yang tertunda tadi." Pria itu segera beranjak menuju kamarnya tak lupa juga dia menguncinya, takut sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi. Kejadian dulu pada papanya, cukup memberi pelajaran padanya jika seorang wanita, bisa saja nekat melakukan apapun untuk keinginannya. Sementara Emran, dia juga memilih ke ruang kerjanya. dia ingin mengecek email yang masuk.
.
.
.
__ADS_1
.
.