Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
53. Kecelakaan


__ADS_3

Emran melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia khawatir pada Yasna, padahal istrinya baik-baik saja.


Saat sudah sampai rumah sakit, Emran berlari mencari keberadaan Yasna, ia bertanya kepada beberapa perawat dan segera menuju tempat yang ditunjuk perawat tadi.


"Na!" panggil Emran dari kejauhan, berlari dan segera memeluk Yasna.


"Ada apa, Mas?"


"Kamu nggak pa-pa, Sayang?"


"Aku nggak pa-pa, memangnya aku kenapa?"


"Tidak ... tadi Pak Hari bilang, kalian mau ke rumah sakit jadi, aku khawatir."


'Kenapa aku jadi bod*h begini? Bukankah yang kecelakaan itu Fazilah?' lanjut Emran dalam hati.


"Tadi aku dapat telepon dari Tante Mirna, dia minta aku datang ke rumah sakit. Tante Mirna sedang ke luar kota."


Emran menganggukkan kepalanya. Ia mencoba bersikap tenang, padahal dalam hati ia merutuki kebod*hannya, karena berpikir yang tidak-tidak tentang Yasna.


"Bagaimana keadaan Fazilah?" tanya Emran.


"Masih di dalam, Dokter sedang memeriksanya."


"Ayo, duduk! Jangan mondar-mandir."


Tidak berapa lama pintu ruangan terbuka, keluarlah seorang dokter, segera Yasna mendekat untuk bertanya.


"Bagaimana keadaannya, Dok?"


"Anda keluarga pasien laki-laki atau perempuan?"


"Hah ... jadi ada dua pasien, Dok?"


"Iya, Bu, pasien perempuan baik-baik saja, tapi yang laki-laki harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut."


"Apa mereka kecelakaan di tempat yang sama? Maksud saya apa mereka kecelakaan saat sedang berdua?"


"Menurut orang di sekitar lokasi, pria itu menyelamatkan wanita yang hampir tertabrak, tapi malah dia yang tertabrak."


Yasna terkejut mendengarnya, ternyata ada orang yang menyelamatkan Fazilah dan keadaannya tidak baik-baik saja.


"Apa keadaan pria itu parah, Dok?" tanya Emran.


"Dia banyak mengeluarkan darah, nanti kita lanjut beberapa tes, semoga saja semuanya baik."


"Tolong usahakan yang terbaik, Dok."


"Tentu, Pak. Saya permisi." dokter pergi meninggalkan Yasna dan Emran.

__ADS_1


"Sayang, ayo, kita cari makan! Kamu belum sarapan tadi pagi."


"Bagaimana dengan Fazilah dan pria itu? Kalau keadaannya parah, bagaimana kita bicara dengan keluarganya?"


"Perawat sedang mengurus pemindahan ruang rawatnya, nanti kita ke sini lagi, sebentar saja, mengenai pria itu, kita tunggu hasil pemeriksaan dokter." Emran mencoba membujuk Yasna. "Aku nggak mau kamu sakit, nanti siapa yang jaga Fazilah?"


"Baiklah, ayo!"


Mereka pergi ke kantin rumah sakit, Emran sebenarnya ingin mengajak Yasna ke restoran, tapi Yasna menolak, ia tidak ingin terlalu lama meninggalkan Fazilah.


"Na, aku tahu ini bukan waktu yang tepat, tapi aku harus mengatakannya. Aku minta maaf atas kejadian tadi pagi dan semalam."


Yasna diam memikirkannya, ia tahu maksud kejadian tadi pagi, tapi semalam, Ia sama sekali tidak mengerti maksudnya.


"Maksud, Mas, apa?"


"Soal kedatangan Tisya tadi pagi."


"Iya, aku mengerti soal itu, tapi semalam kenapa?"


"Memang kamu nggak merasa aku diam saja?"


"Iya, aku pikir karena Mas terlalu capek, memang Mas diamin aku karena apa?"


Emran menghela nafas panjang, ia menatap Yasna yang juga menatapnya, menunggu jawaban dari mulut suaminya itu.


"Tidak percaya diri? Saingan? Apasih, Mas. Aku semakin nggak ngerti?" Yasna sama sekali tidak mengerti apa maksud dari ucapan suaminya itu.


"Kamu sadar nggak, Sayang? Kalau kemarin saat kamu bicara dengan Avi, ponsel kamu dalam sambungan telepon denganku?"


"Tidak." Yasna mengambil ponsel di dalam tasnya dan mengecek riwayat panggilan, ternyata benar, ia dalam panggilan dengan Emran selama kurang lebih setengah jam.


"Aku mendengar semua yang kalian bicarakan, termasuk tentang betapa besarnya cinta Zahran padamu, bahkan dia bisa mengabaikan putri-putrinya karena kamu. Aku juga mendengar saat kamu mengatakan tentang kebaikan pria itu, di situ aku merasa kepercayaan diriku lemah. Aku tidak mungkin bisa mengesampingkan anak-anakku demi apapun, termasuk demi dirimu, seperti yang dia lakukan," ucap Emran dengan nada putus asa.


"Justru aku senang kalau Mas lebih memilih anak-anak dari pada aku, karena aku juga akan melakukan hal yang sama jika aku harus memilih. Meskipun mereka bukan anak-anakku, aku kan tetap memilih mereka daripada suamiku."


"Apa kamu tidak marah padaku? Aku sudah bersikap kekanak-kanakan."


"Aku tidak marah, aku hanya merasa sedih melihat sikap Mas yang mengacuhkanku. Aku harap mulai sekarang jika ada masalah atau apapun yang mengganjal di hati, kita harus bicarakan agar tidak menjadi masalah yang berlarut-larut."


"Iya, maafkan aku."


"Tidak usah meminta maaf, ini hanya kesalah pahaman saja. Eh, kita sudah terlalu lama meninggalkan Fazilah, ayo, kita kembali!"


"Kamu sudah, makannya?"


"Sudah, Mas. Aku sudah kenyang."


Mereka kembali ke ruangan Fazilah. Emran merasa senang, Yasna tidak menyimpan dendam di dalam hatinya, mungkin istrinya itu masih merasa sakit hati, tapi ia akan memperbaikinya secara perlahan.

__ADS_1


Saat mereka memasuki ruangan, Fazilah ternyata sudah sadar, ada seorang perawat yang sedang menemani Fazilah atas permintaan Emran.


"Fa, bagaimana keadaanmu? Apanya yang sakit?" tanya Yasna.


"Aku nggak pa-pa, Na. Bagaimana keadaan pria yang menolongku?"


"Dia masih belum sadar, kata dokter dia harus menjalani beberapa tes, memang kamu mengenalnya?"


"Tidak, aku bahkan tidak bisa melihatnya saat itu, aku cuma ingat saat aku ingin menyebrang, ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi dan ada seorang pria yang mendorongku dari belakang, tapi pria itu malah yang tertabrak."


"Mudah-mudahan dia baik-baik saja."


"Kamu kok bisa tahu aku ada di sini, Na?"


"Tadi Tante Mirna menghubungiku dan memintaku menemanimu, dia sedang ada di luar kota."


"Fa, kamu tidak ingin mencari tahu, apakah yang menimpamu ini disengaja atau tidak?" tanya Emran.


"Apa ada kemungkinan disengaja?"


"Aku tidak bisa memastikannya, tapi dari yang aku lihat sepertinya begitu, kamu menyebrang di tempat penyebrangan, rasanya tidak mungkin pengemudi tidak tahu, ditambah setelah menabrak dia malah kabur bukannya menolong."


"Mungkin dia ketakutan jadi kabur, Mas." Yasna mencoba tidak berpikir buruk.


"Mungkin saja, aku hanya memberi saran."


"Kalau aku ingin melaporkannya, apa sulit, Pak?"


"Aku akan bantu kamu, nanti kita hubungi pengacara dan menanyakan bagaimana prosesnya," jawab Emran. "Satu lagi, jangan panggil Pak jika di luar kantor."


"Aku panggil apa? Nggak mungkin Abang apalagi Mas, nanti samaan sama Yasna." Fazilah terkekeh setelah mengatakannya.


"Jangan, itu panggilan khusus dari Yasna, tidak ada yang boleh mengikutinya, panggil Kakak saja atau nama juga nggak pa-pa."


"Kalau nama, kesannya nggak sopan, panggil Kakak saja," ucap Fazilah yang diangguki Emran.


"Kamu sungguh ingin melaporkannya, Fa?"


"Kalau aku sendiri yang jadi korban, aku tidak akan memperpanjangnya, tapi ada orang lain juga yang menjadi korbannya, bagaimana kalau keluarganya tidak terima, kita tidak tahu siapa dia."


"Memang tidak ada tanda pengenal apapun yang dia bawa?"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2