Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
81. Memberi pengertian


__ADS_3

"Ada apa, Sayang?" tanya Emran.


"Bunda tidak sayang lagi sama Afrin. Bunda lebih sayang sama Vico," jawab Afrin dengan nada sedih.


Afrin menutupi wajahnya dengan selimut, dia tidak ingin papanya tahu jika matanya sudah berkaca-kaca.


Emran mulai mengerti jika saat ini, putrinya sedang cemburu dengan sepupunya karena Yasna membagi perhatiannya pada Vico.


"Bunda selalu sayang sama Afrin, hanya saja sekarang Vico mamanya lagi kerja, bunda hanya mencoba menenangkan dia. Kalau bukan bunda yang nenangin siapa lagi? Oma, kan, sudah tua, nggak boleh terlalu capek." Emran mencoba memberi pengertian pada putrinya.


Afrin hanya diam mendengarkan, sesekali dia menghapus air matanya. Sementara Yasna, kini berada di balik pintu. Dia merasa bersalah pada putrinya. Bukan maksud dia untuk mengabaikan Afrin, hanya saja saat ini Vico lebih membutuhkannya karena itu, dia memberi perhatian lebih pada anak Celina yang tanpa dia sadari sudah menyakiti putrinya.


Yasna pun memutuskan untuk masuk dan meminta maaf pada Afrian. Dia tidak ingin kesalahpahaman ini berlarut-larut dan mengakibatkan hubungan mereka renggang.


"Bunda sudah bersalah, sama Afrin! Maafin Bunda ... Bunda nggak ada maksud seperti itu. Sebenarnya Bunda kasihan sama Viko karena mamanya sedang bekerja. Dia enggak ada yang yang jagain."


Afrin dan Emran terkejut melihat kedatangan Yasna, mereka kira tidak ada mengikuti ke kamar.


"Sayang, kasih sayang Bunda nggak akan berubah sama Afrin. Meskipun di rumah ini ada Vico, Vino atau yang lainnya, kasih sayang Bunda tetap sama untuk Afrin dan Kak Aydin." Yasna mencoba memberi pengertian pada putrinya itu.


"Tapi, Bunda nggak boleh sayang sama Viko."


"Nggak, Bunda tetap sayangnya cuma sama Afrin," jawab Yasna.


Sebenarnya ingin sekali Yasna memberi pengertian pada Afrin jika setiap manusia harus saling menyayangi, tapi


melihat usia dan keadaan saat ini. Sepertinya bukan waktu yang tepat.


"Sekarang, Bunda sudah dimaafkan?" tanya Yasna.


Afrin mengangguk meski masih cemberut.


"Sekarang, ayo, kita makan dulu! Kasihan yang lain sudah menunggu ... Afrin mau digendong sama papa?" tawar Emran.


Afrin menggeleng dan berkata, "Aku sama Bunda." sambil menggandeng tangan yasna.


"Ya sudah, ayo!" ajak Yasna dengan tersenyum.


Afrin berjalan bersama Yasna, sambil bergandengan tangan menuju meja makan. Di sana semua orang sudah hampir menyelesaikan makan malamnya.


"Afrin mau disuapin?" tawar Yasna.


"Mau, Bunda," jawab Afrin dengan tersenyum.


Afrin makan dengan begitu lahap. Setelah selesai makan malam. Vico merengek meminta Yasna untuk menemaninya tidur. Wanita itu ingin menolak, tapi dia kasihan melihat anak itu menangis.

__ADS_1


"Vico tidurnya sama oma, ya," bujuk Emran, dia memberi kode kepada mamanya untuk menemani Vico. Namun, Viko menolaknya. Dia ingin Yasna yang menemani.


Dengan hati-hati Yasna memberi pengertian pada Afrin. "Sayang, Bunda nemenin Vico tidur sebentar, ya. Nanti setelah Vico tidur, Bunda akan tidur di kamar Afrin, bagaimana? Kasihan dia nggak bisa tidur," ucap Yasna pelan.


Afrin melihat ke arah Vico yang menangis di sisi Karina. Bagaimana pun juga dia punya rasa kasihan dengan berat hati, akhirnya gadis kecil itu mengangguk.


"Nanti setelah Vico tidur, Bunda tidur di kamar Afrin, ya?" pinta Afrin.


"Iya, Bunda temenin Vico sebentar." Yasna pergi bersama Vico ke kamar tamu.


*****


"Mas, bagaimana sekarang? Ini baru sehari dan Afrin sudah cemburu seperti tadi. Bagaimana nanti?" tanya Yasna, saat mereka berada di dalam kamar Afrin.


Emran dan Yasna memutuskan untuk tidur di sana. Tadi setelah menidurkan Vico Yasna juga menidurkan Afrin.


"Sebaiknya kamu fokus pada Afrin, nanti biar aku yang bicara sama mama untuk mengurus Vico. Kalau perlu aku sewa pengasuh saja," jawab Emran.


"Itu lebih baik, kalau mama sendirian kasihan. Sudah waktunya beliau istirahat."


"Iya, mama juga sudah sering ngeluh capek akhir-akhir ini. Dia nggak pernah mau diam, selalu ada saja yang dikerjain."


"Aku juga sering menegurnya, tapi itulah yang namanya orang tua. Sudah terbiasa dengan pekerjaan jadi, saat disuruh diam mereka enggak mau," sahut Yasna. "Aku mau lihat Aydin dulu, dari tadi aku belum ngobrol sama dia."


"Aku coba lihat dulu." Yasna pergi menuju kamar Aydin.


Yasna mengetuk pintu kamar Aydin beberapa kali, hingga sang pemilik kamar pun membukanya.


"Kakak belum tidur?" tanya Yasna.


"Belum, Bunda."


"Mau ngobrol sama Bunda?"


"Masuk saja, Bun. Memang mau ngobrol apa?"


"Terserah kamu, mau cerita kegiatan kamu juga boleh."


Yasna duduk di ranjang, Aydin mengikutinya dan duduk di samping wanita itu. Pemuda itu merebahkan kepalanya di pangkuan sang bunda untuk mencari kenyamanan.


"Aku sebenarnya juga cemburu pada Vico. Sama seperti Afrin, aku juga nggak rela Bunda perhatian sama orang lain," ucap Aydin.


Yasna tersenyum, dia sangat senang. Wanita itu merasa seperti dirinya begitu berharga bagi mereka.


"Aydin kan lebih besar, seharusnya lebih mengerti, kalau saat ini Vico butuh pengganti mamanya untuk sementara waktu," ucap Yasna dengan mengusap rambut Aydin yang sedikit panjang.

__ADS_1


"Aku tahu, makanya dari tadi aku diam," sahut Aydin. "Memang berapa lama Vino sama Vico dititipin di sini?"


"Bunda nggak tahu," jawab Yasna. "Gimana sekolah Aydin?"


Yasna berusaha mengalihkan pembicaraan, dia sendiri tidak tahu apapun tentang Celina apalagi keluarganya.


"Biasa saja, sekarang sudah tidak ada lagi yang gangguin aku." Aydin menceritakan semua kegiatannya pada Yasna, sesekali mereka tertawa bersama.


"Sudah malam, kamu tidur sana. Bunda nggak mau kamu telat ke sekolah besok."


"Iya, Bunda." Aydin bangun dari pangkuan Yasna dan menguap.


"Langsung tidur, jangan main game lagi," ucap Yasna. "Selamat tidur, mimpi indah."


Yasna pergi meninggalkan Aydin, dia juga sudah sangat mengantuk.


*****


Seperti yang dikatakan Emran, dia sudah menyewa seorang pengasuh untuk Vico dan Vino. Dia tidak ingin anak-anaknya merasa tersisih.


Saat Yasna sedang menyiapkan makan siang, terdengar keributan di samping rumah karena merasa khawatir, dia pun melihatnya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Yasna pada Afrin karena dia melihat Afrin marah-marah pada Vico. "Astaghfirullah, ini kenapa?" Yasna terkejut melihat kening Vico yang sedikit benjol.


"Tadi, Non Afrin memukulnya, Bu," jawab Ria, pengasuh Vico.


"Vico nakal, Bunda, dia sudah rusakin mainan aku," sahut Afrin, dia takut Yasna memarahinya karena dia melihat kepanikan di wajah Yasna.


"Kamu urus Vico, ya," ucap Yasna pada Ria.


"Iya, Bu."


"Ayo, Afrin ikut Bunda!" ajak Yasna.


Yasna mengajak Afrin duduk di dekat kolam ikan, dia ingin suasana tenang untuk menasehati putrinya. Wanita itu tidak ingin putrinya menjadi orang yang tempramen, apalagi Afrin seorang gadis.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2