
Aydin berusaha mendobrak pintu kamar mandi dengan dibantu oleh Emran. Hingga tiga kali baru pintu itu terbuka. Tampak Nayla yang terduduk di lantai dengan air mata yang menetes. Wanita itu menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara.
"Nay!" panggil Aydin.
Aydin segera berlari mendekati sang istri dan mengangkatnya. Pria itu membawa Nayla keluar dari kamar mandi dan mendudukkannya atas ranjang. Terlihat wajah-wajah khawatir dari semua orang yang berada di kamar itu. Aydin segera memeluk sang istri.
"Katakanlah, di mana yang sakit. Jangan dipendam. Apalagi kamu tahan semuanya sendiri. Jika kamu ingin menangis, maka menangislah. Ada aku di sini," ucap Aydin pelan. Namun, masih bisa didengar oleh semua orang.
Akhirnya tangis Nayla pecah. Dia merintih kesakitan dalam dekapan sang suami. Wanita itu tidak lagi menahan tangisannya. Nayla mengeluarkan semua yang tidak bisa dikeluarkannya selama ini.
Yasna yang mendengar pun menjadi bingung. Apa yang sebenarnya terjadi pada Nayla? Saat dia akan melangkah mendekati anak dan menantunya, Emran segera menarik tangan sang istri dan menggelengkan kepalanya. Yasna menatap sang suami tidak mengerti. Apa maksud semua ini?
Segera Emran mengajak istri dan yang lainnya keluar. Mungkin ini sudah saatnya semua orang tahu tentang apa yang terjadi pada Nayla. Emran mengajak mereka ke tempat di mana api unggun masih menyala.
Nayla masih menangis dalam pelukan sang suami. Dia merintih dadanya kesakitan. Aydin juga sudah membaca beberapa artikel yang mengatakan, jika sakit kanker rasanya seperti dicengkeram dengan sangat kuat.
"Mas, sakit sekali. Ini seperti ada yang mencengkram dan ini terasa sangat panas. Kenapa harus seperti ini? Ini sakit," rintih Nayla dengan menangis sesenggukan.
Aydin tidak sanggup mendengar kata-kata dari istrinya. Dia juga ikut menangis memeluk sang istri dengan erat. Hanya ini yang bisa dilakukannya.
"Apa kamu punya obatnya, Sayang?" tanya Aydin yang diagguki Nayla. "Ada di mana?"
Nayla hanya diam. Segera Aydin mencarinya di dalam tas wanita itu. Dia menemukan beberapa obat yang terbungkus dalam plastik dan menanyakannta pada istrinya.
"Apa ini, Sayang?" Nayla mengangguk sebagai jawaban. Segera Aydin mencari air agar istrinya bisa minum obat tersebut. "ini, Sayang, minumlah?" ucap Aydin dengan menyerahkan obat tersebut dan segelas air.
Tangan pria itu terlihat gemetar. Ini pertama kalinya dia melihat Nayla seperti ini. Aydin tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Pria itu benar-benar tidak sanggup melihat keadaan istrinya seperti ini. Wanita itu mengambil obat di tangan sang suami lalu meminumnya.
Aydin kembali memeluk sang istri. Pria itu benar-benar tidak sanggup. Ini pertama kalinya dia melihat istrinya seperti ini. Lalu bagaimana dengan Nayla sendiri yang sebelumnya menjalani semuanya seorang diri?
Beberapa menit kemudian Nayla merasa sudah sedikit lega. Meski masih terasa sedikit sakit, tetapi tidak seperti tadi yang begitu menyiksa. Wanita itu teringat sesuatu dan segera melepas pelukan sang suami.
__ADS_1
"Mas, sudah tahu?" tanya Nayla dengan menatap wajah suaminya. Aydin yang mengerti pertanyaan Nayla pun mengangguk. Dia tadi reflek bersikap seperti itu karena panik dan juga khawatir.
"Sejak kapan?"
"Kemarin," jawab Aydin dengan merapikan rambut Nayla yang basah. Entah itu karena keringat atau air mata.
"Mas, tahu dari mana?" tanya Nayla lagi.
"Dari papa. Dia bertemu dengan sahabatnya dan mengatakan, jika sahabatnya itu melihat kamu di tempat dokter spesialis kanker. Papa Yang penasaran pun menemui dokter itu dan mencari tahu tentang apa yang kamu alami," jawab Aydin membuat Nayla meneteskan air mata. "Kenapa kamu tidak jujur padaku, Sayang? Kita bisa cari solusinya sama-sama. Bukankah kamu sudah pernah mengatakan jika kita harus saling terbuka dan jujur satu sama lain?"
Meski Aydin tahu kemungkinan untuk Nayla sembuh itu sangat kecil. Dia akan tetap akan berusaha melakukan apa pun untuk istrinya.
"Aku takut, Mas ... aku nggak mau mengorbankan anak ini. Dia adalah kehidupanku. Aku takut jika mengatakannya kepada semua orang, mereka akan memintaku menggugurkannya."
Pria itu merangkul pundak sang istri agar bersandar padanya.
"Aku juga tidak setega itu untuk menggugurkannya. Aku tahu kamu sangat menyayanginya. Kami semua pun juga sama menyayanginya, karena itu kita harus mencari solusi sama-sama."
"Mas, aku ingin minta satu hal padamu. Jika nanti dokter meminta kamu memilih antara aku dan anak kita, kamu harus memilih anak kita."
"Kamu bicara apa sih, Sayang! Tidak akan ada pilihan seperti itu. Kalian sama-sama berartinya untukku."
Perkataan seperti ini yang sangat dibenci oleh Aydin. Dia tahu jika umur manusia sudah ditentukan. Akan tetapi, pria itu ingin berusaha, setidaknya hanya itu yang bisa dilakukannya saat ini.
"Aku ingin kamu berjanji itu saja, agar aku bisa tenang. Berjanjilah kalau kamu akan memilih menyelamatkan anak kita." Nayla menatap sang suami. Berharap pria itu mau berjanji.
"Baiklah, aku akan memilih anak kita, tapi kamu harus berjuang agar baik-baik saja," ucap Idin karena dia tidak tega melihat wajah istrinya yang memelas seperti itu, tetapi dalam hati, pria itu berjanji akan berusaha membuat keduanya baik-baik saja. Terlepas dari kuasa Tuhan nanti seperti apa.
*****
Sementara di taman samping rumah. Semua orang duduk di depan api unggun. Mendengarkan semua cerita Emran mengenai Nayla, hingga membuat mereka menangis. Bahkan Yasna kini sudah sesenggukan karena tidak menyangka semua itu akan terjadi pada menantunya. Selama ini Nayla terlihat baik-baik saja. Tidak pernah mengeluh sedikit pun.
__ADS_1
Afrin juga tak kalah sedihnya. Dia sudah begitu dekat dengan Nayla, terutama akhir-akhir ini. Bagaimana takdir begitu kejam pada kakak iparnya itu.
"Kenapa, Papa, menyembunyikan semua ini sama Bunda? Apa Bunda tidak pantas untuk mengetahuinya?" tanya Yasna lirih.
"Bukan begitu, Sayang. Aku hanya mencari waktu yang tepat untuk membicarakannya sama kamu. Kamu tahu sendiri, Nayla tidak ingin orang tahu tentang apa yang terjadi padanya, karena itu aku mencari waktu yang tepat agar tidak menyakiti siapa pun."
Emran mencoba memberi penjelasan pada istrinya, meski semua percuma.
"Apa pun itu, hasilnya pasti akan sama menyakitkannya. Itu bukan penyakit yang umum yang mudah disembuhkan. Apalagi Nayla saat ini ...." Yasna menutup mulutnya. Dia tidak sanggup mengatakan hal selanjutnya, jika diucapkan terlalu menyakitkan didengar. Semua orang tahu akan hal itu.
"Pa, apa tidak ada dokter yang bisa menyembuhkannya?" tanya Afrin berharap ada yang bisa menolong.
"Iya, Pa. Kalau perlu kita bawa ke luar negeri," timpal Yasna.
"Papa terserah Aydin dan Nayla sendiri. Mereka maunya bagaimana," jawab Emran. "Tapi, apa pun hasilnya nanti di sana. Papa harap Bunda ikhlas menerima semuanya."
"Kok Papa ngomong gitu?"
"Bun, banyak orang yang berobat ke luar negeri dan tidak semua seperti yang kita inginkan. Artis juga ada yang tidak bisa selamat meski berobat ke luar negeri. Papa bukannya mendoakan yang jelek. Hanya saja kita perlu menyiapkan mental kita mendengar apa pun nanti di sana."
Yasna terdiam. Benar apa yang dikatakan suaminya. Semua kemungkinan pasti akan terjadi. Apa dia sanggup mendengar berita yang paling buruk? Jawabannya adalah tidak.
.
.
.
.
.
__ADS_1