
Seperti yang dikatakannya kemarin dengan papa Emran. Hari ini, Afrin membuat janji dengan Khairi di sebuah restoran dan memilih memesan ruang private. Dia juga mengajak Zahra. Tidak mungkin gadis itu hanya berdua dengan Khairi, itu akan semakin menambah masalah.
Awalnya Zahra menolak, tetapi karena desakan dari Afrin, akhirnya gadis itu mau dengan syarat, dia akan memakai earphone saat keduanya berbicara. Zahra tidak ingin mengganggu urusan sahabatnya. Afrin pun setuju dengan hal itu.
Afrin sudah menceritakan apa yang dia akan lakukan. Zahra sempat tidak setuju karena dia yakin jika Khairi pasti memiliki alasan, tetapi sahabatnya itu tetap kekeh dengan pendiriannya. Tidak berapa lama, Khairi akhirnya datang. Dia juga bersama dengan Ivan.
"Assalamualaikum, aku kira kamu sendiri, makanya aku ajak Ivan, ternyata ada teman kamu," ucap Khairi yang baru saja datang.
"Waalaikumsalam. Iya, tidak apa-apa. Kak Ivan, juga boleh duduk. aku sudah memesankan makanan apa kalian mau menambah? Barangkali pesananku tidak sesuai dengan keinginan kalian?"
"Tidak perlu, apa pun yang kamu pesankan aku akan memakannya," jawab Khairi dengan tersenyum, tetapi ditanggapi datar oleh Afrin.
"Aku tidak ingin berbasa-basi, langsung saja pada permasalahannya. Aku ingin membatalkan rencana pernikahan kita."
Khairi terkejut mendengarnya. Dia membolakan mata ke arah Afrin. Apa dia tidak salah dengar? Membatalkanya begitu saja? Tanpa alasan yang jelas?
"Apa maksud kamu? Kemarin kamu sendiri yang menerimanya dan sekarang kamu membatalkanya begitu saja, saat orang tuaku juga sudah setuju!" ucap Khairi yang sudah mulai emosi, tetapi dia tetap berusaha untuk tetap tidak berteriak di depan pujaan hatinya.
"Maafkan aku, tetapi ini yang terbaik untuk kita," jawab Afrin menunduk mencoba menahan agar air matanya tidak terjatuh.
"Tidak, aku tidak akan pernah membatalkan pernikahan kita. Pernikahan ini akan tetap terjadi dan mau tidak mau kamu harus melaksanakannya," ucap Khairi tegas. Dia bisa merasakan jika ada sesuatu yang ditutupi oleh Afrin.
"Kenapa kamu maksa aku?"
"Kenapa tidak? Kamu sendiri, kan, yang menerima lamaranku dan sekarang ingin membatalkannya begitu saja. Sekarang katakan, apa alasanmu membatalkan rencana pernikahan kita?"
"Tidak ada alasan. Aku hanya ingin membatalkannya saja."
__ADS_1
"Itu alasan kuno, pasti ada sesuatu yang membuatmu ingin membatalkannya. Katakan saja, barangkali aku bisa menerimanya." Khairi menatap wajah Afrin yang tengah gelisah. Benar tebakannya jika calon istrinya ini sedang dilema. "Kenapa diam? Katakan saja!"
"Karena aku tidak ingin disebut sebagai perebut tunangan orang," jawab Afrin akhirnya.
Khairi mengernyitkan keningnya, mencoba mencerna apa maksud dari ucapan afrin. Beberapa detik akhirnya dia mengerti, ternyata ini tentang Vira. Hal yang sebelumnya pernah pria itu takutkan dan akhirnya terjadi juga. Pasti wanita itu marah-marah pada Afrin dan menyalakannya karena keluarga Khairi sudah membatalkan perjodohan itu.
"Hanya karena itu kamu ingin membatalkan rencana pernikahan kita? Kenapa kamu tidak percaya padaku? Kamu hanya mendengarkannya secara sepihak."
"Apa pun alasannya, tetap saja aku akan membatalkan rencana pernikahan ini."
"Aku akan menceritakan semuanya, setelah itu terserah kamu mau tetap membatalkannya atau tidak," ucap Khairi. "Orang tua Vira mendatangi papa dan mengajukan perjodohan antara Vira dan aku. Papa sempat menolak, tapi ayah Vira memaksa dengan berbagai alasan dan tawaran yang diberikan pada papa. Terpaksa papa menyetujuinya dengan syarat jika aku tidak menyukai Vira, maka keluarga kita tidak boleh memaksa. Mereka setuju dan akhirnya perjodohan itu terjadi tanpa sepengetahuanku. Mama sempat marah karena papa menyetujui begitu saja. Semua orang tahu, kamu pun pasti tahu, bagaimana kedua orang tua Vira. Mereka sama-sama punya selingkuhan. Mama takut Vira sama seperti kedua orang tuanya. Dilihat dari karakter gadis itu, aku juga takut akan seperti yang Mama takutkan. Bukan hanya itu, aku juga tidak memiliki perasaan apa pun padanya."
"Kenapa kamu tidak pernah mengatakan padaku tentang perjodohan ini?" tanya Afrin dengan air mata yang menetes membuat Khairi tidak tega.
Pria itu sudah berjanji pada dirinya, tidak akan membuat pujaan hatinya sedih apalagi menangis seperti ini. Akan tetapi, hari ini air mata itu keluar dan dialah penyebabnya. Khairi ingin mengusap air mata Afrin, tetapi ditolak oleh gadis itu
"Bagaimana aku bisa mengatakan padamu kalau aku sendiri juga tidak tahu. Papa mengatakan semuanya saat aku ingin menikah denganmu."
"Maafkan aku karena tidak mengatakan sejujurnya padamu."
Afrin diam, begitu pun juga dengan Ivan, dia juga baru mengetahui tentang perjodohan Khairi dengan Vira. Sementara Zahra dia tidak mendengar apa pun hanya asik mendengarkan musik.
"Maafkan aku, tapi aku tetap akan membatalkan rencana pernikahan kita." Khairi memejamkan matanya. Berurusan dengan gadis ini tidak semudah yang dia pikirkan.
"Kita akan tetap melaksanakan pernikahan itu. Akan aku pastikan hal itu."
Jika Afrin bersikeras tetap ingin membatalkan rencana pernikahan, maka Khairi akan lebih keras dari Afrin. Pria itu akan berusaha sekuat tenaga untuk tetap mempertahankan apa yang sudah dia perjuangkan.
__ADS_1
"Aku tidak mau dianggap sebagai perebut tunangan orang lain."
"Mengenai Vira, biarlah itu menjadi urusanku," sahut Khairi. "Ke mana Afrin yang cuek dulu? Yang tidak peduli dengan apa pun perkataan orang lain?"
Afrin terdiam, gadis itu juga tidak tahu kenapa dia merasa terluka saat Vira marah padanya. Padahal sebelumnya Afrin tidak pernah memikirkan apa yang orang bicarakan tentangnya, bahkan terkesan masa bodoh.
Saat Afrin asik dengan pemikirannya, pesanan mereka sudah datang. Khairi berterima kasih pada pelayan sebelum mereka pergi
"Makanlah dulu, jangan terlalu dipikirkan. Aku akan menyelesaikan semuanya dengan baik. Kamu hanya perlu percaya padaku," ucap Khairi.
Afrin pun memakan hidangan, Zahra juga sudah melepas earphone-nya atas permintaan sahabatnya. Mereka makan bersama keheningan. Khairi tahu, pasti saat ini pujaan hatinya itu tidak bisa tenang.
Pria itu berjanji akan membuat perhitungan pada keluarga Vira karena sudah membuat air mata Afrin menetes. Dia saja tidak pernah melakukannya, berani sekali orang lain membuatnya menangis.
Selesai makan, Afrin berniat pergi lebih dulu. Khairi yang akan mengantarnya, ditolak oleh gadis itu karena dia sendiri juga membawa mobil bersama dengan Zahra. Namun, sebelum Afrin pergi, dia mengucapkan sesuatu pada pria itu. Perkataan yang tidak pernah disangka oleh Khairi.
"Maafkan aku, aku tetap akan membatalkan rencana pernikahan itu. Meskipun nanti Vira dan kamu tidak menikah. tekadku sudah bulat dan itu tidak bisa diganggu oleh siapa pun jadi, aku harap kamu menghormati keputusanku." Afrin segera berlalu tanpa menunggu jawaban dari Khairi. Kedua tangannya pria itu mengepal kuat.
'Semua karena Vira dan keluarganya, dia harus membayar semua ini.'
"Ivan, hubungi Vira. Bilang aku ingin bertemu," ucap Khairi dengan suara datar.
"Baik, Tuan."
.
.
__ADS_1
.
.