
"Kenapa ini sakit sekali, Mas?" tanya Afrin sambil meringis menahan kesakitan di bagian intinya. Suaminya benar-benar membuatnya kesusahan.
"Mana yang sakit, Sayang?" tanya Khairi yang sengaja ingin menggoda istrinya.
"Sudah, aku nggak mau lagi. Ini sakit," rajuk Afrin.
"Yakin?" tanya Khairi dengan tatapan menggoda.
"Kamu mandi sana! Sebentar lagi subuh," ucap Afrin mengalihkan pembicaraan.
"Mandi bareng, yuk!"
"Nggak mau, kamu mandi sana duluan!" tolak Afrin.
"Nggak pa-pa, ayo!" Khairi segera menggendong tubuh istrinya yang dililit dengan selimut.
"Mas!" teriak Afrin karena terkejut dengan apa yang dilakukan suaminya.
Pria itu menurunkan istrinya terlebih dahulu di samping bak mandi kemudian, mengisi bak dengan air hangat.
"Sekarang kamu berendam dulu, biar aku mandi di kamar mandi di kamar sebelah. Aku tahu kamu malu," ucap Khairi sambil mengusap rambut Afrin dan berlalu meninggalkan istrinya di kamar mandi.
Dia pergi ke kamar mandi di kamar tamu. Khairi tersenyum mengingat bagaimana tadi malam. Pria itu juga bersyukur karena dirinya adalah yang pertama bagi Afrin. Tentu saja, siapa yang berani merusak wanita dari keluarga Emran. Sebelum itu terjadi, nasib pria itu pasti berakhir detik itu juga.
Saat Khairi kembali ke kamarnya, dia belum melihat Afrin. Istrinya pasti masih belum selesai mandi. Kamar mereka juga masih berantakan. Pria itu pun segera membersihkan kamarnya, pasti wanita itu masih lelah kalau harus membersihkan semua ini.
"Mas, kenapa dibersihin? Biar aku saja, nanti," ucap Afrin begitu selesai mandi.
"Tidak apa-apa, Sayang. Membersihkan rumah itu bukan hanya tugas seorang istri, tetapi juga suami. Kita harus sama-sama melakukan pekerjaan rumah." Afrin pun membantu suaminya membereskan kamar.
"Habis ini kita sarapan di bawah saja, ya, Sayang! Kalau masak masih lama, aku baru saja telepon koki restoran yang ada di bawah buat masakin pesanan aku jadi, nanti saat kita turun tinggal makan saja. Aku juga ada meeting pagi bersama dengan perusahaan papa."
__ADS_1
"Iya, tidak apa-apa."
*****
"Afrin cara berjalan kamu aneh sekali. Apakah semalam Kak Khairi menghajarmu habis-habisan?" bisik Zahra.
Mandengar pertanyaan dari sahabatnya, sontak membuat Afrin menoleh ke arahnya sambil melotot. Zahra hanya tersenyum. Meski dia belum menikah, tetapi dia cukup tahu, apa yang dilakukan seorang suami istri sampai membuat keduanya kelelahan.
"Kamu bicara apa, sih, Zahra! Sok tahu," kilah Afrin.
"Tapi beneran, kamu jalannya aneh gitu, kayak bebek."
"Emang, jalanku aneh? Ini semua gara-gara Mas Khairi. Awas saja nanti," gerutu Afrin tanpa sadar telah mengatakan rahasianya kepada Zahra, membuat sahabatnya itu tertawa kegelian dan segera menutup mulutnya.
"Kamu, sih, Zahra, kan aku jadi kelepasan."
"Berarti Kak Khairi ganas sekali, ya?"
"Sudah aku bilang jangan bicara lagi." Afrin melotot pada sahabatnya itu.
"Video apa?" tanya Afrin yang tidak mengerti yang dimaksud temannya itu.
"Aku juga lihat, kemarin," ucap mahasiswa lainnya yang berada di sana. beberapa orang juga mendekati mereka.
"Lihat ini!" ucap wanita itu sambil memperlihatkan sebuah video yang ada di ponselnya.
Afrin yang melihat video itu diputar, sangat terkejut. Bagaimana bisa itu terjadi pada sahabatnya? Di dalam video itu terlihat Vira sedang bersama dengan seorang pria yang dilihatnya saat di restoran waktu itu. Yang membuatnya lebih terkejut adalah ternyata pria itu sudah beristri dan istrinya yang menggerebek suaminya bersama dengan Vira di sebuah hotel.
Tampak di video itu sahabatnya itu hanya membungkus tubuhnya dengan selimut. Tanpa dijelaskan pun sudah dipastikan apa yang sudah terjadi di dalam kamar itu. Sudah beberapa hari dia tidak bertemu dengan Vira sejak hari itu. Zahra yang berada di samping Afrin pun sama terkejutnya. Meski dia tidak begitu mengenal Vira.
"Sejak kapan video ini ada?" tanya Afrin.
__ADS_1
"Kemarin sepertinya, aku juga tidak begitu tahu. Aku baru tahunya semalam. Aku mau hubungin kamu juga nggak enak. Sudah malam banget, takut ganggu kamu sama suami kamu," ujar teman Afrin yang buat wajah wanita itu memerah karena malu. Zahra yang tahu sahabatnya salah tingkah segera menyenggol lengannya agar terlihat biasa saja.
"Bisa kirimkan video ini ke nomorku?" pinta Afrin.
"Sebentar, akan aku kirimkan."
Sebuah video masuk kedalam ponsel Afrin.
"Terima kasih, ya!"
"Sama-sama, gue balik dulu." Semua orang akhirnya membubarkan diri.
Afrin kembali melihat video itu. Dia benar-benar tidak mengerti, kenapa sahabatnya itu bisa senekat ini. Memang wanita itu sudah tahu jika Vira sering pergi bersama dengan beberapa pria, tetapi Afrin tidak menyangka jika harus sampai pada hubungan yang terlarang. Dia tidak bisa membayangkan jika temannya itu juga melakukan hal itu bersama dengan pria-pria lainnya. Membayangkan saja sudah membuat ngeri, bagaimana jika itu benar-benar terjadi.
"Afrin, emangnya kamu membuat apa video itu? Kamu jangan ikut campur urusan dia, nanti kamu malah dapat masalah," ucap Zahra mengingatkan. Dia tidak ingin sahabatnya itu mendapat masalah, apalagi dengan wanita seperti Vira yang bisa menghalalkan segala cara.
"Aku juga nggak mau ikut campur, tapi aku kasihan. Bagaimana dengan kedua orangtuanya saat mengetahui hal ini?"
"Bukankah orang tuanya juga sama sepertinya? Maafkan aku Frin, tapi terkadang kita juga harus menerima hal-hal yang buruk sekalipun. Vira melakukan ini semua, pasti ada alasannya. Entah itu benar atau tidak dan jika nanti orang tuanya marah, seharusnya itu tanyakan dulu pada mereka. Apakah mereka sudah benar-benar memperhatikan anaknya dengan baik atau hanya melihat sekilas tanpa mau repot mengurusi kehidupan anaknya dan hanya terima beres saja."
Afrin memikirkan kata-kata Zahra, selama ini orang tua Vira tidak begitu memperhatikan anaknya. Mereka sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing Kadang Afrin berpikir, kenapa kedua orang tua Vira memiliki selingkuhan masing-masing? Padahal mereka bisa mencurahkan kasih sayang satu sama lain daripada harus memberikannya pada selingkuhan dan berakibat buruk pada keluarga mereka.
"Sudahlah, tidak perlu ikut campur dengan urusan mereka. Biar saja mereka selesaikan sendiri. Vira juga sudah dewasa. Dia mengambil keputusan ini, sudah pasti tahu konsekuensinya," ucap Afrin.
"Iya, kamu benar tidak perlu dibahas lagi. Sebentar lagi dosen masuk." Mereka pun kembali sibuk dengan bukunya dan tidak berapa lama dosen mereka memasuki kelas.
Bibirnya mengatakan tidak perlu ikut campur, tetapi tetap saja Afrin masih memikirkan keadaan Vira. Bagaimanapun juga mereka pernah berteman dan melewati suka dan duka bersama di masa putih abu-abu. Mengingat masa itu, dia jadi memikirkan sahbatnya yang kini sudah tenang di alam sana. Pasti Nuri juga sama sedihnya seperti wanita itu saat melihat berita ini.
.
.
__ADS_1
.
.