Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
150. S2 - Menggoda


__ADS_3

Nayla dan Aydin dalam perjalanan pulang usai makan malam bersama. Tidak lupa juga, dia membawa pulang makanan untuk sang ayah, yang sedang berada di rumah seorang diri.


Gadis itu sangat senang bisa menghabiskan waktu bersama dengan pria yang sudah mengisi hatinya. Mereka juga saling bercerita tentang diri mereka masing-masing.


"Aku lupa mengatakan sesuatu sama kamu," ucap Nayla memecah keheningan.


"Sesuatu apa?" tanya Aydin dengan melihat ke arah Nayla sekilas kemudian kembali fokus pada jalanan yang ada di depannya.


"Acara pernikahan kita. Aku sudah putuskan dua minggu lagi."


Aydin terkejut hingga menginjak rem secara mendadak, membuat kepala Nayla terbentur dashboard. Saking terkejutnya, pria itu tidak sadar dengan apa yang dia lakukan.


"Eh, maaf, maaf, aku tidak sengaja. Aku terkejut tadi."


"Mas, hati-hati dong," gerutu Nayla dengan mengusap keningnya yang terbentur. Kening yang tadinya putih kini sedikit memerah.


"Aku hanya terkejut tadi mendengar apa yang kamu katakan. Maaf, ya," sesal Aydin. Dia merasa bersalah sudah mencelakai Nayla, meski tidak sengaja."


"Apa mas tidak suka? Kalau tidak suka nggak apa-apa kita bisa menundanya dan mencari hari lain."


"Tidak-tidak, aku senang jika acaranya lebih cepat. Nanti akan aku urus semuanya. Gampang, kok," jawab Aydin dengan tersenyum.


Dalam hati, dia sangat bahagia Nayla memiliki rencana seperti itu. Nanti dia akan meminta bantuan sama papanya agar semua bisa cepat terlaksana dengan baik. Dia sangat tahu bagaimana kekuatan dari Emran. Pasti sanggup melaksanakan pekerjaan kecil ini.


"Kamu nggak pa-pa, kan?" tanya Aydin dengan mengusap kening Nayla dengan pelan.


"Tidak apa-apa, hanya sedikit benjol," jawab Nayla dengan cemberut membuat Aydin terkekeh.


"Maaf, ya, tapi ini nggak pa-pa, kok! Kamu masih cantik."


"Habis nyelakain anak orang, masih saja ngegombal," cibir Nayla.


"Aku nggak gombal. Kamu beneran cantik ... cantik luar dan dalam ... angan pernah berubah, ya?"


Aydin menatap Nayla hingga netra mereka bertemu. Ada sesuatu yang sulit diungkapkan, tetapi mereka sama-sama tahu arti dari sorot mata itu. Harapan akan kebaikan, cinta dan kepercayaan, semoga tetap berada dalam genggaman.


Nayla memalingkan wajahnya, memutus kontak mata diantara mereka. Terlalu lama menatap Aydin membuat gadis itu tidak bisa berpikir dengan jernih. Apa pun yang dilakukannya pasti serba salah.


"Aku berubah bagaimana lagi? Dari dulu juga manusia biasa, kok," jawab Nayla yang berpura-pura tidak mengerti maksud Aydin.


Pria itu mendengus mendengar jawaban dari tunangannya. Padahal gadis itu tahu, tapi pura-pura tidak mengerti hanya untuk mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Aku suka kamu yang apa adanya, baik, perhatian pada semua orang dan aku harap kamu selalu seperti itu," ujar Aydin.


"Ayo, jalan sudah malam. Takut papa nunggu terlalu lama," ucap Nayla berusaha mengalihkan perhatian. Saat ini dia sudah sangat malu dengan apa yang dilakukan pria yang biasanya terlihat dingin itu. Hari ini tiba-tiba menjadi suka gombal dan merayu.


"Iya, aku sampai lupa." Aydin pun melanjutkan perjalanannya. "Mengenai gaun pengantin, apa kamu ingin merancang sendiri atau mau aku carikan desain orang lain?"


"Tidak perlu, aku ingin membuatnya sendiri. Kalau mengenai, Mas. Terserah kamu jika mau membuat jas di designer lain."


"Aku ingin calon istriku yang membuatkannya, tapi kalau kamu repot, tidak apa-apa. Aku buat di tempat lain saja."


"Boleh, Mas. Aku buatin?" tanya Nayla dengan menatap Aydin.


"Aku malah seneng kalau kamu yang buatin. Apa pun buatanmu, aku akan menerimanya."


"Aku takut, nanti kamu nggak suka."


"Aku tahu selera calon istriku ini, sangat bagus jadi, mana mungkin aku tidak suka." Lagi-lagi Aydin menggombal membuat wajah Nayla bersemu merah gadis itu mencoba menyembunyikan wajahnya dengan mengalihkan pandangan ke luar jendela.


Wanita mana yang tidak senang jika pria yang bersamanya kini adalah seorang penerus perusahaan. Namun, bukan itu yang buat Nayla senang. Dia bahagia karena pria yang biasanya dingin pada siapa pun, kini memperlakukannya dengan hangat.


Aydin juga sangat menyayanginya, begitu pun dengan keluarga pria itu yang sangat menyayanginya. Tidak diragukan lagi betapa baiknya mereka dan Nayla sangat beruntung bisa mengenal mereka.


"Kenapa menghadap ke sana? Aku ada di sini?" goda Aydin.


"Nggak pa-pa," jawab Nayla dengan masih melihat keluar jendela.


"Pemandangan di luar lebih menarik daripada aku yang ada di sini."


"Sebaiknya, kamu fokus saja pada jalanan," ucap Nayla tanpa melihat ke arah pria itu.


Ayden terkekeh, dia tahu jika Nayla saat ini tengah malu dan itu membuat Airin semakin gemas pada gadis itu. Aydin akhirnya tidak lagi menggodanya dan fokus pada jananan yang ada di depannya.


"Iya."


*****


"Mau mampir dulu, Mas? Mungkin mau minum teh sebentar sama ayah?" tawar Nayla.


"Tidak perlu, ini sudah sangat malam. Nggak enak juga sama tetangga. Mungkin lain kali aku mampir kalau masih sore," tolak Aydin yang diangguki oleh Nayla.


"Terima kasih sudah mau mengantarku dan terima kasih juga makan malamnya."

__ADS_1


"Justru aku yang berterima kasih karena kamu sudah menemaniku makan malam. Mungkin besok-besok, aku harus sering mengajakmu ke sana agar kamu bisa cepat bisa berdansa."


"Aku akan menunggu ajakan itu."


"Tentu," sahut Aydin. "Baiklah aku pergi dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Aydin melajukan mobilnya meninggalkan Nayla yang masih berdiri di depan rumahnya. Setelah mobil Aydin tidak terlihat. Gadis itu segera memasuki rumahnya.


"Assalamualaikum," ucap Nayla sambil membuka pintu.


"Waalaikumsalam," sahut Roni yang sedang menonton acara sepakbola di televisi.


"Ayah, ini makan malamnya," ucap Nayla dengan menyerahkan sekantong makanan pada Roni.


"Aku sudah kelaparan dari tadi nungguin kamu nggak pulang-pulang. Lama sekali," gerutu Roni.


"Maaf, Yah," sesal Nayla. "Tadi Ayah keluar ke mana?" tanya Nayla, saat melihat ada sebuah jaket yang berada di sofa.


Pria itu masih saja tidak berubah, seenaknya meletakkan barang yang telah dipakainya. Nayla sudah sering menegurnya, tetapi Roni seolah tidak peduli dan membiarkannya saja.


"Keluar sebentar, bertemu teman lama."


"Ayah, tidak melakukan sesuatu yang salah, kan?" tanya Nayla dengan menatap curiga pada ayahnya.


Dia sudah menerima sang ayah, tapi dia masih saja khawatir jika Roni kembali terjerumus dalam hal-hal yang merugikan pria itu satu hari nanti. mengingat umur ayahnya yang sudah tidak muda lagi.


"Tidak," jawab Roni singkat. Dia hanya merasa jenuh jadi, dia pergi ke rumah temannya. Namun, temannya itu malah mengusir dan melarang pria itu datang karena takut akan didatangi rentenir.


"Ayah, makanlah dulu. Aku mau membersihkan diri." Nayla berlalu memasuki kamarnya. Sementara Roni pergi ke dapur mengambil piring dan sendok.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2